
...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...
...*...
...*...
Bagas yang saat itu sebelah kakinya sudah berpijak di tanah dan sebelahnya lagi masih di mobil pun jadi bingung, atasannya ini benar-benar tidak berperasaan, tidak punya hati nurani, dan tidak punya naluri pelindung sebagai seorang pria. Bukankah menemani seorang gadis menunggu jemputan larut malam begini adalah hal yang lumrah, lalu mengapa dia begitu marah. Tidakkah Aresh berpikir, bagaimana jika seandainya mommy dan adik perempuannya, Yura, berada di posisi yang sama dengan Ruby. Keduanya adalah perempuan yang sangat dia sayangi dan kasihi di muka bumi ini melebihi apa pun. Tidakkah Aresh berpikir demikian.
"Tapi, Tuan Muda."
"Jalan atau turun? Pilih mana?" ucap Aresh dengan penuh penekanan, yang justru malah terdengar seperti ancaman.
Mendengar pilihan yang dibuat Aresh untuknya, rasanya Bagas tidak berdaya saat ini, lelaki itu menatap Ruby dengan tatapan menyesal, seolah berkata, "Maafkan aku, Sekretaris Ruby."
Ruby tersenyum dipaksakan. "Tidak apa-apa, Pak Bagas, antar saja Pak Aresh pulang. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya, Robby sudah dekat di daerah sini, sebentar lagi juga sampai."
Dengan berat hati Bagas kembali menutup pintu mobil. Lelaki itu menyalakan kembali mesin mobilnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Ruby.
"Cepat hubungi aku jika terjadi sesuatu," pesan Bagas sebelum melajukan mobilnya, dan Ruby pun menanggapi ucapan lelaki itu dengan anggukan disertai senyuman.
Melihat sikap Aresh tadi, tentu saja Ruby menjadi sedih, kesal, dan sakit hati pada lelaki itu.
"Dasar laki-laki tidak punya hati, tidak punya perasaan," gumamnya kesal. Yang masih menjadi pertanyaan yang belum terpecahkan hingga detik ini di kepala Ruby, kenapa Aresh begitu membencinya? Memangnya apa salahnya? Kalau hanya gara-gara Aresh pernah tersakiti oleh wanita lain, lalu mengapa Ruby juga harus ikut menanggung akibat dari perbuatan wanita lain. Bukankah ini tidak adil.
Baru saja mobil mewah itu melaju meninggalkan Ruby sejauh beberapa puluh meter, tapi Bagas sudah melakukan panggilan video pada gadis itu.
"Eh, kenapa pak Bagas tiba-tiba meneleponku?" gumam Ruby, kemudian menjawab panggilan lelaki itu. "Halo."
"Jangan matikan teleponnya sampai adikmu datang, aku hanya ingin memastikan bahwa kamu aman dan baik-baik saja di sana," kata Bagas.
"Baik, Pak." Ruby tersenyum, lama-lama hatinya bisa meleleh kalau lelaki itu terus saja memperlakukannya seperti ini, dan entah mengapa kini Bagas malah terlihat sangat tampan di mata Ruby, padahal yang nampak di layar ponselnya hanyalah dagu dan lubang hidung lelaki itu karena ponsel Bagas diletakkan di pangkuan lelaki itu.
Sementara itu di tempat lain, Aresh hanya berdecih melihat kelakuan asisten beserta sekretarisnya. Tidak berselang lama, Ruby akhirnya mengatakan pada Bagas bahwa adiknya sudah datang menjemput.
"Hati-hati di jalan. Kamu saja yang matikan panggilannya karena aku masih menyetir," pesan Bagas sebelum sambungan panggilan video mereka terputus.
Bagas tersenyum. "Dia gadis yang manis dan baik, Tuan Muda."
"Jadi kamu menyukainya?" tanya Aresh untuk kedua kalinya, tapi Bagas hanya menanggapinya dengan senyuman.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di dalam mobil Robby.
"Siapa laki-laki itu, Kak? Apa dia pacarmu?" tanya Robby penasaran, karena setelah Ruby patah hati 2 tahun lebih yang lalu, ini pertama kalinya dia melihat kakaknya itu dekat dengan lawan jenis.
"Bukan, hanya rekan kerja," jawab Ruby sambil terus senyam-senyum, hal itu tentu saja membuat Robby jadi curiga.
"Kakak menyukai laki-laki itu?" tanya Robby ingin memastikan.
"Entahlah, Kakak juga tidak tahu. Dia itu orangnya sangat baik dan perhatian pada Kakak, Rob, berbeda dengan bos Kakak yang sangat dingin, galak, dan menyebalkan. Ish, mengingatnya saja membuat Kakak jadi kesal," geram Ruby di akhir kalimatnya. Hati yang tadinya berbunga-bunga karena mengingat perhatian Bagas seketika menjadi kesal karena mengingat perlakuan kasar Aresh selama ini.
"Benarkah? Jadi ternyata selama ini bos Kakak galak pada Kakak?" tanya Robby.
Ruby mengangguk. "Loh, bukannya dia anak temannya bunda, ya? Anaknya tante Naura, 'kan? Setahuku tante Naura itu orangnya sangat baik dan lembut, kenapa anaknya bisa galak seperti itu?" tanya Robby heran.
"Entahlah. Kalau bukan tante Naura sendiri yang mengenalkan anaknya pada Kakak secara langsung, terkadang Kakak juga tidak percaya kalau dia itu adalah anaknya tante Naura."
"Atau jangan-jangan, sifat galaknya itu menurun dari ayahnya, Kak," kata Robby lalu terkekeh, sementara Ruby hanya mengedikkan bahunya.
*
*
"HATCHI! HATCHI!"
"Tuan Muda, apa Anda ingin mampir ke apotek terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah? Dari tadi Anda terus saja bersin-bersin, jangan-jangan Anda mau flu," kata Bagas prihatin dengan kesehatan bosnya itu.
"Hem, boleh," jawab Aresh.