My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 33



Aska terdiam mendengar permintaan sang mommy. Sungguh permintaan ini sangat berat baginya.


"Sayang, Mommy mohon. Mommy tahu ini sulit bagimu jika kamu memang benar-benar mencintai Ruby, tapi coba pikirkan abangmu. Dia itu pernah mengalami trauma karena kegagalannya dengan hubungan asmaranya yang sebelumnya. Di matanya, semua perempuan itu sosok penipu, makanya dia membenci setiap wanita yang mencoba untuk dekat dengannya. Namun jika sekarang dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Ruby, tidakkah kamu ingin mengalah demi kebahagian abangmu? Coba kamu pikirkan, jika kali ini dia lagi yang harus mengalah untukmu, Mommy khawatir dia tidak akan pernah lagi mau jatuh cinta seumur hidupnya. Bukannya Mommy mau pilih kasih, Sayang, kamu dan abangmu itu berbeda. Setelah kamu merelakan Ruby untuknya, mungkin tidak lama lagi kamu akan menemukan gadis baik di luar sana yang bisa membuatmu jatuh cinta lagi."


Aska menarik nafasnya dalam-dalam mendengarkan ucapan panjang lebar sang mommy. Sebagai saudara tak sedarah yang dibesarkan bersama sejak kecil, dia sangat prihatin dengan keadaan Aresh sebelumnya, dan tentunya dia juga menginginkan abangnya itu bahagia bersama dengan gadis yang tepat seperti Ruby.


"Baiklah, Mom. Demi Mommy, dan demi kebahagiaan bang Aresh, Aska akan coba merelakan Ruby untuk bang Aresh"


Naura tersenyum kemudian memeluk putranya. "Terima kasih banyak, Sayang. Terima kaaih sudah tidak egois. Sebenarnya semua ini salah Mommy juga, Mommy yang belum menceritakan rencana kami padamu."


"Rencana?" Aska melepaskan pelukan dari sang mommy. "Rencana tentang apa, Mommy?" tanyanya penasaran.


"Rencana tentang Mommy yang sebenarnya sudah menjodohkan Ruby dan abangmu sejak 1 tahun lebih yang lalu."


Aska lumayan terkejut mendengarnya. "Mommy serius? Apa bang Aresh tahu soal ini?"


Naura menggeleng. "Mommy, daddy, om Yuda, juga bundanya Ruby sengaja merahasiakan ini dari abangmu dan Ruby. Kami hanya tidak ingin mereka berdua saling merasa tidak nyaman ketika bertemu. Mengenai Ruby menjadi sekretaris abangmu di Adiyaksa Holdings, itu memang sudah kami rencanakan sejak awal. Hanya saja daddy dan om Yuda pura-pura tidak tahu agar abangmu tidak marah pada kami semua."


*


*


Malam hari.


Aresh kembali ke rumah dengan perasaan galau. Sejak tadi siang sampai jam pulang kerja, Ruby terus saja mengabaikan dirinya. Bahkan setelah pernyataan cintanya tadi siang ditolak, Ruby bahkan nampak tidak sudi menatapnya.


'Cinta bertepuk sebelah tangan benar-benar sangat menyedihkan.'


Rasanya Aresh ingin terpuruk, ditambah lagi saingan cintanya adalah adiknya sendiri. Dia tidak ingin mengalah pada Aska, tapi bagaimana kalau Aska malah marah dan membencinya. Hal itu benar-benar membuat kepala Aresh menjadi pusing.


Aresh masuk ke kamarnya untuk mandi guna membersihkan diri dan menyegarkan pikirannya. Namun dia begitu terkejut ketika baru selesai mandi Aska tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.


"Bang, aku mau bicara denganmu." Aska berkata kemudian berjalan menuju balkon kamar Aresh.


Aresh menarik napasnya dalam-dalam kemudian berjalan menyusul Aska. Sebelum keluar dia sempat mengambil dua botol minuman kemasan di dalam kulkas kecil yang tersedia di dalam kamarnya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Aresh bertanya sambil memberikan satu botol minuman untuk Aska.


"Terima kasih, Bang." Sebelum menjawab pertanyaan Aresh, Aska terlebih dulu menenggak minuman pemberian sang kakak. "Aku ingin kita berdua membahas tentang Ruby."


"Sudah ku duga," gumam Aresh lalu menenggak minuman miliknya sendiri. "Sekarang kamu datang menemuiku sebagai Aska adikku atau sebagai laki-laki yang mencintai Ruby?"


"Dua-duanya," jawab Aska yang langsung membuat Aresh menoleh menatapnya.


"Baiklah, kalau begitu katakan apa yang ingin kamu katakan," ucap Aresh kemudian.


Aska terdiam sejenak.


"Bang, kalau misalnya aku menyerah dan membiarkan Abang bersama Ruby, apa Abang yakin bisa membuat dia bahagia?" tanya Aska.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu tidak percaya padaku? Atau di matamu Abangmu ini terlihat seperti laki-laki brengsyek?"


"Tidak, Bang, bukan seperti itu. Hanya saja ... aku tidak begitu yakin Abang bisa membuat Ruby bahagia karena sifat Abang yang sangat dingin. Perempuan atau laki-laki mana pun tidak akan tahan dengan sikap dingin dan cuek dari pasangannya."


Aresh terkekeh. "Jadi ternyata itu yang membuatmu ragu?"


"Tenang saja, kalau Ruby menjadi istriku, aku akan membuatnya menjadi wanita yang paling beruntung di dunia," imbuh Aresh.


Aska tersenyum menatap sang kakak. "Aku senang kalau Abang serius pada Ruby. Semoga saja Ruby segera membuka hati untuk Abang."