
Begitu Ruby masuk dan duduk di sampingnya, pemuda itu lantas mengulurkan tangan pada Ruby.
"Tangan Anda kenapa, Pak?" tanya Ruby.
"Bisakah aku minta tolong? Tolong pijat tanganku. Jari-jariku rasanya kram dan kesemutan."
"Oh, baik, Pak." Ruby lantas melakukan seperti yang diminta Aresh tanpa curiga sama sekali.
Saat ruby tengah memijat tangannya, Aresh melihat ada cincin di jari manis kiri gadis itu. Hal itu membuat perasaan Aresh semakin tidak enak. Dia tidak menyangka bahwa dirinya kalah jauh di belakang Aska soal mendapatkan hati perempuan.
"Apa itu cincin pemberian Aska?" tanya Aresh.
"Cincin pemberian Aska?" Ruby merasa agak bingung dengan ucapan Aresh. Matanya kemudian tertuju pada cincin yang ada di jari manis kirinya.
"Iya, tadi aku melihat Aska datang menjemputmu, kemudian membawamu ke toko bunga."
Ruby tertawa kecil mendengar penjelasan Aresh. "Oh, itu. Jadi Pak Aresh tadi mengikuti kami?"
Aresh mengangguk.
"Itu tidak seperti yang Anda bayangkan, Pak. Aska tadi memang datang menjemput saya dan membawa saya ke toko bunga, tapi itu saya sendiri yang minta. Kemarin saya mampir ke pusat perbelanjaan dan membeli dua vas bunga, saya pikir pasti bagus jika saya menyimpan bunga di atas meja saya dan juga di atas meja Bapak." Ruby lantas mengangkat tangan kirinya dan menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. "Dan cincin ini ... kemarin saya juga membelinya di toko perhiasan. Cantik, bukan?"
Aresh langsung terpaku mendengar penjelasan Ruby. "Be-benarkah?" tanyanya, dan langsung dijawab anggukan disertai senyuman oleh Ruby.
'Astaga. Apa yang sudah aku pikirkan? Cinta ini benar-benar membuatku menjadi bodoh dan !konyol.' Aresh senyum-senyum sendiri mengingat betapa galaunya dia karena sudah overthinking.
"Pak Anda baik-baik saja?" tanya Ruby saat melihat Aresh tiba-tiba senyum-senyum sendiri.
"Ah, em ... aku baik-baik saja." Aresh memperbaiki posisi duduknya. "Oh iya, Sekretaris Ruby, jam berapa rapatnya dimulai?" tanya Aresh mengalihkan topik pembicaraan. Sekarang ini semangatnya sudah kembali penuh seperti semula.
"Kalau begitu ayo kita naik."
"Tapi Pak, apa Anda serius sudah merasa baikan?" tanya Ruby ingin memastikan.
"Ya, tentu saja. Ayo cepat, nanti kita terlambat. Jangan sampai kita membuat klien menunggu." Aresh lantas keluar dari mobilnya lebih dulu.
Sementara Ruby, gadis itu malah nampak kebingungan. Perasaan belum genap 5 menit yang lalu Aresh terlihat sangat lemas seperti ingin pingsan. Kenapa tiba-tiba langsung membaik dalam sekejap? Begitu pikir Ruby.
"Sekretaris Ruby, cepatlah! Apa yang kamu tunggu?!" teriak Aresh.
"Tu-tunggu sebentar, Pak." Ruby buru-buru keluar dari mobil kemudian menyusul langkah Aresh menuju lift.
*
*
Jam istirahat makan siang akhirnya tiba. Siang ini Aresh mengajak Ruby untuk makan siang bersama. Seperti rencananya sebelum berangkat ke kantor tadi pagi, Aresh akan menyatakan cintanya pada Ruby. Kali ini dia tidak ingin kecolongan dan didahului oleh Aska.
"Rapat dengan pihak BMG nanti jam berapa?" tanya Aresh saat mereka baru keluar dari lift dan telah sampai di lobi.
"Pukul 2 siang, Pak," jawab Ruby.
"Bang Aresh! Ruby!" Seorang pemuda tampan berlari menghampiri mereka, siapa lagi kalau bukan Aska.
Melihat kedatangan sang adik, Aresh hanya bisa mendengus kesal. Sepertinya rencananya akan gagal lagi.
'Oh s**t. Kenapa Aska harus muncul sekarang sih?' Batin Aresh.