
...Note : Novel ini sedang dalam proses revisi atas saran dari editor, silahkan teman-teman mundur 1 bab ke belakang terlebih dahulu sebelum lanjut membaca bab ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🏼...
...*...
...*...
Surat edaran mengenai kebijakan baru yang berlaku di Adiyaksa Holdings pagi-pagi sudah membuat gempar seluruh karyawan. Pasalnya, peraturan baru itu akan mulai diberlakukan dalam dua hari ke depan. Bagi karyawan yang menjalin ikatan asmara dengan teman satu kantor, mereka diberi kesempatan untuk mengakhiri hubungan dalam 2 hari, jika tidak maka salah satu atau dua-duanya terpaksa harus resign dari perusahaan. Peraturan baru ini diberlakukan demi menjaga kinerja para karyawan agar tetap maksimal.
Namun, efek samping dari peraturan baru itu malah membuat beberapa karyawan menjadi galau dan kehilangan semangat kerja, bahkan sampai ada yang diam-diam menangis di dalam toilet karena kisah cintanya harus kandas di tengah jalan pas lagi sayang-sayangnya.
Hal itu bukan hanya berefek pada karyawan yang sudah lama menjalin cinta, melainkan bagi mereka juga yang selama ini sudah saling perhatian dan tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk menyatakan cinta. Contohnya Bagas dan Ruby.
Padahal baru kemarin mereka berdua jalan-jalan berdua menikmati akhir pekan bersama, tidak tahunya malah muncul peraturan baru yang membuat keduanya galau dan kehilangan semangat kerja.
Ruby mengeluarkan kotak bekal dari dalam paper bag yang dia bawa dengan perasaan lesu. Peraturan baru itu membuatnya sedih dan rasanya ingin menangis. Dari meja masing-masing Ruby dan Bagas saling menatap, ada gurat kesedihan yang nampak di wajah keduanya, tapi yah, mau bagaimana lagi, mereka mungkin diciptakan tidak untuk bersatu.
Ruby memberanikan diri berjalan mendekat ke arah Bagas sembari membawa salah satu dari dua kotak bekal yang dia bawah dari rumah. Ya, pagi ini Ruby memasak capcay kesukaan Bagas sebagai ungkapan terima kasihnya karena beberapa hari yang lalu saat dirinya lembur, pria itu membeli makan malam untuknya.
"Apa ini?" tanya Bagas penasaran. Entah mengapa setelah mereka membaca surat edaran elektronik yang masuk di kotak email mereka, keduanya jadi nampak canggung saat berinteraksi.
"Bekal makan siang untuk Anda, Pak." Ruby menjawab dengan kaku. Jika biasanya dia dan Bagas seringkali bersenda gurau, sekarang hal itu tidak ada lagi. Takutnya ada yang melihat dan membuat orang lain salah sangka.
"O-oh, terima kasih banyak, Sekretaris Ruby," kata Bagas tidak kalah canggungnya.
"Sama-sama, Pak," balas Ruby, kemudian dengan langkah pelan berjalan kembali ke mejanya.
Sementara itu di dalam ruangannya, Aresh tengah tertawa penuh kemenangan saat melihat interaksi asisten dan sekretarisnya pada monitor CCTV. Dia benar-benar puas karena rencananya berhasil.
"Aku tidak akan membiarkan gadis sombong itu bahagia, meski pun bersama Bagas," ucap Aresh berbicara sendiri.
Lain di mulut lain di hati, bibirnya berkata tidak ingin melihat Ruby bahagia. Namun di dalam hatinya dia merasa ada sesuatu yang janggal, tapi dia tidak tahu perasaan apa itu.
*
*
"Sekretaris Ruby, apa jadwalku hari ini?" tanya Aresh pada Ruby saat mereka sedang berada di dalam lift hendak naik ke ruangan mereka.
"Pukul 10 nanti akan ada pertemuan dengan pimpinan perusahaan Green Heels, Pak," jawab Ruby.
"Setelah itu?" Aresh kembali bertanya.
"Tidak ada lagi, Pak, hanya itu saja."
*
Beberapa jam kemudian. Aresh, Ruby, dan Bagas akhirnya sampai di perusahaan Green Heels, perusahaan sepatu yang beberapa waktu lalu mengajukan proposal investasi kepada Adiyaksa Holdings selaku investor. Kedatangan ketiganya disambut dengan sangat baik oleh pimpinan perusahaan Green Heels. Namun, satu hal yang membuat Ruby cukup terkejut, yaitu pimpinan perusahaan tersebut ternyata adalah mantan kekasih terakhirnya, mantan kekasih yang pernah melukai hati Ruby begitu dalam sehingga gadis itu menutup diri terhadap pria mana pun selama bertahun-tahun.
Ruby sangat tidak menyangka mereka bisa bertemu dengan cara seperti ini, tadinya saat dia membaca nama pimpinan perusahaan sepatu Green Heels tersebut, dia pikir nama mereka hanya sama, tapi beda orang. Rupanya Ruby telah salah menduga.
"Ruby? Apa itu kamu?" tanya Ricko, mantan kekasih Ruby yang kini pangling dengan penampilan Ruby. Ruby yang dulunya tidak tahu cara berdandan dengan benar kini terlihat lebih dewasa dan semakin cantik di matanya.
Ruby tidak menyahuti ucapan Ricko, gadis itu hanya tersenyum dipaksakan. Sungguh, bertemu dengan mantan kekasih yang pernah menyakitinya adalah hari yang buruk.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Aresh menatap Ruby dan Ricko secara bergantian.
"Iya, Pak Aresh. Dulu kami kuliah di kampus yang sama," jawab Ricko.
Mendengar jawaban Ricko, Ruby jadi bisa bernapas lega. Pfft. Untungnya Ricko tidak mengatakan bahwa mereka dulunya pernah menjadi pasangan kekasih selama bertahun-tahun.