My Alpha's King

My Alpha's King
31



(**Ingat para readers ku tercintah, budayakan Vote dulu sebelum membaca okey)


🎶The Forgotten-Green Day🎶


(Lagu ini bisa membuat kalian merasakan betapa sakit hati yang sedang Amara rasakan☺)


Author Pov**.


"Sayang? ". Suara berat itu menyadarkan Clora dari lamunannya tentang kalung yang saat ini sedang ada digenggaman nya.


Clora menoleh, melihat Bov yang saat ini sedang membolak balik salah satu buku tua berukuran kecil yang berada ditangannya.


Clora mendekat, dengan sebelumnya ia menutup kembali kotak berisikan kalung menyeramkan itu.


Kini Clora sudah berdiri tepat disamping Bov yang sedang serius seriusnya membaca salah satu tulisan yang sudah pudar dan bahkan hampir tidak kelihatan, hanya kertas coklat kekuningan yang terpampang dibuku itu, tapi Bov tidak mau menyerah, ia terus mencoba untuk bisa membaca apa isi dikertas tersebut.


"Apa kau menemukan sesuatu disana Bov?? ". Tanya Clora penasaran.


"Tidak sayang, aku belum menemukan apapun, hanya saja aku penasaran dengan isi bacaan pada halaman ini, tapi sayang, tulisanya sudah sangat pudar dan tidak terlihat". Jawab Bov membuat Clora berfikir keras sekarang.


"Apa kau tidak salah mengambil buku?? ".


"Tentu tidak sayang, aku sangat ingat saat melihat buku ini, aku tidak mungkin salah mengambilnya".


Clora dan Bov kini sama sama terdiam, memandang halaman pada buku tersebut dengan diam, walaupun sebenarnya keduanya sedang sama sama berfikir keras bagaimana bisa membaca mantra yang tertulis pada halaman tersebut.


"Apa tidak ada gambar nya Bov?? Mungkin saja kita bisa menemukan jawaban mantra itu dengan gambar lambang atau sejenisnya, semua mantra mempunyai lambangnya masing masing bukan?? ". Ucap Clora membuat Bov menoleh ke istrinya itu.


"Ah..Benar sekali, aku tidak kepikiran sampai kesana". Ucap Bov tersenyum senang membuat Clora pun ikut tersenyum, dan saat ini tanganya dengan lincah kembali membalik halaman berikutnya, tetapi kening mereka mengerut bersamaan saat melihat halaman pada buku itu langsung terlongkap.


"Bagaimana bisa dari 1089 jadi 1090??! ". Tanya Bov lantang, ia terkejut dengan halaman buku tersebut, merasa bingung dengan angka pada halamannya, tidak hanya Bov, Clora pun memandang bingung buku tua itu, benar juga, bagaimana bisa terlongkap sejauh itu dari halaman sebelumnya??


Clora mengambil alih buku tersebut dari tangan Bov, memandang nya intens dengan sorot mata yang serius ke satu titik, Clora membalik lagi halaman berikutnya, tapi setelah itu kembali lagi membalik ke halaman sebelumnya membuat Bov yang melihat itu semakin bingung dengan apa yang dilakukan Clora.


Clora memandang Bov seperti mengasih isyarat tidak ada yg beres disini. Bov yang mengerti tatapan itupun hanya mengerutkan kening bingung dengan wajah mengisyaratkan bertanya ada apa.


Clora memberikan buku itu pada Bov, kemudian menujuk pertengahan halaman buku tersebut.


"Halaman sebelumnya ini kelihatan telah dirobek oleh seseorang Bov". Ucap Clora tenang.


"Di robek? Oleh siapa?? ". Tanya Bov semakin bingung.


"Aku juga tidak tahu, apa kau ingat sebelumnya siapa yang merobek halaman buku ini?? Mungkin saja kau hanya lupa dan tidak mengingatnya jika halaman ini memang pernah ada yang merobek". Ucap Clora membuat Bov menggeleng cepat.


"Tidak ada sayang, tidak ada yang mengetahui buku itu selain aku, dirimu dan juga Mycle".


Mereka berdua sama sama terdiam sekarang, memikirkan siapa yang telah merobek isi halaman tersebut, yang dimana terdapat mantra sesuatu yang sangat penting bagi kaum werewolf. Tidak mungkin halaman itu tersobek dengan sendirinya.


Clora kembali membuka buka halaman berikutnya dengan gerakan lambat, karna buku itu yang tebal membuatnya susah untuk bergerak cepat, ditambah kertas kertasnya yang sudah lapuk dan gampang sobek membuatnya harus berhati hati membuka halaman demi halaman.


Tapi tiba tiba saja satu kertas jatuh kebawah menarik perhatian Clora dan juga Bov, dengan cepat Bov mengambil kertas yang terlipat menjadi bersegi empat itu, kertas yang sama, berwarna coklat kekuningan, tetapi kertas ini masih terlihat lebih terjaga dibanding kertas kertas pada halaman buku itu.


Dengan perlahan Bov membuka kertas tersebut dengan sangat hati hati, takut takut tanganya dengan tidak sengaja membuat kertas itu tersobek.


Saat kertas sudah berhasil terbuka, terlihatlah suatu gambar berbentuk segitiga piramida yang terdapat banyak tulisan tulisan didalam sana juga terdapat beberapa gambar sesorang yang menggunakan jubah hitam yang sangat menyeramkan.


"Kertas apa ini?? ". Gumam Bov pelan sambil mencoba mengartikan apa maksud dari gambar tersebut.


Clora mengernyit bingung saat melihat suatu tulisan aneh yang menarik perhatian nya disalah satu segitiga piramida itu.


"Degeladom Bazuaria?? ". Ucap Clora yang mencoba membaca tulisan tersebut, Bov pun ikut melihat tulisan yang baru saja Clora bacakan.


Sedetik setelah Clora membaca tulisan itu, kotak putih pada genggamannya bergerak dan mengeluarkan rasa panas yang terasa seperti menggenggam suatu kayu berapi. Spontan Clora membuang kotak itu dari genggamannya.


Bov terkejut dan menoleh ke arah kotak yang sudah tergeletak dilantai dengan kalung berbentuk ular yang keluar dari isi kotak tersebut.


"Kotak apa itu sayang?? ". Tanya Bov bingung.


Clora hanya terdiam, tiba tiba saja terlintas wajah seorang gadis yang akhir akhir ini selalu membuatnya merasa kasihan pada gadis itu, gadis yang selama ini sudah ia anggap seperti putri keduanya setelah Diana.


Clora memucat seketika, membuat Bov terlihat khawatir sekaligus terkejut.


Belum sempat menanyakan sesuatu pada istrinya itu, tiba tiba saja Clora berlari dengan sangat kencang keluar ruangan menyusuri lorong sepi itu kembali menuju kedalam istana. Tidak tinggal diam, Bov pun ikut menyusul Clora yang sudah menghilang dari hadapanya.


Clora mencepatkan langkah kakinya menaiki tangga menuju lantai atas saat dirinya kini sudah berada didalam istana, pikirkannya semakin buruk saat melihat kamar Amara yang tertutup, dengan cepat wanita baya itu menobrak pintu besar yang ternyata tidak terkunci.


Kosong. Yang ia lihat didalam kamar itu ternyata kosong, tidak ada tanda apapun yang menandakan gadis itu ada disini, tapi pandangannya teralihkan saat melihat pantulan cahaya bulan purnama yang menampilkan bayangan seseorang dari balkon.


Dengan pelan Clora berjalan menuju balkon kamar Amara, terlihat seseorang berdiri menghadap luar yang menampilkan banyaknya pohon pohon besar yang menjulang tinggi dengan keadaan gelapnya malam. Bertepatan saat dirinya melangkah lebih maju terlihat seorang perempuan yang ternyata berdiri tepat di depan pria tersebut.


"Sekali lagi, sebutlah namaku".


"AMARA?!!! ". Teriak Clora spontan sambil menutup mulut dengan kedua tanganya, satu air bening lolos dari pelupuk matanya.


Clora bergetar hebat, tubuhnya seakan baru saja ikut terjatuh kebawah, lemas, Clora kehilangan keseimbangan, dua tangan berhasil menangkap tubuhnya yang sudah kehilangan tenaga, Bov datang tepat pada waktunya, melihat Clora yang sudah oleng dengan gerakan cepat Bov menerima tubuh sang istri.


Clora nampak sangat syok, wajahnya yang pucat pasi membuat Bov terlihat semakin tidak mengerti dengan istrinya ini, Clora menyeimbangkan kembali tubuhnya, dan mencoba berdiri tegak, dengan gontai ia berjalan kearah pria yang masih terdiam seperti patung itu.


Clora membalik Mycle dan dengan gerakan cepat tangannya melayang menyentuh pipi mulu Mycle dengan sangat kencang.


Mycle terkejut bukan main saat melihat kehadiran Clora yang sangat tiba tiba. Clora tidak bisa berhenti mengeluarkan air matanya yang semakin deras, ia menoleh kebawah sana, tepatnya dimana Amara jatuh dan yang terlihat hanyalah rerumputan kecil yang bergerak karena angin, tidak ada sosok Amara sama sekali membuat Clora bertambah panik sekarang.


Ia kembali menoleh kearah Mycle yang sekarang terlihat seperti orang yang kehilangan akal. Tatapannya kosong, mukanya pucat pasi yang sangat menyeramkan, terlihat sekali dia bukan Mycle, Clora bisa merasakan itu.


Langkah derap kaki seseorang kali ini terdengar lagi memasuki ruangan kamar Amara membuat Bov dan Clora menoleh bersamaan, munculkan seorang wanita yang menjadi dalang sebuah masalah dikeluarkan Culles.


Clora yang melihat wajah  gadis tersebut mengeraskan wajahnya, air matanya masih terus terjun membasahi pipi mulusnya, dengan langkah cepat Clora berjalan kearah Fana dan menampar dengan tiba tiba pipi mulus perempuan tersebut.


Paaalakkk


Fana sontak terkejut dan memegang pipi nya yang terasa panas dan perih, tetapi ia tetap menampilkan senyum liciknya, bukan hanya Clora Bov yang melihat senyum jahat milik gadis itu juga ikut mengeram kesal.


"APA YANG SUDAH KAU PERBUAT KEPADA ANAKKU IBLIS?!!! ". Teriak Clora brutal tepat didepan wajah Fana yang kini masih menampilkan senyum sinis nya. Mycle menoleh dan berjalan cepat dan berdiri di depan Clora dengan menutupi Fana yang berada dibelakangnya.


"Tolong jangan membentak gadisku!! ". Ucap Mycle geram. Bagai tertusuk ratusan benda tajam, hati Clora merasakan sakit yang teramat dalam melihat kelakuan putranya yang seperti ini, tapi ia tidak mau mengambil seriusnya sadar raga Mycle yang berada di depannya ini bukan benar benar Mycle anaknya.


" Mengapa kau membela gadis iblis ini Mycle?? ". Tanya Bov kali ini angkat bicara, nadanya masih terdengar tenang.


" JANGAN SEBUT DIA IBLIS KUMOHON!!!! ". Teriak Mycle, suara nya menggelegar mengisi ruangan besar ini, sampai sampai seseorang yang tidak sengaja lewat di depan kamar Amara terkejut saat mendengar suara kencang itu. Dengan tanpa permisi Crystal masuk menerobos, tetapi kehadirannya masih tidak membuat orang orang yang berada didalam ini sadar akan kehadirannya.


"JANGAN BERANI BERANINYA KAU MEMBENTAK KAMI MYCLE!! ". Teriak Bov tidak kalah kencangnya, Crystal yang melihat itu terkejut, apa lagi saat menoleh kearah Clora yang sedang terisak hebat, tubuhnya kelihatan sekali bergerak hebat, dengan cepat Crystal berjalan kearah Clora dan merangkul wanita baya itu, Clora sadar akan kehadiran Crystal, dia dengan cepat menangis hebat sambil memeluk Crystal erat.


Sedangkan gadis licik itu, Fana tersenyum senang, rencana nya berjalan degan sangat mulus, dan lihat sekarang?? Gadis itu?? Ah gadis itu sudah hilang, dia sangat bahagia sekali saat ini, ia yakin kini gadis polos itu sudah berada ditangan ayahnya.


Tanpa mereka sadari dua lelaki yang sejak tadi beradu mulut saling mengeluarkan suara yang membuat siapapun yang mendengarnya merinding ini sudah berganti shift dengan masing masing serigala mereka.


Serigala hitam besar itu berlari melompat dari atas balkon, tidak tinggal diam, serigala coklat besar itupun ikut meloncat menyusul serigala hitam yang sekarang akan menjadi mangsa nya.


Clora semakin tidak bisa mengontrol tangisnya, Crystal yang melihat Clora merasa sehancur itu tidak bisa menahan perasaan nya juga. Ia ikut menitihkan air matanya sambil masih memeluk Clora.


Clora dan Crystal menatap Fana tajam tajam.


"PERGILAH KAU DARI SINI IBLIS!! KAU TIDAK ADA HAK LAGI UNTUK TETAP DISINI!! ". Teriak Clora sudah naik pitam.


"Hahahaha, tenanglah Clora, tidak bisakah kau berbicara lembut kepadaku seperti yang kau lakukan kepada gadis polos mu yang sekarang sudah entah dimana?? ". Balas Fana membuat Clora semakin jengkel.


"Apa mau mu sebenarnya Fana?!! Apa kau tidak cukup membuat Amara menderita seperti itu?!! ". Kini Crystal buka suara karena sudah ikut kesal melihat ulah Fana yang semakin jadi.


"Ohh, lihatlah, sekarang istri Beta sudah bisa melawan ya?? Hmmmm, lumayan juga, akan sedikit susah sepertinya aku menyingkirkannya dan Diana, ya tetapi tidak apa apa lah, yang terpenting bagiku gadis itu sekarang sudah mati". Ucap Fana tersenyum licik.


Tiba tiba saja seseorang datang dan memenuhi seisi kamar Amara yang besar ini, Fana sedikit terkejut dan khawatir saat para warrior memasuki kamar ini, ia merasa terkepung sekarang, tetapi ia mencoba untuk tetap menampilkan senyum sinis nya untuk menutupi kecemasan pada dirinya.


"Kau tidak ada bisa kemana mana sekarang Devil!! ". Ucap Crystal tersenyum puas.


Tapi saat para warrior itu berjalan kearah Fana, asap merah tiba tiba saja keluar mengelilingi tubuh Fana itu, dan kemudian membawa Fana entah kemana, semua yang melihat itu cukup terkejut, benar benar Fana adalah seorang iblis, buktinya sihir yang diek kuar kan ya saja berwarna merah menyeramkan itu.


Clora terdiam, ia tidak ingin mengurus gadis iblis itu saat ini, Clora berjalan keluar kamar dengan Crystal yang berada dibelakangnya dan para warrior juga yang ikut serta dibelakang Clorad an Crystal, ia berjalan menuruni tangga untuk melerai perkelahian yang entah sudah ke berapa kali.


Walaupun di sana memang sudah ada beberapa warrior istana juga Darvin dan Darco, tapi tetap saja tidak membuat dua serigala besar itu berhenti berkelahi.


Kini serigala hitam besar itu terlihat sudah kesalahan dan sekarang berbaring lemas, sedangkan serigala coklat itu belum juga puas dengan apa yang sudah dilakukan ya, ia memandang geram serigala hitam yang tidak berdaya di depan nya ini.


"Aaa.. Amara? ". Ucap serigala itu dalam batinnya, tiba tiba saja wajah seorang wanita cantik itu terlintas dimatanya. Wajah wanita yang selama ini selalu ia buat menitihkan air mata, dan sekarang wajah wanita itu terus terlintas difikirkan nya sejak kejadian yang beberapa menit itu.


"Aa.. Amaraa? Maaf.. Kan aku".


Kemudian gelap.


"Kumohon berhentilah". Ucap Clora lirih saat melihat serigala hitam itu yang kini sudah menutup matanya.


"Tenanglah ibu". Ucap Crystal masih setia mengelus pundak Clora lembut memberi ketenangan juga kekuatan pada wanita baya itu.


" Kemana kau Amara?? Kemana kau?? Kumohon kembalilah ". Batin Clora menangis.


*******


Gelap.


Ia masih setia memejamkan matanya, merasakan tubuhnya yang sekarang sedang melayang di udara, ia belum berani membuka matanya terlebih dahulu sebelum dirinya benar benar kembali menginjak tanah.


"Buka matamu sayang".


Suara itu lagi, suara lembut seorang wanita yang entah siapa dan wujudnya seperti apa. Amara ingin sekali membuka matanya tetapi ia masih takut, ia belum siap melihat sekelilingnya yang pasti gelap, dan berada ditengah tengah rimbunnya pohon besar yang menjulang tinggi.


"Amara?? Bukalah matamu". Suruh suara itu lagi, dan bertepatan dengan itu kakinya kini kembali menyentuh tanah, bukan tanah, lebih tepatnya rumput yang basah.


Amara semakin bingung, mengapa tubuhnya tidak menghantam keras tanah dibawahnya sepeti yang sudah ia bayangkan, tulang tulangnya akan retak bahkan patah. Tapi saat ini tidak terjadi sesuatu yang menyakitkan terhadap tubuhnya dan itu membatnya bingung benar benar bingung.


Amara memberanikan diri untuk membuka perlahan matanya, baru setengah terbuka sudah disambut dengan sorotan cahaya yang sangat menusuk iris mata abunya membuat ia kembali menutup matanya, mengerjap kan berkali kali kelopak matanya sehingga saat ini matanya berhasil terbuka sempurna.


Dan terlihatlah suatu objek yang sangat menarik perhatiannya, sebuah tangga yang sudah di penuhi oleh rerumputan kecil yang tertata rapih dipinggiran tangga itu, juga ada sebuah pintu bercahaya diseberang tangga membuat Amara mengernyit bingung. Apa itu jalan keluar dari tempat gelap ini??


Ia masih tidak mengerti kenapa dirinya kini berada disini, disuatu tempat seperti goa yang sangat gelap, dan kini dirinya dihadapkan dengan suatu tangga yang akan membawanya memasuki pintu bercahaya tersebut.


Amara memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu, semakin mendekat dengan pintu bercahaya itu semakin dirinya khawatir dengan yang ada disebrang sana.


Kini tinggal satu langkah lagi dirinya akan memasuki cahaya putih itu, Amara memberanikan diri melangkahkan kakinya masuk, dan yang terlihat hanyalah putih polos dan kemudian cahaya menabrak matanya kemudian mulai memudar kembali perlahan, dan membawanya kembali ketempat berbeda, apa pintu tersebut adalah pintu penghubung kedalam ruangan ini??


Diamana dia berada sekarang, suatu ruangan?? Terlihat seperti ruangan menerima tamu, hampir persis dengan di istana Mycle, tapi bukan, ini bukan di istana pria itu, tempat ini terlihat lebih sunyi dan hawanya sangat mencekam, penerangan disini juga sangat kecil, hanya sebatas beberapa lilin yang menyala.


Amara mengedarkan pandangannya ke Seliling, dan tepat dibelakangnya kembali lagi ada sebuah tangga yang menghubungkan dengan lantai atas diruangan ini.


"Aku di mana ini??". Ucap Amara benar benar dibuat kebingungan, ia tidak kenal tempat ini, tapi kenapa tiba tiba ia dibawa ketempat se menyeramkan ini??


Saat akan bergerak maju, suara seseorang membuatnya menghentikan langkahnya.


"Dasar pembohong!!! Kau bilang secepatnya kau akan mengklaim ku sebagai Luna mu Garden?!! Tapi mana?? Mana buktinya?? Mana bukti yang sudah kau janjikan padaku??!! Sampai saat ini kau tidak mengklaim ku sebagai Luna mu!! ".


"Tidak secepat itu Thena!! Kau harus mengerti posisiku, aku sudah mempunyai Daniel dan juga Syifana, tidak mudah bagi mereka untuk menerima wanita baru sebagai ibunya, tidak semudah itu, tolong mengertilah posisiku!! ".


"Aku sudah lama mengerti posisimu Garden, tapi kau tidak ada sedikitpun usaha untuk membuat anak anakmu itu mau menerimaku!"


Amara yang mendengar pertengkaran itu lantas menoleh kebelakang untuk mencari tempat persembunyian, dan matanya menyorot kearah belakang bangku yang cukup tertutup dan sepertinya aman untuk ia pakai bersembunyi.


Amara mengintip sedikit, dan sekarang terlihat dua pasang manusia berlawan jenis itu turun dari tangga yang ada dihadapannya, dan pasti suara debat yang ia dengar barusan berasal dari lelaki dan juga wanita yang turun dari tangga itu.


"Mau Mu apa sekarang sayang?? Hmmm?? Aku sudah memberimu tinggal disini, di istana ku, apa itu kurang untukmu Thena?? " Ucap pria itu lembut, tapi tidak membuat wanitanya tenang, wanita yang dipanggil Thena itu masih memberikan wajah kesal terhadap lelaki disampingnya itu.


Amara yang sedang mengintip itu mengernyit melihat wajah sangat wanita yang sangat mirip seperti seseorang yang pernah ia temui, tetapi ia lupa siapa itu.


Wanita yang dipanggil Thena itu menoleh kearah bangku dimana disitu dijadikan tempat persembunyian oleh Amara, Amara yang melihat itu sontak panik dan gelagapan, apa lagi saat wanita menyeramkan itu berjalan mendekat kearahnya, ia sangat takut saat ini, ia tidak kenal mereka, ia tidak kenal wanita bernama Thena dan pria bernama Garden itu.


Amara menutup matanya saat Thena semakin mendekat dan mendekat kearahnya, tapi kemudian tidak terjadi apa apa kepadanya, tidak ada tangan yang menyentuh tubuhnya juga.


"Daniel?? Kenapa kau mengumpat disini?? ".


Amara membuka matanya dan melihat Thena yang ternyata berdiri tepat dibelakangnya, dan tepat dibawahnya ada seorang anak laki laki yang meringkuk ketakutan dikolong meja yang di atasnya terdapat lampu.


"Keluarlah, untuk apa kau bersembunyi di sana!! ". Ucap wanita itu sedikit menaikan nadanya.


Amara bergeser untuk berpindah tempat, tapi tidak sengaja tangannya menyenggol kaki jenjang milik wanita yang saat ini sedang memarahi anak lelaki tersebut, Amara sedikit panik, tapi seperti tadi, tidak ada yang terjadi apa apa padanya, wanita itu tidak menyadari sentuhan Amara pada kakinya.


Saat bangkit berdiri dan hendak jalan tubuhnya bertabrakan dengan pria bernama Garden itu, dan am Amara cukup terkejut karena tubuhnya berhasil dilewati begitu saja oleh pria itu, dan yang semakin membuatnya syok, pria itu menembus tubuhnya begitu saja, Amara panik sekarang, apa dirinya sudah mati sekarang??!


"Sudah Thena, berhenti memarahi anakku seperti itu!!". Ucap Garden kemudian menarik pelan anak laki laki nya dari kolong meja kemudian menggendongnya ke dada bidang pria itu.


"Terus saja kau membelanya Garden!! Aku sudah capek mengurusi anakmu yang bandel itu, apa kau tahu?? Umurnya kini sudah 5 tahun,  7 tahun lagi ia akan mempunyai wolf nya sendiri, ia sudah harus diajarkan bagaimana mengatur sihir yang benar".


"Tidak!! Anakku tidak boleh mengenal sihir!! Kita adalah suku werewolf, tugas kita hanya patuh kepada pack dan dewi bulan, apapun keinginan kita harus kita capai dengan usaha, bukan sihir". Ucap pria itu membuat si wanita semakin mengeram kesal.


" Terserah kau saja Garden!! Aku pergi!! ". Ucap Wanita itu dan berjalan kearah diamkan Amara berdiri, Amara masih setia menonton adegan didepan ya itu, sadar kalau dirinya tidak terlihat, Amara pun mencoba biasa saja, toh dia tidak terlihat, tapi tiba tiba saja mata merah wanita bernama Thena itu berhasil bertemu dengan iris mata warna abunya.


Amara merinding seketika. Wanita bernama Thena itu mendekat kearahnya, dan membisikan sesuatu ke kupingnya.


"Mycle mu dalam bahaya Amara, jika kau telat, kau akan kehilangan dia untuk selamanya! ". Bisik Thena pelan membuat Amara bingung tapi sedetik kemudian ia tersadar, ia kembali menoleh kearah Thena yang sekarang sudah pergi menaiki tangga lagi, sungguh Amara merasa seperti sedang dipermainkan, ia tidak mengerti dengan semua ini.


"Teka teki apa yang sedang kau berikan kepadaku Dewi Bulan?? ". Batin Amara frustasi.


*********


bonus pic foto kamar Mycle sama Amara.



See u next part all muahhh😘💞