
Author Pov.
Sejak kejadian diruangan pribadi Mycle Amara masih saja merasa malu, dia masih sangat kaget menerima perlakuan itu, walaupun itu tiba tiba tapi Amara suka, dia merasakan kehangatan pada bibir itu, dia merasakan kenyamanan saat berada didekatnya, apa Amara sudah mulai jatuh cinta kepada Mycle??
Setelah lama Mycle mengajak Amara keistananya yang sebentar lagi juga akan menjadi istana mereka berdua akhirnya Mycle pun mengantarkan kembali gadisnya itu kerumah.
Selama perjalanan Mycle tidak henti hentinya tersenyum menyaksikan wajah merah Amara sedari tadi yang hanya menunduk memainkan jari jari tanganya.
Tidak terasapun akhirnya mereka telah tiba tepat didepan gang kecil Amara.
"Kita sudah sampai". Ucap Mycle membuat Amara mengangkat kepalanya bingung dan melihat keseliling, ternyata benar, dia telah berada tepat didepan gangnya, kenapa cepat sekali?
"Kenapa cepat sekali Mycle?? Tidak selama saat kita kesana, bahkan aku sampai ketiduran karna jalanya terlalu jauh".
"Itu karna mungkin kau sedang fokus kepada fikiranmu sampai tidak sadar kalau kita sudah sampai, memangnya kau memikirkan apa hmm?". Tanya Mycle sambil tersenyum membuat Amara kembali mengalihkan padangnya kearah jendela.
"**...tidaak, aku tidak memikirkan apa apa, kalau begitu aku akan segera turun". Ucap Amara dan ingin membuka pintu mobil namun dengan cepat Mycle menutup kembali pintu mobil dan tanpa hitungan detik dia kembali melumat bibir tipis Amara dengan sangat agresif kali ini
Amara yang mendapat perlakuan seperti itu secara tiba tiba tidak bisa berbuat apa apa, dia hanya menahan rasa perih dibirbir bawahnya, mungkin karna Mycle menggigitnya, dia tidak memberontak juga tidak membalas, dia hanya membuka bibirnya agar Mycle lebih leluasa menjelajahi seluru rongga didalam mulutnya.
Setelah merasa kehabisan nafas Mycle pun melepaskan lumatan nya dari bibir Amara dan mengusap lembut bibir manis gadisnya itu.
"Jaga miliku yang manis ini ya sayang".
Amara memandang Mycle dengan pandangan yang tidak bisa dibaca, dia tidak mengerti dengan perasaanya, hatinya merasa nyaman dengan perlakuan manis Mycle kepadanya, namun hatinya yang lain merasa takut.
Tanpa mengucapkan apapun selain "Terimakasih" Amara pun segera turun dari mobil dan berjalan memasuki gang.
Mycle memandang punggug gadisnya itu dari dalam jendela, ada perasaan berat untuk meninggalkan gadisnya itu didunia bebas seperti ini, dia tidak ingin jauh jauh dengan matenya, dia tidak akan berhenti untuk meminta kepada Dewi Bulan agar Amara segera bisa menjadi Lunanya dan mengklaimnya menjadi miliknya seorang.
Dengan perasaan berat Mycle mulai menyalakan mesin mobilnya, tapi sebelum menjalankan mobilnya Mycle merasakan sesuatu yang mengganjal didirinya.
"Seseorang tolo..ngg".
Suara siapa barusan itu?? Suaranya sangat parau dan lemas, Mycle merasakan sakit dibagian hatinya, ada apa ini?
"Toolongg..".
Doorrr...
Suara tembakan.
Mycle menoleh kearah gang Amara, dia merasa ada keganjalan disana, dengan cepat Mycle turun dari mobil dan berlari menuju rumah Amara, didobraknya pintu rumah gadisnya.
Dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat gadis yang dia cintai sudah tergeletak tidak berdaya dilantai dengan darah yang terus mengalir dilantai dan menyelimuti gadisnya itu.
Mycle berlutut dan memangku kepala Amara, menepuk nepuk pipi Amara berulangkali berharap gadisnya itu masih mendengarnya.
"Sayang bangunn.... Kumohon bangunnnn, kau kenapa?? Sayangg?? Kau dengarr akuu???! Bangunn!!!". Ucapnya panik, tanpa ia sadari setetes air mata turun dari ujung matanya.
"My..mycle?". Panggil Amara pelan dan detik sepanjutnya........
Gelap.
*******
Tuuttt... Tuutt.... Tuuttt...
Gelapp...
"Kenapa masih gelap? Apa sedang mati lampu??".
"Hallo.... Ibuu?? Siapapun orang disana.., apakah ada yang mendengarku??".
"Mycle?? Kamu dimana?? Kamu dnger akuu kan?? Mycle??....!! Seseorangg, apa ada yang mendengarku???!!".
Sssriiiiinggggg.....
Tiba tiba saja cahaya yang sangat menyilaukan muncul secara tiba tiba didepan matanya.
Amara menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatanya, sedikit demi sedikit cahaya itu mulai menghilang, Amara membuka mata sepenuhnya dann...
"Pantai??".
๏ฟผ
Pantai ini sangat sepi, hanya ada suara ombak juga angin yang menemani seisi pantai.
Amara melangkahkan kakinya pelan pelan, dia mengedarkan padangannya keseliling, hanya sepi, tidak ada orang sama sekali disini.
"Ibu?? Ibuuu???!! Kau dimana??". Amara menoleh kebelakangnya saat mendengar suara itu, diaa beruntung menemukan seoseorang disini, mungkin saja dia bisa bertanya kemana arah pulang.
"Heii... Heii kau??!". Saat ingin menyentuh anak itu Amara terkejut karna sentuhanya menembus tangan anak itu, kenapa?? Kenapa tembus?? Apa Amara sudah meninggal??
Amara memandang tubuh anak itu yang sekarang sedang berlari menemui seorang wanita yang sudah membuka lebar lebar tanganya seperti ingin memeluk.
"Ibuuuu!!!".
"Daniell... Sini ke ibu nak". Ucap wanita itu sambil memeluk anak kecil yang bernama Daniel itu dengan sangat erat, Amara kembali mendekati anak kecil itu dengan ibunya.
"Bu?? Saya tersasat, apa ibu tau arah keluar dari pantai ini??". Tanya Amara tapi tidak dijawab bahkan wanita itupun tidak meihatnya sama sekali.
Amara mencoba untuk memegang pundak ibu ibu tersebut tapi tetap sama, sentuhanya menembus.
"Sebenarnya ada apa dengan akuu??!!". Ucap Amara bingungg.
"Dimana adik mu Daniel??". Tanya wanita itu kepada anaknya.
"Sedang bermain bersama Alice ibu".
"Temuilah adikmu itu, kau temani dia main, jangan kau tinggalkan".
"Baik ibu". Ucap Daniel dan belari keujung pantai dan tiba tiba saja...
Srringggg....
Cahaya itu kembali muncul didepan Amara membuat semuanya menjadi gelap, lama lama cahaya itupun hilang kembali, namun membawa Amara ketempat berbeda, bukan dipantai melainkan..
"Hutan??".
๏ฟผ
"Jangan berlari terlalu jauh Syifana, aku capek mengejarmu terus!!". Ucap seorang lelaki yang yang Amara perkirakan umurnya masih belasan tahun, lelaki itu mengatur nafasnya karena capek berlari untuk mengejar seorang perempuan yang 3 kali lebih kecil darinya.
"Kau payah Daniel, aku saja tidak capek, kenapa kau capek?? Kau ini sangat payah, padahal kau werewolf, masa kau kalah dariku". Ucap perempuan itu dari jauh, Amara memperhatikan perempuan itu, dia seperti tidak asing dengan muka gadis itu.
Amara berjalan mendekat kearah gadis itu, dia tau kalau dirinya tidak akan terlihat dengan orang lain, jadi dia berjalan dan berdiri tepat disamping perempuan itu.
"Apa? Kau mengataiku payah?? Lihat saja, sampai aku berhasil menangkapmu, kau akan kena akibatnya". Ucap pria itu sambil berlari dengan cepat mengejar perempuan cantik itu.
Mereka berlarian dengan sangat bahagia mengelilingi hutan, yang Amara lihat mereka berdua seperti pasangan kekasih yang sangat romantis.
Tiba tiba saja datang seorang pria yang lebih tua, umurnya sekitar 30 an, pria itu seperti membawa pedang disakunya, dia mendekat kearah Amara membuat Amara takut dan mundur selangkah demi selangkah.
"Jangan dekati aku!!". Teriak Amara namun pria itu tetap mendekatinya membuat Amara menutup matanya dan....
"Daniel, Syifana??!!!".
Amara membuka matanya perlahan, ternyata pria itu memanggil lelaki dan perempuan tadi yang sedang berlari.
"Iya ayah?". Jawab mereka dan segera mendekat kepria yang dipanggil ayah itu.
"Kalian ini, dari tadi kemana saja?? Bentar lagi sudah mau larut, kalian masih saja berkeliaran dihutan". Omel sang ayah kepada kedua anaknya itu.
"Kami hanya sedang berjalan jalan saja ayah, kenapa kau kesini?? Ayolah ayah, kami ini bukan anak kecil lagi". Ucap Daniel.
"Iya ayah! Kita ini sudah besar tau, bahkan kita saja sudah punya wolf, benar kan Daniel??".
"Iya benar".
"Tapi kalian masih tetap harus berhati hati, wolf kalian masih lemah, karna umur kalian yang masih sangat muda, kau ingat Daniel, umurmu sudah 14 tahun, 3 tahun lagi kau menginjak akan mnginjak 17 tahun, dan itu adalah waktu dimana kau sudah harus menemukan matemu berada, tapi kau harus tetap ingat kepada adik mu ini kalau kau sudah punya mate lagi, jaga dia sampai dia menemukan mate nya". Ucap Ayahnya sambil menepuk pundak Daniel.
"Pasti ayah".
"Ayah kenapa ngomong gitu?? Syifana kan maunya dijaga terus sama ayah, bukan sama ka Daniel, dia nyebelin". Ucapnya sambil memanyunkan bibirnya membuat ayahnya itu tertawa.
"Kau ini sebentar lagi mulai dewasa sayang, kau harus bisa menjaga diri sendiri, dan kau akan menemukan mate mu, kau akan terbiasa dengan kehiduan lain".
"Aku sayang ayah". Ucap Syifana sambil memeluk ayahnya itu dengan sangat erat.
"Ayah juga sangat sayang kepadamu Syifana".
Mereka berpelukan layaknya seperti ingin berpisah, pelukan mereka sungguh terlihat sangat hangat dan nyaman, Amara jadi sangat rindu sosok Ayahnya, dia sangat ingin sekali bertemu dengan ayahnya, tapi itu tidak bisa, ia hanya bisa mendoakan ayahnya dari sini.
Ggggrrrhhhh....
"Berdirilah dibelakangku". Ucap Ayah itu kepada kedua anaknya.
Gggggggrrrhhh..
"Siapa kamu??".
"Pergilah, jangan ganggu kita".
"Hahahahaha". Suara tertawa itu itba tiba muncul membuat Syifana, Daniel dan ayahnya menoleh kebelakang.
Munculah seorang wanjta yang sangat cantik dengan menggunakan gaun hitam terbuka dibagian atasnya dan menggunakan tudung hitam.
๏ฟผ
"Serahkanlah kedua anakmu itu kepadaku Garden". Ucap wanita itu sambil tersenyum licik.
"Sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah menyerahkan mereka kepadamu devil!!!!".
"Hahahahahaahaha, kau mengatai aku devil?? Kau ingat, kau dulu pernah jatuh dalam pelukanku Garden".
"Itu karna sihir basimu itu Alice!".
"Ohya? Bukankah kau sendiri yang memilih mereject luna mu dan memilih menikahiku??". Tanya Alice dengan senyum licik yang masih terukir diwajahnya.
"Dia siapa ayah??".
"Diamlah Syifana, jangan banyak bicara, kau tetaplah dibelakang ayah". Ucapnya pada anak gadisnya itu.
"Ohhh maniss, kau ini sangat cantik sekali seperti ibumu, kau mau ikut denganku?? Aku akan membawamu kepada ibumu". Ucap Alice kepada Syifana yang masih bersembunyi dibelakang punggung Garden.
"Tidak, aku tidak mau!!". Jawabnya Teriak.
"Jangan mempengaruhi anaku Alice!!!".
"Apa kau ingin aku mempengaruhi mu lagi Garden??". Godanya.
"Pergilah kau dari kehidupan kami!! Kau sudah membawah Elinor dari ku, apa kau tidak puas dengan itu???!".
"TIDAK, AKU MASIH TIDAK PUAS!!". Ucap Alice teriak.
"KELUARGA KALIAN, MEMILIKI KEKUATAN ABADI DEWI BULAN, DAN AKU INGIN MEREBUT SEMUA ITU DARI KALIAN AGAR AKU BISA LEBIH KUAT DARI KALIAN SEMUAA AGAR AKU BISA MEMIMPIN DUNIA INI, HAHAAHAHA". Lanjutnya sambil tertawa sangat kencang membuat pohon pohon bergoyangan dan Amarapun dapat merasakanya.
Pandangan Alice kembali mengarah kepada Syifana yang masih diam dibelakang punggung ayahnya Garden.
"Kauu, kesinilah sayang, aku ini ibumu, apa kau tidak kangen kepadaku Syifana??". Tanya Alice sambil membuka tanganya lebar lebar ingin segera
Memeluk Syifana.
Syifana melihat ibunya itu, dengan senyum manis, anggun, dan sangat amat cantik itu sedang melebarkan tanganya menyambutnya untuk kepelukanya.
"Ibu?". Panggil Syifana kepada Alice.
"Bukann!! Dia bukan ibumu Syifana, sadarlah!! Sadarlah Syifana!!". Ucap Garden berteriak.
"Aku ini ibumu sayang, kemarilah". Ucap Alice sambil berjongkok.
"Jangan Syifana, dia bukan ibu kita!!". Ucap Daniel kepada Syifana, Syifana hanya memandang ayah dan kakanya itu dengan sangat datar, dia kembali menoleh ke Alice dan berlari...
"SYIFANA!!!". Teriak Garden dan Daniel.
Berhasil..
Alice berhasil mendapatkan Syifana dalam pelukanya.
"Syifana?? Kembalilah kepada ayah!!". Teriak Garden yang hanya dijawab dengan pandangan Syifana yang masih datar.
"Temuilah dia nanti 10 tahun lagi di Black Moon Pack, hahahahaha". Ucap Alice kemudian terbang dan menghilang, mengeluarkan cahaya merah dan asap yang gelap.
Tinggalah Daniel dan Ayahnya Garden.
Garden hanya bisa menangis memeluk anak satu satunya itu.
"Aku janji Ayah, aku akan ke Black Moon Pack dan merebut kembali Syifana, aku berjanji!!". Ucap Daniel dan...
Sssriiiinggggg.....
Putih..
Kemana lagi Amara akan dibawa??
Kenapa hanya putih semua?? Kenapa tidak muncul lagi disuatu tempat??
"Aku dimana ini?? Seseoranggg... Tolong akuu!!". Ucap Amara menoleh kekanan dan kekirinya, tapi percuma, semua hanya putih polos.
Tiba tiba saja ada cahaya biru diujung sana, yang lama lama semakin mendekat kearah Amara dan menabrak Amara dengan sangat keras.
Amara merasakan perih pada tubuhnya, tepatnya dipunggungnya, kenapa malah dipunggung?? Bukanya depanya yang tertabrak??
"Cahaya apa barusan itu??".
"Kendalikan lah dirimu Amara".
Tiba tiba saja suara lembut itu muncul lagi.
"Siapa?? Siapa barusan?? Apa itu dewi bulan?? Dewi bulan, kau dimana??".
"Pulanglah, pulanglah Amara, kendalikan dirimu, terimalah semuanya, jangan pernah merasa dendam".
"Siapa disana?? Bicara lah kepadaku langsung".
"Pulanglah".
"Pulanglah".
"Pulanglah".
Lama lama suara itu menjadi mengecil dan....
Tuuutt... Tuutt.... Ttuuutt...
Amara menyipitkan matanya untu memperjelas penglihatanya, apa kali ini dia dibawa ketempat lain lagi??
Tapi dimana ini?? Siapa orang orang yang berdiri melingkarinya??? Mengapa ramai sekali??
Ah, ternyata kamar rumah sakit yang mewah, berbeda dengan rumah sakit pada umumnya.
๏ฟผ
Amara menoleh kebawahnya, Mycle??
Mycle sedang menangis sambil memegang tanganya dengan sangat erat, dia sangat terlihat berbeda sekali, rambutnya terlihat lebih panjang dari sebelumnya, pipinya dan dagunnya yang sudah dipenuhi oleh bulu bulu halus, ada apa denganya??
"Mycle, bangunlah nak, lihatt, matemu sudah sadar". Ucap Clora, suaranya parau, Amara tau kalau Clora habis nangis, tapi kenapa? Kenapa semua menangis?? Dan dimana dia?? Kenapa dia ditemani banyak orang??
Mycle mengangkat kepalanya, melihat Amara yang juga sedang melihatnya, tanpa pikir panjang, Mycle meluapkan rasa khawatir, panik, takut, sedih, pasrah, bingung, dan Rindu kepada gadisnya itu melalui pelukan, Mycle memeluk Amara dengan sangat erat, seolah dia benar benar sangat takut kehilangan Amara.
"Kenapa kau menangis Mycle??".
"Tidak apa apa sayang, terimakasih, terimakasih dewi bulan, terimakasih". Ucao Mycle masih sambil memeluk Amara.
Setelah merasa lega Mycle melepaskan pelukanya kepada Amara, memandang gadisnya itu lekat lekat, dia masih sangat bersnyukur masih bisa melihat matenya yang cantik ini, dia sangat bernyukur masih ditakdirkan untuk menjaga matenya ini, dan dia berjanji kali ini untuk selalu menjaga Amara dan selalu melindungi Amara dari apapun yang akan menyakitinya.
"Mulai sekarang aku akan membawamu keistanaku sayang, aku tidak akan membiarkan mu kembali kedunia bebas itu!". Ucap Mycle penuh penekanan.
********
Horeee abisss.... Ehh belum deng wkwkwk masih banyak part partnyaa.
Ihh kalian jangan pindah cerita yaa, terus baca cerita akuu:( (mauan)
Makasih ya buat kalian yang selalu baca cerita "My Alpha's King"๐๐๐
Aku seneng bangett, baru beberapa part aja udah banyak yang baca.... Tapi aku sedihh banyak bgt yg ga ngevote๐
Tapi gapapa dehhh, kalian baca aja aku udahhhh senenggg kooooo๐๐๐๐๐๐๐
Oiyaaa aku mau ngasi tauuu niiiii,, aku baru aja dan baru banget bikin cerita baruuuu judulnyaaa "Dinatha".
Buat kalian yang suka fiksi remaja, cerita cerita percintaan labil anak SMA , boleh lah mampir kecerita baru aku hehehe, dijamin baper koooo:v
Yaudahh itu ajaa, jangan lupa baca cerita aku yaa gaisss, jangan lupa juga vote and commet part ini yaaaa... Semoga kalian suka sama karya karya aku๐๐
See u next part All๐๐