
"Aresh, kenapa kamu malah menyendiri di sini?" Yuda yang baru datang berjalan mendekati putranya yang terlihat duduk termenung di kursi pinggir kolam renang.
"Pa, Papa sudah datang." Aresh langsung berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan sang papa.
"Duduklah kembali." Yuda kemudian duduk di dekat putranya. "Papa tadi sempat memperhatikanmu, kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Apa itu?"
Aresh menggeleng sambil tersenyum dipaksakan. "Tidak ada, Pa. Aresh hanya merasa sedikit kurang enak badan."
"Oh, ya? Apa perlu Papa panggilkan dokter?" Yuda menyentuh kening putranya, tapi sama sekali tidak panas.
"Tidak perlu, Pa."
"Mungkin kamu hanya kurang istirahat, badanmu sama sekali tidak hangat," ucap Yuda.
"Aresh!"
Aresh dan Yuda sontak menoleh saat mendengar suara Naura memanggil. Keduanya lantas sama-sama berdiri dari duduknya ketika Naura mendekat.
"Mom," ucap Aresh.
"Loh, Sayang, ternyata kamu ada di sini, Mommy dari tadi mencarimu loh. Ada apa? Kenapa kamu meninggalkan pesta?" tanya Naura.
"Katanya dia sedang tidak enak badan, tapi badannya tidak panas, mungkin dia hanya kelelahan dan kurang istirahat," jelas Yuda.
"Apa? Kamu sakit, Sayang?" tanya Naura panik. Selama ini dia merasa sudah menjaga keluarganya dengan sangat baik, dimulai dari makanan beragam yang sehat dan bergizi, ditambah suplemen kesehatan bila diperlukan, tapi kenapa sekarang putra sulungnya itu malah bisa sakit, begitu pikirnya. "Mana yang sakit, Resh? Mommy bawa kamu ke dokter, ya?" tambah Naura menyentuh kening putranya. Seperti yang dikatakan oleh Yuda, badannya sama sekali tidak panas.
"Tidak usah, Mom, tidak apa-apa. Aresh hanya merasa kurang enak badan. Sedikit. Badan Aresh hanya terasa sedikit lemas."
"Ya sudah, kalau begitu Mommy antar kamu naik ke kamarmu, ya. Kamu istirahat saja di kamar," kata Naura sembari menarik tangan putranya, dan Aresh pun hanya menurut. "Bang Yuda, pergilah bergabung di pesta, daddy-nya anak-anak sudah menunggumu di sana sejak tadi."
Sesampainya di kamar Aresh, Naura lantas menuntun putranya untuk berbaring di atas tempat tidur. Padahal, Aresh sebenarnya baik-baik saja. Dia hanya merasa galau, ketika baru menyadari perasaannya pada Ruby, dia justru malah mendapatkan saingan berat. Andai Aska bukan adiknya, dia pasti sudah menyingkirkannya dengan mudah, demi mendapatkan gadis yang mampu membuat hatinya kembali tersentuh.
"Mom," panggil Aresh. Dia menatap mommy-nya lekat-lekat sambil bersandar di head board tempat tidur.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Naura setelah duduk di samping putranya.
Aresh terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aresh mau tanya, mengalah demi orang yang disayang itu artinya apa sih, Mom?"
Naura sempat terdiam saat mendengar kalimat pertanyaan yang keluar dari mulut putranya, tapi sejurus kemudian wanita paruh baya itu malah tertawa.
Aresh dengan cepat menggeleng. Jika Aska menyukai Ruby, dia seharusnya tidak memberitahukan perasaannya terhadap sang mommy.
"Lalu, kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Naura lagi.
Tidak tahu harus menjawab apa, Aresh dengan cepat berbaring dan menarik selimut hingga batas lehernya, kemudian memunggungi sang mommy. "Lupakan saja, Mom. Anggap saja Aresh tidak pernah bertanya seperti itu."
Naura menarik napasnya dalam-dalam. Sepertinya putranya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Kalau begitu istirahatlah, Sayang. Mommy keluar dulu."
*
*
Keesokan paginya.
Seperti biasa, Ruby membuatkan secangkir kopi sesaat setelah Aresh sampai di kantor.
"Ini kopinya, Pak," ucap Ruby.
"Hem, terima kasih."
"Terima kasih?" ucap Ruby. 'Apa aku tidak salah dengar?' tambahnya dalam hati. Sebab, ini pertama kalinya gadis itu mendengar Aresh berterima kasih padanya.
"Iya, terima kasih." Aresh kembali mengulangi ucapannya kemudian menyeruput kopi buatan Ruby yang masih berasap tersebut. "Kopi buatanmu selalu enak. Sepertinya kamu berbakat menjadi barista," pujinya sambil tersenyum pada Ruby.
Ruby berdiri diam terperangah di tempat, dan setelah beberapa saat gadis itu pun berkata, "P-Pak, a-apa Anda masih kurang sehat? A-apa Anda mau saya panggilkan sopir untuk mengantar Anda ke rumah sakit? Sepertinya ada yang salah dengan kondisi Anda."
Sikap Aresh pagi ini benar-benar membuat Ruby keheranan, dari yang biasanya suka marah-marah dan suka memperlakukannya semena-mena mendadak menjadi lembut, tahu terima kasih, ditambah lagi berbicara padanya sambil tersenyum. Semenjak Ruby menjadi Sekretaris Aresh selama beberapa bulan terakhir, ini pertama kalinya Aresh mengucapkan terima kasih dan tersenyum dengan tulus padanya. Entah mengapa sikap Aresh yang berubah 180 derajat itu justru membuat Ruby merinding.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja," ucap Aresh sambil kembali tersenyum.
Ruby lantas keluar dari ruangan Aresh sambil menggaruk tengkuknya. "Ada apa dengannya? Apa kepalanya habis terbentur? Atau mungkin dia salah minum obat?"
Ketika Ruby sudah duduk di kursinya dan kembali bekerja, dia tanpa sengaja melihat ke arah Aresh dari balik dinding kaca. Entah mungkin kebetulan atau memang disengaja, Aresh ternyata juga tengah menatap ke arah Ruby, dan lagi-lagi pemuda itu melempar senyum pada gadis tersebut.
Ruby bergidik ngeri. Senyuman Aresh benar-benar sangat menyeramkan di matanya. Buru-buru gadis itu berlari ke toilet. "Astaga. Dia benar-benar membuatku takut. Sebenarnya ada apa dengannya? Apa mungkin dia masih sakit tapi memaksakan diri untuk datang ke kantor?"