My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 15



...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...


...*...


...*...


Mereka berlima sudah berkumpul di meja makan, Mahend duduk di kursi posisi paling atas sementara Nuara, Aresh, Ruby, serta Bagas duduk saling berhadap-hadapan. Ruby duduk di samping Naura sementara Bagas di samping Aresh tentunya.


"Bagaimana Aresh, apa makanannya enak?" Naura bertanya pada putranya.


"Tentu saja Mom, masakan Mommy adalah yang terbaik," jawab Aresh sembari tersenyum menatap sang mommy dengan penuh kasih.


Naura balas tersenyum. "Terima kasih atas pujiannya, Sayang, tapi sebenarnya itu bukan masakan Mommy, melainkan Ruby yang memasaknya."


"Apa?" Aresh terdiam sejenak karena terkejut. Menyesal dia sudah memuji masakan gadis itu, bisa-bisa Ruby jadi besar kepala. "Pantas saja rasanya biasa saja, tidak seenak biasanya, ternyata bukan Mommy yang memasak," gumam Aresh, tapi semua orang masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Aresh, jangan kekanak-kanakan," tegur Naura. Putranya ini benar-benar tidak bisa ramah dan bersikap baik kepada gadis mana pun selain dirinya dan Yura.


Ruby hanya terdiam menunduk saat mendengar ucapan tak sedap yang keluar dari mulut Aresh.


"Ruby, Sayang, jangan bersedih, dan jangan masukkan ucapan Aresh ke dalam hati. Lihat, dia berkata bahwa rasa masakanmu biasa saja, tapi dia makan dengan begitu lahap. Bukankah itu namanya lain di mulut lain di lidah," bisik Naura yang berhasil membuat senyuman di bibir Ruby mengembang.


"Ruby, masakanmu enak sekali, kamu sudah seperti Nyonya Besar yang profesional dalam memasak," puji Bagas membuat Ruby tersipu.


"Apa kalian bertiga tahu, dulu, Daddy jatuh cinta pada Mommy gara-gara masakannya yang sangat enak seperti masakan buatan Oma," ungkap Mahend sambil tersenyum mengingat dirinya melakukan cara apa pun agar bisa membuat Naura memasak untuknya, bahkan sampai pernah melakukan cara licik.


"Daddy benar, Aresh pun nanti kalau sudah menikah pasti akan selalu merindukan masakan Mommy," ucap Aresh yang berhasil membuat semua orang terbengong dan menatap ke arahnya.


"Aresh, benarkah itu, Sayang?" tanya Naura. Mendengar putranya yang tadinya sangat membenci wanita kini sudah terpikir untuk menikah membuatnya jadi terharu dan tersenyum lega.


Sadar telah salah bicara, Aresh buru-buru mengambil air minum dan segera meninggalkan meja makan setelah mengucapkan sebuah alasan konyol. "Maaf, aku harus segera kembali ke kamar, tadi aku lupa mematikan keran air di kamar mandiku."


Naura dan Mahend saling menatap, jelas sekali kalau putra mereka sengaja menghindar.


"Mungkin Aresh baru sadar kalau dia sudah keceplosan bicara, makanya buru-buru meninggalkan meja makan," ucap Mahend. "Oh iya, Bagas, apa akhir-akhir ini Aresh sedang dekat dengan seorang gadis?" tanya Mahend penasaran. Dia berpikir, mungkinkah sekarang sudah ada seorang gadis yang beruntung yang berhasil meluluhkan hati putranya yang telah lama membeku tersebut.


"Setahu saya tidak ada, Tuan Besar," jawab Bagas.


"Kamu yakin benar-benar tidak ada, Bagas?" tanya Mahend ingin memastikan.


"Iya, Tuan Besar, saya yakin," jawab Bagas.


"Kalau tidak ada gadis yang dekat dengannya, lalu apa kira-kira yang membuat anak itu jadi sedikit berubah?" gumam Mahend, sementara Naura malah senyam-senyum sendiri, sepertinya rencananya perlahan-lahan mulai membuahkan hasil.


*


*


Usai makan siang bersama, Bagas naik ke kamar Aresh, dia ingin menanyakan mengenai kebijakan baru yang akan berlaku di perusahaan yang katanya ingin dibahas oleh atasannya itu.


"Tuan Muda, bukankah tadi Anda berkata ingin membahas mengenai kebijakan baru yang akan berlaku di kantor bersama saya dan sekretaris Ruby? Bisakah kita membahasnya sekarang? Sebab setelah ini saya masih ada urusan penting di luar."


"Tidak jadi. Kita bahas masalah itu besok saja. Urusan pekerjaan harusnya kita bahas di kantor 'kan bukannya di rumah," kata Aresh. "Sekarang aku ingin beristirahat. Kamu pergilah."


"Baik, Tuan Muda. Saya pamit dulu." Bagas lantas menutup kembali pintu kamar Aresh.


"Cih, kalian nikmatilah kebersamaan kalian hari ini, karena mulai besok, kalian tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk itu." Aresh bergumam sembari tersenyum licik.