My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 36



Beberapa hari ini kepala Aresh pusing karena ulah Ruby. Pasalnya semenjak gadis itu memutuskan untuk resign dari perusahaanya dengan alasan ingin pergi liburan, sekali pun Ruby tidak pernah membalas pesan apalagi menjawab panggilan telepon dari Aresh.


"Loh, loh, loh. Anak Mommy kok murung terus sih?" Naura duduk di samping putranya yang saat itu sedang duduk termenung di bangku taman.


"Mom." Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari mulut Aresh, setelahnya pemuda itu kembali menatap lurus ke depan.


"Resh, Mommy perhatikan kok akhir-akhir ini kamu seperti kehilangan semangat. Sebenarnya ada apa? Apa kamu punya masalah?" tanya Naura, yang sebenarnya hanya ingin mengetes kejujuran putra sulungnya tersebut.


"Tidak apa-apa, Mom. Hanya ada sedikit masalah di perusahaan," jawab Aresh. Sebenarnya dia masih malu mengakui perasaannya terhadap Ruby di hadapan sang mommy, karena waktu itu Ruby sudah dua kali menolak cintanya. Jadi dia berpikir bahwa gadis itu pasti benar-benar tidak menyukai dirinya.


"Oh, ya? Apa sekretaris baru kamu tidak sekompeten Ruby?" tanya Naura.


Aresh tidak menjawab. Pemuda itu justru menghembuskan napasnya dengan kasar mendengar nama Ruby disebut. "Jangan menyebut-nyebut namanya lagi, Mom."


Naura mengulum senyumnya mendengar ucapan Aresh. "Ya sudah, kalau kamu tidak mau lagi membahas sekretaris yang tidak bertanggung jawab itu tidak apa-apa. Sekarang kita bahas mengenai pesta ulang tahunmu yang tinggal 3 hari lagi."


Aresh seketika menatap sang mommy. Karena sibuk memikirkan Ruby, dia bahkan sampai lupa kalau sebentar lagi dirinya akan berulang tahun yang ke 28 tahun. Usia yang cukup matang untuk menikah, pikirnya.


"Mom," panggil Aresh.


"Iya, Sayang."


"Bolehkah kita tidak usah merayakan pesta ulang tahun? Cukup dirayakan bersama orang rumah saja."


"Loh, kenapa tidak dirayakan, Sayang? Kamu itu sekarang sudah jadi pimpinan perusahaan besar. Sudah seharusnya pesta ulang tahunmu dirayakan besar-besaran dan mengundang banyak teman, kerabat, dan kolega-kolega bisnis kamu."


"Kenapa?" tanya Naura, tapi putranya itu justru malah terdiam.


"Beginilah akibatnya kalau kamu tidak mau jujur sama Mommy, Aresh. Kamu punya masalah tapi tidak mau cerita sama Mommy. Ada masalah kamu pendam sendiri, jadinya sekarang kamu yang galau sendiri. Coba sejak awal kamu cerita sama Mommy, Mommy pasti akan bantu kamu mencari jalan keluarnya." Naura pura-pura marah dan kesal pada putranya agar putranya itu mau terbuka padanya.


Melihat sang mommy marah, Aresh buru-buru minta maaf.


"Mom, Aresh minta maaf. Mommy jangan marah, ya." Aresh memeluk lengan Naura dan bersandar di pundaknya. "Baiklah, Aresh akan cerita. Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang Aresh tutup-tutupi." Aresh menjeda ucapannya sejenak. "Sebenarnya ... sebenarnya Aresh jatuh cinta pada Ruby, Mom, tapi Ruby menolak Aresh dengan alasan tidak mencintai Aresh. Sekarang dia sudah resign dari perusahaan, pasti karena masalah itu. Mungkin sekarang dia sangat membenci Aresh."


Naura mengulum senyum mendengarkan curahan hati putranya. "Sabar, Sayang. Mommy turut prihatin mendengarnya," ucap Naura.


*


*


Hari ulang tahun Aresh akhirnya tiba, dan sekarang pesta ulang tahun pemuda itu dirayakan di tempat yang sama dimana Aresh dan Ruby pertama kali bertemu waktu itu.


"Aska, kenapa mataku pakai acara ditutup segala?" tanya Aresh saat sang adik menuntunnya keluar dari mobil.


"Bang Aresh ini bagaimana sih? Hari ini 'kan hari ulang tahun Abang. Kalau mata Bang Aresh ditutup, itu artinya ada kejutan spesial buat Abang." Aska menjawab lalu terkekeh.


Aresh mendengus, sebenarnya dia tidak selera melakukan hal seperti ini. Bahkan pesta ulang tahunnya pun dia tidak mau, tapi sang mommy terus saja memaksa hingga akhirnya dia memilih menurut. Bagi Aresh, ucapan selamat dari keluarga dan saudaranya sudah lebih dari cukup. Semua ini gara-gara Ruby yang membuatnya galau karena pergi begitu saja setelah menolak cintanya.