My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 7



...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...


...*...


...*...


"Ruby berangkat dulu ya, Bund. Doakan agar pekerjaan Ruby lancar dan tidak banyak kendala. Kalau ada apa-apa, cepat telepon Ruby, ya," ucap Ruby. Pagi ini setelah berpamitan dan meminta restu sang ibunda, gadis itu pun segera berangkat ke kantor diantar oleh Robby. Pagi ini adalah hari pertama Ruby bekerja di Adiyaksa Holdings sebagai sekretaris Aresh, karena tidak ada yang menginginkan Ruby datang terlambat di hari pertama bekerja, Robby pun memutuskan untuk mengantar sang kakak sebelum berangkat ke kampus.


Sementara itu diwaktu yang sama namun tempat yang berbeda, Naura tengah memasangkan dasi di leher Aresh. Pemuda itu nampak sangat tampan dan gagah dengan setelan jas berwarna abu-abu pekat beserta gaya rambut klimis.


"Wah, anak Mommy tampan sekali." Naura tersenyum sembari mendongak menatap putranya itu.


"Mommy bisa saja."


"Ya sudah, berangkat sana, hari ini adalah hari pertama kamu menggantikan papa kamu memimpin perusahaannya, jadi kamu tidak boleh datang terlambat," kata Naura. Wanita paruh baya itu lantas mengambil kotak bekal yang memang sudah dia siapkan untuk putranya. Ini memang sudah menjadi kebiasaan saat ketiga anaknya masih kecil. Naura tidak akan membiarkan mereka jajan sembarangan di luar dan memakan makanan yang tidak sehat.


Aresh mengerutkan dahi saat melihat sang mommy memasukkan dua buah kotak bekal dengan warna berbeda ke dalam tas bekal. "Loh, Mommy, kenapa kotak bekalnya ada dua?"


Naura tersenyum. "Yang warna abu-abu ini sudah jelas punya kamu, Sayang, tapi yang satu ini, kotak bekal berwarna pink ini, Mommy mau minta tolong, tolong berikan pada Ruby, ya? Kamu tidak keberatan, 'kan?"


"Ru-Ruby?" Aresh merasa tidak percaya. "Untuk apa Mommy membuatkan bekal untuk gadis itu? Bukankah dia bisa bawa bekal dari rumahnya sendiri."


Jujur saja, Aresh tidak suka saat mommy-nya memperlakukan gadis yang satu itu dengan sangat spesial. Semalam mommy-nya membuat kejutan dengan menjadikan gadis itu sebagai sekretarisnya tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, sedangkan pagi ini, sang mommy malah membuatkan bekal untuk gadis itu juga. Bukankah ini terlalu berlebihan, memangnya apa istimewanya gadis itu? Pikir Aresh.


"Iya, Mommy tahu Ruby bisa bawa bekal dari rumahnya sendiri, tapi itu kalau dia pandai memasak, kalau tidak bagaimana?" kata Naura.


"Tapi, Mom, dia itu 'kan-"


"Sudah, jangan banyak protes, cepat berangkat sana. Pokoknya Mommy tidak mau tahu, bekal itu harus kamu berikan pada Ruby, kalau tidak-"


"Mommy akan memarahiku," sambung Aresh memotong ucapan sang Mommy.


Naura tertawa karena putranya itu sudah tahu apa yang akan dia katakan. "Nah, itu kamu tahu."


"Ya sudah, Aresh berangkat dulu ya, Mom." Aresh pamit sambil mencium punggung tangan Naura.


*


*


Adiyaksa Holdings


Ruby berdiri tepat di depan pintu masuk gedung perkantoran tersebut. Tadi saat dia baru sampai, Naura tiba-tiba saja menelponnya dan menyuruhnya untuk menunggu Aresh di sana. Tidak berselang lama, pemuda itu pun akhirnya sampai di kantor diantar oleh sopir pribadi sekaligus asistennya, yaitu Bagas.


"Selamat pagi, Pak," sapa Ruby sembari menunduk, karena sebenarnya dia merasa agak canggung pada lelaki itu setelah apa yang mereka alami semalam.


"Hem." Aresh bergumam seraya memberikan tas bekalnya pada Ruby tanpa aba-aba, hampir saja gadis itu menjatuhkannya karena tidak ada persiapan sama sekali.


Astaga. Apa ini? Batin Ruby.


"Hai, selamat pagi, dan selamat datang di Adiyaksa Holdings." Bagas menyapa Ruby sambil tersenyum, kemudian melenggang masuk menyusul Aresh yang tengah berjalan menuju lift.


"Ha-hai," balas Ruby. Gadis itu masih berdiri di tempat sembari memperbaiki tas bekal yang hampir saja dia jatuhkan.


"Hey, kenapa kamu masih berdiri di situ? Ayo masuk," ajak Bagas setelah berjalan beberapa langkah tapi Ruby masih saja betah berdiri di tempat.


"Ah, iya." Ruby lantas mensejajarkan langkahnya dengan pemuda itu. "Kenapa kamu juga ikutan masuk?" tanya Naura penasaran, karena seingatnya pemuda itu adalah sopir pribadi Aresh. Tidakkah dia melihat penampilan rapi lelaki itu pagi ini yang sama sekali tidak mirip dengan sopir.


Bagas hanya tersenyum menanggapi ucapan Ruby, kemudian memberikan kartu nama pada gadis itu.


"Apa ini?" tanya Ruby. Matanya seketika melebar ketika mengetahui bahwa ternyata laki-laki yang dia kira adalah sopir pribadi Aresh tersebut ternyata adalah asisten Aresh juga sekaligus. "Maaf, aku tidak tahu."


Bagas tersenyum. "Tidak apa-apa. Oh iya, Sekretaris Ruby, mulai sekarang kita adalah rekan kerja, aku harap kita berdua bisa bekerja sama dengan baik ke depannya."


Ruby balas tersenyum malu-malu. Rasanya sedikit aneh saat seseorang pertama kali memanggilnya dengan sebutan seperti itu. "Tentu saja."


Sementara itu, Aresh yang diam-diam menyimak interaksi keduanya pun merasa tidak suka saat melihat Bagas yang terlihat akrab dengan Ruby, padahal mereka baru saja saling mengenal.