
Ruby menggaruk kepalanya ketika melihat bos dingin dan galaknya itu membagikan kotak-kotak kue itu kepada para karyawannya sambil tersenyum.
"Ya Tuhan, melihatnya seperti ini rasanya sangat aneh. Kalau boleh jujur, aku lebih suka dia yang sebelumnya. Apa mungkin karena aku sudah terbiasa dengan sikap dingin dan galaknya itu?" Ruby bergumam sambil terus menatap Aresh yang terus saja melakukan pekerjaannya tanpa bantuan. Kalau pun ada yang ingin membantunya, dia malah menolaknya dengan tegas. Katanya pekerjaan kecil ini bisa dia lakukan sendiri.
"Ini untukmu." Aresh memberikan kotak kue terakhir pada Ruby sambil tersenyum.
Ruby yang melihat wajah tersenyum Aresh dari jarak dekat seolah-olah tersihir. 'Ya Tuhan, ternyata dia sangat tampan ketika tersenyum.'
"Sekretaris Ruby, ini untukmu." Aresh kembali berkata karena sekretarisnya itu hanya terbengong sambil menatapnya dengan lekat.
"Eh?" Ruby langsung menggeleng sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Bisa-bisanya dia terpesona melihat ketampanan atasannya. Bukankah dia tidak seharusnya jatuh cinta pada Aresh mengingat kebijakan yang berlaku di perusahaan.
"Ambillah, ini untukmu." Aresh kembali berkata sambil tersenyum.
"Ah, i-iya. Terima kasih banyak, Pak." Ruby kemudian membawa kotak kue itu ke ruang pantry. Seperti biasa, dia wajib menyediakan secangkir kopi untuk Aresh, karena kalau tidak, membuat Aresh menunggu selama 5 menit saja lelaki itu pasti akan memarahi Ruby habis-habisan.
Disaat Ruby sudah selesai membuatkan kopi untuk Aresh dan hendak keluar dari ruang pantry, gadis itu malah dikejutkan dengan kemunculan Aresh yang tiba-tiba.
"P-Pak, ke-napa Anda ada di sini?" tanya Ruby agak gugup, sambil menatap jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kalau dia tidak salah hitung, ini belum sampai 5 menit Aresh menunggu kopinya.
Lagi-lagi Aresh tersenyum. Sepertinya senyuman itu selalu saja terulas setiap kali dia dan Ruby saling bersitatap.
"Aku ingin mengambil kopiku, terima kasih banyak sudah membuatnya untukku." Aresh segera keluar dari ruang pantry sambil membawa kopinya sendiri ke ruangannya. Hal itu tentu saja membuat karyawan yang melihatnya bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa dengan bos mereka pagi ini.
"Ya Tuhan, apa dia benar bosku, Pak Aresh Adiyaksa? Atau jangan-jangan dia bertukar jiwa dengan seseorang." Terlalu banyak membaca novel dan menonton drama di waktu senggang membuat Ruby berpikir hal-hal yang tidak masuk akal.
*
*
Siang ini usai bertemu dengan klien, Aresh membawa Ruby untuk makan siang di sebuah restoran.
"Kenapa Anda membawa saya kemari, Pak?" tanya Ruby keheranan. Sebab setahunya restoran yang tengah viral ini adalah restoran yang sangat romantis dan hanya cocok dikunjungi oleh pasangan kekasih mau pun pasangan suami istri.
'Restoran yang paling dekat dari tempat meeting? Maksudnya? Bukankah hotel tadi juga memiliki restoran di lantai lain? Dan juga, tadi kami bukannya malah melewati 5 restoran kalau aku tidak salah hitung.' Batin Ruby kebingungan melihat tingkah absurd bosnya tersebut.
"Ayo masuk," ajak Aresh, tapi Ruby malah berdiri mematung di tempat. Gadis itu merasa enggan untuk masuk ke dalam restoran tersebut karena malu melihat pengunjung lain yang datang bersama pasangan mereka masing-masing. Bukan hanya itu, pengunjung lain juga nampak sangat mesra sambil saling merangkul. Bukannya sangat aneh jika dia dan Aresh masuk ke dalam restoran itu tapi malah berjalan sambil menjaga jarak.
"Kenapa diam saja? Ayo masuk. Aku sudah sangat lapar, Sekretaris Ruby," kata Aresh, tapi Ruby masih saja tetap berdiri mematung di tempat.
"Pak, sepertinya tempat ini tidak cocok untuk kita, kita cari saja restoran yang lain," usul Ruby.
"Kenapa tidak cocok? Bukannya semua restoran sama saja, sama-sama tempat untuk makan."
"Iya, Pak, saya tahu. Tapi, restoran yang satu ini berbeda," Ruby kembali menatap para pengunjung yang lalu lalang datang dan pergi bersama pasangan mereka masing-masing, "kita 'kan ... bukan pasangan, jadi tidak cocok masuk ke tempat ini." Ruby tertunduk malu setelah mengucapkannya.
"Apa maksudmu kita berdua harus seperti ini dulu sebelum masuk?" Aresh tiba-tiba saja menggenggam sebelah tangan Ruby dengan erat membuat gadis itu membuka mata lebar-lebar.
"P-Pak, apa yang Anda laku-"
"Ayo masuk. Sekarang semua orang yang melihat kita pasti sudah mengira kalau kita adalah pasangan."
"Pak, tapi-" Baru saja Ruby ingin kembali protes, tapi Aresh sudah keburu menariknya masuk ke dalam restoran tersebut.
Saat mereka baru saja melewati pintu masuk restoran, seorang pramusaji langsung menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Tuan, Nona. Mari silahkan ikut saya." Pramusaji itu lantas berjalan mendahului Aresh dan Ruby disusul oleh keduanya.
"Pak, sebenarnya kita mau dibawa ke mana?" Ruby bertanya saat Aresh terus saja menarik tangannya mengikuti pramusaji itu melewati tangga naik ke lantai tiga.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin meja di lantai bawah sudah penuh, jadi mereka menuntun kita naik ke lantai paling atas." Lagi-lagi Aresh menjawab dengan asal membuat Ruby semakin kebingungan melihat sikap bosnya tersebut. Perasaan tadi mereka jelas-jelas melewati beberapa meja yang kosong.
"Silahkan masuk, Tuan, Nona." Pramusaji itu membawa keduanya ke meja VIP restoran, yang posisinya berada di tempat terbuka dengan dekorasi yang sangat romantis.