
...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼 ...
...* ...
...*...
Di hari pertama ini mereka mendapatkan sambutan baik dari para karyawan, bahkan mereka sampai menyiapkan kue tart untuk menyambut kedatangan pimpinan baru mereka. Dalam hal ini Aresh mengambil kesempatan untuk memperkenalkan Ruby sebagai sekretarisnya. Setelah itu, semuanya pun kembali ke meja masing-masing untuk bekerja.
"Ini mejamu," Bagas menunjukkan meja kerja Ruby yang berada tepat di depan ruangan Aresh, "dan ini ruangan Pak Aresh."
Ruby tersenyum, tanpa Bagas jelaskan pun dia sudah tahu kalau ruangan itu adalah ruangan bos mereka karena sudah tertera dengan jelas di depan pintu.
"Oh iya, mejaku ada di sana," Bagas menunjuk meja yang berada tidak jauh dari meja Ruby, "kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa datang menemuiku."
Ruby tersenyum sembari mengangguk mengerti. "Baik, Pak Bagas, terima kasih banyak."
"Sama-sama," balas Bagas kemudian melenggang menuju meja kerjanya sendiri.
Baru saja Ruby duduk di kursinya, telepon di meja kerjanya tiba-tiba berdering. Seketika Ruby teringat, apa yang harus dia lakukan sebelum menjawab telepon, dan apa nanti yang harus dia katakan saat menjawab telepon tersebut.
"Oke, Ruby, jangan gugup, jangan panik. Hal pertama yang harus kamu lakukan sebelum mengangkat telepon pertamamu adalah menyiapkan kertas dan pulpen. Ya, kertas dan pulpen," Ruby berbicara sendiri sembari menyiapkan alat-alat yang dia butuhkan, yang sekiranya dia gunakan untuk mencatat hal-hal penting nantinya, "setelah itu tarik napas dalam-dalam kemudian angkat teleponnya."
Ruby menempelkan gagang telepon tersebut di telinganya sembari mengucapkan kalimat sapaan yang sudah dia pelajari dan hafal semalam. Tadi pagi saat gadis itu tengah bersiap-siap, dia juga sudah melakukan banyak latihan.
"Kantor Bapak Aresh di sini, dengan saya Sekretaris Ruby, ada yang bisa say-" Belum selesai Ruby mengucapkan kalimat sapaan pertamanya, tapi penelepon diseberang sana sudah memotong ucapannya duluan.
"Masuk ke ruanganku sekarang!"
"Kamu bilang apa barusan? Hah?" Kemunculan Aresh yang tiba-tiba di balik pintu ruangannya membuat Ruby sontak terperanjat kaget.
'Astaga. Kenapa dia tiba-tiba muncul sih? Kan jadi ketahuan kalau aku mengatainya diam-diam.'
"Ti-tidak, Pak, saya tidak bilang apa-apa kok, Bapak mungkin salah dengar," sangkal Ruby, padahal jelas-jelas dia sudah tertangkap basah mengatai atasannya itu. "Mm, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Ruby kemudian mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Aresh tidak langsung menjawab, pemuda itu menatap Ruby dengan wajah dinginnya, kesal juga ketika dia mengetahui bahwa ternyata gadis itu diam-diam mengatai dirinya di belakang.
"Buatkan aku kopi," jawab Aresh kemudian menutup kembali pintu ruangannya dengan agak kasar sehingga membuat gadis itu memegangi dadanya karena terkejut.
"Astaga. Dia itu kenapa sih? Suka sekali marah-marah?" gumam Ruby. Karena tadi Bagas sudah menunjukkan dimana letak ruang pantry-nya, gadis itu pun segera bergegas ke sana untuk membuatkan kopi untuk sang bos. Ini adalah tugas pertamanya setelah menjabat sebagai sekretaris pimpinan perusahaan Adiyaksa Holdings.
"Sekretaris Ruby, kamu mau apa?" tanya Bagas yang tiba-tiba muncul di belakang Ruby.
"Eh, Pak Bagas. Pak Aresh menyuruh saya membuatkan kopi, Pak," jawab Ruby. "Siapa tahu Pak Bagas juga mau, biar sekalian saya buatkan?" tawar Ruby kemudian kepada lelaki itu.
Bagas tersenyum. "Boleh. Kebetulan, aku masuk ke sini karena ingin membuat kopi juga. Oh iya, kopi untuk bos gulanya setengah saja ya, dia tidak suka kopi yang manis."
Ruby mengangguk mengerti. "Kalau Pak Bagas?"
"Sedikit lebih manis dari itu," jawabnya sambil tersenyum menatap gadis itu.
Usai membuat kopi instan untuk kedua lelaki itu, Ruby lantas mengantar kopi yang sudah dia buat ke ruangan Aresh. Dan ternyata setelah gadis itu masuk ke dalam ruangan atasannya, di sana sudah ada sesosok pria setengah baya dan seorang wanita muda cantik yang tengah berbincang dengan Aresh.