My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 20



"Kamu. Mau apa kamu datang kemari?" tanya Ruby yang terkejut sekaligus emosi. "Dek! Robby! Usir orang ini keluar dari rumah kita!" teriak Ruby pada sang adik.


"Aku di sini, Kak. Tenang saja, dia tidak akan bisa berani macam-macam," sahut Robby yang ternyata tengah berada di depan kamar sang kakak.


"Ruby, aku mau minta maaf," kata lelaki itu.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang pergilah. Keluar dari kamarku. Aku sedang sibuk, tidak mau diganggu," usir Ruby. Kedatangan mantan kekasihnya itu ternyata lebih ampuh dari secangkir kopi, mampu membuat rasa kantuknya hilang seketika.


"Ruby, aku mohon, beri aku kesempatan bicara," pinta lelaki itu yang tidak lain adalah Ricko, mantan kekasih Ruby.


Ruby menatap mantan pengkhianatnya itu dengan jengah. "Rick, aku pikir diantara kita sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Bukankah beberapa tahun lalu kamu sendiri yang mengakhiri semuanya. Jadi aku rasa segalanya telah berakhir semenjak kamu meninggalkan aku demi perempuan lain yang katanya lebih segala-galanya dari aku."


Kenangan pahit di masa lalu membuat Ruby tersenyum kecut. Kedatangan tamu tak diundangnya itu mampu membuat kepalanya yang pusing karena pekerjaannya yang menumpuk jadi semakin pusing saja.


"Ruby, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Ternyata dia tidak sebaik yang aku pikir." Ricko berusaha menggenggam tangan Ruby tapi gadis itu menepis tangannya dengan cepat.


"Rick, aku mohon pergilah. Aku tidak mau lagi mendengar omong kosongmu itu," kata Ruby. "Robby! Bawa laki-laki ini keluar dari rumah kita!" teriaknya kemudian pada adiknya.


"Baik, Kak." Dengan cepat Robby masuk menyeret Ricko keluar dari kamar Ruby, tidak peduli Ricko masih ingin tetap disana atau tidak.


Ruby menutupi wajahnya dengan kedua tangannya kemudian duduk kembali di kursinya. Kedatangan Ricko membuat moodnya menjadi buruk.


*


*


"Ada apa dengan matamu, Sekretaris Ruby? Apakah akhir-akhir ini kamu kurang tidur?" tanya Aresh. Kedengarannya malah seperti sedang mengejek.


Ruby tersenyum dipaksakan. Dia tahu kalau Aresh hanya mengejeknya. "Silahkan diperiksa semuanya, Pak. Saya sudah usahakan untuk menyelesaikan semuanya dalam tiga hari, sampai-sampai saya hanya tidur 2 jam setiap malamnya."


Ruby meletakkan setumpuk berkas di atas meja atasannya beserta 2 buah flashdisk.


"Baiklah, kerja bagus. Apa jadwalku hari ini?" tanya Aresh.


Ruby lantas menjelaskan bahwa pukul 10 pagi serta pukul 2 sore nanti akan ada rapat dengan klien di tempat yang berbeda.


*


*


"Hey, bangun. Kita sudah sampai." Aresh menepuk pipi Ruby yang saat itu tengah tertidur sambil bersandar di bahunya. "Hey, Sekretaris Ruby, bangunlah."


Ruby mengerjap-ngerjapkan matanya saat merasakan ada tangan yang menyentuh pipinya, bersamaan dengan itu dia juga mendengar suara Aresh memanggil-mangil namanya.


'Astaga.' Mata Ruby langsung terbuka lebar ketika sadar akan sesuatu.


"Ma-maaf, Pak. Saya tidak sengaja," kata Ruby sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Tidurmu nyenyak sekali, apakah tidur sambil bersandar di bahuku rasanya sangat nyaman, hm?" Aresh berkata sambil tersenyum smirk.


"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja." Ruby menunduk malu. Menyesal sekali dia tidak duduk di samping sopir tadi.


"Ayo, cepat turun, 10 menit lagi pertemuannya dimulai," kata Aresh, kemudian turun lebih dulu dari mobil.


Ruby dan Aresh berjalan memasuki gedung hotel, tanpa sengaja merek malah berpapasan dengan seseorang.


"Pak Aresh, Sekretaris Ruby, kebetulan sekali kita bertemu di sini," kata orang itu tersenyum ramah. "Ya ampun, Ruby, kenapa matamu jadi menghitam seperti ini?" tambahnya dan tanpa permisi menangkup wajah Ruby. "Apakah kamu tidak pernah tidur semenjak aku datang ke rumahmu kemarin malam?" tanya lelaki itu lagi yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ricko.


"Lepaskan." Ruby menepis kedua tangan Ricko yang menangkup pipinya.


Sementara Aresh, dia menatap keduanya secara bergantian dengan tatapan tidak suka kemudian melangkah lebih dulu menuju lift. "Cepatlah Sekretaris Ruby atau kamu aku tinggal."


"Tu-tunggu sebentar, Pak," sahut Ruby. "Rick, aku peringatkan padamu ya, lain kali jangan menyentuhku sembarangan, atau aku akan membuatmu menyesal." Usai memperingatkan Ricko, Ruby segera berlari menyusul Aresh.


Ketika keduanya sedang berada di lift, Aresh lantas bertanya pada Ruby, "Apa hubunganmu dengan CEO Green Heels? Kenapa dia bisa datang ke rumahmu?"


Bukannya menjawab, Ruby malah diam saja. Hal itu tentu saja membuat Aresh menjadi kesal. "Kenapa diam saja? Kamu tuli, ya?"


"Saya pikir saya tidak memiliki kewajiban untuk menjawab jika menyangkut masalah ranah pribadi saya dan bukan mengenai urusan pekerjaan," jawab Ruby yang membuat Aresh berbalik menatapnya dengan tajam.