
"Abang dan Ruby mau pergi ke mana?" tanya Aska begitu sudah berdiri di hadapan keduanya.
"Oh itu, kami mau keluar makan siang di restoran," jawab Aresh. Saat ini mood-nya benar-benar berantakan karena kemunculan Aska yang tiba-tiba.
"Iya benar." Ruby berkata sambil tersenyum pada Aska.
"Oh begitu." Aska terdiam sejenak memikirkan sesuatu. "Mm ... Bang, apa aku boleh minta izin padamu untuk membawa ruby makan siang bersamaku? Untuk kali ini saja."
"Tidak, tidak boleh," jawab Aresh.
"Loh, kenapa tidak boleh, Bang? Bukankah sekarang sudah masuk waktu jam istrinya kantor, jadi aku boleh dong membawa Ruby pergi." Aska tidak terima saat Aresh menolak permintaannya.
"Bukan itu masalahnya, Aska. Masalahnya, aku sudah memesan tempat untuk makan siang bersama ruby, kalau kamu juga ingin mengajaknya, besok saja. Untuk hari ini biar dia keluar bersamaku," kata Aresh. Dia pikir kalau siang ini dia berhasil membuat Ruby menjadi miliknya, dia yakin setelah ini Aska tidak akan berani mendekati gadis yang sudah menjadi milik kakaknya sendiri.
"Tapi, Bang."
"Bagaimana kalau kita bertiga makan siang bersama saja?" usul Ruby kemudian, sambil tersenyum menatap kedua lelaki itu secara bergantian.
"Wah, ide bagus, Ruby. Aku sangat setuju," kata Aska. Dengan cepat pemuda itu menggandeng tangan Ruby dan membawanya keluar menuju mobilnya.
"Eh, tung- si al." Aresh mendengus kasar, kemudian buru-buru menyusul langkah Aska dan Ruby.
"Bang, Abang duluan saja. Biar nanti aku dan Ruby mengikuti mobil Abang dari belakang." Aska berkata kemudian masuk ke dalam mobilnya dan duduk tepat di samping Ruby.
Lagi-lagi Aresh hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam karena kesal dan cemburu. Aska ini selalu saja selalu bertindak lebih cepat darinya.
*
*
Saat mereka bertiga baru selesai makan siang bersama di dalam salah satu room private restoran, Aska tiba-tiba saja berlutut di hadapan ruby. Ruby yang melihat kelakuan pemuda itu pun jadi terkejut. Gadis itu melihat ke arah Aresh dengan kebingungan, seolah bertanya ada apa dengan Aska?
"A-Aska, kamu mau apa?" tanya ruby.
"Ruby, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu, jauh sebelum kita bertemu secara langsung," kata Aska, sambil menggenggam erat tangan Ruby.
"La-lalu?" Sontak Ruby merasa malu dan canggung mendengar pengakuan Aska.
Aska menatap mata Ruby dengan lekat. "Jadilah pac-"
"Tunggu!" Aresh tiba-tiba saja berdiri dari duduknya sambil menyela ucapan Aska. Sontak pandang Ruby dan Aska beralih padanya.
Sebelum kembali bersuara, Aresh berdehem terlebih dahulu, kemudian memasang tampang penuh percaya diri dan sok keren. "Sebenarnya aku mengajak Sekretaris Ruby untuk siang bersama karena aku juga ingin menyatakan cintaku padanya."
Ruby dan Aska jelas sangat terkejut mendengar ucapan Aresh. Keduanya lantas saling menatap tidak percaya.
"Bang, tolong jangan bercanda," kata Aska sambil tertawa kecil.
"Aku tidak bercanda, Aska. Aku serius. Aku memang mencintai Ruby." Aresh berkata dengan penuh keyakinan.
"Tapi Bang, bukankah sebelumnya aku memang sudah mengatakan pada Abang kalau aku menyukai Ruby. Kenapa Abang juga tiba-tiba mengatakan suka padanya?" kata Aska.
"Memang benar. Tapi sebelum kamu datang dari Amerika, aku memang sudah lebih dulu mencintai Ruby. Hanya saja aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya."
"Bang tolong jangan bercanda. Ini sama sekali tidak lucu." Aska benar-benar belum percaya kalau mereka berdua akan berada di situasi yang sama, yaitu menyukai gadis yang sama.
"Aku sama sekali tidak bercanda Aska. Aku benar-benar serius. Aku mencintai Ruby."
"Hah, aku tidak percaya ini," gumam Aska. Ternyata saingan cintanya adalah kakaknya sendiri. "Bang, jika kita mau berbicara siapa yang lebih dulu mencintai Ruby, Abang jelas kalah dariku. Ruby menjadi Sekretaris Abang kurang dari setengah tahun, sedangkan aku menyukainya saat aku baru tinggal di Amerika," jelas Aska.
"Oke, kalau begitu ... sekarang tidak peduli siapa yang lebih dulu mencintainya." Aresh kembali berdehem. Saat ini jantungnya sudah berdetak sangat cepat. Ini kali pertamanya dia berada di situasi yang rumit seperti ini.
"Baiklah, kalau ini yang Abang mau. Sekarang kita kesampingkan hubungan kakak beradik. Sekarang kita berdua adalah dua orang lelaki yang mencintai satu wanita yang sama," kata Aska. Pemuda itu lantas berbalik bertanya pada Ruby, "Ruby, aku ingin bertanya padamu. Diantara kamu berdua, siapq yang kamu pilih."
Ruby terdiam sambil menatap lelaki lelaki itu secara bergantian.
"Ruby, kenapa diam saja. Jawab pertanyaan kami, kamu memilihku untuk menjadi pacarmu ataukah Aska?" kata Aresh sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban gadis itu.
"Bang, tolong jangan mendesaknya. Mungkin saja sekarang Ruby merasa tertekan karena Abang adalah bosnya."
"Aku tidak mendesaknya, Aska."
"Lalu apa tadi yang Abang lakukan? Bukankah itu sama saja. Menyuruh seseorang memberi jawaban atau pilihan sulit dalam waktu singkat sama saja dengan mendesaknya."
"Hah, baiklah, terserah padamu. Yang jelas aku hanya ingin mendengarkan jawaban ruby saja," kata Aresh. "Sekretaris Ruby, sekarang berikan jawabnmu. Siapa yang kamu pilih untuk kamu jadikan sebagai kekasih di antara kami berdua.
Ruby menarik napasnya dalam-dalam. Perdebatan kecil antara kedua bersaudara itu sudah cukup membuatnya pusing.
"Pak Aresh, Aska, maaf kalau saya harus mengatakan ini. Diantara kalian berdua, saya tidak memilih siapa-siapa. Permisi." Gadis itu segera melenggang pergi setelah menolak pernyataan cinta keduanya.