My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 19



Ruby berjalan kewalahan ketika kotak-kotak berisi kue itu dia angkat secara tertumpuk hingga hampir setinggi hidungnya. Gadis itu berjalan dengan sangat hati-hati karena melihat jalan pun rasanya kesulitan. Kalau tidak berjalan ekstra hati-hati, bisa-bisa kotak-kotak kue itu terjatuh dan isinya mungkin saja bisa hancur berantakan, Aresh benar-benar membuat kehidupan Ruby di tempat kerja menjadi sulit karena ulahnya.


Ruby berjalan kepayahan menuju lift. Sepanjang gadis itu berjalan sambil membawa kotak-kotak kue itu, dia terus saja mengutuk Aresh karena sikapnya yang menyebalkan, tidak berperasaan, dan suka seenaknya padanya.


'Semoga saja kelak ketika dia sudah menikah, dia diperbudak oleh istrinya, huh.' Ruby menyumpahi Aresh dalam hati ketika dia merasa kelelahan tapi lelaki itu sama sekali tidak ada niat untuk membantunya, padahal sejak tadi tangan Aresh hanya menganggur dan tidak membawa apa pun.


Ting.


Pintu lift akhirnya terbuka. Ruby merasa sedikit lega karena sebentar lagi barang bawaannya yang tidak begitu berat itu namun cukup merepotkan hampir sampai kepada para pemiliknya.


"Cepat bagikan kue-kue itu dalam 5 menit, aku akan menunggumu di ruanganku. Ingat, jangan sampai terlambat," kata Aresh sebelum melenggang menuju ruangannya.


Ruby memejamkan matanya kuat-kuat. Dadanya kembali kembang kempis karena emosi. Ingin sekali rasanya Ruby menghajar, memaki, dan memberi pelajaran pada lelaki itu, tapi sayangnya dia tidak berdaya karena sadar posisinya yang saat ini hanya bawahan lelaki dingin dan menyebalkan tersebut.


Untungnya saat tidak dalam pengawasan Aresh, Ruby bisa meminta bantuan karyawan lain untuk membantunya membagikan kue-kue itu, jadi dia bisa beristirahat sebentar sebelum waktu 5 menit yang ditentukan Aresh habis.


Ketika gadis itu mulai memasuki ruangan sang atasan, dia langsung melihat banyak map berkas yang menumpuk di atas meja Aresh.


"Berkas apa ini, Pak?" tanya Ruby penasaran.


"Ini semua tugas untukmu. Selesaikan sebelum hari senin," jawab Aresh, sambil duduk bersandar dengan santainya di kursi kebesarannya.


"Tapi, Pak, bagaimana mungkin saya bisa menyelesaikan ini semua dalam 3 hari, saya 'kan-"


"Tidak ada tapi-tapi, pokoknya aku tidak mau menerima alasan. Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan lembur di kantor, kamu bisa membawanya pulang dan mengerjakannya di rumah saat akhir pekan," kata Aresh tidak mau dibantah. "Daripada kamu kelayapan di akhir pekan, lebih baik kamu mengerjakan pekerjaanmu dengan benar."


"Siapa juga yang kelayapan," gumam Ruby.


"Apa? Kamu bilang apa barusan? Kamu sedang mengataiku, ya?" tanya Aresh dengan ketus.


"Tidak, Pak, tidak. Saya tidak mengatai Anda kok," jawab Ruby. "Baiklah, Pak, saya akan membawa semua berkas ini ke meja saya."


Ketika Ruby sudah keluar dari ruangannya, Aresh kembali tersenyum miring. "Rasakan itu. Mulai sekarang setiap akhir pekan, kamu tidak akan bisa bersenang-senang lagi."


*


*


Jam pulang kantor akhirnya tiba. Ruby membawa beberapa map berkas untuk dibawa pulang ke rumah, dari pada lembur di kantor, lebih baik dia bekerja di rumah saja. Saat masuk ke dalam taksi, Ruby tiba-tiba mendapat telepon dari Bagas.


"Apa kamu sudah pulang?" tanya Bagas.


"Iya, sedang dalam perjalanan menuju rumah," jawab Ruby. "Sekarang kamu di mana?"


"Aku baru saja sampai di apartemenku, sekarang aku sedang berkemas."


"Berkemas? Memangnya kamu mau pergi ke mana?"


"Aku harus berangkat ke luar kota, bos menugaskanku untuk menangani beberapa proyek penting di sana."


"Oh. Berapa lama?" tanya Ruby.


"Mungkin sekitar 1 minggu. Atau mungkin bahkan lebih," jawab Bagas.


Bagas mengulum tawanya mendengar suara tidak bersemangat gadis itu saat mengetahui bahwa dirinya akan pergi cukup lama. "Apa nanti kamu akan merindukanku?"


Hening seketika. Ruby malu menjawab pertanyaan Bagas.


"Mm, maksudku merindukan rekan terbaikmu di kantor," jelas Bagas.


"Mm ... aku tidak tahu," jawab Ruby malu-malu.


Bagas akhirnya tertawa. "Aku akan meneleponmu lagi nanti, sekarang aku sedang buru-buru. Aku harus sampai di bandara dalam waktu 30 menit ke depan. Jaga dirimu ya selama aku pergi."


"Hm, kamu juga. Hati-hati di jalan," pesan Ruby sebelum akhirnya sambungan telepon mereka berakhir.


*


*


Malam minggu tiba, usai makan malam bersama bunda dan adiknya, Ruby lantas kembali masuk ke dalam kamarnya untuk melanjutkan pekerjaan yang dia bawa dari kantor. Sekitar satu jam lebih setelah dia kembali ke kamar, bel rumahnya tiba-tiba berbunyi.


"Siapa kira-kira yang datang malam-malam begini?" gumam Ruby tanpa beranjak sedikit pun dari tempat duduknya. "Robby! Buka pintunya, Dek!" teriak Ruby pada sang adik yang sedang bermain play station di ruang depan kamarnya.


"Baik, Kak!" balas Robby.


*


Tidak terasa sudah hampir 2 jam Ruby duduk bekerja di depan laptopnya, dan gadis itu pun mulai merasa pegal dan mengantuk karena sejak 2 hari yang lalu dia kurang istirahat dan hanya fokus menyelesaikan semua pekerjaannya.


Tiba-tiba pintu kamar Ruby terbuka dari luar.


"Kak," panggil Robby.


"Hem," gumam Ruby tanpa sedikit pun menoleh ke arah sang adik. "Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Apa Kakak sedang sibuk?" tanya Robby.


"Iya, Kakak sedang banyak pekerjaan. Ada apa?" tanyanya untuk yang kedua kalinya.


"Tidak ada apa-apa, Kak. Ya sudah, kalau begitu lanjutkan kembali pekerjaanmu," kata Robby hendak menutup kembali pintu kamar sang kakak, tapi tidak jadi karena Ruby tiba-tiba saja memanggilnya.


"Eh, Dek, bisa minta tolong? Tolong buatkan Kakak kopi, Kakak mau begadang lagi," pinta Ruby.


"Siip, Kak. Tunggu sebentar. Seperti kemarin, ya?"


"Oke."


Berselang beberapa menit kemudian, pintu kamar Ruby kembali terbuka, karena Ruby berpikir bahwa itu Robby yang datang, dia pun sama sekali tidak menoleh dan tetap fokus pada layar laptopnya.


"Ini kopimu."


"Teri-" Sadar bahwa yang membawakan kopi untuknya bukan Robby, Ruby dengan cepat mendongak. "Kamu."