My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 28



Saat mobil Aska mulai melaju, Aresh diam-diam mengikuti mobil adiknya tersebut.


"Mau pergi ke mana mereka? Kenapa mereka malah mengambil jalur yang berlawanan dengan jalan menuju kantor?" Aresh bergumam sambil terus membuntuti mobil Aska.


Setelah mobil melaju selama kurang lebih 15 menit, Aresh melihat mobil Aska berhenti tepat di depan toko bunga. Usai membeli buket bunga mawar yang Aresh yakini Aska beli untuk Ruby, Aska pun kembali melajukan mobilnya, dan kini tujuannya adalah Adiyaksa Holdings.


"Apa jangan-jangan pagi ini Aska membeli bunga karena ingin menyatakan cinta pada Ruby?" Aresh bergumam sendiri dengan perasaan khawatir dan gelisah campur aduk. Jika dirinya didului oleh Aska menyatakan cinta pada Ruby, itu artinya dia harus menyerah dan merelakan gadis itu untuk adiknya. Tapi entah mengapa hatinya tidak semudah itu melepaskan gadis itu meski pun pada adiknya sendiri.


*


*


Aresh baru melajukan mobilnya memasuki area perkantoran begitu melihat mobil Aska pergi. Dari kejauhan Aresh melihat bahwa Ruby baru saja memasuki gedung perkantoran sambil membawa bucket bunga berukuran sedang. Hati Aresh berdenyut merasakan cemburu, jika Ruby menerima bunga pemberian Aska, itu artinya gadis itu juga menerima cinta sang adik.


Cukup lama Aresh duduk di dalam mobil saat sudah berada di parkiran. Entah bagaimana caranya dia menemui gadis yang dicintainya itu yang kini mungkin saja sudah menjadi milik adiknya sendiri. Jika biasanya dia sangat bersemangat untuk bertemu dengan Ruby, kali ini Aresh justru merasa ragu, takut tidak bisa mengendalikan diri.


Lamunan Aresh seketika buyar ketika ponselnya berdering, rupanya panggilan dari Ruby.


Sejenak Aresh menatap ponselnya sebelum akhirnya menjawab, "Halo."


"Pak, Anda di mana?" tanya Ruby.


"Di parkiran." Aresh menjawab dengan singkat disertai nada suara yang tak bersemangat.


"Hem," gumamnya, dan dengan sengaja memutus sambungan teleponnya dengan gadis itu.


'Ya, aku memang sedang sakit, Ruby, tapi sakit hati. Kalau sekarang kamu sudah menjadi milik orang lain, itu salahku karena aku yang terlalu bodoh dan buta sehingga melewatkanmu.' Batin Aresh.


Hanya berselang beberapa menit kemudian, Ruby tiba-tiba muncul dan berlari menghampiri mobil Aresh. Aresh yang tadinya merasa galau dan hilang semangat seketika menjadi tersenyum. Kemunculan Ruby ternyata mampu memulihkan energinya dengan sangat cepat. Namun saat melihat wajah khawatir gadis itu dari jarak dekat, Aresh jadi yakin bahwa Ruby ternyata sangat mengkhawatirkannya. Dan entah mengapa tiba-tiba-tiba muncul ide licik di kepala Aresh. Demi mendapatkan perhatian gadis idamannya, sepertinya Aresh harus berpura-pura lemah.


"Pak, Anda tidak apa-apa?" Ruby bertanya ketika sudah membuka pintu mobil Aresh dan mendapati lelaki itu bersandar pada jok mobilnya sambil memejamkan mata.


Melihat Aresh yang seolah tengah tak berdaya, Ruby lantas memeriksa kening pemuda itu. Tidak panas, tapi Aresh terlihat sangat lemas.


"Pak, mana yang sakit? Apa kepala Anda, perut, tangan, kaki, atau punggung? Yang mana, Pak?" Ruby bertanya dengan panik, dan Aresh lantas memberikan jawaban sambil menepuk pelan dadanya.


"Astaga, Pak. Ternyata da da Anda yang sakit. Saya bawa Anda ke rumah sakit ya, Pak, takutnya sakitnya serius." Ruby jelas merasa semakin panik. Saat ini di pikiran gadis itu yang mungkin saja bermasalah bisa saja jantung, paru-paru, lambung, atau organ-organ lain yang berada di sekitar area yang ditunjuk oleh Aresh. Padahal, lelaki itu menunjuk da danya karena dia sedang merasa sakit hati karena melihat Ruby pergi bersama dengan Aska  pagi ini.


"Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat sebentar lagi," tolak Aresh. "Sekretaris Ruby," panggilnya kemudian.


"Iya, Pak."


"Bisakah kamu masuk ke dalam mobil dan menemaniku sampai aku merasa lebih baik," pinta Aresh.


"Tentu saja, Pak. Tunggu sebentar." Ruby lantas berlari mengitari mobil, kemudian masuk dan duduk tepat di samping lelaki itu.