MY DARK

MY DARK
MD#28



Gabriel membawa Raiden kepusat perbelanjaan untuk membelikan dan membelanjakan Raiden barang barang keperluan sehari hari Raiden, seperti pakaian, makanan dan yang lainnya.


"Udah sono lu pilih baju." Suruh Gabriel.


"Tapi, gw nggak punya duit." Ucap Raiden. "Ntar gw bayarnya pake apaan?" Tanya Raiden.


"Ginjal lu." Jawab Gabriel memutar bola matanya malas.


"Lah enak aja, ginjal gw terlalu berharga." Tolak Raiden.


"Elah Bambang, udah sono lu pilih aja sesuka lu, gw yang bayar, lu sekarang asisten gw, asisten mengikuti apa yang diperintahkan bosnya." Ucap Gabriel. "Sekarang gw perintahin elu milih baju." Lanjutnya menyuruh Raiden.


"Siap Bu bos." Ucap Raiden menurut langsung pergi memilih beberapa potong pakaian.


Sementara itu Gabriel mengetikkan pesan untuk seseorang untuk menunggunya diruangannya.


"Satu udah kelar sekarang ngurusin kentang." Gumam Gabriel.


Gabriel langsung pergi kepusat makanan membeli beberapa stok makanan untuk ia taruh di apartemen untuk Raiden. Stelahnya ia kembali lagi menghampiri Raiden.


"Udah lu?" tanya Gabriel.


"Udah, ini aja." Jawab Raiden menunjukkan beberapa potong baju yang sudah ia pilih.


"Ini doang? bercanda lu?" Tanya Gabriel.


"Enggak lah." Jawab Gabriel.


"Mbak!" Panggil Gabriel pada pelayan toko.


"Iya, Nona."


"Tolong ambilin pakaian buat dia, yang bagus dan jangan lupa jas juga." Ucap Gabriel.


"Baik, ditunggu sebentar."


"Gw ada kejutan buat lu." Ucap Gabriel pada Raiden.


"Kejutan? apa?" tanya Raiden.


"Ntar lu lihat dikantor." Ucap Gabriel. "Sekarang lu ganti baju, pake yang ini." Lanjutnya menyuruh Raiden mengganti pakaiannya dengan pakaian formal.


"Iya."


"Kejutan apaan sih, pake ganti baju segala, mana formal banget lagi ini." Gumam Raiden didalam ruang ganti baju. "Tapi nggak papa juga, mingkin ini awal dari kisah balas dendam gw untuk keluarga Mandala." Lanjutnya lagi sebelum keluar dari ruang ganti.


"Gimana?" tanya Raiden pada Gabriel.


Gabriel yang melihat penampilan Raiden yang begitu tampan, menawan dan berwibawa langsung bengong tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Raiden yang melihat Gabriel mengingtkan menjadi bingung, ia langsung melambaikan tangannya didepan wajah Gabriel.


"Hello Gabriel, lu kenapa?" tanya Raiden melambaikan tangannya didepan wajah Gabriel.


"Ah... nggak, nggak papa." Jawab Gabriel yang tersadar.


"Bagus." Puji Gabriel mengacungkan jempolnya didepan wajah Raiden.


"Udah ayok buruan, kita udah ditunggu seseorang." Lanjut Gabriel mengajak Raiden pergi kekasir.


"Mbak, mau bayar." Ucap Gabriel didepan meja kasir.


"Iya Nona, total semuanya 50 juta." Ucap kasir. Gabriel langsung mengulurkan black cardnya yang langsung diambil oleh kasir.


"Terima kasih Nona, Tuan." Ucap kasir sopan.


"Sama sama."


Gabriel langsung mengajak Raiden pergi kesalah satu pusat penjualan mobil ternama.


"Turun." Suruh Gabriel yang langsung membuka pintu mobilnya.


"Ngapain kita kesini?" tanya Raiden.


"Beli mobil buat lu." Jawab Gabriel.


"Apa ini nggak berlebihan?" tanya Raiden yang merasa tak enak hati.


"Tenang nggak usah lu pikirin, lu mau bales dendam kemereka kan? jadi ikutin aja apa kata gw, gw bantuin lu ikhlas." Ucap Gabriel.


"Baik banget ini orang, nggak pernah gw kenal cewe sebaik dan seperhatian dia, nggak kaya mantan gw yang bisanya cuman morotin uang keluarga gw." Batin Raiden takjub akan kebaikan Gabriel.


"Buru masuk, malah bengong." Ajak Gabriel langsung menarik tangan Raiden masuk.


Didalam sudah terpajang mobil mobil mewah dan ternama.


"Lu pilih aja yang mana." Suruh Gabriel.


"Gw nggak tahu harus pilih yang mana." Ucap Raiden.


"Lama lu, udah pilih yang ini aja." Ucap Gabriel menunjuk salah satu mobil berwarna biru.


"Nona, benarkah anda memilih mobil ini, ini mobil keluaran terbaru dan belum ada sama sekali yang memiliki, pabrik hanya membuat satu model dengan satu warna saja." Ucap seorang yang bertugas melayani Gabriel.


"Wah bagus dong, udah Mas yang ini aja." Ucap Gabriel memutuskan.


"Baik kalau begitu tunggu sebentar." Ucapnya lalu mengurus semua keperluan dan surat surat.


Setelah mendapatkan semua yang Gabriel inginkan untuk Raiden, mereka langsung pergi kekantor, menemui orang yang sudah menunggu Gabriel diruangannya.


Saat Gabriel masuk kedalam kantor dengan diikuti Raiden dibelakangnya semua karyawan meilhat Raiden dengan tatapan kagum akan ketampanan Raiden, juga tatapan bingung kenapa ia bisa berada disisih Gabriel dengan pakaian dan penampilan yang tak kalah dengan seorang bos.


"Wah lihat itu kan, orang yang kemarin mau bunuh diri."


"Iya itu yang kemarin."


"Atau jangan jangan mereka ada hubungan."


Ucap para karyawan yang melihat Gabriel dan Raiden berjalan bersama.


Gabriel dan Raiden yang mendengar langsung berhenti sejenak, Gabriel yang hendak memaki para karyawannya ditahan oleh Raiden.


"Tenang lah, jangan dihiraukan." Ucap Raiden.


"Diem." Suruh Gabriel yang langsung membuat Raiden bungkam.


"Kalian bicara apa?!" tanya Gabriel yang sedikit marah.


Karyawan yang mendengar hanya menunduk takut, entah entah mereka bisa langsung dikeluarkan dengan tidak hormat oleh Gabriel.


"Lah kenapa pada diem? ditanya juga." Ucap Gabriel.


"Kalian tanya ini siapa? kenalkan dia Raiden Daren, asisten pribadi saya, jadi kalian semua harus bisa menghormatinya, bukan bisanya menggosip saja." Ucap Gabriel sengaja tidak menyebutkan marga Raiden.


"Baik, Nona bos." Ucap para karyawan.


"Kalau sampai saya dengar kalian menggosip lagi, awas saja." Ancam Gabriel.


"Ba..baik Nona, kami tidak akan menggosip lagi." Ucap salah satu karyawan mewakili.


"Baiklah kembali bekerja." Ucap Gabriel langsung pergi masuk kedalam lift khusus atasan bersama Raiden.


"Huh untung aja." Ucap lega para karyawan.


"Udah udah ayok kerja."


Didalam lift.


"Lu tuh nggak usah gitu kali tadi, biarin aja mereka." Ucap Raiden.


"Biarin aja kali, biar nggak ada gosip tentang gw." Jawab Gabriel santai.


"Terserah mu saja." Ucap Raiden.


"Oh iya, gw panggil lu apa? nona atau ibu?" tanya Raiden.


"Enak aja lu panggil Ibu, Nona lah." Jawab Gabriel.


"Baiklah, Nona bos yang terhormat." Ucap Raiden membungkuk sopan.


"Hahah ada ada aja lu, nggak gitu juga kali." Ucap Gabriel tertawa akan tingkah Raiden.


"Lah salah gw?" tanya Raiden.


"Ya kaga, tapi terlalu lebay." Jawab Gabriel.


"Gini, kalo ada orang lain lu panggil gw Nona, biar terkesan profesional aja, tapi kalo lagi berdua gini lu panggil nama gw aja, kalo nggak lu gw aja." Ucap Gabriel memberi tahu.


"Siyap itu mah."


"Ok, habis ini lu ikutin drama yang bakal gw bikin." Ucap Gabriel yang sudah sedari tadi terlintas rencana yang akan dilakukannya untuk Raiden.


"Drama?" tanya Raiden.


"Udah lu tenang aja, nggak akan rugi lu pokoknya, gw jamin 1000 persen." Ucap Gabriel meyakinkan.


"Yaudah gw nurut aja, lu kan sekarang Nona bos yang terhormat dan berwibawa." Ucap Raiden.


Saat lift terbuka mereka langsung keluar dan menuju ruangan Gabriel dimana sudah ada dua orang yang sudah menunggunya sedari tadi.


Saat hendak masuk sekretaris Gabriel menghampiri Gabriel.


"Nona, mereka sudah menunggu sedari tadi." Ucapnya memberi tahu.


"Yaudah, saya masuk dulu." Ucap Gabriel.


"Kamu tunggu disini, nanti kalau saya panggil kamu langsung masuk." Pesan Gabriel untuk Raiden.


"Baik, Nona." Jawab Raiden profesional. Gabriel langung masuk kedalam ruangan.


"Kamu yang kemarin mau bunuh diri, kan?" tanya sekretaris pada Raiden.


"Haha iya, maaf sudah membuat heboh." Ucap Raiden.


"Iya biasa saja, kok bisa sama nona?" tanyanya lagi kepo.


"Ah.. saya asisten pribadi nona, Raiden." Jawab Raiden dengan menyebutkan namanya diakhir katanya.


"Oh asisten, selamat bergabung." Ucap Sekretaris ramah.


"Terima kasih."


***************************************


~BERSAMBUNG~


LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5


JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE


JANGAN LUPA👆


SEE YOU NEXT EPISODE 😉


BYE~


AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕