My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 27



"Happy valentine day, semoga hubungan Tuan dan Nona langgeng dan bahagia selalu." Pramusaji itu segera pergi dari sana setelah mengucapkan selamat hari kasih sayang untuk keduanya.


"Terima kasih," ucap Aresh.


Sementara Ruby yang mendengar ucapan tersebut justru menjadi salah tingkah. Rasanya aneh saja ketika orang lain benar-benar mengira bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih.


"Ayo, kita duduk dulu." Aresh menarik tangan Ruby untuk duduk di meja yang memang sudah dia pesan diam-diam.


"Mm, Pak." Ruby sengaja tidak bergerak saat Aresh menarik tangannya.


"Ada apa?" tanya Aresh seraya ikut menghentikan langkah.


"Mm, bisa minta tolong lepaskan tangan saya?" Ruby menatap tangan Aresh yang masih menggenggam tangannya dengan erat, diikuti oleh pandangan mata lelaki itu.


"O-oh, tentu. Tentu saja." Dengan canggung Aresh melepaskan tangan Ruby. Baginya, tangan gadis itu ibarat magnet, sulit dia lepas ketika sudah menggenggamnya.


Aresh lantas bergerak cepat menarik kursi untuk Ruby. "Kalau begitu duduklah di sini."


"Tidak perlu, Pak. Biar saya duduk di kursi yang


satunya saja." Ruby yang sudah terbiasa meladeni Aresh tentu saja merasa tidak enak ketika Aresh yang justru kini meladeninya.


Baru saja Ruby hendak melangkah menuju kursi yang satunya lagi, Aresh tiba-tiba saja menarik tangannya dan menuntunnya untuk duduk di kursi yang baru saja ditarik oleh pemuda itu.


"Kamu duduk di sini saja, pemandangan jika dilihat dari arah sini jauh lebih bagus ketimbang kamu duduk di kursi sebelah sana," ucap Aresh.


"Tapi, Pak-"


"Duduklah. Tidak usah banyak protes." Aresh tersenyum kemudian duduk di kursi seberang meja Ruby.


Tidak berselang lama setelah mereka duduk, beberapa orang pelayan datang membawa hidangan makan siang untuk keduanya.


Ruby mengerutkan kening heran saat melihat kedatangan pelayanan-pelayan itu. Bukankah mereka belum memesan makanan apa pun, tapi kenapa makanan tiba-tiba diantar ke meja mereka. Tidak tahu saja dia kalau Aresh memang sudah menyiapkan semua ini sejak semalam, makan siang romantis untuk mereka berdua. Hal ini merupakan salah satu cara Aresh untuk mendapatkan hati Ruby secara perlahan.


"Ini untukmu." Aresh memberikan piring berisi daging yang sudah dia potong-potong kepada Ruby.


"Tidak perlu, Pak, saya bisa memotongnya sendiri," tolak Ruby. Tapi meski pun dia menolak Aresh tetap menukar piring mereka berdua.


"Makanlah." Aresh tersenyum sambil menatap gadis itu lekat.


Saat mereka tengah menikmati menu makan siang dengan steak daging, pemandangan yang cukup membuat mata Ruby tersihir tiba-tiba saja muncul tepat di belakang Aresh. Puluhan balon dengan kombinasi warna merah, pink, dan putih tiba-tiba saja beterbangan, dan tiga balon dengan bentuk hati diantaranya bertuliskan kata I, Love, dan You.


Aresh mengulum senyum saat melihat gadis itu terdiam dengan tatapan lurus ke belakangnya.


"Ada apa?" tanya Aresh pura-pura tidak tahu.


"Tidak ada apa-apa, Pak." Ruby menggeleng cepat, kemudian menunduk malu dan melanjutkan kembali makannya. Entah mengapa dia mendapat feeling kalau balon terbang bertuliskan 'I Love You' itu ditujukan untuknya.


'Ish, apa yang aku pikirkan? Siapa juga yang mau menyiapkan kejutan romantis seperti itu untuk gadis biasa sepertiku.' Batin Ruby.


*


*


Makan siang romantis dadakan itu akhirnya selesai, sekarang Aresh dan Ruby sedang berjalan sambil bergandengan tangan menuju parkiran. Lebih tepatnya Aresh yang menggandeng tangan Ruby karena sudah ketagihan.


"Pak, bisa minta tolong lepaskan tangan saya? Saya khawatir ada orang yang mengenal kita melihat kita seperti ini dan berujung menjadi kesalahan pahaman."


Aresh mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tangannya masih saja menggenggam tangan Ruby dengan erat. "Siapa?"


"Tidak ada siapa pun, Pak. Maksud saya ... saya hanya khawatir jika seandainya tiba-tiba ada orang yang mengenal kita dan melihat kita seperti ini dan menjadi salah paham."


Aresh tersenyum. "Tidak usah khawatir, di sini tidak akan ada orang kantor yang melihat kita." Ares lantas membuka pintu mobilnya untuk Ruby, dia benar-benar memperlakukan Ruby layaknya gadis yang sangat spesial untuknya. "Masuklah, kita harus segera kembali ke kantor."


*


*


Tidak terasa sudah 1 bulan lebih Aresh berusaha mendapatkan hati Ruby, dan sepertinya gadis itu sudah mulai luluh dengan sikap manisnya yang romantis.


"Mungkin lebih baik jika sekarang aku menyatakan cintaku pada Ruby, perse*an dengan kebijakan yang berlaku di perusahaan, bukankah aku bisa membuat dan menghapus peraturan itu kapan pun aku mau." Aresh tersenyum menatap pantulan wajah tampannya di cermin. Siang ini rencananya dia akan mengajak Ruby makan siang berdua lalu kemudian menyatakan perasaannya pada gadis itu.


Seperti rutinitasnya selama 1 bulan terakhir, setiap pagi Aresh selalu menyempatkan diri untuk menjemput dan mengantar gadis itu pulang. Namun, senyuman yang terukir di wajah Aresh sepanjang perjalanan mendadak jadi luntur ketika melihat Aska menjemput Ruby lebih dulu darinya. Sepertinya pagi ini dia kalah cepat dari sang adik.


"Si al!" Aresh memukul setir kemudinya sambil memperhatikan dari kejauhan ketika Aska membuka pintu mobilnya untuk Ruby.