My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 32



"Bang, apa Bang Aresh mendengarnya? Ruby menolak kita, Bang. Aku tidak percaya ini." Aska lantas menjatuhkan dirinya dan duduk kembali di kursinya sambil menatap kepergian Ruby yang menghilang di balik pintu, begitu pula dengan Aresh. Dia pun sama terkejutnya dengan sang adik. Bukannya memilih salah satu diantara mereka berdua, gadis itu malah memutuskan untuk tidak memilih siapa pun.


"Bang sebenarnya kita kurang apa? Tampan, iya. Keren, iya. Kaya, iya. Abang penerus tunggal perusahaan Adiyaksa Holdings, sedangkan aku calon penerus perusahaan daddy. Lantas apa yang membuat Ruby menolak kita berdua, Bang? Aku masih tidak habis pikir."


Aresh menghembuskan napasnya dengan kasar. "Entahlah. Hanya dia yang tahu."


*


*


Saat kembali ke kantor, Ruby sama sekali tidak menggubris keberadaan Aresh. Gadis itu memilih untuk sibuk sendiri dengan pekerjaan di depan komputernya. Aresh yang melihat hal tersebut mulai mendekat meski pun terasa agak canggung.


"Ekhm. Sekretaris Ruby, bisakah kamu membuatkan aku kopi?" tanya Aresh mencoba untuk berbasa-basi, hendak mengetes apakah Ruby masih mau berbicara dengannya atau tidak setelah kejadian tidak mengenakkan tadi.


Tanpa berkata sepatah kata pun gadis itu segera beranjak menuju ruang pantry. Melihat hal itu Aresh buru-buru menyusulnya.


Ruby hanya menarik nafasnya dalam-dalam saat menyadari keberadaan Aresh yang berdiri tidak jauh di belakangnya. Gadis itu pun memilih untuk menyeduh kopinya tanpa menghiraukan keberadaan atasannya itu.


"Ehem. Sekretaris Ruby," Aresh berjalan mendekat ke arah Ruby, "soal yang tadi, aku ingin bertanya padamu. Kenapa kamu menolak kami berdua? Apa alasannya? Tidak bisakah kamu memilih salah satu diantara kami untuk menjadi kekasihmu?" Aresh bertanya seraya mencoba mencoba mengintip wajah Ruby dari belakang.


Lagi-lagi Ruby tidak menggubris pertanyaan Aresh. "Ini kopi Anda, Pak. Saya harus kembali ke meja saya. Pekerjaan saya sangat menumpuk." Ruby memberikan kopi yang baru saja dia buat kepada Aresh. "Dan saya peringatkan, lain kali tolong jangan tanyakan hal-hal apa pun yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan kepada saya. Permisi."


Aresh mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar melihat Ruby terang-terangan menghindarinya. "Kenapa malah jadi seperti ini sih?"


*


*


Di tempat lain, Aska kembali ke rumah dengan perasaan galau disertai wajah murung. Naura yang melihat wajah kusut putranya pun segera menghampiri.


"Eh anak Mommy sudah pulang. Kok wajahnya kusut begitu sih? Ada masalah apa? Cerita sama Mommy." Naura pun duduk di samping putranya.


"Tidak ada masalah apa-apa, Mom. Aska baik-baik saja." Aska memaksakan diri untuk tersenyum pada sang Mommy.


Aska hanya menatap wajah sang mommy sebentar kemudian kembali terdiam sambil menunduk. Melihat hal itu Naura semakin yakin kalau putranya pasti sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.


"Sayang, cerita dong sama Mommy. Kalau kamu punya masalah, jangan memendamnya sendirian. Siapa tahu setelah kamu cerita, Mommy bisa membantu kamu menyelesaikan masalahnya," bujuk Naura.


Aska terdiam memikirkan antara memberitahu mommy-nya atau tidak. Namun setelah dia pikir-pikir, dia pun memutuskan untuk bercerita.


"Mom, sebenarnya Aska dan bang Aresh menyukai gadis yang sama," ungkap Aska.


Naura sungguh terkejut mendengarnya. "Benarkah? Siapa gadis itu, Sayang?" tanyanya penasaran.


"Ruby, Mom."


"Apa, Ruby? Jadi kamu menyukai Ruby?" tanya Naura tidak menyangka dan langsung dijawab anggukan oleh putranya. "Tapi dari mana kamu tahu kalau abangmu juga menyukai Ruby?"


"Dari bang Aresh langsung, Mom." Aska lantas menceritakan pada sang mommy bahwa tadi dia dan Aresh menyatakan cinta secara bersamaan kepada Ruby.


Bukannya prihatin dan sedih karena kedua putranya ditolak, Naura justru terkekeh, membuat Aska menatapnya dengan heran.


"Kenapa Mommy tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Aska.


Naura mengangguk. "Entah mengapa Mommy jadi teringat saat kalian masih kecil dulu. Kamu dan abang kamu selalu menyukai mainan yang sama, sampai-sampai setiap kali Mommy, daddy, maupun om Yuda ingin membelikan kalian mainan, kami harus mencari dua mainan yang sama persis. Karena kalau tidak, kamu pasti akan mengamuk dan ingin merebut mainan milik abang kamu. Sedangkan abang kamu sejak dulu sudah banyak mengalah padamu dalam hal apa pun."


Aska hanya tersenyum mendengar cerita sang mommy. Hal itu memang benar adanya. Dia masih mengingat hal tersebut dengan jelas.


Naura lantas menggenggam tangan putra kandungnya. "Dengar, Nak, meski pun abangmu bukan anak kandung Mommy, tapi Mommy dan daddy tidak pernah membedakan kalian semua. Mommy dan daddy tidak pernah pilih kasih diantara ketiga anak-anak kami." Aska hanya terdiam menyimak ucapan sang mommy. "Aska, bolehkah Mommy memiliki permintaan padamu, Sayang?"


"Permintaan apa itu, Mom?" Aska balas menatap sang mommy dengan penasaran.


"Untuk kali ini, bisakah kamu yang mengalah untuk abangmu?" pinta Naura menatap putranya penuh harap.