
"Kamu- kamu kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana? Kenapa tidak menjawab teleponku? Dan juga kenapa tidak membalas pesanku," tanya Aresh. Matanya sudah berkaca-kaca menatap pengantinnya. Perlahan-lahan kakinya semakin melangkah maju mendekat ke arah Ruby.
"Terus terang, itu semua ulah Mommy," Ruby melihat ke arah Naura yang saat ini sedang tersenyum menatap ke arah mereka berdua, "sebenarnya Mommy yang menyuruhku resign dari perusahaan dan Mommy juga yang menyuruhku untuk pergi liburan menjelang ... hari pernikahan kita," ungkap Ruby.
Aresh mengulum senyuman bahagia saat mendengar Ruby mengucapkan 3 kata terakhir pada kalimatnya. Entah mengapa Aresh merasa bahwa kini Ruby berdiri di hadapannya bukan karena dipaksa oleh siapa pun, termasuk sang mommy. Meski pun tidak bisa dipungkiri bahwa gadis itu pernah melakukan penolakan padanya sebanyak 2 kali.
"Termasuk ... menyuruhmu mengabaikanku?" tanya Aresh yang langsung dijawab anggukan oleh Ruby. "Astaga, aku sama sekali tidak menyangka. Ternyata semua ini sudah direncanakan." Aresh benar-benar tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya saat ini. Pemuda itu lantas melihat ke arah ketiga orang tuanya kemudian berteriak, "Terima kasih banyak, Mom, Dad, Pa! I love you so much! Hadiah ulang tahunnya begitu luar biasa!"
Tidak lupa Aresh memberikan jari hati ke arah ketiga orang tuanya, dan ketiganya pun menanggapinya sambil mengangguk dan tersenyum bahagia.
"Ekhm, Kak, berhentilah membuang-buang waktu, cepat mulai upacara pernikahannya agar kalian berdua segera resmi menjadi suami istri," celetuk Aska yang membuat semua orang satu gedung tertawa.
*
*
Ruby dan Aresh akhirnya resmi menjadi sepasang suami istri. Setelah pesta pernikahan mereka selesai, Aresh dan Ruby segera naik ke lantai hotel sekian tempat dimana kamar pengantin mereka telah disiapkan.
Begitu masuk ke dalam kamar, Aresh langsung memeluk Ruby erat-erat. Sebenarnya sejak tadi dia ingin melakukannya, tapi rasanya sangat memalukan memamerkan kemesraan di hadapan banyak orang meski pun semua orang tahu kalau mereka adalah sepasang pengantin baru.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang." Aresh berbisik di dekat telinga gadis yang kini sudah menjadi istrinya.
Sementara itu, Ruby yang diperlakukan demikian justru malah merinding. Jantung gadis itu sudah berdetak tidak karuan membayangkan apa yang akan terjadi diantara mereka ke nantinya.
"Mm ... a-aku ingin pergi ke kamar mandi, bi-sa tolong lepaskan aku?" tanya Ruby berusaha untuk mencari alasan agar bisa menghindar dari Aresh meski pun hanya sebentar.
Aresh akhirnya melepaskan pelukannya. Begitu istrinya masuk ke dalam kamar mandi, pemuda itu langsung melepaskan jasnya dan berbaring di atas tempat tidur yang sudah dihiasi dengan kelopak bunga mawar.
"Mimpi apa aku semalam?" Aresh bergumam sambil senyam-senyum sendiri. Dia tidak menyangka akan menikah dengan Ruby secepat ini.
Aresh memejamkan mata sambil menunggu Ruby selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi. Namun, sudah berlangsung selama 20 menit lebih Ruby berada di dalam sana, tapi dia tidak kunjung keluar. Karena tidak sabar menunggu istrinya keluar, Aresh pun segera menghampiri.
Tok tok tok.
"Sayang! Kamu tidak apa-apa?!" teriak Aresh sambil menempelkan telinganya di daun pintu. Tidak berselang lama kemudian Ruby muncul di balik pintu dengan wajah malu-malu, sambil memegang erat tali handuk kimono yang dia kenakan.
Ruby menggeleng. "Tidak apa-apa."
Gadis itu lantas keluar dari kamar mandi kemudian duduk di pinggir tempat tidur.
Melihat ekspresi wajah istrinya yang lain dari biasa, Aresh lantas ikut duduk di samping Ruby.
"Apa kamu sedang tidak enak badan?" Aresh bertanya sambil menyentuh kening kemudian kedua pipi istrinya. "Hangat. Sepertinya kamu benar-benar tidak enak badan, Sayang. Aku akan memanggil dokter."
Aresh segera bangkit dari duduknya hendak mengambil ponselnya yang tadinya dia letakkan di atas meja nakas untuk menghubungi dokter.
"Tunggu. Tidak perlu memanggil dokter." Ruby tiba-tiba saja berdiri dari duduknya sembari berkata demikian.
Begitu Aresh berbalik, matanya langsung membulat dan tak ingin berkedip menatap pemandangan indah yang terpampang nyata di hadapannya. Dalam hati dia bertanya, dari mana Ruby mendapatkan pakaian kurang bahan tersebut.
"Sa-Sa-yang, ka-kamu ...." Aresh tidak kuasa melanjutkan ucapannya. Jakunnya sudah bergerak naik turun. Sesuatu di bawah sana seketika langsung menegang.
"Mo-mommy ... mommy menyuruhku untuk tidak membawa apa pun ke hotel, karena katanya ... dia sudah menyiapkan semua kebutuhan kita di kamar ini. Tidak tahunya ... di lemari hanya ada pakaian seperti ini." Ruby berkata sambil menunduk dalam. Gadis itu merasa sangat malu, sebab ini pertama kalinya dia tampil setengah polos di hadapan seorang laki-laki. Meski pun sekarang Aresh adalah suaminya, tapi Ruby tetap saja merasa malu dan canggung.
Aresh berjalan mendekati istrinya. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Ingin rasanya dia langsung menerkam Ruby dan mem*ngsa istrinya itu di atas tempat tidur, tapi berusaha dia tahan karena takut Ruby justru malah ketakutan padanya.
Tangan kanan Aresh bergerak menarik dagu Ruby hingga istrinya itu mendongak menatapnya. "Tidak usah malu, Sayang, karena aku ... sangat suka melihatmu berpakaian seperti ini di dalam kamar."
Aresh menunduk mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya, hingga untuk pertama kalinya bi bir mereka berdua saling bersentuhan cukup lama. Hanya bersentuhan, tidak lebih. Setelah itu Aresh kembali melepasnya.
Aresh menatap mata istrinya dengan lekat. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ruby.
"I love you, Sayang." Aresh berkata sambil menyelipkan anakan rambut Ruby di telinganya.
"I love you too, Bang." Ruby tersenyum. Untuk pertama kalinya kalimat itu keluar dari mulutnya.
Mendengar kalimat tersebut, Aresh balas tersenyum bahagia. Akhirnya dia tahu bahwa ternyata Ruby juga mencintainya. Tanpa menunda waktu lagi, dia langsung memulai malam pertama yang indah bersama istri tercintanya.
...~END~...