My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 25



Sebelum makan malam bersama di mulai, mereka semua berkumpul di taman belakang rumah. Makan malam bersama kali ini menunya adalah daging barbeque. Para laki-laki bertugas membakar daging, sosis, serta jagung. Sementara para perempuan bertugas menyiapkan kebutuhan lainnya.


"Yah, gosong." Aska menggeleng sembari menatap daging miliknya yang sudah nampak seperti arang saja.


"Begitulah, Aska, kalau membakar daging sambil menggoda anak gadis orang," ledek Yuda yang satu tungku bersama Aska. "Kamu persis seperti daddy-mu saat masih muda dulu, suka menggoda gadis sana-sini," tambah Yuda.


Sejak tadi Aska memang selalu melontarkan gombalan pada Ruby, dan tanpa sadar dirinya membuat hati Aresh memanas seperti bara api dalam tungku. Aresh yang tadinya ingin mengalah untuk sang adik kini memutuskan untuk berjuang mendapatkan hati Ruby, terserah Ruby nanti mau memilih siapa diantara mereka berdua. Yang jelas, Aresh tidak ingin menyesal di kemudian hari karena menyerah sebelum berjuang.


"Oh iya, Robby, ngomong-ngomong Ruby suka makan apa?" Aresh bertanya dengan setengah berbisik, tidak ingin orang lain mendengarnya.


"Kak Ruby, dia tidak pemilih soal makanan. Dia makan apa saja, asalkan bukan makanan mentah." Robby menjawab sambil tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu bisakah kamu memberikan ini padanya?" Aresh memberikan satu buah jagung yang baru saja matang pada Robby.


"Oh, tentu saja." Robby lantas berjalan menghampiri sang kakak. "Kak, ini untukmu."


"Terima kasih, Robby. Kamu memang adik yang paling baik dan pengertian. Tahu saja kalau Kakak sedang kelaparan." Ruby berbisik sambil tersenyum, kemudian memakan jagung bakar gigitan pertamanya. "Mm, enak."


"Kak, sebenarnya itu bukan dariku, tapi dari bos Kakak yang galak itu." Robby balas berbisik sambil menatap sekilas ke arah Aresh, sementara Ruby yang melihat Aresh melempar senyum padanya justru malah tersedak jagung yang masih belum sempat dia telan.


"Uhuk uhuk."


"Ini, minumlah." Aresh tiba-tiba saja munghampiri dan memberikan segelas air pada Ruby. Entah sejak kapan dia menyiapkannya.


Ruby tidak langsung menerima air pemberian Aresh. Kemunculan pemuda itu dengan segelas air di tangannya sudah cukup membuat batuk Ruby terhenti. Rupanya sikap aneh Aresh di kantor berlangsung hingga sampai di rumah.


"Te-terima kasih." Ruby pun menerima air itu dan meminumnya.


Aresh tersenyum. "Sama-sama. Kalau makan pelan-pelan, jangan sampai tersedak."


Sementara itu di sudut lain, Nuara, Mahend, beserta Bundanya Ruby tersenyum melihat Aresh memberikan perhatian pada Ruby.


"Sepertinya sekarang mereka sudah cukup dekat," ucap Naura.


*


*


Makan malam berlangsung dengan lancar tanpa adanya kendala, tidak ada hal spesial yang mereka bahas malam ini, hanya makan malam biasa antar dua keluarga yang menjalin persahabatan sejak lama.


"Kak Ruby," panggil Robby yang sedang menyetir. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah.


"Hem, ada apa, Robby?" Ruby bertanya sambil bersandar dan memejamkan matanya.


"Selama ini Kak Ruby sering cerita 'kan kalau bang Aresh itu sangat galak dan suka bersikap semena-mena pada Kakak, tapi kok tadi aku melihat kebalikannya."


Mendengar penuturan sang adik, Ruby buru-buru membuka mata dan memperbaiki posisi duduknya. "Nah, itu juga yang membuat Kakak heran seharian ini, Robby. Dia itu tiba-tiba saja berubah sikap 180 derajat, dari yang biasanya galak, suka marah-marah, dan suka seenaknya memerintah Kakak ini dan itu, tiba-tiba saja bersikap baik, lemah lembut, dia bahkan berkata pada Kakak, terima kasih Sekretaris Ruby, kopi buatanmu enak sekali, dan lain sebagainya. Kakak juga tidak tahu apa yang terjadi padanya. Kakak pikir mungkin dia salah makan obat, atau mungkin kepalanya habis terbentur."


Robby terkekeh mendengar cerita Ruby. "Kak, apa jangan-jangan bang Aresh mulai menyukai Kakak."


"Ah, jangan bicara sembarangan, Robby. Dia tidak mungkin seperti itu."


"Kenapa tidak mungkin, Kak, tadi aku melihat sendiri bagaimana cara bang Aresh perhatian pada Kakak. Dia bahkan menanyakan Kakak suka makan apa."


"Berhentilah bicara omong kosong, Robby. Menyetirlah yang benar." Ruby mencoba mengakhiri topik pembicaraan tak berguna ini. Baginya, Aresh jatuh cinta padanya itu hal yang mustahil, mengingat Aresh sangat membenci dirinya. Dan setahunya, lelaki itu juga sangat membenci perempuan.


*


*


Keesokan harinya.


"Bund, Ruby berangkat kerja dulu, ya."


"Iya, hati-hati, Nak."


Usai berpamitan pada ibunda tercinta, Ruby lantas segera keluar dari rumah, tidak disangka mobil Aresh malah sudah ada di depan pintu gerbang rumahnya.


"Loh, Pak, kenapa Anda ada di sini?" Ruby menatap Aresh yang tengah duduk di balik kemudi dengan tatapan heran.


"Oh, itu, tadi aku mampir di Key's Cake membeli cemilan untuk anak-anak di kantor," jawab Aresh. "Dan aku pikir ... mumpung aku ada di dekat sini, jadi ... aku memutuskan untuk sekalian menunggumu. Kita berangkat ke kantor bersama-sama." Aresh menjelaskan dengan agak canggung sambil tersenyum menatap gadis itu.


"O-oh." Ruby mengangguk ragu. "Oh iya, Mang Ujang kemana? Kenapa Anda yang menyetir sendiri?" tanya Ruby kemudian. Sebab tidak biasanya bos juteknya itu membawa mobil sendiri.


"Mang Ujang sedang libur. Ayo masuk, kita berangkat sekarang."


"Baik, Pak."


*


*


Mobil Aresh mulai memasuki pelataran Adiyaksa Holdings. Begitu sampai di depan pintu masuk utama gedung, Aresh lantas menghentikan mobilnya. Setelah mereka berdua turun dari mobil, Ruby lantas mengeluarkan semua kotak kue yang ada di bagasi, Aresh yang melihat hal tersebut tentu saja langsung panik.


"Sekretaris Ruby, apa yang kamu lakukan?" tanya Aresh, tanpa Ruby jawab pun dia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.


"Saya, saya mau membawa semua kue ini ke atas, Pak. Bukannya Anda membelinya untuk cemilan para karyawan."


"I-iya, memang." Aresh lantas mengambil alih semua kotak kue itu dari tangan Ruby. "Biar aku saja yang membawanya."


Aresh kemudian berjalan cepat masuk ke dalam gedung perkantoran. Tidak peduli saat ini Ruby tengah menatapnya keheranan. Masih teringat jelas beberapa waktu lalu Aresh pernah menyuruhnya membawa semua kotak kue dan melarang petugas keamanan untuk membantunya.


"Astaga. Ternyata keanehannya masih berlanjut hingga hari ini," gumam Ruby sambil menatap pemandangan yang sangat tidak biasa.