My Cold Boss

My Cold Boss
Promosi Karya - Istri Wasiat Ayah (Menikahi Ibu Tiri)




BAB 1


"Cepatlah kembali, Nak, ayahmu sudah meninggal, dan sekarang seluruh harta kekayaan ayahmu yang seharusnya diwarisi penuh olehmu kini dikuasai oleh istri muda yang baru dinikahi ayahmu beberapa hari sebelum meninggal. Ibu yakin, istri muda ayahmu itu lah yang sudah membunuh ayahmu karena dia ingin menguasai seluruh harta kekayaan ayahmu. Wanita itu benar-benar licik, Gio, ini tidak bisa dibiarkan. Kau harus kembali sekarang juga, Nak. Rebut semua yang seharusnya menjadi hakmu."


Giovanno alias Gio yang baru saja mendapat kabar duka dari sang ibu melalui sambungan telepon tentang ayah kandungnya buru-buru berkemas untuk kembali ke Indonesia. Selama 15 tahun Gio tidak pernah bertemu dengan sang ayah akibat dari percerian ibu dan ayahnya tentu membuatnya merasa sangat sedih dan sakit hati mendengar kabar yang mampu menyayat hatinya tersebut.


*


*


Seorang wanita cantik berusia 28 tahun tengah menangis meratapi kepergian suaminya. Kini dia hanya bisa menatap bingkai foto milik pria paruh baya yang terpaut usia 35 tahun dengannya tersebut. Lebih tepatnya atasannya yang seminggu lalu menikahinya.


Flashback On


"Pak, meski pun saya tidak mencintai anda sebagai suami saya, tapi saya sangat menghormati dan menghargai anda sebagai atasan saya. Anda pribadi yang sangat baik. Selama bertahun-tahun saya menjadi sekretaris anda, anda benar-benar memperlakukan saya dengan sangat baik seperti putri anda sendiri."


Memori wanita itu seketika terputar pada kejadian 1 minggu silam, saat pria paruh baya yang ada di dalam foto tersebut tengah terbaring lemah di atas ranjang perawatan rumah sakit.


"Lisa, maafkan Aku. Aku tidak bisa berjuang lebih lama lagi," ucap Tuan Ghani, ayah kandung Gio.


"Pak, tolong jangan berkata seperti itu. Anda harus sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala. Kalau pengobatan di Singapore tidak membawa banyak dampak positif untuk kesehatan Anda, maka sekarang juga saya akan usahakan untuk membawa Anda berobat ke Amerika."


"Tidak, Lisa, tidak perlu." Pria paruh baya itu menolak dengan suara lemah yang dalam dan tak bertenaga. Tatapannya kini menatap lurus pada langit-langit ruang perawatan. Setelah menghembuskan napasnya pelan dia pun kembali berkata, "Sudah hampir 3 tahun aku berjuang menghadapi penyakit mematikan ini, Lisa, dan sekarang aku sungguh sudah tidak tahan lagi, aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya. Mungkin sekarang memang sudah tiba waktunya untuk aku pergi."


"Pak, Anda harus bertahan. Bukankah impian Anda selama ini adalah bertemu dengan putra semata wayang Anda? Apa Anda tega pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu padanya? Apa Anda rela pergi tanpa melihatnya untuk yang terakhir kalinya?" Lisa berkata sembari mulai menangis.


Senyuman tipis terukir pada wajah pucat Tuan Ghani. "Lisa, kelak jika kau bertemu dengannya, sampaikan permohonan maafku padanya. Katakan padanya bahwa ... Ayahnya sangat menyayanginya. Dia satu-satunya putra yang aku miliki di dunia ini."


Ceklek.


Seorang pria dengan setelan jas rapi tiba-tiba masuk ke dalam ruang perawatan Tuan Ghani.


"Pengacara Mark, kau sudah datang?" ucap Tuan Ghani.


"Sudah, Pak. Saya sudah datang," jawab pengacara Mark.


"Lisa, dengarkan aku baik-baik," kata Tuan Ghani kemudian.


"Iya, Pak. Apa yang ingin Anda katakan?"


"Aku ingin kau menjadi pewaris atas seluruh harta kekayaan beserta aset perusahaan yang aku miliki."


Deg. Jantung Lisa seketika berdetak cepat. Terkejut, tentu saja. Mimpi apa dia semalam, sehingga hari ini dia mendengar Tuan Ghani berkata demikian padanya.


"Karena itulah Lisa, aku ingin kau memenuhi satu permintaanku sebelum aku tiada."


Lisa sempat terdiam mendengar ucapan Tuan Ghani. Jika dilihat-lihat, sepertinya harapan hidup pria paruh baya itu memang sudah tidak lama lagi. "Memangnya ... Anda memiliki permintaan apa terhadap saya, Pak?"


"Jadilah istriku, Lisa. Dengan begitu kamu bisa memiliki hak untuk mewarisi semuanya."


Flashback Off.


*


Tok tok tok!


"Nyonya! Nyonya Lisa!" Teriakan asisten rumah tangga seketika membuyarkan lamunan Lisa. Wanita itu dengan cepat menyeka air matanya kemudian meletakkan kembali bingkai foto milik Tuan Ghani di atas meja nakas samping tempat tidur.


"Ada apa, Bi?" tanya Lisa begitu pintu kamarnya terbuka.


"Di luar ada seseorang yang mencari Anda, Nyonya."


"Siapa, Bi?" tanya Lisa penasaran.


"Kalau saya tidak salah namanya Gio, Nyonya."


Deg.


"Gio, Bi?" tanya Lisa ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.


"Iya, Nyonya. Kalau tidak salah ...." Si Bibi sengaja menggantung ucapannya karena merasa tidak enak untuk melanjutkannya.


"Kalau tidak salah apa, Bi? Katakan saja, jangan bicara setengah-setengah."


"Kalau saya tidak salah dengar, tadi tuan Gio memperkenalkan diri sebagai putranya tuan besar, Nyonya," jawab Asisten Rumah Tangga tersebut.


Karena dugaannya ternyata benar, Lisa pun buru-buru turun untuk menemui anak suaminya tersebut, yang berarti sekarang Gio adalah anak tirinya.


"Kau sudah datang dari tadi?" Lisa berjalan menghampiri Gio sambil tersenyum ramah, kemudian mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan pria tersebut.


Sementara Gio, pria yang lebih tua 4 tahun dari Lisa tersebut menatap penampilan ibu tirinya dari atas ke bawah, ternyata setelah bertemu dengan Lisa, dia tidak menyangka bahwa ternyata wanita itu bahkan terlihat jauh lebih muda dari yang dia bayangkan sebelumnya.


'Cih, dasar perempuan materialistis. Ingin cepat kaya makanya menggaet pria tua untuk dinikahi.' Gio membatin sambil menatap Lisa dengan tatapan jijik disertai senyuman remeh.


"Jadi ternyata kau ibu tiri yang jahat itu," ucap Gio tanpa sudi membalas uluran tangan Lisa.


B e r s a m b u n g ...