
...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...
...*...
...*...
"Selamat pagi, Pak, Bu." Ruby menyapa pria paruh baya dan wanita muda tersebut dengan sopan sambil tersenyum. Semalam Naura sudah memperkenalkan Ruby pada keduanya jadi dia sudah tahu bahwa pria paruh baya tersebut merupakan papa kandung Aresh sekaligus CEO Adiyaksa Holdings, sedangkan wanita muda cantik yang datang bersamanya itu adalah sekretarisnya yang katanya akan membimbing Ruby minimal selama 1 bulan ke depan sampai Ruby benar-benar mahir dengan tugasnya.
Usai meletakkan kopi buatannya di depan meja Aresh, Ruby pun menawarkan minum pada Yuda dan sekretarisnya itu.
"Tidak usah, duduk saja dulu, banyak hal yang mesti kita bahas bersama hari ini," tolak Yuda saat Ruby menawarinya minum.
Gadis itu sempat diam terpaku di tempat, sebab tempat duduk yang kosong hanyalah sofa panjang tempat Aresh duduk saat ini. Mengingat hubungan mereka yang sebenarnya kurang baik, Ruby pun agak canggung duduk di samping bos dingin dan galaknya itu.
Melihat wajah canggung gadis itu, Yuda pun bisa langsung mengerti. Apalagi sebagai papa kandung Aresh, dia tahu betul seperti apa sifat putranya selama 2 tahun terakhir terhadap gadis-gadis yang mencoba mendekati dan menggodanya, tidak menutup kemungkinan Aresh juga memperlihatkan sisi dingin dan galaknya pada gadis itu.
"Tidak apa-apa, Sekretaris Ruby, duduk saja di samping Aresh. Atau kalau kamu tidak mau, kamu bisa duduk di sana," Yuda berkata kemudian tertawa, sembari menunjuk kursi pimpinan yang kini sudah tertera nama putranya di atasnya.
"Ti-tidak, Pak, Tidak usah. Saya duduk di sini saja. Saya mana berani duduk di sana." Dengan cepat Ruby duduk di ujung sofa tempat Aresh duduk, sebisa mungkin dia ingin menjaga jarak dengan atasannya itu. Sementara Aresh yang melihat hal tersebut malah berdecih dalam hati.
Tidak lama kemudian, Bagas juga ikut bergabung bersama mereka berempat.
"Oh?" Seketika Ruby melihat ke arah Aresh dan Bagas secara bergantian, kalau Bagas juga ingin duduk di sana, itu artinya Ruby akan duduk diapit oleh kedua pria itu.
'Tidak, tidak. Ini tidak seharusnya terjadi. Daripada duduk di dekatnya, lebih baik aku duduk di ujung saja, di samping Pak Bagas.' Batin Ruby.
Baru saja gadis itu hendak berdiri dari duduknya untuk memberikan jalan pada Bagas, Aresh malah tanpa sadar menarik pergelangan tangannya. "Kamu mau ke mana?" tanyanya.
Ruby langsung diam terpaku saat Aresh menarik pergelangan tangannya, gadis itu tidak langsung menjawab pertanyaan lelaki itu, pandangannya malah tertuju pada tangan besar Aresh yang kini sudah mencengkram pergelangan tangannya. Sementara Aresh yang baru sadar dengan hal tersebut segera melepaskan tangan Ruby sambil berdehem. Malu juga dia sudah menyentuh tangan gadis itu tanpa sengaja.
"Sa-saya mau memberi jalan untuk Pak Bagas, Pak." Ruby menjawab dengan canggung sembari bergeser dari tempatnya berdiri. "Silahkan Pak Bagas."
"Terima kasih." Bagas tersenyum, kemudian duduk di tengah. Kini posisi duduk lelaki tersebut berada diantara Ruby dan Aresh.
'Cih, jadi dia lebih suka duduk di dekat Bagas daripada di dekatku.' Batin Aresh, yang entah mengapa menjadi kesal karena kelakuan sekretarisnya itu.
"Baiklah, karena kita berlima sudah ada di sini, kita mulai saja sekarang," kata Yuda selaku pimpinan terdahulu yang sudah memiliki banyak pengalaman.
"Baik, Pak," jawab mereka bersamaan.