My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 24



Jam pulang kantor tiba, Ruby masuk ke dalam lift sendirian. Hari ini pekerjaannya tidak begitu banyak jadi dia bisa pulang lebih cepat dan tidak perlu lembur.


Ketika pintu lift sedikit lagi tertutup rapat, tiba-tiba tangan seseorang muncul dan menghalangi, sehingga pintu lift kembali terbuka. Rupanya Aresh yang ada di sana.


"Hai," sapa Aresh begitu akan berdiri di samping Ruby.


"Ha-hai?" Ruby tentu saja merasa kebingungan, tidak biasanya Aresh menyapanya saat mereka tidak sengaja berpapasan di lift seperti ini.


Ruby melangkah mundur sebanyak dua kali. Rasanya aneh saja jika dirinya berdiri dengan posisi sejajar dengan laki-laki yang mendadak aneh tersebut.


Sementara Aresh, melihat Ruby melangkah mundur, dia pun ikut melakukan hal demikian sehingga posisi berdiri mereka kembali sejajar, dan sesekali dia melirik ke arah gadis itu.


'Sebenarnya ada apa dengannya?' Batin Ruby. Kalimat pertanyaan itulah yang seharian ini sering muncul di benak Ruby. Sikap Aresh hari ini yang lain dari biasanya benar-benar membuat dirinya kebingungan.


"Mm ... Sekretaris Ruby, mommy baru saja menelponku, katanya dia mengundangmu untuk datang ke rumah kami malam ini," ucap Aresh.


"Ma-lam ini? Un-untuk apa?" tanya Ruby agak canggung. Berbicara dengan Aresh dengan nada tidak seperti biasanya rasanya benar-benar aneh.


"Katanya ada acara makan malam."


"Oh."


Setelah itu tidak ada lagi perbincangan antara keduanya hingga mereka sama-sama keluar dari lift.


.


.


Tin!


Bunyi klakson sebuah mobil sport asing berwarna hitam mengejutkan Ruby. Gadis itu melangkah mundur ketika mobil itu berhenti tepat di hadapannya.


"Hai!" sapa seorang pemuda tampan yang mengenakan kacamata hitam dan baru saja turun dari mobil mewah tersebut.


"Ha-hai. Aska, kenapa kamu ada di sini?" tanya Ruby.


"Tentu saja datang untuk menjemputmu, Tuan Putri," jawab Aska sambil tersenyum manis. Pemuda yang penuh dengan rayuan gombal tersebut tiba-tiba saja menggandeng tangan Ruby dan membawa Ruby mengitari mobilnya kemudian menuntun gadis itu untuk masuk ke dalamnya.


"Hey, Aska. Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Ruby sedikit panik.


"Jangan khawatir, Tuan Putri, aku akan mengantarmu ke kediaman tuan dan nyonya Mahendra," jawab Aska sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Ruby.


"Ke rumah kalian? Untuk apa?" tanya Ruby lagi.


"Apa Bang Aresh tidak memberitahumu? Malam ini mommy mengundangmu untuk makan malam bersama di rumah kami."


Ruby pun terdiam. Tadi Aresh memang mengatakan hal itu padanya saat di lift.


Sementara itu di tempat lain, Aresh hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam saat melihat mobil Aska sudah melaju membawa Ruby pergi. Mau bagaimana lagi, adiknya itu sudah lebih dulu datang menjemput Ruby. Salahnya sendiri, kenapa saat mereka sama-sama berada lift, dia tidak mengajak gadis itu untuk pulang bersamanya. Niatnya memang ingin mengalah pada Aska jika adiknya itu memang benar-benar menyukai Ruby. Nyatanya, melakukan kalimat mengalah tidak semudah mengucapkannya, baru melihat Ruby dekat bersama Aska saja rasanya dia tidak sanggup, hatinya begitu cemburu saat melihat gadis yang dia cintai bersama dengan lelaki lain, meski pun dengan adiknya sendiri.


*


*


"Loh, kenapa mobil Robby juga ada di sini?" Ruby bertanya pada Aska.


Aska tersenyum. "Itu karena mommy, daddy, dan bunda ingin membahas mengenai masalah perjodohan kita."


"Apa?!" Ruby memekik tanpa sengaja saking terkejutnya.


Aska terkekeh melihat wajah Ruby yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan sekali. "Tidak, tidak. Aku hanya bercanda. Ini hanya makan malam biasa kok. Percayalah."


Ruby akhirnya bisa bernapas lega. "Syukurlah, aku pikir kamu serius."


Aska menghentikan mobilnya begitu sudah sampai di garasi, kemudian menatap Ruby yang tengah membuka sabuk pengaman lekat-lekat.


"Bagaimana jika seandainya kita berdua benar-benar akan dijodohkan?" tanya Aska.


Ruby tertawa. "Kamu ini bicara apa? Itu tidak mungkin. Mana mungkin kamu menyukai gadis biasa sepertiku."


"Tapi kalau aku benar-benar menyukaimu bagaimana? Apa kamu mau berpacaran atau mungkin mau menikah denganku nanti?" Aska bertanya dan menatap Ruby penuh harap.


Ruby terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Aska ini terlalu to the point, baru kenal kemarin saja sudah membahas masalah hubungan yang serius.


Tin! Tin!


Suara klakson mobil Aresh mengalihkan perhatian keduanya. Buru-buru Ruby keluar dari mobil ketika ada kesempatan. Dia tidak ingin terjebak dengan pertanyaan Aska yang dia sendiri pun tidak tahu apa jawabannya. Demi mencari aman, Ruby memilih untuk masuk lebih dulu ke dalam rumah.


Sementara itu, dua bersaudara itu sama-sama menatap ke arah yang sama begitu keluar dari mobilnya masing-masing, yaitu punggung Ruby yang menghilang dari balik pintu dapur.


"Bang." Aska menyapa sang kakak sambil berjalan mendekat ke arahnya.


"Hem," gumam Aresh sambil tersenyum. "Tadi kamu datang ke kantor?" tanyanya basa-basi.


Aska mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Bang. Aku datang menjemput bidadari."


Aresh tersenyum dipaksakan.


"Kalau begitu ayo kita masuk," ajak Aresh, tidak ingin lagi menjadikan Ruby sebagai topik pembicaraan mereka lebih lanjut karena hanya akan membuat hatinya cemburu ketika Aska dengan terang-terangan memuja-muja gadis itu di hadapannya.


...________________________________________...


...Baca juga dong Bestie,, sepi banget nih🤧...