
Aresh keluar dari lift dengan perasaan kesal yang teramat sangat. Dia sendiri heran pada dirinya sendiri, kenapa dia selalu saja merasa tidak suka setiap kali Ruby dekat dengan pria lain, padahal dia merasa membenci gadis itu. Pertama Bagas, sekarang Ricko. Jika dia sudah membuat Bagas pergi jauh dengan memberinya tugas untuk pergi ke luar kota, lain halnya dengan Ricko, dia belum tahu apa sebenarnya hubungan Ruby dengan pria itu.
'Sebenarnya ada apa denganku? Apa aku sudah gila? Tidak mungkin aku suka padanya. Aku sudah pernah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan membiarkan makhluk pengkhianat mana pun kembali masuk ke dalam kehidupanku, apalagi sampai mengusik relung hatiku.' Aresh bergumam dalam hati mencoba untuk menguasai diri, karena sepertinya ada yang aneh dengan hatinya semenjak Ruby hadir dalam kesehariannya.
*
*
Usai bertemu dengan klien, kini Aresh dan Ruby sedang dalam perjalanan menuju tempat pertemuannya dengan klien lain. Sama seperti sebelumnya, Ruby kembali memanfaatkan waktu perjalanan mereka untuk tertidur.
Sebelum memejamkan matanya, Ruby memastikan bahwa kepalanya sudah bersandar pada dinding kaca pintu mobil yang ada di sampingnya, hal ini demi mencegah dirinya agar jangan sampai kembali tertidur di bahu Aresh. Tidak butuh waktu lama untuk Ruby terlelap sebab gadis itu memang merasa sangat kelelahan karena kurang tidur dan kurang istirahat.
Setelah memastikan bahwa Ruby terlelap, Aresh perlahan-lahan menggeser pan tatnya untuk mendekat ke arah Ruby. Sama seperti yang dia lakukan tadi pagi, Aresh menarik kepala Ruby dengan perlahan untuk membuatnya bersandar di bahunya. Aresh mengulum senyum saat berhasil melakukannya tanpa perlu membuat Ruby terjaga dari tidurnya.
Selang beberapa puluh menit kemudian. Ruby terjaga saat mobil berhenti di tempat pengisian bensin. Gadis itu cukup terkejut sekaligus heran saat dirinya kembali mengulangi kesalahan yang sama, yaitu tidur sambil bersandar di bahu Aresh, padahal tadinya dia sudah memastikan bahwa dia tidak akan melakukan hal tersebut. Tidak tahu saja dia kalau Aresh sendirilah yang sengaja melakukannya.
"Ma-maaf, Pak. Saya tidak sengaja."
Aresh tersenyum. "Sepertinya bahuku sudah menjadi tempat bersandar ternyamanmu saat kamu tertidur. Tidurmu sampai nyenyak sekali."
Ruby menunduk. Malu juga jika Aresh selalu berkata seperti itu padanya. 'Lebih baik aku pindah dan duduk saja di depan saja."
"Kamu mau pergi ke mana, Sekretaris Ruby?" Aresh bertanya saat melihat Ruby membuka pintu mobil.
"Saya mau pindah ke depan, Pak," jawab Ruby.
"Tunggu-"
BAM!
Baru saja Aresh ingin mencegahnya tapi gadis itu sudah terlanjur menutup pintu mobil. Aresh hanya bisa mendengus kasar ketika melihat Ruby sudah duduk di jok depan tepat di samping sopir.
'Astaga. Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku jadi seperti ini? Sepertinya aku benar-benar sudah gila.' Batin Aresh.
*
*
"Sekretaris Ruby, hubungi pihak Green Heels, katakan permohonan maaf kita karena proposal investasi mereka tidak bisa kita disetujui," kata Aresh.
"Tapi apa alasannya, Pak? Saya rasa isi proposal mereka cukup bagus," ucap Ruby. Meski pun sebenarnya dia begitu membenci Ricko karena perbuatan lelaki itu di masa lalu, tapi tetap saja urusan pribadi tidak boleh dicampur adukkan dengan urusan pekerjaan.
"Kenapa? Kamu tidak rela perusahaan milik mantan kekasihmu itu bangkrut?" Aresh menatap Ruby dengan tajam. Rupanya diam-diam dia sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahu hubungan Ruby dan Ricko.
Ruby cukup terkejut saat mendengar Aresh tahu bahwa Ricko adalah mantan kekasihnya. "Bukan seperti itu, Pak. Apa pun hubungan saya dengan pimpinan Green Heels di masa lalu, itu tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan. Saya berkata bahwa proposal mereka bagus karena proposal mereka memang benar-benar bagus, dan layak untuk kita setujui. Saya ini profesional dalam bekerja, Pak. Saya tidak mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi saya."
Aresh merasa tersentil dengan ucapan Ruby. Bukankah dia sendiri yang selaku pimpinan perusahaan justru malah melakukan hal sebaliknya.
"Ehem." Sebelum kembali berkata, Aresh berdehem terlebih dahulu. "Di-dimana bagusnya? Coba jelaskan padaku."
"Baik, Pak. Tunggu sebentar."
*
*
Jam pulang kantor, Aresh diam-diam sudah membuat janji dengan Ricko, tentunya tanpa sepengetahuan Ruby. Dan hal itu tentu saja membuat Ricko sangat senang, akhirnya masalah yang tengah dihadapi oleh perusahaannya sebentar lagi memiliki jalan keluar.
"Aku akan menyetujui proposal kalian tapi dengan satu syarat," kata Aresh.
"Syarat apa itu, Pak Aresh?" tanya Ricko.
"Berhenti mengganggu dan mendekati Ruby."
__________________________________________
...Baca juga karya terbaru akak Othor dengan judul "Investor Cinta" 👇...