My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 13



...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...


...*...


...*...


Keesokan harinya.


Pagi ini tidak seperti weekend biasanya, jika biasanya Ruby menghabiskan sebagian waktunya di Key's Cake selama 3 jam, pagi ini gadis itu malah mendapat undangan untuk datang ke rumah Naura. Sebenarnya Ruby ingin menolak sebab malas kalau harus bertemu dengan bosnya yang dingin, galak, dan menyebalkan itu, tapi karena selama ini Naura sangat baik padanya dan keluarganya, Ruby pun jadi tidak enak jika harus menolak ajakan wanita paruh baya tersebut. Alhasil, Robby mengantarnya ke sana sebelum pemuda itu berangkat ke kampus.


"Nyonya, Nona Ruby sudah ada di bawah," kata asisten rumah tangga tersebut pada nyonyanya yang tengah bersiap-siap sehabis mandi.


"Benarkah dia sudah datang," Naura nampak sangat bersemangat, "bilang padanya untuk menunggu sebentar lagi, Bi, sebentar lagi saya turun."


"Baik, Nyonya."


Di lantai bawah, Ruby yang tengah melihat-lihat bingkai foto yang terpajang di ruang keluarga sembari menunggu nyonya rumah selesai bersiap-siap justru dikejutkan dengan kemunculan Aresh yang tiba-tiba. Lelaki itu nampaknya baru saja kembali dari tempat gym, terlihat jelas dari pakaian yang dikenakannya yang menampakkan otot-otot lengan dan betisnya yang kekar yang biasanya tertutupi oleh setelan jas.


"Selamat pagi, Pak," sapa Ruby agak canggung. Gadis itu tersenyum sebentar kemudian menundukkan pandangannya, berharap Aresh segera berlalu dari hadapannya dan tidak mempedulikan keberadaannya.


"Ada urusan apa kamu datang kemari?" tanya Aresh, masih dengan nada bicaranya yang dingin dan terkesan mengintimidasi lawan bicaranya seperti biasa.


"Sa-saya ... saya-"


"Mommy yang memanggilnya datang kemari, Resh," jawab Naura yang muncul tiba-tiba di belakang putranya. "Ruby sayang, ayo, ikut Tante ke dalam." Naura tersenyum kemudian menggandeng tangan Ruby untuk membawanya ke suatu tempat.


Aresh yang kesal karena ditinggal begitu saja lantas memilih masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu di ruangan lain, Naura ternyata menuntun Ruby ke ruang dapur. Di dapur yang mewah itu sudah tersedia banyak sekali bahan makanan segar yang siap untuk diolah menjadi makanan yang lezat.


"Celemek ini ... untuk apa, Tante?" tanya Ruby penasaran saat melihat Naura mengalungkan celemek di lehernya.


"Kalau perempuan ada di dapur terus pakai celemek itu artinya mau apa?" balas Naura.


"Mau masak," jawab Ruby dengan polosnya.


"Yap, benar sekali, Tante mau mengajari kamu memasak." Naura tersenyum lebar sembari menatap gadis cantik di hadapannya itu.


"Mengajari Ruby memasak? Tapi Tante, Ruby 'kan tidak ...." Ruby tidak meneruskan ucapannya karena merasa dirinya telah salah bicara dan kurang sopan.


"Tidak meminta untuk diajarkan memasak?" tebak Naura, seolah bisa membaca isi pikiran gadis itu, dan Ruby pun hanya terdiam. "Ya, Tante tahu kamu tidak meminta diajarkan memasak, tapi Tante butuh teman, Ruby, Tante kesepian, kamu tahu sendiri 'kan kalau anak gadis Tante sedang kuliah di luar negeri, jadi Tante mengajak kamu ke sini untuk menggantikannya menemani Tante memasak. Memasak adalah hobby Tante, tapi Tante tidak suka melakukannya sendirian terus, sesekali Tante juga butuh teman," jelas Naura dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.


Melihat wajah sendu Naura, Ruby jelas merasa bersalah. "Maafkan Ruby, Tante, Ruby sebenarnya tidak bermaksud menolak, apalagi membuat Tante sedih. Ruby bersedia kok menemani Tante memasak."


Naura tersenyum. "Terima kasih, Sayang. Kamu baik sekali. "Naura memeluk gadis itu sebentar, kemudian memakai celemek yang sama seperti yang dia pakaian pada Ruby. Jika dilihat sekilas, keduanya nampak seperti ibu dan anak yang sangat kompak di dapur. "Kalau begitu kita mulai saja ya."


Ruby mengangguk. "Baik, Tante. Oh iya, sekarang kita mau masak apa?"


"Ayam teriyaki, kesukaan Aresh," jawab Naura.


"O-oh. Setelah itu, apa lagi?" Ruby sedang berpikir untuk membuat menu lain yang bukan merupakan makanan kesukaan bos menyebalkannya itu.


"Setelah itu ... cah kangkung, sambal bawang, dan sayur bening. Semua itu adalah makanan kesukaan Aresh," jelas Naura yang berhasil membuat Ruby tak berkutik.


'Ya Tuhan, kenapa kelas memasak dadakan ini malah mempelajari semua makanan kesukaannya?' Batin Ruby.