
Keesokan paginya.
Pagi ini kedatangan Aresh di kantor tidak langsung disambut oleh sang pujaan hati. Biasanya setiap pagi hari, Ruby selalu menyambut kedatangannya di depan pintu masuk gedung. Begitu sampai di ruangannya, perhatian Aresh seketika teralihkan oleh amplop putih yang ada di atas mejanya.
"Apa ini?" gumam Aresh. Begitu dia membuka amplop tersebut, matanya seketika membulat ketika mendapati bahwa isi amplop tersebut adalah surat pengunduran diri Ruby. "Cih, apa-apaan ini? Alasan dia mengundurkan diri hanyalah untuk pergi liburan. Dia bilang aku kekanak-kanakan, ternyata dia lebih kekanak-kanakan lagi. Dia pikir mendapatkan pekerjaan lebih muda dari membalikkan telapak tangan, seenaknya mau resign langsung resign," gumam Aresh dengan kesal.
Aresh lantas me re mas surat pengunduran diri si alan itu dan membuangnya ke tempat sampah. Dan tanpa menunggu waktu lebih lama, dia segera meninggalkan kantor untuk menyambangi Ruby di kediamannya.
*
*
Berselang beberapa waktu kemudian, Aresh akhirnya sampai di kediaman Ruby dan keluarganya.
Tok tok tok.
Tidak berselang lama bunda Ruby datang membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi, Tante," sapa Aresh sambil tersenyum ramah.
"Eh, Nak Aresh. Mari silahkan masuk," ajak Bunda.
Begitu Aresh sudah duduk di sofa ruang tamu, dia tanpa basa-basi menanyakan keberadaan sekretaris kesayangannya.
"Apa Ruby ada, Tante? Pagi ini dia tidak datang ke kantor, makanya saya datang kemari mencarinya," jelas Aresh.
"Ruby? Setahu Tante dia sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya, makanya sekarang dia bisa pergi liburan," jawab Bunda.
"Apa, Tante? Jadi Ruby serius resign dari perusahaan hanya karena ingin pergi liburan?" tanya Aresh tidak percaya. Dia pikir dalam surat pengunduran diri itu Ruby hanya bercanda. Mana ada orang membuat surat pengunduran diri dengan alasan ingin pergi liburan. Yang ada malah mengambil cuti kerja selama beberapa hari untuk liburan. Aneh sekali.
"Iya, Nak Aresh, pesawatnya sudah berangkat sekitar setengah jam yang lalu."
"Tante, tolong jangan bercanda, Ruby pasti sedang bersembunyi di kamarnya, 'kan?"
"Nak Aresh, Tante tidak bercanda, Tante serius. Ruby memang pergi liburan, tapi dia memang tidak mau mengatakan kemana dia akan pergi karena takut liburannya terganggu karena disusul oleh seseorang," jelas Bunda.
*
*
Tok tok tok!
"Mom!" panggil Aresh seraya mengetuk pintu kamar sang mommy.
Tidak berselang lama Naura datang membukakan pintu untuknya. "Aresh, Mommy pikir kamu sudah berangkat kerja sejak sejam yang lalu?"
Aresh mendengus. "Mommy bagaimana sih? Kenapa memilih orang yang tidak bertanggung jawab untuk menjadi sekretaris Aresh di perusahaan? Menyebalkan sekali."
"Loh, ada apa, Sayang? Memangnya Ruby kenapa?" tanya Naura pura-pura tidak tahu. Karena sebenarnya resign-nya Ruby adalah bagian dari rencana terbesarnya untuk putra sulungnya tersebut.
"Ruby resign dari perusahaan dengan alasan yang tidak masuk akal, Mom." Aresh berkata dengan wajah cemberut.
"Ya sudah, kalau Ruby resign nanti Mommy carikan sekretaris yang baru. Oke, kamu jangan cemberut begitu nanti gantengnya luntur." Naura berkata dengan entengnya, membuat Aresh menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kok malah cari yang baru sih, Mom? Aresh maunya Ruby yang kembali bekerja," protes Aresh.
Mendengar jawaban putranya, Naura jadi tersenyum. "Apa, apa? Apa Mommy tidak salah dengar. Jangan bilang kamu suka sama Ruby, ya?"
Pipi Aresh seketika merona. "Mom-Mommy ini bilang apa sih? Tidak jelas. Siapa juga yang suka pada sekretaris tidak bertanggung jawab seperti dia."
Naura terkekeh. "Ya sudah, karena kamu bilang tidak suka sama Ruby, jadi Mommy akan langsung mencarikan sekretaris baru untukmu, ya? Biarkan saja si Ruby itu resign dari Adiyaksa Holdings."
*
*
"Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa juga aku tidak mau mengakui perasaanku di hadapan mommy." Aresh baru menyesali kebohongannya ketika sudah meninggalkan rumah. Berulang kali dia mencoba menghubungi Ruby sejak meninggalkan kantor, tapi nomor gadis itu tidak kunjung aktif dan tidak kunjung bisa dihubungi. Entah sudah berapa puluh pesan yang Aresh kirim padanya untuk memintanya kembali.
'Aku beri kamu waktu 24 jam untuk kembali. Kalau tidak, kamu benar-benar akan aku pecat.' Aresh mengancam Ruby dalam pesannya.
*
Seharian ini Aresh benar-benar galau karena ditinggal oleh Ruby. Dia juga tidak fokus pada pekerjaan-pekerjaannya, yang dia lakukan hanyalah memantau akun sosial media Ruby. Begitu melihat gadis itu aktif, dia langsung menghubunginya, tapi sayangnya Ruby tidak menanggapi panggilannya juga tidak membalas pesannya meski pun gadis itu sudah membacanya.
"Apa dia sengaja melakukannya?" gumam Aresh, lalu kembali mengirim pesan pada Ruby.
'Kamu benar-benar minta dipecat ya? Kenapa sengaja mengabaikanku?'