My Alpha's King

My Alpha's King
30



(**Budayakan untuk vote terleb dahulu sebelum membaca)


🎶I'm Gonna Be Around-Michael LearnsTo Rock🎶


Amara Pov**.


Saat kepergian Diana dari kamarku, aku merasa sedikit lebih tenang akan kehadirannya tadi, walaupun sebelumnya aku khawatir saat Diana menanyakan keberadaan Mycle, aku tidak ingin ia bertambah benci pada adik kandungnya sendiri.


Diana mengerti keadaanku sekarang, ia tidak ingin menambah beban padaku dengan bertanya keberadaan Mycle, jadi dia memilih untuk diam dan berusaha untuk menghiburku. Setelah cukup lama kami berbincang Diana memutuskan untuk pergi sebentar, akupun menyetujuinya saja, mungkin ia memang sedang memiliki acara lain.


Aku memandang kosong pintu balkon yang masih terbuka lebar membuat angin dari luar sana masuk memenuhi kamarku dan Mycle, kamar yang baru saja kembali ditinggal oleh pemiliknya.


Aku sangat bingung sekarang, aku harus melakukan apa selanjutnya?? Keadaanya sekarang saja tidak memungkinkan aku untuk berbuat sesuatu, aku masih lemah, sedangkan iblis itu kuat, tidak mungkin Aku melawannya sendirian, walaupun aku tahu bahwa ia mempunyai Cara, tapi tetap saja, Cara hanyalah seekor serigala, mana mungkin ia sekuat itu melawan sihir Fana??


Aku tahu bahwa diriku ini memiliki kekuatan Dewi Bulan yang begitu besar didalam tubuhku, yang membuatku bingung, aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara mempergunakan kekuatan itu.


Saat sedang bertempur dengan pemikiranku aku dibuat tersadar dengan suara pintu kamar yang tiba tiba saja kembali terbuka membuat aku sontak menolehkan kepalaku.


"Crystal?? ". Ucap Aku menyebut nama orang yang baru masuk itu.


Crystal berjalan cepat kearahku dan kemudian memeluk aku yang masih duduk atas di kasur.


" Maaf kan aku Amara". Ucapnya dengan nada yang sangat merasa bersalah. Membuatku menyatukan kedua alisku bingung setelah itu aku  melepas pelan pelukan Crystal padaku, memandang Crystal dengan bingung.


"Kenapa kau meminta maaf padaku Crystal?? Memangnya kau salah apa?? Kurasa kau tidak memiliki salah sedikitpun". Tanyaku terheran.


Crystal menundukan kepalanya.


" Maaf karna aku tidak membantumu saat kau diperlakukan seperti itu oleh Mycle Amara, aku tidak tahu apa apa karna aku tidak menyadari kalau kau diseret secara paksa oleh Mycle, sungguh aku tidak tahu, karna ibu dan juga Ayah tidak memberi tahu apapun kepadaku tentang kamu". Ucap gadis itu dengan nada memelas. Aku masih mengerutkan keningnku bingung, namun beberapa saat kemudian aku terkekeh.


"Ohh Crystal hahaha tidak usah seperti itu Crystal, aku sungguh tidak apa apa, kau lihat aku sekarang. Aku baik baik saja bukan?? ". Tanya ku sambil berdiri tegak, walaupun sebenarnya aku menahan mati matian sakit pada perutku yang sejak tadi yang tidak menghilang, aku tidak ingin Crystal malah merasa bertambah bersalah denganku jika ia mengetahui perutku yang sakit.


Crystal menyunggingkan senyumnya kemudian kembali memelukku erat. Akupun membalas pelukan Crystal tidak kalah erat.


"Bagaimana pesta kemarin hmm?? ". Tanyaku membuka topik ditengah tengah kegiatan kita berpelukan.


"Berjalan lancar, dan menyenangkan, tetapi kurang dengan tidak adanya dirimu". Jawabnya melepaskan pelan pelukannya dariku.


Aku memandang wajahnya itu yang terlihat sedikit bersedih.


"Hahaha, maafkan aku Crystal, aku juga sangat ingin berada disana hingga acaranya selesai, tapi bagaimana? Aku tidak bisa, lagi pula masih ada ibu dan juga Ayah bukan??". Tanyaku lagi membuat Crystal mengangguk kecil.


Aku memandang lekat Crystal yang berada didepanku, aku sedikit bingung dengan gadis itu yang kini terlihat sedikit berbeda, sikap Crystal terlihat lebih manja dari biasanya.


"Amara?? ". Panggil Crystal tiba tiba.


"Ya?? ".


"Apa aku juga seorang Luna sekarang?? ". Tanyanya polos.


Aku terkekeh mendengarnya, kemudian menuntun Crystal untuk duduk di kasur bersamaku, menceritakan pada gadis yang baru kemarin resmi menjadi anggota baru di Black Moon Pack, Aku banyak memberi tahu Crystal tentang apa saja itu Mate, Alpha, Luna, Omega, Beta, Maid, Warrior dan lain sebagainya.


Crystal mendengarkan dengan seksama apapun yang keluar dari mulutku,ia terlihat antusias mendengarkan ceritaku, tidak jarang ia menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Ohh seperti itu, berati kau beruntungn sekali ya menjadi Luna Amara, pasti orang disini sangat amat menghormati mu termasuk aku". Ucapnya membuatku terkekeh.


" Kau tidak perlu terlalu menghormatimu seperti yang lainya Crystal, kau ini sudah kuanggap sebagai adiku". Ucapnya tersenyum membuatnya juga ikut tersenyum.


"Oh ya bagaimana malam mu dengan Darwin hmm?? ". Tanya ku dengan nada menggoda membuat pipi Crystal memerah menahan malu.


"Yaaa.. Begitulah Amara, dia sangat Agresi dan posesif". Jawabnya dengan malu malu dan terkekeh, akupun ikut terkekeh melihat wajah Crystal yang terlihat lucu.


Tapi tiba tiba saja ingatan saat dimana diriku diklaim sebagai Luna baru Black Moon Pack dan diklaim Mycale dengan menjadi milik pria itu, itu terasa sangat singkat hingga saat ini, diriku merasa tidak seperti Luna dan Mate sekarang.


Karna Mycle, Alpha itu, pria yang membawaku ke Istana ini, sekarang lebih menghormati dan menghargai wanita iblis itu.


Tiba tiba saja Crystal memelukmu sangat erat, aku menatapnya punggungnya bingung.


"Berbahagialah selalu Amara, bila kau mempunyai masalah yang begitu berat dan tak bisa kau jalani sendiri, ajaklah aku, aku bersedia untuk membantumu". Ucapnya tiba tiba lembut membuatku perlahan tersenyum senang dan membalas lebih erat pelukan hangat Crystal.


"Terimakasih Crystal ".


Aku senang sekali dengan keberadaan Crystal di istana ini, selain Diana dan juga Clora, kini Crystal sekarang bisa menjadi penenang ku disaat kenyataan pahit yang kuhadapi ini terus menghantui fikiran ku.


******


Author Pov.


Clora dan Bov melangkahkan kaki mereka menyusuri koridor istana Black Moon Pack Yang sangat sepi ini, memang sepi karna tidak banyak orang warga Black Moon Pack mengetahui lorong ini selain Clora, Bov dan Mycle lorong ini akan membawa mereka ke suatu ruangan, dimana disana tersimpan sesuatu yang sangat berharga, tidak boleh seorang pun mengetahui bahkan mengambil sesuatu yang berharga itu, makanya Clora dan Bov menempatkan benda itu seaman mungkin di istana ini.


Saat sudah sampai depan ruangan Bov membuka pintu coklat tua itu, pintu yang terbuat dari kayu tebal, namun warnanya sudah sedikit pudar karna ruangan ini sudah berada sejak ratusan tahun lamanya.


Begitu pintu terbuka, debu berterbangan menyambut Clora dan Bov membuat mereka mengibas ngibaskan tangan mereka didepan wajah menghindari debu yang mencoba masuk kedalam hidung mereka.



Bov berjalan kedalam untuk mencari dimana letak saklar lampu ruangan ini. Clora yang masih berada dipintu pun segera masuk dan menutup pintu tersebut, dan bertepatan dengan itu lampu ruangan menyala, Bov berhasil menemukan saklar lampu diruangan ini.


Langsung terlihatlah pemandangan tumpukan buku buku tua berjejer disana dengan beberapa debu yang mengelilingi buku buku itu.


Clora berjalan kearah Bov yang sedang mencari sesuatu di salah satu rak besar yang berada di pojok ruangan. Ruangan ini terlihat sedikit besar, tetapi dengan adanya ratusan buku buku didalam ruangan ini membuat ruangan ini pun terlihat sumpek dan kecil.


"Apa kau menemukannya Bov?? ". Tanya Clora saat sudah berdiri tepat disamping kanan Bov.


Bov hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata. "Belum, aku sedang berusaha mencarinya, buku itu sudah ribuan tahun lamanya tersimpan disini dan tidak pernah terbuka, dan aku sudah lupa bagaimana rupa dan bentuk buku itu".


Clora mengedarkan pandangannya ke Seliling ruangan kemudian matanya tertuju pada kotak kecil yang terletak di salah satu tumpukan buku buku besar disana. Clora mendekat untuk mengambil kotak yang mencuri perhatianya itu.


Setelah mendekat Clora mengambil perlahan kotak bersegi panjang tetapi berukuran kecil itu, kotak itu benar benar dipenuhi dengan debu debu tebal yang membuat tangan Clora sedikit kotor. Clora meniup sedikit kotak itu membuat debu debunya pun berterbangan. Setelah terlihat sedikit bersih, ia membuka perlahan kotak berwarna coklat tersebut.


Kening nya berkerut saat melihat isi dari kotak itu.


"Kalung?? ".


" Kalung yang sangat menyeramkan". Batinnya bergidik ngeri.


*******


Mycle melajukan mobilnya membelah jalan ibukota kembali menuju hutan dimana istananya itu terletak, ia sengaja kembali ke istana karna ada yang harus ia selesaikan terlebih dahulu, lagipula masalahnya dikantor itu sudah selesai, ia kembali menyerahkan tanggung jawabnya sebagai atasan kepada Alan, karna memang ia sudah menaruh kepercayaan kepada pria itu untuk memegang kendali perusahaan nya.


Mobil mewah berwarna hitam itu kini sudah masuk kedalam kawasan hutan yang terlihat begitu rimbun dan menyejukan, pantulan cahaya matahari yang masuk melalui sela sela daun membuat pantulan pada mobil milik Mycle.


Fana yang berada disamping Mycle masih setia memejamkan matanya, karna memang jarak dari kota kedalam hutan ini sangat jauh, membuat wanita itu lelah dan mengantuk, jadilah Mycle menyuruhnya untuk tidur.


Awalnya Fana menolak untuk kembali ke istana dan merengek untuk tetap tinggal di kota, karenanya ia takut dengan orang orang di istana, tetapi karna Mycle yang meyakinkan Fana bahwa gadis itu akan aman Fana pun akhirnya menurut untuk kembali ke istana.


Tangan Mycle terulur menyentuh lembut pipi mulus Fana, mengelus nya pelan.


Dia masih ter bingung dengan beberapa mimpinya belakangan ini, mimpi yang selalu memutar tentang gadis yang ia benci itu, gadis yang selalu membuatnya kesal saat melihat wajah polosnya. Tetapi didalam mimpinya itu ia terlihat sangat mencintai dan menyanyi gadis itu padahal nyatanya ia hanya mencintai dan menyayangi Fana gadis nya ini.


Ia tidak mau mengecewakan Fana, ia mencintai Fana lebih dari apapun, dengan mimpinya yang selalu aja memutar wajah gadis itu membuatnya kini semakin benci pada Amara, dan rasanya ia ingin segera memusnahkan sihir jahat gadis itu dari keluarganya dan mengusir jauh jauh gadis itu dari istananya.


"Hidupmu akan tamat sebentar lagi ditanganku Devil!! ". Ucap Mycle pelan sambil menatap tajam jalanan yang dipenuhi dedaunan kering itu, rahangnya mengeras, genggaman pada stir mobilnya pun mengencang membuat urat urat pada tanganya terlihat muncul.


Dan tanpa Mycle sadari gadis disamping nya yang masih memejamkan mata itu tersenyum sinis.


*****


Langit yang sebelumnya berwarna ungu keorenan kini berubah menjadi berwarna biru gelap, dengan tampilan beberapa bintang kecil disana.


Amara menarik nafas panjang dan melepaskanya, ia saat ini sedang duduk di salah satu taman yang berada disamping istana, taman ini adalah taman dimana Mycle pertama kali membawanya dan menujukan wujud Alex serigala hitam itu kepadanya. Dan kali ini taman ini Amara gunakan untuk menenangkan hatinya yang sedikit nyeri.


Memandang kosong bunga bunga didepanya, bunga bunga itu bergoyangan karena angin malam yang bertiupan sangat kencang, bukan hanya membuat bunga dan pohon pohon itu bergerak tetapi juga beberapa helai kecil rambutnya, Amara sengaja menggulung rambut coklatnya itu karna ia tahu angin angin nakal ini pasti akan membuat rambutnya berterbangan.


Amara melipat kedua tanganya didepan dada, fikiran nya masi selalu tertuju pada lelaki itu, lelaki yang dulu sangat mencintainya dan kini berubah 180° karna datangnya seorang iblis berujud wanita cantik.


Saad sedang berkutat dengan fikiranya Amara dibuat terkejut dengan mendengar suara dari arah rerumputan tebal yang berada didepanya, ia mencoba untuk tetap tenang walaupun hatinya sedikit khawatir, takut takut itu adalah seekor rogue yang menyelusup masuk kedalam istana.


Amara bangkit dari duduknya dan berjalan kembali kedalam istana dengan sedikit berlari, wajahnya terlihat panik. Tapi saat akan menaiki tangga langkahnya terhenti saat mendengar suara pintu utama istana terbuka, dan menampilkan dua sosok manusia berlawan jenis itu masuk degan keadaan yang sangat mesra.


Amara merasa hatinya kembali sakit dan perih, tetapi ia mencoba untuk terus menahanya, saat masih sedang memandang Mycle dan Fana yang baru saja masuk itu, tiba tiba saja mata abunya bertemu dengan mata biru laut milik Mycle, Amara gelagapan, tetapi dengan cepat ia membuang mukanya dan berlari kecil kembali menaiki tangga menuju kamarnya.


Mycle memandang kepergian Amara dengan sorot mata yang tajam.


Ia menoleh kepada Fana yang masih berada disampingnya.


"Sayang, kau masuk terlebih dahulu ke kamar ya, nanti aku menyusul, ada urusan penting yang harus ku urus malam ini". Ucapnya lembut kepada Fana yang dijawab anggukan ringan oleh gadis itu.


Setelah mencium lama kening Fana dan menunggu gadisnya itu hingga masuk kamar, Mycle melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar dimana ia tidur dengan gadis yang sangat ia benci itu.


Mycle membuka kasar pintu kamar tersebut membuat gadis yang berada didalam tersentak kaget, apa lagi dengan wajah Mycle yang amat sangat menyeramkan, membuat Amara menciut seketika.


"Mmm.. Mycle?? ". Ucap Amara terbata bata.


Mycle kembali menutup pintu dengan sangat keras, matanya masih setia menatap tajam Amara yang kini mundur menjauh darinya, tapi Mycle tidak tinggal diam, ia terus maju membuat Amara terpaksa berlari, tetapi entah disengaja atau tidak Amara berlari kearah balkon dan segera menutup pintu hubung antara balkon dan kamar dengan sangat keras, menahanya sekuat tenaga.


Mycle mendekat dan tersenyum sini dibalik pintu kaca itu, matanya berubah menjadi merah membuat Amara semakin gemetaran, rasanya ia ingin melompat saja dari sini, tapi ia masih memikirkan Flora dan juga yang lainya.


Mycle dengan kasar mendorong pintu balkon dengan tenaganya yang sangat kuat.


"Kau salah telah memilih tempat perlindungan disini Amara! ". Ucap Mycle masih dengan senyum sinisnya.


Mycle kembali mendekat kearah Amara yang kini sudah menangis ketakutan, tapi saat akan melangkah lebih dekat tiba tiba saja kakinya seperti menginjak sesuatu yang sangat panas membuatnya mengaduh kesakitan.


"Arghhh shit!! ". Ucapnya sambil menoleh kebawah tetapi tidak ada apapun disana.


Amara memandang Mycle bingung kemudian tatapannya menatap lantai dasar dibawah sana, kalau ia melompat, akankah tulang tulangnya akan patah?? Dalam hati Amara menyebut berulang kali nama Cara, berharap serigala itu berganti shift denganya dan melompat dari atas balkon ini.


Mycle kembali mengalihkan pandangannya kepada Amara yang kini menatapnya takut. Mycle kembali mendekat dan mencengkram kasar leher belakang Amara.


Membuat Amara meringis kesakitan dengan air mata yang terus mengalir mata indahnya.


Mycle memandang Amara tajam.


"Apa mau mu Devil??!! ". Tanya Mycle pelan tetapi sangat menohok hati Amara saat pria itu menyebutnya Devil.


Amara masih memandang Mycle takut, matanya masih setia menumpahkan carian bening dari sana.


"JAWAB AKU APA MAUMU!!!! ". Teriak Mycle membuat Amara bergetar hebat, bahkan ia yakin Mycle bisa merasakan itu.


" Kk.. Kauu kk... Kenapa seeperti ini Mycle?? " Tanya Amara bergetar.


Mycle terkekeh, tapi kekehanya tidak terlihat seperti meremehkan, membuat Amara semakin takut.


"Keluarkan sihir mu itu Devil! Keluarkan sihir yang saat ini sedang kau pakai untuk mempengaruhi keluargaku!! KELUARKAN!!!! ". Bentak Mycle sangat kencang membuat beberapa warrior yang berjaga disekitar istana menoleh bingung saat mendengar suara teriakan itu, tetapi mereka tidak menggubris nya dan kembali berjaga sekitar istana besar ini.


Amara menatap Mycle tajam, kali ini ia tidak ingin terlihat lemah, Amara menghapas kasar tangan Mycle yang masih mencengkram erat leher nya.


Mycle terlihat bertambah emosi dengan perlawanan Amara.


"AKU BUKAN DEVIL!!! ". Teriak Amara sangat nyaring tepat didepan wajah tampan Mycle. Membuat pria itu kembali mengeraskan rahangnya.


" KAU DEVIL SIALAN!! KAU INI DEVIL YANG SUDAH MENJELMA MENJADI WANITA BERWAJAH POLOS UNTUK MEMPENGARUHI ORANG ORANG DIDEKATKU DENGAN WAJAH KASIHAN MU ITU!! ".


Amara terlihat semakin marah dengan Mycle kali ini, seumur umur tidak ada yang berani membentuknya hingga seperti ini apalagi memanggilnya dengan sebutan Devil ini.


Wajah Amara memerah.


" Perempuan itulah yang seharusnya kau sebut Devil Mycle!! Dia telah memperngaruhi mu dengan sihir jahatnya, dia telah merebutmu dariku!!! ".


" KAU YANG MEREBUTKU DARINYA DEVIL!! ". Bentak Mycle lagi, tetapi tidak membuat Amara berhenti sampai disitu.


" Kau yang membawaku kesini Mycle!! Kau yang mengatakan mencintai ku!! Kau yang mengklaim ku sebagai milikmu!!! Kau yang mengklaim ku sebagai Luna mu!! Kau yang mengklaim ku sebagai Mate mu Mycle!!! ". Ucap Amara sedikit berteriak dengan air mata yang masih deras turun dari kedua matanya.


"Semua diluar kesadaranku!! Itu semua karna sihir yang kau berikan kepadaku sialan!!! ". Ucap Mycle membuat Amara semakin merasakan sakit yang teramat dalam pada hatinya, membuat Luka baru disana yang entah sudah seperti apa bentuk hati Amara saat ini.


"Kau mencintaiku Mycle". Ucap Amara pelan.


" Tidak!!!".


"Kau menyayangiku". Ucap Amara lagi lembut dngan suara bergetar.


" TIDAK!! AKU TIDAK MENCINTAI DAN JUGA MENYAYANGIMU!! KAU INI DEVIL YANG BERUSAHA UNTUK MEREBUTKU DARI GADISKU!! ".


" Kau Mate ku Mycle". Ucap Amara lagi membuat Mycle semakin panas dan segera ingin melenyapkan gadis didepanya ini.


"AKU BUKAN MATE MU!! MATE KU ADALAH FANA!!".


"Sebutlah namaku Mycle".


"TIDAK AKAN!! KAU DEVIL!! DEVIL!! DEVIL!! ". Ucap Mycle penuh emosi, tangan sudah terkepal siap untuk memusnahkan gadis menyebalkan ini.


Amara meneteskan air matanya untuk terakhir kali, ia menatap lekat pada manik mata merah milik Mycle.


" Sebut namaku sebelum kau membunuhku Mycle". Ucap Amara lagi sambil tersenyum manis.


Mycle mendekat kearah Amara, membuat jarak diantara mereka hanya terpaut 5 inci, Mycle menatap tajam wajah Amara yang pucat pasi.


"Dengarlah baik baik Devil!! ". Jeda beberapa saat.  " Kalau kau memang mate ku saat ini! Aku mereject  mu detik ini juga! ". Ucap Mycle membuat nyawa Amara terasa seperti sudah melayang duluan dari raga gadis itu.


Amara meneteskan air matanya sekali lagi, tersenyum manis menatap Mycle.


" Sekali lagi, sebutlah namaku". Ucapnya dan sedetik kemudian Amara menjatuhkan diri begitu saja kebawah membuat Mycle sedikit terkejut tetapi tidak membuat pria itu melangkah maju atau bergerak sedikitpun dari tempat.


Amara memejamkan matanya karna sebentar lagi dirinya pasti akan merasakan sakitnya hantaman tanah keras dibawah sana yang akan menyambut tubuhnya ini.


Tapi 2 menit berlalu Amara tidak merasakan apapun, ia bahkan merasakan kalau tubuhnya ini melayang di udara.


"Waktunya untuk kau kembali sayang". Ucap seorang wanita lembut.


*******


Hayooo, siapa nih yang greget banget sama Mycle?? wkwkwk



Babay🤚samapai ketemu di part selanjutnya sayang sayangku😘😘