
Ricko terdiam mendengar persyaratan dari Aresh. Rencananya setelah perusahaannya kembali bangkit, dia akan menggunakan cara apa pun untuk mendapatkan Ruby kembali. Namun tak disangka Aresh malah memintanya untuk menjauhi mantan kekasihnya itu.
"Kenapa Anda meminta saya ... untuk menjauhi, Ruby? Apa ... Anda dan Ruby punya hubungan spesial?" tanya Ricko.
"Tidak perlu aku jelaskan. Intinya, jika kamu ingin perusahaanmu segera tertolong, kamu harus memenuhi persyaratan yang satu itu dariku," jawab Aresh.
Ricko terdiam sambil menunduk. Antara cinta dan perusahaan, dua-duanya penting untuk masa depannya, tapi disaat terdesak seperti sekarang ini, dia harus mementingkan nasib karyawan-karyawannya. Diluar sana ada puluhan bahkan ratusan orang yang menggantungkan nasib padanya, dia tidak boleh egois meski pun hatinya sangat ingin kembali pada Ruby.
*
Aresh kembali ke rumah dengan wajah sumringah. Setelah berhasil menyingkirkan saingannya satu per satu, dia akhirnya bisa merasa lebih tenang. Sekarang Aresh tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri, dia sudah jatuh cinta pada Ruby! Satu-satunya gadis sombong yang selama ini tidak terpesona dengan ketampanan paras yang dia miliki, berbanding terbalik dengan para gadis yang selama ini Aresh temui.
"Bang, kok pulang-pulang senyum-senyum sendiri sih? Lagi memikirkan apa?" Suara pertanyaan seseorang yang terdengar begitu akrab di telinga Aresh seketika mengalihkan perhatiannya.
"Aska!" Aresh langsung berhambur memeluk sang adik. "Kapan kamu kembali? Kenapa tidak memberitahu Abang?" tanya Aresh kemudian.
"Tadi siang. Aku sengaja tidak memberitahu siapa pun karena aku ingin memberi semua orang kejutan dengan kepulanganku," jawab Aska.
"Kamu ini. Oh iya, bagaimana, apa kamu sudah membuat keputusan untuk menetap di sini?" Aresh kembali bertanya saat mereka berdua saling melepas pelukan.
"Iya, Bang. Rencananya aku ingin menetap di sini untuk membantu-bantu daddy mengelola perusahaan."
"Baguslah. Memang sudah hampir waktunya daddy istirahat. Meski pun dia belum begitu tua, tapi dia seharusnya sudah menikmati waktunya untuk bermesraan dengan mommy."
*
*
Akhir pekan kembali tiba, pagi ini Naura kembali mengundang Ruby untuk datang ke rumah mereka. Kali ini Naura memanggil Ruby bukan untuk kelas memasak dadakan, melainkan karena memang ada pesta kecil-kecilan di kediaman mereka karena kepulangan Aska kembali ke Indonesia.
Pagi ini Ruby terlihat cantik mengenakan gaun berwarna broken white dengan panjang selutut.
"Ruby! Sini, Sayang?!" Teriakan Naura membuat beberapa orang yang ada di sekitarnya ikut melihat ke arah mana wanita paruh baya itu melihat sambil melambaikan tangan, termasuk Aresh dan Aska yang berdiri di sisi kiri dan kanan sang mommy.
Sementara itu Ruby hanya balas tersenyum sambil berjalan menghampiri Naura.
"Dia Ruby, anak teman Mommy, juga sekretaris Abangmu di Adiyaksa Holdings," jelas Naura pada putra kandungnya tersebut.
"Wah, dia cantik sekali, Mom. Apa Aska boleh berkenalan dengannya?" tanya Aska, sambil menatap penampilan Ruby dari atas ke bawah kemudian tersenyum penuh arti.
"Tentu saja, Sayang." Naura tersenyum sambil menatap putranya, kemudian berjalan menghampiri Ruby. Sementara itu Aska terus saja menatap Ruby sambil berjalan mendekat ke arah sang kakak.
"Bang, kalau aku tidak salah dengar, tadi Mommy bilang kalau dia adalah sekretaris Abang di Adiyaksa Holdings," kata Aska ingin memastikan.
Aresh bergumam sambil ikut menatap gadis pujaannya yang memang terlihat sangat cantik pagi ini, "Hem."
"Bang, Abang pasti punya nomor kontaknya, 'kan? Boleh berikan padaku?" tanya Aska.
"Untuk apa?" Aresh malah balik bertanya sambil menatap sang adik dengan tatapan curiga.
"Aku menyukai gadis itu, Bang, dan aku ingin berkenalan dengannya."
Dug.
Aresh terdiam. Dia tidak pernah menyangka, mengapa begitu kebetulan? Disaat dia menyadari perasaannya pada Ruby, Aska justru malah mengatakan bahwa dia juga menyukai gadis itu secepat ini.
Aresh memaksakan diri untuk tertawa. "Jangan bercanda, Aska. Kamu bahkan baru melihatnya 1 menit yang lalu, kenapa tiba-tiba mengatakan bahwa kamu menyukainya?"
"Tidak, Bang, aku tidak bercanda. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya aku melihat gadis itu. Meski pun bukan secara langsung, tapi aku sering melihat foto-fotonya di sosial media," jelas Aska. "Bang, aku heran, apa Abang memang sebegitu bencinya pada perempuan sampai-sampai bidadari yang selalu berada di dekat Abang selama ini pun ikut terlewatkan?"
Deg.
Lagi-lagi jantung Aresh kembali berdetak cepat ketika sadar akan ucapan Aska yang memang ada benarnya.
'Katakan saja Abang bodoh, Aska. Abang baru menyadari perasaan Abang ketika para lelaki yang mendekati Ruby membuat Abang cemburu. Jika sebelumnya Abang bisa menyingkirkan saingan-saingan Abang dengan mudah, lain halnya denganmu. Jika kamu menyukainya, mungkin seharusnya Abang lah yang mengalah demi kebahagiaanmu.' Batin Aresh.
Ketika Aska berjalan menghampiri Ruby dan mommy-nya, disaat itulah Aresh meninggalkan pesta tanpa permisi. Dia mungkin tidak akan sanggup melihat Aska mendekati Ruby dengan terang-terangan.