
Sementara Allice, Bastian, Kenan juga para mafioso yang dibawa oleh Allice sudah mengelilingi rumah kecil, tempat persembunyian Aldo dan Sindi.
Disaat bersamaan sosok yang terus mengawasi Allice turut hadir menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Allice nanti. Sosok tersebut bersembunyi dibalik pohon rindang belakang rumah tersebut diantara batu batu tebing.
Aldo yang didalam sudah panik ia tak bisa kabur kemanapun. Aldo bersembunyi disalah satu ruangan yang juga ada seorang wanita yang kaki dan tangannya diikat diatas kursi dengan mata yang tertutup.
"TUA BANGKA KELUAR KAU!!" Teriak Allice agar Aldo keluar dari dalam rumah. Namun sudah lama ia berteriak tidak ada yang menyahut.
Allice langsung mengkode agar mafiosonya mendobrak setiap pintu dan mengepung setiap sudut rumah.
"Queen didalam tidak ada siapapun." Lapor salah satu mafioso.
"Cari lagi." Titah Allice tak mau dibantah. Seluruh mafioso yang dibawa kembali menggeledah.
"Dimana? kaga ada orang." Ucap Kenan bertanya pada Bastian.
"Bentar, emang ini tempatnya." Jawab Bastian. "Gw masuk dulu." Lanjutnya berbicara pada Allice yang langsung diangguki Allice.
Bastian masuk dan mulai mengelilingi rumah tersebut, sampai ia mentok kebagian belakang rumah, ia menemukan satu ruangan dengan pintu yang tertutup dan terkunci rapat rapat. Bastian langsung kembali melapor pada Allice.
"Ada satu ruangan, pintunya dikunci dari dalam." Lapor Bastian. Allice langsung berjalan masuk dengan menyunggingkan senyum devilnya. Allice diikuti Bastian dan Kenan langsung menuju ruangan yang maksud oleh Bastian.
"Ini." Tunjuk Bastian. Tanpa aba aba Allice langsung menendang pintunya hingga rubuh. Saat itu juga Allice, Bastian dan Kenan melihat Aldo sedang memegang sebuah pisau yang diarahkan ke leher seorang wanita yang diikat olehnya.
"Queen." Kompak Bastian dan Kenan yang melihat siapa wanita yang disandra oleh Aldo.
"Mama." Ucap Allice yang sebenarnya merasa kaget dan kurang yakin, namun saat Aldo membuka penutup mata wanita tersebut Allice langsung percaya bahwa itu adalah Sisil sang Mama.
"Tolong." Ucap Sisil pada Allice, Bastian dan Kenan.
Saat Allice ingin mendekat Aldo langsung membuka suaranya.
"Jangan mendekat atau aku akan membunuhnya." Ancam Aldo.
"Heh." Allice langsung menutup matanya dan membukanya kembali ia langsung mengangkat tangannya, saat bersamaan Aldo terangkat keudara dan menjatuhkan pisaunya, Allice langsung menghempaskan tangganya hingga Aldo jatuh terpental dengan tubuh yang menghantam tembok kayu, hingga kayu tersebut hancur dan Aldo terlempar keluar dari rumah.
Bastian dan Kenan langsung melepaskan ikatan Sisil.
"Queen, kau tak apa?" tanya Bastian memastikan.
"Aku tak apa." Jawab Sisil lalu keluar menghampiri Aldo yang terus diintimidasi oleh Allice.
Sosok yang terus mengawasi Allice terkaget melihat Sisil yang tiba tiba keluar.
Allice terus mendekati Aldo dengan Aldo yang terus mundur menjauhi Allice. Allice menutup matanya dan membukanya kembali hingga dirinya yang sebenarnyalah sekarang yang menguasai tubuhnya.
"Ada apa Pak tua, aku bisa menemukanmu." Ucap Allice terus mendekat.
"Kau...awas kau!"
"Hmmm kita mulai dari mana dulu, kau dulu menembak Mama ku bukan? bagaimana jika kita ulangi lagi adegan yang lalu?" Ucap Allice mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya pada Aldo.
DOOR
DOR
DOOR
Allice menembakkan tiga peluru dikaki tangan Aldo hingga Aldo tidak bisa lagi menjauhi Allice.
"Kau menyekap Mama ku bukan?" tanya Allice. Aldo tidak menjawabnya.
"JAWAB!" Bentak Allice langsung menginjak perut Aldo.
"Akh! i..iya." Jawab Aldo.
"Bagus sekali." Ucap Allice.
"Kita akhiri saja sampai disini kisahmu, Pak tua." Ucap Allice langsung menghujani Aldo dengan peluru nya.
Aldo yang sudah tak berdaya hanya terkapar lemas dengan darah yang terus mengucur.
Sisil mendekati Allice, dan langsung memeluknya.
"Terima kasih Sayang, kamu telah menyelamatkan Mama." Ucap Sisil memeluk Allice.
"Ma, Allice seneng bisa ketemu, Mama." Ucap Allice penuh haru melepaskan pelukan Sisil dan menatap wajah Sisil dengan intens.
Bastian dan Kenan yang melihat juga ikut merasa terharu hingga mereka semua yang berada disana tidak menyadari bahwa Aldo bisa meraih kaki Allice dan menariknya hingga jatuh ketepi tebing.
"ALLICE!!" Teriak Bastian dan Kenan.
Bastian dan Kenan langsung menembak Aldo tepat dijantung hingga Aldo langsung mati ditempat.
"Mama." Ucap Allice menahan pegangannya.
"Bertahanlah." Ucap Sisil berusaha menggapai tangan Allice namun, Allice tak bisa menahannya lagi hingga ia terjatuh dari atas tebing.
"ALLLLLIIIIIICEEEEEEEE." Teriak semuanya termasuk Alvaro, Sena, Kelvin, Austin dkk yang baru saja datang.
Semuanya langsung berlari dan melihat Allice.
"ALLICE!" Teriak Austin meneteskan air matanya, Austin yang hendak meloncat langsung ditahan oleh Raiden.
"JANGAN GILA." Bentak Raiden.
"TAPI ALLICE!" Teriak frustrasi Austin.
"Hiks hiks Allice." Tangis Azza, Adel dan Gabriel.
"Gw terlambat hiks Allice hiks." Tangis Gabriel menyalahkan dirinya sendiri, Raiden langsung berusaha menenagkan Gabriel agar tak menyalahkan dirinya sendiri, begitu juga Ryan dan Gilbert yang berusaha menenangkan Azza dan Adel.
Sisil langsung berbalik menatap semuanya.
"Sisil." Kaget Alvaro.
"Kakak." Kaget Sena dan Kelvin.
"Mama." Ucap kaget Gabriel yang masih dalam pelukan Raiden.
"Allice, maafin aku, kalau bukan karena aku Allice nggak akan jatuh." Ucap Sisil sedih. Alvaro langsung menghampiri Sisil dan memeluknya erat.
"Kamu kenapa bisa...., ah sudah lah." Ucap Alvaro yang mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Mama." Ucap Gabriel langsung memeluk Sisil.
"Jangan menangis, ini salah Mama." Ucap Sisil mengelus rambut Gabriel dengan sayang.
"Nggak Ma, Mama nggak salah, Allice kesini memang buat Mama, kita kesini buat cari Allice." Ucap Gabriel melepaskan pelukannya.
Saat itu juga helikopter yang tadi sudah ditencanakan oleh Allice baru tiba dengan sangat sangat terlambat.
"Queen, kita cari Allice dulu." Pamit Bastian dan Kenan.
"Gw ikut!" Ucap cepat Austin langsung berdiri dan masuk begitu saja kedalam helikopter.
"Tapi dimana Sindi, bukankah Aldo ini bersama dengan Sindi, kenapa disini cuman ada mayat Aldo." Batin Gabriel melihat sekeliling.
"Ada apa?" tanya Raiden.
"Ikut aku." Ucap Gabriel langsung berkeliling mencari tahu, ia masuk kedalam setiap sudut rumah, namun ia tak menemukan siapapun.
"Kau mencari apa?" tanya Raiden.
"Seseorang." Jawab Gabriel.
"Siapa?" tanya Raiden lagi.
"Istri pembunuh nya." Jawab Gabriel.
"Hei, sudahlah sekarang yang terpenting kita cari dulu Allice, kita urus dia besok lagi." Ucap Raiden diangguki Gabriel.
Dua jam berlalu helikopter yang turun tidak menemukan Allice bahkan sama sekali tidak menemukan tanda tanda apapun.
"Maaf Queen, King, dibawah tidak ditemukan siapapun." Ucap mafioso BDG.
"Cari lagi sampai dapat." Titah Alvaro.
"Baik."
***************************************
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕