
Sesampainya di lantai atas, suasana di pesta ulang tahun itu sudah ramai dihadiri oleh para tamu undangan. Aska menuntun sang kakak untuk berjalan menghampiri seorang gadis bergaun putih yang kini sudah berdiri di atas panggung.
"Bang, bersiaplah untuk hadiah kejutannya," bisik Aska saat menuntun Aresh menaiki anak tangga panggung. "Nanti saat Abang melihat hadiah kejutannya, jangan sampai pingsan ya, karena kalau Abang sampai pingsan, terpaksa hadiah spesialnya itu untukku." Aska berkata lalu terkekeh. Tergambar jelas raut kebahagiaan di wajah pemuda itu, begitu juga dengan ketiga orang tua mereka, yang kini menatap putra mereka dengan perasaan haru.
"Perasaan baru kemarin aku melihat Aresh kecil, tapi sekarang ...." Naura tidak sanggup meneruskan ucapannya. Terlalu bahagia justru membuatnya menangis.
"Loh, kenapa kamu malah menangis, Sayang? Bukannya memang ini yang kamu inginkan sejak lama." Mahend berkata sambil merangkul bahu istrinya.
"Dad, ini itu bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan. Mommy terlalu senang karena akhirnya ... akhirnya anak kita akan menikah," jelas Naura. Anehnya, air matanya malah semakin mengalir deras setelah mengatakan kalimat tersebut. Dia tidak bisa membayangkan betapa bahagianya Aresh nantinya ketika mengetahui bahwa ternyata hadiah ulang tahunnya adalah resepsi pernikahannya dengan Ruby.
Mahend membawa istrinya ke dalam pelukan. Tidak disangka saat dia melihat ke samping, Yuda ternyata juga tengah menyeka air matanya menggunakan sapu tangan.
"Yud, kamu juga menangis?" tanya Mahend sambil terkekeh.
"Tidak, Hend. Mataku hanya kelilipan," jawab Yuda.
"Kelilipan? Jangan mengada-ngada kamu."
"Iya, aku tidak bercanda, Hend. Mataku memang kelilipan kebahagiaan," ucapnya lagi. Anehnya, air matanya terus mengalir tapi bibirnya tersenyum. Akhirnya putranya satu-satunya sebentar lagi menikah.
"Kalian ini. Anak sebentar lagi menikah tapi kalian malah menangis," kata Mahend.
Bug. Pukulan Naura langsung mendarat di lengan Yuda.
"Bang Yuda ini kalau bicara ada-ada saja. Aku justru malah senang kalau 1 tahun ke depan mereka sudah memberikan kita cucu," protes Naura yang membuat Mahend dan Yuda terkekeh.
Sementara itu di atas panggung sana, Aska sudah menuntun sang kakak untuk berdiri tepat di hadapan Ruby. Di sampingnya juga sudah ada pendeta yang siap memimpin upacara pernikahan keduanya.
Aska mulai membuka ikatan kain penutup mata Aresh. "Bersiaplah, Bang, aku akan segera membuka kain penutup matamu. Tolong jangan jangan pingsan ya."
"Hem." Aresh bergumam dengan perasaan malas. Tidak tahu saja dia kalau hadiah ulang tahunnya kali ini adalah mempelai wanita impiannya.
"Siap, 1 ... 2 ... 3." Aska berkata sambil melepas kain penutup mata Aresh. "Happy birthday and happy wedding, Bang."
"Kenapa happy wedding?" Aresh sempat bingung dengan ucapan selamat yang disematkan oleh sang adik, tapi begitu melihat gadis cantik yang mengenakan gaun pengantin berdiri di hadapannya, Aresh langsung diam terpaku.
"Ru-Ruby, kamu ...." Aresh tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dia merasa sangat bahagia ketika melihat gadis yang dicintainya kini sudah berdiri di hadapannya sambil mengenakan gaun pengantin dan memegang bucket bunga di tangannya. Rupanya hadiah ulang tahun yang disiapkan oleh para orang tuanya adalah Ruby. Benar-benar hadiah yang tidak ternilai harganya. Hampir saja Aresh menyesal seumur hidup karena menolak dibuatkan pesta ulang tahun yang ternyata juga acara resepsi pernikahannya dengan Ruby.
"Happy birthday, Pak Aresh." Ruby berkata sambil tersenyum menatap mantan bos dinginnya tersebut.