
Keesokan harinya, Aresh pergi ke kantor dengan perasaan yang lebih lega dibanding kemarin. Setelah Aska mengalah untuknya, beban besar yang seolah menghimpit dadanya jelas berkurang banyak.
"Sekretaris Ruby, masuk ke ruanganku sekarang juga," titah Aresh melalui telepon.
Tidak berselang lama, gadis itu pun masuk ke dalam ruangannya dengan sorot mata yang terus tertuju ke lantai, sedikit pun Ruby tidak mau menatap lurus ke depan dan menatap wajah Aresh.
Melihat hal itu, Aresh pun terpikir untuk menggoda gadis itu. "Sekretaris Ruby, apakah ada barangmu yang terjatuh dan sedang kamu cari di lantai? Kenapa pandanganmu terus saja tertuju ke sana?"
Ekspresi wajah Ruby tetap saja datar. "Tidak ada, Pak. Ada perlu apa Anda memanggil saya?"
Aresh mengulum senyum seraya mengambil map berkas di atas mejanya kemudian menyerahkannya pada Ruby. "Ambil ini dan baca keras-keras. Aku ingin mendengarmu membaca isi dokumennya."
Sebagai bawahan Aresh, Ruby pun menuruti keinginan lelaki itu tanpa menaruh curiga sedikit pun.
"Aresh Adiyaksa, I love you!"
"I love you too, Ruby Zivanna Larasati." Aresh tersenyum penuh kemenangan.
Sementara Ruby, gadis itu langsung meletakkan map berkas itu di atas meja dengan kasar saking kesalnya karena Aresh mengerjainya.
"Sangat kekanak-kanakan."
Ruby segera memutar badan ingin keluar dari ruangan Aresh. Namun baru sempat mengangkat kaki beberapa langkah, Aresh tiba-tiba saja menarik pergelangan tangannya dari belakang kemudian dalam sekejap dia sudah berada di dalam pelukan lelaki itu.
"Lepaskan." Ruby berusaha mendorong dada Aresh, tapi sayangnya lelaki itu memeluk pinggangnya dengan cukup erat. "Aku bilang lepaskan, jangan kurang ajar," kesal Ruby tapi Aresh hanya tersenyum sambil menatapnya dengan lekat.
"Kamu cantik sekali, Ruby. Maukah kamu menjadi pacarku?"
"Pak Aresh Adiyaksa yang terhormat, selaku pimpinan perusahaan Adiyaksa Holdings, bukankah Anda sendiri yang sudah membuat peraturan di perusahaan bahwa sesama karyawan tidak boleh menjalin hubungan." Ruby berkata sambil memalingkan wajah ke samping, tidak mau balas menatap Aresh dari jarak yang sangat dekat.
Aresh tersenyum. "Lalu apa salahnya dengan peraturan itu kalau kita berdua berpacaran, hem?Coba perhatikan baik-baik kalimatnya, sesama karyawan perusahaan Adiyaksa Holdings tidak boleh menjalin hubungan. Apakah aku termasuk karyawan di perusahaan yang aku pimpin sendiri? Bukan, 'kan? Aku ini adalah bosnya, jadi peraturan itu tidak berlaku untukku. Bagaimana menurutmu?"
Ruby langsung mendongak menatap lelaki itu dengan tajam. "Dasar licik. Kekanak-kanakan. Lepaskan aku. Kalau kamu masih mau terus berbuat tidak sopan padaku seperti ini, aku akan resign dari perusahaan ini."
Rupanya ancaman Ruby cukup ampuh. Dengan cepat Aresh langsung melepaskan pelukannya dari gadis itu. "Baiklah, aku tidak akan macam-macam lagi, menyentuhmu tanpa ijin."
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Ruby segera memutar badan hendak keluar dari ruangan Aresh. Namun sebelum dia sempat keluar dari sana, Aresh malah kembali menahan pergelangan tangannya.
"Tunggu dulu, Sekretaris Ruby."
"Bolehkah aku bertanya? Apa alasanmu tidak menerima cintaku?"
Ruby tidak langsung menjawab. Gadis itu sempat terdiam, seperti memikirkan jawaban yang tepat. "Aku ... aku tidak menerima cintamu karena ... karena aku tidak mencintaimu."
Aresh juga sempat terdiam mendengarkan alasan penolakan Ruby.
"Sungguh hanya karena itu? Bukan karena kemarin aku dan Aska menyatakan cinta secara bersamaan?" tanya Aresh ingin memastikan.
"Hem," gumam Ruby.
"Kalau begitu bersiaplah," kata Aresh.
"Bersiap untuk apa?"
"Karena mulai sekarang, aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu jatuh cinta padaku."
*
*
Aresh keluar dari ruangannya hendak mengajak Ruby untuk makan siang berdua. Namun ketika dia sudah keluar dari ruangannya, dia malah tidak mendapati gadis itu di mejanya.
"Pergi ke mana dia?" Aresh bergumam sembari mencoba menghubungi Ruby.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah restoran. Ruby dan Naura tengah duduk berseberangan di sebuah meja.
"Apa Aresh yang menelponmu?" tanya Naura ketika melihat ponsel Ruby berdering.
Ruby mengangguk sopan. "Iya, Tante, pak Aresh yang menelepon. Kalau begitu saya permisi sebentar, saya mau jawab telepon dulu," pamit Ruby seraya bangkit dari duduknya.
"Tidak perlu," cegah Naura. "Duduklah lagi. Abaikan saja telepon Aresh, karena Tante mau bicara hal penting padamu."
Ruby lantas duduk kembali di kursinya seperti yang diminta oleh Naura. "Hal penting apa, Tante?" tanyanya penasaran.
"Ini mengenai Aresh."