
...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...
...*...
...*...
Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam dan sama-sama menatap ke arah luar jendela mobil. Ruby sudah memberitahu adiknya untuk tidak perlu datang menjemputnya di hotel karena dia sudah ada yang mengantar dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah. Barulah ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di persimpangan karena lampu merah, sopir Aresh kemudian mengajukan sebuah pertanyaan pada Ruby.
"Nona, rumah Anda di mana?" tanya sopir yang seusia dengan Aresh tersebut, namanya Bagas.
"Belok kanan saja nanti, rumahku berseberangan dengan toko kue Key's Cake yang terkenal itu," jawab Ruby.
Mendengar nama toko kue langganannya disebut, tanpa sadar Aresh berbalik menatap Ruby yang saat ini tengah duduk di sampingnya.
"Baik, Nona, saya tahu dimana tempatnya. Tuan Muda Aresh juga sering mampir ke sana untuk membeli kue," kata Bagas yang langsung mendapat tatapan tajam dari Aresh melalui spion.
Melihat tuannya mempelototinya, Bagas jadi bingung sendiri. 'Kenapa Tuan Aresh mempelototiku? Bukannya yang aku katakan barusan itu tidak salah, dia memang sering mampir ke sana 'kan untuk membeli kue kesukaannya mau pun kue kesukaan tuan besar dan nyonya besar. Apa jangan-jangan, dia marah karena aku mengatakan kesukaannya pada gadis ini? Tuan Muda Aresh 'kan tidak suka dekat-dekat dengan perempuan.' Batin Bagas.
"Oh." Ruby menanggapi ucapan Bagas dengan singkat, membuat Aresh dan Bagas langsung melihat ke arahnya dari sudut yang berbeda.
'Gadis ini, selain bisa membuat Tuan Muda Aresh marah dan kesal, dia ternyata juga cuek sekali.' Batin Bagas untuk yang kedua kalinya.
Sementara Aresh, entah mengapa pemuda itu jadi merasa semakin kesal pada Ruby. Dia merasa bahwa Ruby seolah-olah menganggapnya seperti sesuatu yang sama sekali tidak penting untuk diketahui oleh gadis itu. Padahal, mulai besok dirinya adalah bos gadis tersebut, jadi secara otomatis, Aresh berpikir bahwa Ruby harusnya mencari tahu apa yang dia sukai dan tidak dia sukainya.
"Apa maksudmu?" tanya Aresh sambil memicingkan matanya menatap Ruby. Saat ini dia tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya pada gadis itu.
"Maksudnya maksudku?" tanya Ruby tidak mengerti.
"Iya, aku tanya apa maksudmu? Kenapa tadi kamu hanya berkata 'oh' saja?" tanya Aresh sekali lagi.
'Astaga, ternyata dia marah hanya karena itu.'
Melihat Aresh marah padanya hanya gara-gara masalah sepele, Ruby jadi semakin bingung melihat sikap lelaki itu. Tidakkah watak lelaki yang satu ini sangat aneh, selain sombong, angkuh dan menyebalkan, ternyata dia juga sangat pemarah. Ruby tidak tahu, apakah nanti dia bisa tahan dengan sikap Aresh yang seperti ini atau tidak saat menjadi sekretaris lelaki itu nantinya.
"Aku tidak mengerti, kenapa kamu marah padaku hanya gara-gara aku berkata 'oh' saja? Memangnya ada yang salah dengan itu?" tanya Ruby.
"Tentu saja itu salah!" Tanpa sengaja Aresh membentak gadis itu saking kesalnya, sehingga membuat Ruby dan Bagas terkejut karenanya.
'Ada apa dengan Tuan Muda Aresh malam ini? Kenapa dia seperti perempuan yang sedang PMS? Hal yang seharusnya tidak menjadi masalah justru malah membuatnya marah. Aneh sekali.' Batin Bagas.
"Ke-napa kamu membentakku? Me-memangnya apa salahku?" tanya Ruby dengan suara pelan. Sebagai seorang wanita yang berhati lembut, gadis itu tentu saja merasa sedih saat dirinya dibentak, apalagi dibentak oleh seorang laki-laki.
Sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya, Aresh lantas segera membuang muka ke arah lain. Sebenarnya Aresh sering memperlakukan wanita-wanita yang datang menggodanya dengan kasar tanpa perasaan bersalah sedikit pun, namun entah mengapa kali ini dia malah merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya, dia justru merasa bersalah dan kasihan saat melihat mata Ruby berkaca-kaca karena ulahnya. Apa mungkin karena Ruby tidak termasuk ke dalam kategori gadis penggoda yang biasa dia temui. Dan meski pun dia merasa kasihan, tapi dia juga gengsi meminta maaf pada gadis tersebut.
Berselang beberapa menit kemudian, Bagas akhirnya menghentikan mobilnya tepat di seberang jalan Key's Cake. Tanpa mengucapkan kata terima kasih, Ruby segera keluar dari mobil. Itu karena dia masih kesal pada Aresh yang sudah membentaknya tanpa alasan yang jelas. Ruby tidak bisa membayangkan, bagaimana nanti dia akan menjalani hari-harinya sebagai sekretaris Aresh di Adiyaksa Holdings.
"Cih, lihat gadis sombong itu, Bagas. Benar-benar tidak tahu terima kasih. Kita sudah berbaik hati dan mau repot-repot mengantarnya pulang, tapi dia sama sekali tidak mengucapkan terima kasih. Dasar," kesal Aresh sembari menatap punggung Ruby yang menghilang di balik pagar rumah. Disaat yang bersamaan, dia juga mengambil gambar Ruby sebagai bukti untuk dikirimkan pada sang mommy bahwa dirinya benar-benar sudah mengantar gadis itu sampai ke rumahnya dengan selamat.