
...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...
...*...
...*...
"Hah?" Ruby merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Maksud A-nda a-pa, Pak? Apa saya ... tidak salah dengar?" tanya Ruby agak ragu. Dia pikir makanan yang dibawa oleh lelaki itu adalah makanan untuk Bagas dan Aresh saja! karena Bagas hanya membeli 2 porsi makanan.
Bagas tersenyum. "Tidak, kamu tidak salah dengar, aku memang mengajakmu makan malam bersamaku."
"Lalu ... Pak Aresh bagaimana?"
"Dia tidak mau. Tadi sebelum aku keluar membeli makanan, aku sudah menawarinya tapi dia menolak," jawabnya. "Ayo, kita ke ruang pantry sekarang," ajak Bagas kemudian.
Sebelum melangkah mengikuti Bagas, Ruby sempat menoleh melihat ke arah ruangan Aresh, tirai jendela di dalam ruangan lelaki itu tertutup, jadi Ruby tidak bisa melihat apa yang sedang di lakukan oleh pemilik ruangan itu di dalam sana.
Ruby lantas berjalan mengekor di belakang Bagas, sesekali lelaki itu melontarkan lelucon yang membuat gadis itu tertawa. Kalau Ruby pikir-pikir, semenjak dirinya bekerja di Adiyaksa Holdings, lelaki yang satu ini memang selalu baik dan perhatian padanya, berbeda dengan Aresh yang selalu menunjukkan sikap yang berlawanan dan sepertinya sangat membencinya.
"Sekretaris Ruby, kamu punya kesibukan apa saat akhir pekan?" tanya Bagas di sela-sela makan mereka.
"Mm ... biasanya pagi-pagi saya menemani bunda jalan-jalan ke taman, setelah itu jam 9 pagi sampai jam 12 siang saya pergi ke Key's Cake."
"Key's Cake? Apa yang kamu lakukan di Key's Cake selama 3 jam di akhir pekan?" tanya Bagas penasaran.
"Bantu-bantu tante Keysha, yang punya toko, biasanya saat akhir pekan beliau sangat sibuk karena salah satu karyawannya off."
Bagas mengangguk mengerti. "Oh. Setelah itu
apa lagi kesibukanmu?"
"Random sih, Pak, kadang di rumah saja, kadang keluar jalan-jalan bersama teman, kadang juga keluar jalan-jalan bersama Robby," jawab Ruby.
Ruby tersenyum. "Robby adik laki-laki saya, Pak."
"Oh, adik laki-laki kamu ya, aku pikir ...."
"Memangnya Pak Bagas pikir siapa?"
"Tidak, bukan apa-apa. Lupakan. Makanlah, bantu aku habiskan makannya, kita berdua masih sama-sama punya pekerjaan, 'kan? Jangan sampai kita pulang larut gara-gara keasyikan mengobrol di sini." Bagas sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
.
.
Tidak terasa waktu sudah menunjuk pukul 10 malam dan pekerjaan Ruby akhirnya selesai juga. Kini gadis itu sudah berdiri di pelataran gedung perkantoran menunggu adiknya datang menjemputnya.
Tin!
Mobil hitam mengkilap yang tidak asing di mata Ruby itu berhenti tepat di hadapan gadis tersebut.
"Sekretaris Ruby, masuklah. Biar aku antar kamu pulang!" ajak Bagas.
"Tidak, Pak, tidak usah, sebentar lagi adik saya juga datang," tolak Ruby.
"Ayolah, tidak apa-apa, bilang saja pada adikmu untuk tidak usah datang menjemputmu, biar aku yang mengantarmu sampai rumah."
"Tidak usah, Pak, serius, adik saya sudah dekat kok." Ruby kembali menolak.
"Baiklah, kalau begitu aku dan Tuan Muda Aresh akan menemanimu sampai adikmu datang," kata Bagas sambil tersenyum, kemudian membuka pintu mobil hendak keluar menemani Ruby, namun sejurus kemudian urung dia lakukan karena mendapat protes dari Aresh.
"Kamu bilang apa barusan, Bagas? Kamu ingin kita menemaninya sampai adiknya datang? Tidak salah? Kamu pikir aku tidak butuh istirahat setelah lembur, hm? Kalau kamu memang mengkhawatirkannya dan ingin sekali menemaninya sampai adiknya datang, turun saja sana, biar aku sendiri yang menyetir mobilnya kembali ke rumah," kesal Aresh. Dia sangat tidak suka melihat Bagas begitu perhatian pada Ruby.