
"Ti-tidak tidak, itu tidak benar, Pak." Dengan panik Ruby berkata pada Aresh, kemudian berbalik menjelaskan pada Tante Keysha, "Tante, itu tidak benar. Kami tidak berpacaran kok, kami hanya berteman. Iya 'kan, Pak Bagas?" tambahnya meminta pembenaran pada Bagas.
"Iya benar, itu benar, Pak, Tuan Muda. Kami tidak memiliki hubungan spesial apa pun selain hanya berteman sebagai rekan kerja satu kantor," kata Bagas tidak kalah paniknya. Tamatlah riwayatnya jika dia sampai dipecat pada pekerjaannya ini. Pekerjaan ini teramatlah penting untuknya, karena masih ada kedua orang tua beserta adik yang harus dia tanggung dan biayai kehidupannya.
"Iya, betul. Kami hanya berteman, Pak, tambah Ruby berusaha meyakinkan Aresh. "Soal kami sering bertemu disini, aku pikir tidak ada salahnya jika sesama teman saling bertemu saat akhir pekan."
"Memangnya apa salahnya jika kalian berpacaran? Kalian berdua terlihat serasi?" celetuk Tante Keysha.
"Tante, menjalin hubungan asmara dilarang di tempat kerja Ruby, kami bisa kehilangan pekerjaan," bisik Ruby pada Tante Keysha.
"Oh, astaga." Wanita paruh baya itu langsung menutup mulutnya dengan tangan. Sepertinya ucapannya tadi akan membawa mala petaka bagi Ruby dan Bagas.
"Sebenarnya siapa yang harus aku percaya? Tante ini, atau kalian berdua?" tanya Aresh sambil nenunjuk dan menatap ketiganya secara bergantian.
"Ah mm ... Tante benar-benar minta maaf." Tante Keysha akhirnya keluar dari balik lemari etalase kue tempatnya berdiri sebelumnya, kemudian berjalan menghampiri Aresh yang merupakan pelanggan setianya. "Nak Aresh, sebenarnya Tante yang salah. Hanya gara-gara Tante senang melihat Ruby saat bersama dengan Bagas, jadi Tante berharap agar mereka berdua berpacaran," jelas Tante Keysha dengan raut menyesal. "Dan untuk Ruby juga Bagas, Tante meminta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membuat masalah untuk kalian berdua."
"Tidak masalah, Tante," ucap Ruby.
*
*
Selesai memesan beberapa banyak kotak kue untuk dibawa ke kantor, mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki pelataran gedung perkantoran Adiyaksa Holdings.
"Bagas, sore ini pekerjaanmu tidak banyak, 'kan?" tanya Aresh.
"Tidak, Pak."
"Kalau begitu pergilah ke laboratorium untuk memeriksa apakah hasil sampel pewarna kain yang digunakan di pabrik PT KainKu aman tidak mengandung bahan kimia yang bisa menyebabkan alergi mau pun gatal-gatal. Kita harus memastikan bahwa pewarna kain yang mereka gunakan benar-benar aman sebelum kita menyetujui untuk mengakuisisi perusahaan mereka," jelas Aresh.
Usai menurunkan puluhan kotak kue dari bagasi mobil, Bagas pun melajukan mobil menuju tempat yang diperintahkan oleh Aresh, yaitu laboratorium.
Sementara itu, melihat banyaknya kotak kue yang mereka beli di Key's Cake, Ruby pun hendak memanggil satpam untuk membawa kotak-kotak kue tersebut naik ke lantai sekian tempat ruangan mereka berada.
"Pak Satpam!" panggil Ruby.
"Untuk apa kamu memanggil satpam?" tanya Aresh.
"Ini, Pak, saya mau minta bantuan Pak Satpam untuk membawa semua kue ini naik ke atas," jawab Ruby.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya petugas keamanan tersebut.
"Tolong bantu saya untuk membawa-"
"Tidak perlu!" Aresh memotong ucapan Ruby. "Kembalilah berjaga, Pak. Biar Sekretaris Ruby yang membawa semuanya naik ke atas."
"Ba-baik, Pak," kata petugas keamanan itu lalu kembali ke tempatnya semula.
"Tapi, Pak-" Ruby hendak protes, tapi Aresh malah menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Tidak ada tapi-tapi. Cepat bawa semuanya," titah Aresh. Setelah menyuruh satpam itu pergi, Aresh juga segera melenggang pergi meninggalkan Ruby yang masih berdiri di depan pintu masuk.
Ruby menatap punggung Aresh dengan tatapan kesal sekaligus geram. Bosnya itu selalu saja bersikap seenaknya padanya.
"Kenapa masih berdiri di sana?! Cepat angkat kotak-kotak kue itu! Pekerjaanmu di atas masih sangat banyak, jangan buang-buang waktu!" teriak Aresh. Lelaki itu tersenyum licik ketika kembali melangkah menuju lift.
Dada Ruby kempas kempis menahan emosi. 'Dasar laki-laki tidak berperasaan. Seandainya dia bukan bosku, sudah pasti sepatu pemberian Ricko aku lempar hingga mengenai wajah menyebalkannya itu. Bagaimana bisa dia menyuruhku untuk membawa semua kotak kue ini sendirian? Dasar g*la!'