My Alpha's King

My Alpha's King
38



(****Budayakan vote sebelum membaca ya;)


Ps: bacanya pelan pelan dan teliti ya, biar bisa dimengerti isi part nyaa, ok KARENA SUMPAH GABOONG INI BANYAK BANGETT DAN PANJANG BANGETT....πŸ‘ŒπŸ˜š


Kalo bisa kalian baca sehari itu minimal 5/10 kali deh ya biar ngerti gitu sama part ini hehehe, soalnya kalo kalian langsung bruk sehari satu part ini, aku gayakin kalian bisa cerna, udah itu ajaa, makasihhβ˜ΊπŸ˜™


Happy Reading**!!


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Angin bertiupan sangat kencang hingga menimbulkan suara bergemuruh dari pohon pohon yang bertabrakan dan daun daun yang berterbangan, suasana nampak sangat menyeramkan, dengan langit yang sangat gelap membuat wanita itu sedikit cemas.


Matanya menoleh ke kanan dan kekiri, berharap bisa mengenali tempat ini, tapi tetap saja, ia sama sekali tidak mengenali dimana ia berada sekarang.


Suatu hutan yang ditumbuhi dengan pepohonan yang sangat lebat, hutan yang sangat mencekam, keadaanya pun tidak se rimbun hutan yang mengelilingi istana nya, hutan ini seperti hutan hutan yang sering kita lihat di film ber genre horor.


Clora menyipitkan matanya karena takut debu yang berterbangan karena angin yang masih mengamuk ini masuk ke matanya.


Ia mencoba melangkahkan kakinya untuk mencari seseorang yang mungkin saja bisa menolongnya.


"Tolongg!! Apa ada orang disini??!! ". Teriaknya tetapi tidak ada sahutan apapun, yang didengar masih deru suara angin yang kencang.


Clora menolehkan kepalanya kebelakang, diujung sana ia melihat seseorang sedang berjalan membelakanginya, melihat itu dengan cepat Clora menyusul orang itu sebelum menghilang.


"Heii!! Kau yang disana!! Tolong, apa kau tahu ini hutan apa??!! ". Teriaknya, tetapi tidak membuat orang itu berbalik dan menjawabnya.


Clora mulai kewalahan, ia sedikit khawatir, bagaimana kalau semua mengkhawatirkan nya?? Mencari carinya?? Terutama Bov, suaminya itu pasti sangat khawatir.


Angin disekelilingnya perlahan merendah, semakin pelan membuat keadaan sedikit menenang, tidak bergemuruh seperti sebelumnya.


Clora masih melihat seseorang yang berjalan itu didepanya, dengan susah payah ia berlari kecil untuk menyusul orang itu.


Ketika sudah sedikit lagi mendekat, tiba tiba saja cahaya putih menabraknya, membuatnya terkejut dan sedikit mundur kebelakang, penglihatannya memudar, tidak jelas, seperti ada air yang menutupi matanya.


"Sebenarnya aku dimana ini?? ". Batinya bingung.


Pandangan yang awalnya kabur kini sudah kembali seperti semula, ia melihat sebuah objek yang sangat indah didepannya, sebuah air terjun yang mengalir deras kebawah, airnya pun sangat jernih sehingga ia dapat melihat bebatuan yang terdapat dibelakang air terjun itu.


Keadaanya sangat menenangkan, aroma yang dikeluarkan nya pun sangat khas, Clora sangat mengenali aroma ini.


Kicauan burung menghiasi keadaan disini, langit yang nampak sangat cerah, sinar matahari yang sangat terang membuat pantulan di air terjun itu.


Clora memandang takjub air terjun itu, dan air yang mengalir dibawahnya pun sangat jernih, sehingga pantulan dirinya pun terlihat sangat jelas.


Clora mengerutkan keningnya bingung ketika melihat dirinya di air, ia terlihat lebih muda, wajahnya tampak seperti puluhan tahun sebelumnya, ia terlihat menjadi Clora yang masih sangat muda.


"Sss..sungguh?? Ini beee...benar benar aku??". Tanyanya masih tidak percaya.


Penampilan dari mulai wajah, lekuk tubuh, bahkan gaun yang dikenakan pun sangat mirip dengan puluhan tahun sebelum dirinya menjadi seorang Luna dan dibawa oleh Bov ke istana nya.


Clora semakin mengerutkan keningnya dalam, ia tidak mengerti dengan semua ini, apakah ini mimpi??


"Clora?? ".


Clora tertegun, ia baru saja mendengar ada yang memanggilnya, ia mengenali suara itu, tapi apakah benar??


Perlahan dengan rasa sedikit khawatir Clora membalikan badanya untuk memastikan siapa orang yang baru saja memanggil namanya.


Dilihatnya seorang pemuda yang sangat tampan, pemuda yang berdiri dihadapanya ini, adalah...


"Bov?? ".


Tanya nya tidak percaya, sungguh ini semua seperti keajaiban yang luar biasa, ketika dirinya kembali merasakan suasana dan keadaan puluhan tahun sebelumnya, entah ini nyata atau tidak, yang pasti Clora sangat menikmati ini, ia rindu masa masa nya ini dengan Bov.


Bov tersenyum manis kearahnya, mata biru lautnya menatap lembut kearah mata hijau miliknya, tangan nya terangkat menyentuh anak rambutnya kemudian diletakan dibelakang telinga.


Clora tersenyum, cairan bening dimatanya sedari tadi berdesak meminta keluar, entah mengapa, perlakuan Bov barusan berefek sangat besar dihatinya, ia merasa ini adalah moment yang tidak akan terjadi lagi setelah ini, dan Clora harus memanfaatkan itu.


"Mengapa kau kesini tidak bilang terlebih dahulu kepadaku?? Mengapa pergi sendirian?? Bagaimana kalau ada yang menggodamu dan merayumu di sini, hmm?". Tanya Bov lembut, Clora tersenyum, ini lah yang disukainya, ketika suaminya ini sedang cemburu.


"Aku hanya pergi beberapa meter dari rumahku Bov, mengapa kau begitu khawatir sekali?? Kau terlalu lebay, apa kau tahu itu?". Ucap Clora membuat Bov memasang mukanya agak kesal.


" Tentu saja aku khawatir, jangankan hanya berjarak beberapa meter dari rumahmu, kau keluar 10 inci dari rumahmu pun aku khawatir". Ucap Bov membuat Clora terkekeh.


"Dasar kau berlebihan".


"Lho? Biar saja, salah memangnya aku berlebihan kepada calon Luna ku?? ". Tanya nya membuat Clora tersenyum senang, ia tidak bisa menahan air mata bahagianya ini, satu cairan bening pun berhasil lolos terjun dari ujung mata indahnya.


"Heii, mengapa kau menangis sayang?? Apa aku salah berbicara?? Apa kau tidak suka aku berlebihan seperti ini kepadamu?? Kalau begitu maafkan aku". Ucap Bov lagi dengan wajah bersedih,melihat muka pria didepanya itu justru membuat Clora tertawa.


Bov menaikan sebelah alisnya bingung.


"Mengapa kau tertawa?? Kau mengerjai ku ya?? Hmm?? ". Tanya Bov curiga yang justru membuat Clora bertambah tertawa.


"Wajahmu seperti itu yang membuatku tertawa hahahaha, kau ini, sangat tidak cocok sekali menampilkan wajah sok kasihan juga seperti barusan". Ucap Coba membuat Bov menatap wanita cantik didepannya ini dengan alis terangkat.


"Hmmmm, baiklah baiklah, tidak apa apa jika kau tertawa, aku senang melihatnya". Ucap Bov tersenyum membuat Clora seketika merendahkan tawanya, ia merasa seakan melayang dengan ucapan Bov baru dan, apa apaan ini, ia tidak sadar umur sekali, umurnya ini sudah tua, bagaimana bisa ia jadi gampang sekali merasa malu seperti ini.


"Clora?? ". Panggil Bov tiba tiba, suaranya terdengar serius kali ini.


" Iya?? ".


"Kembalilah, kembalilah ke duniamu sekarang, Diana, Malik, Mycle, anak kita, mereka membutuhkanmu". Ucap Bov tiba tiba membuat Clora diam membeku.


Bov tersenyum, tanganya terangkat menyentuh puncak kepala istrinya itu, mengusapnya lembut, kemudian dikecupnya sekilas.


"Kau ini memang wanita yang hebat, wanita yang cerdas, baik hati, lembut, aku tidak pernah menyesal sudah ditakdirkan bersamamu oleh Dewi Bulan".


Clora terdiam, kata kata Bov barusan berefek sekali di hatinya, air matanya kembali berdesakan meminta untuk keluar.


"Jangan pernah berubah menjadi Clora yang tidak ku kenal, tetap menjadi Clora yang seperti ini, aku tidak akan membiarkan senyum cantikmu barusan hilang, aku akan membuat senyum itu terus terukir diwajah cantikmu".


"Aku tahu, aku terlalu banyak memberikan kata kata indah kepadamu, tanpa menunjukanya atau membuktikannya, tetapi kau harus ingat satu hal, kebersamaan kita selama ini, selama puluhan tahun ini, membesarkan tiga anak kita bersama sama, itu adalah bukti kasih sayangku padamu, bukti janjiku yang tetap setia padamu, bukti dari semua ucapan ucapan indahku".


Clora tersentuh dengan ucapan suaminya ini, air mata yang mendesaknya itu kini sudah terjun deras, senyumnya tidak pernah pudar sedari tadi Bov berbicara, ini adalah mimpi terindahnya, Clora tidak akan pernah melupakan salah satu mimpi yang indah ini.


"Aku tahu kau sudah cukup bahagia, kau sudah cukup senang, akupun begitu, aku bahagia telah memilikimu, bahkan jauh sebelum kau mengenalku, aku bahagia dipasangkan dengan wanita seperti kau Clora, aku harap, pertemuan kita disini, juga cukup untuk membuatmu semangat menjalani hidup berikutnya, jangan pernah bersedih terlalu lama, aku akan selalu disisi mu, percayalah".


Clora mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa kau berbicara seperti ini?? Pertemuan kita ini membuatku bersemangat menjalani hidup berikutnya?? Tidak pertemuan kali ini, tetapi setelah aku bangun, besok, lusa, dan selamanya pertemuan kita akan membuat aku bersemangat menjalani hidup puluhan tahun, ratusan tahun bahkan ribuan tahun lamanya denganmu".


Bov tersenyum mendengar ucapan Clora barusan, ia menarik pinggang kecil istrinya itu, dibawanya mendekat, Clora menatap lekat manik mata biru laut milik Bov, terlihat ketulusan dan kasih sayang didalamnya, tanpa fikir panjang Clora mengalungkan kedua tanganya dileher Bov, Bov pun merengkuh erat tubuh Clora, mencium dalam dalam aroma khas Clora yang selalu menjadi kesukaannya.


Mereka berpelukan cukup lama, seolah pelukan ini adalah pelukan terakhir, Clora memejamkan matanya, menikmati hangatnya dekapan Bov, menghirup dalam dalam aroma maskulin milik suaminya itu.


"Aku sangat menyayangimu Clora". Bisik Bov lembut, membuat Clora tersenyum mendengarnya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


"Kau sungguh akan membawanya ke istana Mycle?? ". Tanya Amara yang dijawab anggukan oleh Mycle, pandangan mata biru lautnya itu sedari tadi kosong, hanya lurus kedepan, seolah tidak memperdulikan sekelilingnya.


Amara yang berada disampingnya hanya menatap kasihan Mycle, melihat Mycle yang seperti itu, membuat Amara kembali merasa bersalah, ia kembali mengingat kejadian sebelumnya, kejadian yang menimpa kedua orang penting dalam hidup pria di sampingnya ini.


Kalau saja ia berhati hati dengan serangan Athena, sudah dipastikan semua akan aman, termasuk Bov, tetapi semua terlambat, karena kecerobohannya, Bov, lelaki yang sudah dianggapnya sebagai ayah, telah pergi untuk selama lamanya, dengan keadaan yang sangat naas.


Amara kembali meneteskan air matanya, entah perasaan bersalah ini akan hadir dalam hidupnya berapa lama, mungkin akan selamanya, tidak bisa ia semudah itu melupakan kejadian sebelumnya.


Mycle menoleh kearah Amara yang sedang menunduk, ia tahu gadisnya itu sedang menangis, Mycle juga bingung harus berbuat apa, disatu sisi ia bersedih karena baru saja kehilangan seseorang yang sangat berati dalam hidupnya, disisi lain ia khawatir dengan Clora yang begitu tahu mengenai kabar ini, dan juga Amara, gadisnya yang selalu bersedih dengan perasaan bersalah, tidak mungkin Mycle akan membiarkan seperti itu terus.


Mycle kembali merengkuh erat tubuh Amara, Amara kembali menangis sejadi jadinya.


"Bagaimana kalau ibu tidak bisa menerima ini semua Mycle?? Hiks, bagaimana kalau ia membenciku setelah mengetahui ini semua??hiks". Ucap Amara terisak.


"Ssssshhhhtt, kau tahu ibu adalah wanita yang kuat sayang, ibuku yang ku kenal adalah wanita yang cerdas dan baik hati, tidak mungkin ia akan terus terlarut dalam kesedihan ini, aku yakin ia akan menerima keadaan ini, ia tidak sekejam itu dengan akan membencimu". Ucap Mycle mencoba menenangkan.


"Termasuk kau, apa kau akan membenciku Mycle?? Hiks, aku yang sudah menyebabkan ini semua terjadi, aku penyebabnya, akuuu hiks". Tangis Amara semakin jadi, Mycle semakin merengkuh erat tubuh istrinya itu.


"Kau tidurlah, jika sudah sampai aku akan membangunkanmu, oke?? ". Ucap Mycle membuat Amara terdiam, nafasnya masih tidak teratur akibat menangis.


Sambil masih memeluk Amara, Mycle menatap lurus kearah jalanan diluar sana melalui kaca jendela mobil. Memang setelah kejadian di istana tua itu, semua warrior dan juga Darco masuk berdatangan kedalam ruangan besar itu.


Flashback On.


Bunyi derap kaki yang berlarian terdengar jelas dikedua telinga Mycle dan juga Amara, Mycle yang menyadari itu menolehkan pandangan kearah pintu, puluhan warrior nya masuk kedalam ruangan ini dengan bersamaan, dengan Darco didepannya.


Mycle menoleh kearah Darco yang terdiam mematung, serigala coklat itu menatap tajam mayat Bov yang sudah hangus terbakar, seolah tidak percaya Darco pun mengaung kencang diikuti oleh para Warrior dibelakangnya.


Amara yang melihat itu seolah mengerti, ia kembali menangis, rasa bersalah itu kembali muncul. Mycle kembali memeluk tubuh wanitanya itu erat.


"Apa yang terjadi kepada Alpha Bov, Alpha??!". Tanya Darco kepada Mycle melalui mndlink, ia tidak percaya melihat semua ini, melihat jasad seseorang yang selama ini sudah dianggapnya sebagai kakak, tergeletak naas seperti itu.


Mycle terdiam, tidak bisa berkata apapun saat ini, ia bahkan masih tidak percaya dengan ini semua, baginya ini terlalu cepat, tidak bisa di cerna dengan baik difikirannya.


Tapi satu yang ia sadari, ayahnya itu kini sudah tersenyum diatas sana melihatnya.


"Tolong bawa jasad itu kembali ke istana Darco, kau bawa dia dengan menggunakan mobilnya, dan tolong kau suruh warrior ku untuk membawakan mobilku kemari juga aku dan Amara akan kembali mengenakan mobilku". Ucap Mycle yang tidak dihiraukan oleh Darco, pandangan masih kosong menatap jasad didepannya itu, walau begitu, ia masih menyadari apa yang baru saja dikatakan oleh Mycle, Alpha nya saat ini.


Setelah itu Amara dan Mycle pun berjalan keluar istana tua itu bersama sama, menunggu mobil nya yang sedang dibawa untuk menjemputnya, dan setelah mobil datang, mereka segera masuk kedalam mobil, dan kembali ke istana dengan keadaan yang sangat teramat sedih.


Flashback off.


Sebuah kematian yang sudah di takdirkan, tidak akan kembali dengan sebuah kesedihan dan air mata. Memang mengikhlaskan seorang yang sangat di sayangi adalah hal yang paling sulit yang saat ini sedang dijalani oleh Mycle, Amara, Diana dan Clora.


Kenyataan pahit yang harus mereka Terima, memang takdir tidak akan ada yang tahu, manusia serigala ataupun manusia biasa, bahkan vampir pun, tidak bisa menebak mereka akan berakhir kapan,dimana dan seperti apa, semua sudah ada jalanya masing masing.


Pintu gerbang istana itu terbuka lebar, dua mobil masuk kedalamnya dengan puluhan warrior yang mengekor dibelakang.


Suara mobil yang baru masuk itu rupanya menyadarkan ketiga orang yang berada didalam istana itu, yaitu Darvin, Crystal dan juga Diana yang kebetulan sedang duduk diruang keluarga istana menunggu kedatangan mereka.


Mendengar suara mobil itu dengan cepat Diana membuka pintu istana, dilihatnya mobil Mycle adiknya yang berhenti tepat di depan lorong istana, dengan cepat ia menghampiri Mycle dan Amara yang baru saja turun dari mobil dengan wajah yang tidak bisa dibaca.


Dibelakang Diana terdapat Crystal dan juga Darvin yang mengekor.


Setelah sampai tepat didepan Mycle dan Amara, Darvin menunduk memberi hormat kepada Mycle.


Diana menatap cemas Amara yang keadaanya sangat kacau, juga Mycle yang terlihat terluka.


"Ya Tuhan, apa kalian baik baik saja?? Amara?? Kau kemana saja?? Apa kau tahu?? Setelah kau pergi tiba tiba dari istana, ibu sangat mengkhawatirkan mu, bukan cuma ibu, tapi aku, Crystal dan yang lainya mengkhawatirkan mu, ya Tuhan, syukurlah kau baik baik saja". Ucap Diana senang sambil memeluk Amara erat, Amara menolehkan matanya kearah Mycle. Cairan bening itu kembali lolos dari ujung matanya.


Diana melepas pelukannya dari Amara, kemudian menoleh kearah Mycle yang masih terdiam, ia menatap tajam adiknya itu.


"Kau!! Jangan sampai kau menyakiti Amara lagi, apa kau ingat sama apa yang kau lakukan kepada Amara??! Ah Mycle bahkan kau sampai melawan ibu dan juga Ayah, sampai itu terjadi lagi dengan kau, dan mengakibatkan Amara hilang seperti ini, akan kupastikan kau tidak akan lagi menginjak istana ini!! ". Ucap Diana mengancam.


Mycle terdiam, bagaimana setelah ini?? Bagaimana setelah Diana kakaknya itu mengetahui ini??


Pintu mobil tepat dibelakang Mycle terbuka, membuat Mycle, Amara, Diana dan yang lainya pun menoleh kearah pintu mobil Bov yang baru saja terbuka.


Darco dan warrior istana mengeluarkan satu peti besar berwarna putih dari mobil Bov, mengangkat peti itu hati hati, dan meletakkannya tepat didepan Mycle, Diana dan yang lainya.


Diana menatap bingung peti besar berwarna putih itu, sama hal nya dengan Diana, Darvin dan Crystal pun memandang bingung peti itu.


Amara berjalan mendekat kearah Mycle, kembali menenggelamkan kepalanya didada bidang suaminya itu, ia tidak mampu melihat reaksi Diana setelah ini.


Diana menoleh kearah Mycle bingung.


"Peti siapa yang kau bawa Mycle??! ". Tanya nya tajam, tersirat nada ke khawatiran didalamnya.


Ia kembali menoleh kearah peti itu, perasaanya campur aduk, berkali kali ia menelan susah salivanya, mencoba untuk mengatur deru nafasnya.


Ia mengingat sesuatu, matanya menoleh kearah Darco yang berdiri menunduk tepat didsamping peti itu.


"Darco?? Dimana ayahku?? Kau yang pergi bersamanya bukan untuk menyelamatkan Mycle?? Dan sekarang Mycle sudah kembali selamat, diamana dia?? Aku tidak melihatnya". Ucap Clora membuat Darco semakin merasa bersalah.


Mycle melepaskan pelukan Amara perlahan, ia menoleh kearah gadisnya itu, mengangguk kecil untuk meyakinkan Amara bahwa semua akan baik baik saja.


Amara memejamkan matanya, air matanya terus terjun kebawah, Crystal yang melihat Amara menangis seperti itu merasa kasihan, kemudian ia mendekat kearah Amara, memeluk wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu.


"Ssssstttt Amara, tenangkan dirimu". Bisik Crystal menenangkan.


Mycle berjalan mendekati Diana yang masih terdiam menatap bingung peti didepannya itu, ia menarik pundak sang kakak, membawa wanita itu dalam pelukannya, mata biru laut milik Mycle menoleh kearah Darco, ia memberi isyarat kepada Darco dengan anggukan kepala, mengerti dengan isyarat itu, Darco dengan ragu membuka perlahan peti besar berwarna putih itu.


Diana menatap tajam peti putih yang perlahan terbuka, hatinya berdebar tak karuan, sesak itu semakin dekat kala pintu peti semakin terbuka lebar, satu tetesan air jatuh dari matanya, dan tepat saat itu pintu peti sudah terbuka sempurna.


Diana menutup mulutnya cepat, tubuhnya melemas, jika saja Mycle tidak memeluknya, mungkin saja Diana sudah terjatuh ke lantai.


Bagai tersambar petir disiang bolong, Diana merasa ini adalah kejutan yang sangat sangat tidak masuk akal baginya.


Apa apaan ini?? Apa Mycle sedang mengerjai nya?? Apa yang didalam peti itu orang lain?? Apa maksud semua ini??!!


Diana menatap tajam Mycle.


"SIAPA YANG SUDAH KAU BAWA KE ISTANA INI MYCLE??!!! ". Tanya Diana berteriak, air matanya sudah deras turun membasahi kedua pipinya.


Didalam pelukan Mycle Diana meronta emosi, ia tidak habis fikir dengan semua ini.


"JAWAB AKU MYCLE!! SIAPA YANG KAU BAWA PULANG KE ISTANA KITA??!! ". Tanya Diana lagi dengan menambah tinggi suaranya.


"Sss..siapa yang ada di ppp...peti itu Mycle??!! Siapa?? Katakan padaku, itu tidak seperti yang aku lihat!!! ". Ucap Diana sudah terisak, Mycle pun tidak sadar sudah ikut meneteskan air matanya.


Ia sakit melihat kakanya seperti ini, tidak pernah ia melihat Diana yang dikenalnya adalah wanita yang tidak pernah menunjukan kerapuhannya, hari ini, saat ini, didalam pelukannya, Diana menunjukan sisi kerapuhan nya, serapuh rapuhnya kepada Mycle.


"Mycle?? ". Panggil seseorang dari lorong istana, membuat semua yang ada ditempat pun menoleh, termasuk Mycle yang menyadari namanya di panggil.


Melihat sosok itu, Mycle bertambah khawatir, kalau hanya reaksi Diana saja seperti ini, bagaimana dengan Reaksi Clora?? Ibunya??


Mycle menatap Clora dengan wajah yang tidak bisa diartikan, ia menatap kasihan sekaligus khawatir Clora yang sekarang sedang berjalan mendekatinya.


Ia melihat mata sembab ibunya itu, wajah suram dan tidak bersemangat Clora.


Clora sudah tahu itu, ia sudah tahu ini semua, ia mencoba tersenyum setulus mungkin kepada kedua anaknya yang sekarang sedang berpelukan.


Ia menoleh satu satu ke semua orang yang berada disana, ia tersenyum kepada Mycle, Amara, Diana, Crystal, Darvin dan semuanya, ia mencoba memberitahu mereka, bahwa semua ini akan baik baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Clora berjalan mendekat kearah Mycle dan juga Diana, Mycle melihat kesedihan di manik mata hijau milik ibunya itu, apa yang akan terjadi setelah ini??


Diana semakin dibuat tidak bisa mengendalikan dirinya ketika melihat Clora yang tersenyum seperti itu.


Clora menoleh kearah peti besar berwarna putih itu, ia tersenyum bersamaan dengan cairan bening yang kembali tumpah dari matanya, ia mendekat kearah peti itu, menatapnya lembut seolah peti itu adalah sesuatu yang sangat disayanginya.


Clora mengelus lembut pinggiran peti itu, menghirup dalam dalam aroma yang menyeruak ke indra penciumannya saat ia mendekatkan kepalanya lebih dekat lagi kearah peti yang terdapat Bov didalamnya, berbaring dengan mata yang terpejam tenang.


"Rasanya masih sama, aku masih selalu bersemangat menjalani hidup setelah melihatmu". Ucap Clora pelan dihiasi dengan air matanya yang masih mengalir, tatapannya lurus menatap Bov yang memejamkan matanya.


"Kau juga benar, bahkan aku masih mampu tersenyum disaat melihatmu seperti ini, apa kau tahu Bov, aku sangat menyesal pernah merasa bosan dengan kata kata indahmu yang selalu menggodaku itu".


"Tapi satu yang aku sadari saat melihatmu sekarang, ternyata, kata kata indah yang kau berikan kepadaku di air terjun itu, adalah kata perpisahanmu untuku, bukan begitu?? ". Ucap Clora masih dengan senyumnya dan air matanya yang mengalir.


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan berubah menjadi Clora yang tidak kau kenal, aku masih tetap sama, Clora, ibu dari tiga anak dan istri dari seorang Alpha yang tangguh dan berani, juga posesif, yaitu Bov Culles".


Mycle dan Diana terdiam, air mata mereka semakin deras keluar menyaksikan Clora yang berbicara kepada peti Bov yang masih terbuka, Amara sedari tadi tidak henti hentinya terisak didalam pelukan Crystal, sama halnya dengan Amara, Crystal berusaha mati matian menahan kelemahannya, ia pun sama tidak sanggup nya melihat itu, walau dikatakan Crystal adalah anggota baru di keluarga ini, tapi ia bisa merasakan kehangatan keluarga yang sekarang sedang diambang kesedihan.


Clora menghelus lembut wajah tampan Bov yang sedikit hitam dan hangus, mati matian Clora menahan sesak, sakit, berat di hatinya melihat Bov seperti ini.


" Tentu saja aku khawatir, jangankan hanya berjarak beberapa meter dari rumahmu, kau keluar 10 inci dari rumahmu pun aku khawatir". Ucap Bov membuat Clora terkekeh.


"Dasar kau berlebihan".


"Lho? Biar saja, salah memangnya aku berlebihan kepada calon Luna ku?? ". Tanya nya membuat Clora tersenyum senang, ia tidak bisa menahan air mata bahagianya ini, satu cairan bening pun berhasil lolos terjun dari ujung mata indahnya.


Bayangan itu terlintas lagi difikirannya, dimana sosok didepannya ini menunjukan sifat kecemasannya yang lebay, dan Clora tersenyum mengingat hal itu.


"Tenanglah sayang, Mycle tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan untuk Amara, percaya padaku, Amara pasti akan baik baik saja". Ucap Bov sambil mengelus lembut punggung Clora yang bergetar.


Lagi, bayangan disaat Bov menenangkan nya mengenai keadaan Amara waktu itu, sebelum Amara hilang, kembali terlintas, semua terus terputar, moment dimana mereka bersama, dan sekarang, Clora bingung, siapa yang akan menangkapnya lagi?? Disaat suatu nanti masalah anak anaknya itu kembali datang??


Tidak hanya Clora, Amara yang masih terisak menatap peti putih itu pun sama, tiba tiba saja terlintas satu bayangan di otaknya tentang Bov.


"Pagi Amara". Ucap Bov kepada Amara yang baru saja datang.


"Pagi juga Ayah". Jawab Amara tersenyum manis.


Yaitu disaat sambutan pagi dari Bov yang pertama kali Amara dapatkan saat benar benar dirinya baru menginjakkan kaki ke istana ini.


Mycle melepaskan pelukan Diana perlahan, membiarkan Diana membereskan rasa sedihnya sendiri, ia berjalan mendekati Clora yang masih tersenyum menatap Bov didalam peti itu, Mycle dapat melihat pundak Clora yang bergetar, ia tahu ibunya itu juga sedang merasa terpukul.


Mycle merengkuh Clora dalam pelukannya, mendekap lembut tubuh ibunya itu, membiarkan Clora menumpahkan kesedihanya didalam pelukannya, Mycle tidak menyangka ini semua akan terjadi semulus ini.


Mata biru nya menatap lekat Bov yang masih berbaring didalam peti itu.


"Banyak orang yang membutuhkanmu disini Mycle, banyak yang menyayangimu disini, salah satunya Ayah, Ayah sangat menyayangimu, jika suatu saat nanti Ayah yang akan lebih dahulu keatas sana, Ayah akan menceritakan lebih banyak lagi kehidupan bahagia diatas sana, dan Ayah akan menunggumu dan juga ibu serta kakak kakak mu disana, dan kita juga akan hidup bahagia selamanya disana Mycle".


"Aku tidak ingin Ayah yang lebih dahulu kesana, jangan sendirian Ayah, nanti saja, kita akan bersama sama kesana". Ucap Mycle kecil.


Saat itu, ternyata ucapanya tidak didengar sama sekali oleh ayahnya, nyatanya, Bov, ayahnya itu, lebih ingin pergi terlebih dahulu keatas langit sana, sendirian, tanpa bersamanya, Clora, Diana dan juga Malik.


Mycle semakin mengeratkan dekapanya yang kepada Clora yang terguncang hebat dipelukanya.


"Mycle??". Panggil Clora lemah.


Mycle tidak bisa menjawab, untuk mengucapkan satu kalimat pun mulutnya terasa kelu. Ia hanya mengarahkan kepalanya kebawah, berharap Clora mengetahuinya.


"Ayah sangat menyayangimu, ayah sangat mencintaimu, ia sangat mengkhawatirkan mu Mycle, percayalah padaku". Ucap Clora terisak membuat Mycle semakin tidak bisa menahan rasa sakit dihatinya, ucapan Clora baru dan seperti perwakilan dari Bov yang ingin berbicara kepadanya.


Mereka masih tidak percaya dengan semua ini, mereka merasa ini adalah mimpi buruk yang sedang mereka tunggu tunggu akhirnya, tapi nyatanya, mimpi ini tidak berakhir, kesedihan ini, akan terus menyelimuti mereka, seterusnya.


Orang yang meninggalkan kita akan lebih bahagia jika melihat kita bersuka ria daripada bersedih secara berlebihan.


Termasuk Bov diatas sana.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


5 bulan kemudian...


Hari hari terus berjalan seperti biasanya, setelah kepergian Bov, semua masih seperti semula, hanya saja, terasa lebih sunyi.


Selama lima bulan itu juga, Mycle kembali bersikap protektif, posesif bahkan lebih parah dari sebelumnya kepada Amara, yang kalian tahu, Mycle seperti itu karena ada calon baby mereka didalam perut Amara, yang sekarang kian bertumbuh besar.


Keadaan istana saat ini masih sama, tidak ada yang berubah, mereka semua selalu antusias menyambut kehadiran baby baru di istana ini, dan ditambah lagi, Crystal juga kian sedang mengandung anak Darvin, yang usia kandungnya sudah masuk minggu ke 3.


Betapa bahagianya mereka semua, dan Diana, wanita itu kini sudah menemukan pendamping hidupnya, Andreas namanya, salah satu Alpha yang memegang kawasan Blue Moon Pack, Mycle turut senang mengenai itu, sekarang ia hanya akan fokus membahagiakan kedua wanita di istananya ini, yaitu Clora dan juga Amara, dan tambahan satu lagi, calon baby mereka yang sebentar lagi akan hadir di kehidupan baru mereka.


Dan dengan Clora, sejak Bov dimakamkan 5 bulan yang lalu, ia masih sama, bersikap seolah olah semua tidak terjadi apa apa, walaupun sebenarnya yang mereka tahu Clora tidak sebaik itu, ia tahu wanita itu masih terpukul, tetapi mereka yakin, keterpukulan itu tidak akan berlangsung lama, buktinya saat ini, Clora selalu menampakan senyum bahagianya, ia jauh lebih aktif dari sebelumnya.


Wanita baya itu terlihat lebih bersemangat menjalani kehidupanya saat ini, karena yang Clora tahu, dan yang ia selalu ingat, Bov, suaminya itu, akan jauh lebih bahagian melihatnya seperti ini, menjalani hidup, melanjutkan hidup, dengan lebih dan jauh bersemangat dari sebelumnya.


Dan Clora tidak akan pernah melupakan perjuangan Bov yang selalu berusaha membuatnya tersenyum selama puluh tahun sebelumnya, dan senyum itu tidak akan pernah Clora biarkan hilang begitu saja, ia tidak akan membuang buang usaha mati matian Bov semudah itu.


Dan satu lagi yang penting yang harus kalian tahu.


Semua kehidupan tidak selamanya akan selalu pahit, tidak selamanya akan selalu beku, tidak selamanya akan selalu suram, tapi tidak juga akan selalu bahagia, tidak juga akan selalu damai.


Dan Clora, Mycle, Amara, semua percaya akan itu.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


3 bulan kemudian....


Suara deru langkah kaki seseorang yang sangat terburu buru terdengar dikedua telinga Clora, ia mengetahui siapa itu.


Dari ujung lorong tempat ia berdiri, ia melihat anak laki lakinya itu yang nampak sangat khawatir, Mycle sedang berlari kearahnya dengan tergesa gesa.


"Dimana Amara bu??! ". Tanya Mycle cepat saat sudah menginjakan kakinya tepat di depan Clora berpijak.


Clora memegang bahu Mycle yang naik turun tampak sedang mengatur nafasnya yang memburu.


"Mycle??!!! Itu kah kau??!! ". Teriak Amara dari dalam, Mycle semakin terlihat cemas.


"Tenang Mycle, jangan khawatir, Amara sudah ditangani oleh dokter didalam sana, dan kau sebaiknya segeralah masuk kedalam sana, dampingin istrimu itu melahirkan!". Ucap Clora yang dijawab anggukan cepat oleh Mycle.


Mycle membuka ruangan yang dikatakan oleh Clora adalah ruangan bersalin Amara, Mycle melangkahkan kakinya cepat kedalam sana.


Dilihatnya Amara yang berbaring diatas bongkar rumah sakit dengan keringat yang membanjiri keningnya.


Mycle mendekati Amara dengan menggunakan masker serta baju pelengkap ruangan oprasi.


"Heii sayang, tenang, tenanglah, Amara kau dengar aku, percayalah, ini semua tidak akan sesulit yang kau bayangkan". Ucap Mycle menenangkan, Amara hanya menampilkan ekspresi menahan kesakitan ya.


Mycle menoleh kearah Dokter yang sedari tadi mencoba untuk membantu persalinan Amara.


"Dokter, bagaimana ini?? Kenapa istri saya belum juga melahirkan??!! Lakukan sesuatu!! ". Bentak Mycle yang sudah tersulut emosi melihat Amara yang semakin kesakitan.


" Maaf Alpha Mycle, baby anda sangat susah untuk keluar dari rahim Luna Amara, sedari tadi kepalanya tidak juga keluar, sepertinya kita harus melakukan operasi Caesar Alpha". Ucap Dokter itu membuat Mycle menoleh kearah Amara, ia tidak tega menemani Amara oprasi seperti itu, tapi ia jauh lebih tidak tega melihat Amara kesakitan seperti ini.


"Aku tidak mau oprasi Mycle!! Aku tidak mau, aku takut!! Jangan oprasi, lakukan sekali lagi!! Aku yakin pasti bisa!! ". Teriak Amara kesakitan, Mycle sungguh bingung sekarang.


Ia sedikit menunduk tepat di depan perut Amara yang sangat besar.


"Dewi bulan, kumohon, lancarkanlah kelahiran putra kembar kami, berikanlah kemudahan untuk Amara istriku melakukan persalinan ini, kumohon!! ". Batin Mycle berdoa.


Mycle menatap lekat Amara, ia mengecup lama kening istrinya itu, kemudian ia menoleh kearah sang dokter.


" Lakukan sekali lagi! ". Ucap Mycle cepat yang dijawab anggukan oleh dokter itu.


Diluar ruangan Clora, Crystal dan juga Darvin menunggu dengan cemas, memang setelah Mycle masuk kedalam ruangan, tidak lama dengan itu Darvin dan Crystal datang.


" Semoga Amara bisa menjalankan persalinan nya itu Dewi Bulan!! ". Ucap Clora yang dijawab anggukan oleh Crystal.


Mereka semua tampak khawatir dengan keadaan Amara didalam sana.


Ketika sedang berkutat dengan fikiran masing masing, suara tangis bayi yang menggema diruangan itu membuat Crystal, Darvin dan juga Clora terdiam membeku, kemudian mereka tersenyum senang karena calon baby Alpha mereka sudah lahir ke dunia ini.


Clora mendekat kearah ruangan itu, sedikit mengintip kedalamnya, tetapi sayangnya korden yang menutupi pintu ruangan membuat Clora kesulitan melihat kedalam.


Tapi tiba tiba saja pintu ruangan terbuka, munculah Mycle yang masih menggunakan pakaian khusus oprasi yang ternodai dengan bercak darah.


Mycle tersenyum senang menatap Clora, tanpa fikir panjang ia memeluk ibunya itu erat.


"Kembar bu, mereka kembar! ". Ucap Mycle senang, Clora yang mendengar itu sama halnya dengan Mycle, begitupun dengan Crystal dan Darvin, mereka tampak senang mendengarnya, ternyata anak Amara dan juga Mycle kembar. Istana mereka pasti akan terlihat lebih ramai.


Mycle melepaskan pelukan yang dari Clora. Menatap manik mata hijau milik ibunya itu, seolah mengerti dengan raut wajah Clora, Mycle pun membuka suaranya kembali.


"Ares dan Mova Culles, namanya Ares dan Mova Culles ibu, yaitu kokoh dan pelindung, yang kuharap kedepanya, akan membuat Black Moon Pack Akan tetap kokoh dalam perlindungan Alpha nya kelak". Ucap Mycle tersenyum, membuat Clora ikut tersenyum.


End.


πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘


**Yeaayy, akhirnya selesai jugaaa asas-asas


Huffffftttt.... Gimana gimana?? Udah puas blm sama ceritanya??


Eh sumpah aku mau ngucapin makasih banget sama kalian semua pembaca setia My Alpha King, yang aku mulai ceritanya dari 0,dari pembacanya yang bener bener cuma 100 orang paling banyakkk, sampe sekarang tembus 10k lebihh, itu buat aku seneng banget ya ampun😭😭😭😭😭


Aku gatau harus bilang apa lagi sama kalian, pokonya pidato aku kaki ini, terimakasih nya aku, bakal aku keluarin di next part yaa, do'ain ajaa, aku juga lagi mikirin buat Extra Partnya, ya semoga aja aku bisa bagi waktu lagi yaa


Soalnya aku juga mau UAS, aku bakal sibuk kesitu banget gaisss, jadi mohon pengertiannya yaa, dan juga maafin aku yang selalu telat update...


Sumpah maafin bangettπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜­


Sekali lagi TERIMAKASIH BUAT KALIANπŸ™β€β€β€


Gatau harus ngomong apa lagi:(


Jangan lupa Vote and Comment ya semuanyaaa.......


JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN, INGET GESS....


See u next time😽😽❀❀**






Salam sayang dari merekaa😽😽❀