My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 17



...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...


...*...


...*...


Beberapa jam kemudian.


"Saya harap Pak Aresh bisa mempertimbangkan dan segera menyetujui untuk menyuntikkan dana di perusahaan kami," kata Ricko penuh harap. Saat ini perusahaannya sedang butuh suntikan dana yang cukup besar, jika Aresh tidak setuju, kemungkinan besar perusahaan sepatu yang diwariskan oleh kedua orangtuanya akan segera gulung tikar.


"Tentu, sekretaris saya akan segera menghubungi Anda untuk informasi lebih lanjut," ucap Aresh.


"Terima kasih banyak, Pak," ucap Ricko. "Oh iya, saya punya sesuatu untuk Sekretaris Ruby." Ricko mengambil paper bag yang sejak tadi dibawa oleh asistennya kemudian memberikannya kepada Ruby.


"Apa ini?" tanya Ruby penasaran.


"Itu adalah sepatu edisi terbatas yang diproduksi oleh perusahaan kami," jawab Ricko sambil tersenyum. "Oh iya, kalau tidak salah ukuran sepatumu 38 'kan? Kalau tidak berubah berarti sepatu itu pas di kakimu."


Ucapan Ricko barusan sukses membuat Aresh dan Bagas menatap ke arah Ruby. Teman kampus seperti apa yang hafal ukuran sepatu teman perempuannya kalau bukan lebih dari sekedar teman, begitu pikir keduanya.


Ruby tersenyum canggung saat menerima pemberian Robby. Sebenarnya dia ingin sekali menolak, tapi takut Aresh dan Bagas curiga. Namun, sikap canggung dan salah tingkahnya itu sudah cukup membuktikan bahwa dulunya mereka lebih dari sekedar teman biasa.


"Pak Aresh, Pak Bagas, saya tidak bisa memberikan apa-apa untuk kalian berdua karena ... pabrik kami hanya memproduksi sepatu hak tinggi khusus perempuan," kata Ricko sedikit tidak enak hati.


"Tidak masalah, aku pribadi memang tidak berminat untuk memakai high heels." Aresh berkata dengan nada datar kemudian masuk ke dalam mobilnya tanpa pamit.


Ruby, Bagas, dan terutamanya Ricko hanya bisa terperangah mendengar ucapan kekanak-kanakan yang keluar dari mulut Aresh.


"Mm, Pak Ricko, ucapan Pak Aresh jangan dimasukkan ke dalam hati, terkadang bercandanya memang sedikit keterlaluan," ucap Bagas.


"Iya, tidak apa-apa," balas Ricko.


*


Sebagai pria yang menyimpan rasa pada Ruby, Bagas sebenarnya ingin bertanya pada gadis itu tentang hubungan Ruby dan Ricko di masa lalu, apa mereka berdua hanya sebatas teman satu kampus atau lebih dari itu. Namun, urung Bagas lakukan karena di sana juga ada Aresh. Jika Bagas bertanya pada Ruby mengenai kehidupan masa lalu gadis itu, Aresh pasti akan curiga padanya.


"Bagas, sebelum kita kembali ke kantor, kita mampir dulu di Key's Cake. Aku ingin membelikan cemilan untuk para karyawan," ucap Aresh.


"Baik, Pak."


Sesampainya di Key's Cake, toko kue yang berseberangan dengan tempat tinggal Ruby.


Ting ting.


Loceng kecil yang tergantung pada bagian atas pintu toko kue tersebut berbunyi, menandakan ada pengunjung yang datang. Keysha, pemilik toko tersebut tersenyum lebar kala melihat siapa yang datang berkunjung di tokonya.


"Ruby!"


"Hai, Tante. Lagi apa?" tanya Ruby sambil tersenyum dan berjalan mendekati wanita paruh baya yang seusia dengan Naura tersebut.


"Seperti biasa. Tumben kamu mampir siang-siang begini?" tanya wanita paruh baya tersebut.


"Itu, Tante, bosnya Ruby mau beli kue buat cemilan karyawan-karyawan di kantor."


"Terus kamu ke sini datang bersama siapa?" tanya Keysha.


"Itu." Ruby menunjuk ke arah pintu, dan disaat yang bersamaan Bagas masuk ke dalam toko tersebut setelah Aresh.


Melihat Bagas yang biasanya datang menemui Ruby di tokonya rutin setiap akhir pekan, wanita paruh baya itu pun tersenyum sambil berkata, "Oalah, ternyata Ruby datang bersama pacarnya toh. Tumben hari minggu kemarin Nak Bagas tidak datang?"


Mata Ruby dan Bagas seketika membulat. Gawat. Sepertinya mereka dalam masalah besar.


Sementara itu, Ruby dan Bagas malah mendapat tatapan tajam secara bergantian dari Aresh.