My Cold Boss

My Cold Boss
Bab 10



...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...


...*...


...*...


1 Bulan kemudian


Tidak terasa sudah 1 bulan berlalu, berkat bimbingan sekretaris Yuda selama 1 bulan terakhir, Ruby akhirnya bisa mengusai pekerjaannya dengan cukup baik. Namun, ada satu hal yang terkadang membuatnya tidak betah bekerja dengan Aresh, yaitu sikap lelaki itu yang setiap hari dingin dan ketus padanya, bahkan hampir setiap hari Aresh memarahinya hanya gara-gara masalah sepele saja, bahkan masalah di luar pekerjaan. Seperti siang ini, Aresh kembali memarahi Ruby hanya gara-gara kopi.


"Sekretaris Ruby, mana kopiku?!" teriak Aresh dari dalam ruangannya.


Ruby yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk di atas mejanya pun mau tidak mau harus meninggalkan pekerjaannya sebentar dan masuk ke dalam ruangan Aresh.


"Mm, sebelumnya saya mau minta maaf, Pak, karena pekerjaan saya sedang banyak, jadi saya meminta tolong pada-"


Brak! Aresh langsung berdiri dari duduknya sambil menggebrak mejanya.


"Kamu ini mengerti Bahasa Indonesia tidak sih?! Aku menyuruhmu untuk kamu sendiri yang membuatkan kopi untukku, bukan memintamu untuk meminta tolong pada siapa pun, termasuk OB atau pun OG sekali pun!" sergah Aresh sambil menatap Ruby dengan tatapan tajam dan dingin seperti biasanya. Seingat Ruby, sekali pun tatapan lelaki itu tidak pernah berubah semenjak pertama kali bertemu, entah kesalahan apa yang pernah Ruby perbuat pada Aresh sehingga Aresh sepertinya sangat dendam padanya dan tidak membiarkan dirinya bekerja dengan tenang.


"Tapi, Pak, pekerjaan saya sedang menumpuk, jadi saya-"


"Tidak ada tapi-tapi! Pokoknya aku tidak mau tahu, dan aku tidak mau menerima alasan!" tegas Aresh memotong ucapan Ruby untuk yang kedua kalinya. "Aku beri waktu 5 menit, cepat buatkan!" titahnya kemudian tidak mau dibantah.


"Ba-baik, Pak." Dengan sangat terpaksa Ruby pun menuruti perintah Aresh, tidak butuh waktu lama untuk gadis itu bergegas meninggalkan ruangan atasan dingin dan galaknya tersebut, takut waktu yang Aresh berikan padanya habis dan dirinya berakhir kembali dimarahi oleh pria tak berperasaan itu.


.


.


Malam tiba, Ruby masih sibuk dengan pekerjaannya. Disaat karyawan kebanyakan sudah kembali ke rumah untuk beristirahat, gadis itu justru malah memilih lembur agar pekerjaannya segera dia selesaikan secepat mungkin.


"Saya ingin menyelesaikan semua pekerjaan saya sebelum libur akhir pekan, Pak," jawabnya sambil tersenyum dan mendongak menatap lelaki itu sekilas.


"Wah, kamu rajin sekali. Sepertinya nyonya besar memang tidak salah pilih orang untuk dijadikan sebagai sekretaris bos," kata Bagas sambil tersenyum. "Oh iya, kalau begitu semangat ya," tambah lelaki itu sebelum akhirnya dia masuk ke dalam ruangan Aresh.


"Terima kasih, Pak."


Berselang beberapa menit kemudian, Bagas akhirnya keluar dari ruangan Aresh.


"Sekretaris Ruby," panggil lelaki itu.


"Iya, Pak."


"Kamu sudah makan malam?" tanyanya.


"Belum, Pak."


"Kenapa belum makan malam? Ini sudah hampir jam 8 malam loh." Bagas menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya sebentar.


"Nanti saja, Pak. Tanggung," jawab Ruby kemudian kembali fokus pada layar laptopnya.


Berselang beberapa waktu kemudian, jam akhirnya menunjuk pukul 8 malam, Ruby mulai membereskan berkas-berkas yang ada di atas mejanya, saat ini gadis itu hendak keluar mencari makan karena rasanya perutnya mulai keroncongan. Namun, belum sempat dia meninggalkan mejanya, Bagas tiba-tiba muncul sambil membawa paper bag berisi makanan.


"Sekretaris Ruby, bisakah aku meminta tolong padamu?" tanya Bagas.


"Oh, tentu saja, Pak. Memangnya Anda mau minta tolong apa?"


Bagas tersenyum. "Tolong bantu aku habiskan semua makanan ini."