
...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...
...^^^*^^^...
...*...
"Setelah minyaknya panas masukkan irisan bawang bombay, bawang merah, dan bawang putihnya," kata Naura, mengajari gadis itu memasak tahap demi tahap.
"Baik, Tante." Ruby lantas melakukan seperti yang dikatakan oleh Naura.
"Setelah tumisan bawang-bawangannya harum, masukkan irisan cabai keritingnya, ya," jelas Naura lagi. "Oh iya, kalau cabainya sudah layu kecilkan apinya, lalu tambahkan garam, kaldu jamur, dan saus tiram, aduk sebentar, tambahkan sedikit air kemudian masukkan kangkungnya."
"Baik, Tante."
*
*
Berselang beberapa saat kemudian, menu makan siang yang lezat dan menggugah selera akhirnya tersaji dengan rapi di atas meja makan, Ruby yang tadinya tidak suka memasak mendadak jadi suka dan menganggap bahwa memasak itu adalah aktifitas yang sangat menyenangkan.
Ketika Ruby meletakkan menu terakhir yang dia masak pagi ini bersama Naura di atas meja makan, ponselnya tiba-tiba saja berdering, setelah dia cek rupanya panggilan dari seseorang yang berhasil membuat gadis itu tersenyum sekaligus deg-degan.
"Mm ... Tante, Ruby mau keluar sebentar, ya, mau jawab telepon," pamit Ruby pada Nuara.
"Telepon dari siapa, Sayang?" tanya Naura penasaran.
"Dari teman, Tante."
"Oh. Jangan lama-lama ya, karena sebentar lagi kita akan makan siang bersama."
"Baik, Tante."
Sementara itu di tempat lain, masih di rumah yang sama, Aresh baru saja keluar dari kamarnya kemudian berjalan menuruni tangga, mommy-nya baru saja menelponnya dan menyuruhnya untuk turun makan siang bersama, siang ini pemuda itu terlihat sangat tampan, bersih dan segar sehabis mandi, ditambah lagi pakaian kasual yang membuat penampilannya lain dari pada biasanya.
Ketika Aresh baru sampai di lantai bawah, dia sudah mendapati pintu menuju kolam renang terbuka, ditambah lagi dia mendengar suara seseorang di luar sana. Entah mengapa suara yang tidak asing itu seolah menuntun langkah kakinya untuk berjalan mendekat.
"Dia sedang berbicara dengan siapa?" gumam Aresh sembari menempelkan telinganya pada dinding kaca yang masih tertutup rapi dengan gorden. Diam-diam dia ingin menguping pembicaraan gadis itu.
"Oh, capcay ya." Aresh kembali mendengar Ruby menyebut salah satu nama makanan, tapi sayangnya Aresh tidak bisa menguping apa yang dikatakan oleh lawan bicara Ruby.
"Memangnya kenapa kamu menanyakan apa makanan kesukaanku?" Suara seorang lelaki yang sangat-sangat tidak asing di telinga Aresh seketika muncul tidak jauh di belakang lelaki itu, tepatnya di dekat tangga. Dengan cepat Aresh pun menoleh, dan dia melihat Bagas sedang berbicara dengan seseorang di telepon sambil senyam-senyum.
"Tidak, hanya ingin tahu saja." Ruby kembali berkata.
'Tunggu tunggu. Apa mereka berdua sedang berbicara di telepon? Kenapa obrolan mereka terdengar nyambung?' Aresh bergumam dalam hati.
"Oh. Oh iya, aku baru saja kembali dari Key's Cake, tapi tadi aku tidak melihatmu di sana, pemilik toko juga berkata kamu tidak masuk, memangnya kamu pergi kemana?" tanya Bagas.
'Oh, jadi itu alasan Bagas tadi pagi buru-buru mengantarku pulang karena ingin bertemu dengannya. Cih.' Aresh tiba-tiba merasa kesal, dia merasa Bagas telah membohonginya. Tadi pagi asisten sekaligus sopir pribadinya itu buru-buru mengantarnya pulang karena katanya sedang ada urusan penting dan ingin bertemu dengan seseorang, ternyata Bagas hanya ingin pergi menemui Ruby.
"Oh itu, sekarang aku sedang berada di-"
"Ekhm!" Aresh berdehem keras, membuat Ruby dan Bagas sontak melihat ke arahnya. Namun pandangan keduanya langsung teralihkan dari Aresh ketika mereka sadar akan keberadaan satu sama lain. Keduanya lantas saling berjalan mendekat ke arah masing-masing sambil tersenyum, dan Ruby tanpa sadar melewati Aresh begitu saja tanpa menyapanya.
"Pak Bagas, kenapa bisa ada di sini juga?" tanya Ruby.
"Justru aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu bisa ada di sini, Ruby?" balas Bagas malah balik bertanya, kemudian mereka berdua tertawa dan nampak salah tingkah.
'Cih, Ruby? Apa mereka sudah seakrab itu sehingga Bagas memanggilnya dengan sebutan nama?' Batin Aresh.
"Ah, mm ... aku datang kemari karena dipanggil tante Nuara, kalau Pak Bagas sendiri?" tanya Ruby.
"Aku-" Ucapan Bagas langsung terpotong karena Aresh kembali berdehem dengan kerasnya.
"Ekhm!" Aresh berjalan mendekat ke arah asisten dan sekretarisnya. "Kebetulan sekali kalian berdua ada di sini, aku memang ingin membahas hal penting mengenai kebijakan baru yang akan segera berlaku di perusahaan," kata Aresh, lalu berlalu begitu saja dari hadapan keduanya.
"Kebijakan baru?" Ruby dan Bagas saling menatap kebingungan. Mengapa tiba-tiba ada kebijakan baru yang akan berlaku di perusahaan? Kebijakan baru apa itu? Sekarang ini pertanyaan itulah yang muncul di otak keduanya.
"Kenapa kalian masih berdiri di sana? Ayo cepat masuk dan bergabung di meja makan, mommy pasti sudah menunggu kita semua untuk makan siang bersama," kata Aresh.