Memories

Memories
Bab 8



Dian mencoba tersenyum ke arah dua wanita yang tidak jauh darinya itu. Ke dua wanita itu membalas senyumannya. Dian lalu duduk di sebelah wanita berambut panjang itu, sepertinya ia tidak asing melihat wajah itu. Wajah wanita itu mengingatkannya kepada istri atasannya. Hanya saja wajah itu lebih cantik dan masih terlihat muda.


Wanita itu mengenakan bodycon dress berwarna hitam, dengan belahan dada rendah. Jika diperhatikan hanya dirinyalah satu-satunya wanita yang mengenakan pakaian sederhana, mengenakan kemeja dan celana jins. Oke, dirinya memang salah kostum. Jika tahu dirinya akan ke Skye, ia pasti akan mengenakan dress dengan punggung terbuka. Ia ingin berpenampilan sexy, dan ia tidak ingin kalah dengan wanita-wanita yang ada disini. Selera fashion si monyet itu memang payah. Ia sudah seperti upik abu jika ngumpul bersama mereka seperti ini.


"Hei, saya Linggar," ucapnya, wanita itu mengulurkan tangan kepadanya.


Suara wanita itu serak-serka basah, terkesan sangat sexy, sangat pas dengan penampilannya. Dian membalas uluran tangan itu, "Dian," ucapnya.


"Saya Ayana," ucap wanita yang berada di sebelah Linggar.


Dian tersenyum membalas uluran tangan itu. Wanita bernama Ayana itu, bertubuh mungil, wanita itu mengenakan slim dress berwarna merah menyala. Lihatlah ke dua wanita di sampingnya ini tampil sempurna, hanya dirinyalah dengan tampilan sederhana seperti ini. Rambut yang ia blow, sudah tidak berbentuk lagi.


Dian melirik Liam, terlihat jelas laki-laki itu sudah berbaur dengan ke dua teman-temannya. Mereka nampak asik mengobrol, satu sama lain. Sepertinya mereka membicarakan kerjaan di bidang yang sama. Jika ia perhatikan antara ke tiga laki-laki itu. Penampilan Liam lah yang paling ancur. Rambut teman-temannya tertata rapi dan klimis, tapi melihat rambut gondrong itu rasanya ingin muntah. Sekarang dirinya dan Liam, sudah mirip sepasang kekasih yang paling mengenaskan.


"Kamu pacarnya si rambut gondrong itu?" Tanya Linggar.


"Hemmm," gumam Dian, tidak menanggapi.


"Pacar kamu enggak kutuan kan," ucapnya.


Dian mendengar itu lalu melongo, ia menoleh ke arah Linggar. Wow, wanita bernama Linggar itu ternyata bermulut ular. Belum apa-apa sudah menuduh Liam, kutuan. Sumpah ni parempuan, seakan dia yang paling bersih. Ingin sekali ia menyumpal bibir merah itu dengan lak ban.


"Ya, enggaklah," ucap Dian.


"Syukurlah kalo gitu. Aku hanya kasihan kamunya, kamunya cantik gini, masa pacaranya sama laki-laki urakkan kayak gitu," ucapnya lagi.


Dian menarik nafas, ia memandang Linggar dengan berani, ia akan memeberi tahu pada wanita di muka bumi, bahwa laki-laki tampan itu tidak selamanya baik.


"Jaman sekarang sih, cari laki-laki jangan lihat dari penampilannya. Tapi lihat hatinya, dia baik kok. Kan pacarnya aku, bukan kamu," ucap Dian. Sepertinya ia telah mengutip kata-kata supir taxi kemarin.


"Ya, kamu kan pacaranya, setidaknya suruh potong rambut kek. Biar rapiin dikit," timpal Linggar.


"Kamu enggak tau style jaman sekarang. Laki-laki yang keren itu yang rambutnya gondrong, enggak jaman lagi rambut klimis," ucap Dian.


Oh Tidak, ia ingin muntah mendengar dirinya membela Liam, dan mengakui bahwa Liam keren. Ia yakin jika Liam mendengar, laki-laki itu pasti besar kepala. Sumpah ngeselin banget ni orang.


Sementara Linggar kembali Diam, ia tidak ingin menyebabkan pertengkaran, karena ini awal pertemuannya.


"Itu tatonya asli ya?" Tanya Ayana setelah memperhatikan Liam, ia lalu memandang Dian, dengan penuh tanya, karena wanita itu dari tadi memperhatikan lengan Liam.


Dian mengusap tengkuknya, "Ya, gitu deh," ucapnya, karena ia tidak tahu lagi akan menjawab apa. Memang begitulah kenyataanya.


"Keren sih, pasti buatnya sakit banget," Ayana menyesap cocktail, setelah itu ia letakkan lagi gelas itu di meja.


Dian tidak menanggapi wanita itu. Ke dua wanita itu sangat tidak sopan, seakan Liam tu terlihat aneh. Jelas aja ia tidak terima mereka berkata seperti kepada Liam.


"Kamu masih kuliah?" Tanya Linggar penasaran, dengan wanita berkemeja putih itu. Ia mencoba mencairkan suasana, sudah cukup teman-teman di kampus tidak menyukainya. Sekarang ia tidak ingin terulang lagi.


"Enggak, aku udah kerja," ucap Dian santai, ia mengambil stemp glass di hadapannya. Ia tidak peduli itu punya siapa, yang pasti itu bukan miliknya ke dua wanita di sampingnya ini.


"Aku juga pengen kerja sih sebenarnya," ucap Linggar.


"Jadi kamu pengangguran," ucap Dian, ia meletakkan stemp glass di meja.


"Enggak,"


"Terus apa?"


"Aku masih kuliah,"


"Kamu kan cantik, jadi gampang lah cari kerjaan seperti itu. Ada perusahaan yang menerima mahasiswa," ucap Dian asal. Ia sudah malas banget ngomong dengan wanita ular ini.


"Kalau bisa sih maunya kerja. Sumpah deh malas banget kuliah," timpal Linggar lagi.


"Kalau malas kuliah, ya nikah aja," sungut Dian.


"Ya, enggak nikah juga, Ayana juga masih kuliah juga kok," ucap Linggar, ia menepiskan rambutnya ke belakang.


Sumpah kirain ke dua wanita itu seumuran, ternyata dua bocah ini masih berstatus mahasiswa. Jadi temannya Liam yang tua bangka itu, pacaran dengan anak-anak kuliahan. Semua laki-laki di sana memang enggak ada yang beres. Dasar pedofil, wanita-wanita ini masih terlalu polos untuk menjadi kekasih mereka. Ia perkirakan umur mereka masih berusia sembilan belas tahun. Di umur segitu dirinya masih sibuk buat makalah, presentasi, bukan malah pacaran seperti ini. Ia tidak yakin, bahwa dua orang ini masih perawan. Lihatlah mereka pacaran dengan laki-laki seumuran Liam. Ia yakin otak laki-laki itu selalu berpikiran mesum. Sangat tidak mungkin mereka tidak berbuat yang tidak-tidak. Mereka semua bukan jenis laki-laki alim.


"Kamu kuliah di mana?" Tanya Dian penasaran.


"Stikes pertamina, Akper," ucap Linggar.


"Aku, kuliah di Berlin," ucapnya sambil tersenyum.


"Hebat, di Berlin pula," gumam Dian.


"Lusa kita jadi ke Bali?," ucap Ayana, masalahnya Daniel pernah mengatakan bahwa akan ke Bali, bersama teman-temannya.


"Iya, katanya sih gitu," ucap Dian.


"Kamu ikut juga kan," ucap Linggar.


"Kayaknya sih gitu,"


Dian hanya ikut nimbrung apa yang dua bocah ini ucapkan. Setidaknya ia hanya berbasa-basi, agar tidak terlalu bosan. Tapi entahlah ia tidak terlalu suka dengan wanita bernama Linggar. Bukan karena wanita itu lebih cantik darinya. Tapi wanita itu terlalu terang-terangan.


*********


"Aku enggak suka dengan pacarnya teman kamu itu," sungut Dian.


Alis Liam terangkat, ia melepaskan pengait hlem dari kepala Dian. Ia memegang pundak Dian, memandang iris mata itu.


"Yang mana orangnya, aku kan enggak kenal mereka," ucap Liam.


"Itu, yang pakek baju hitam, yang sexy itu," ucap Dian.


Liam tahu wanita mana yang di maksud Dian. Wanita itu adalah kekasihnya Darka. "Kenapa kamu enggak suka sama dia,"


"Dia ngeselin tau, masa kamu di bilang, urakkan, dekil, tatoan, terus kutuaan," ucap Dian, sekarang ia mulai menambah-nambah kalimat itu. Ya, kapan lagi bisa berkata seperti itu, kepada si babon ini.


"Terus kamu jawab apa, setelah dia bilang seperti itu sama kamu,"


"Ya, aku bilang aja, jaman sekarang mah, laki-laki yang tampan, body oke, keren, wangi, biasa suka sama yang tampan juga," ucap Dian asal.


Ia tidak ingin jawab yang sebenarnya karena si babon ini pasti akan besar kepala.


Liam tersenyum dan lalu tertawa, "Setelah itu,"


"Ya, gitu aja," ucap Dian, ia tidak berani melanjutkan ucapannya.


Liam mengelus rambut Dian, dan di berinya kecupan tepat di bibir kekasihnya itu. Karena jujur ia ingin sekali melumat bibir tipis ini dengan rakus. Tapi apa daya, keadaan tidak memungkinkan, karena ia berdiri tepat di depan rumah Dian. Jadi sekarang ia mulai menahannya, dan akan melakukannya ketika di Bali nanti. Liam melepaskan kecupannya.


Dian merasakan bibir Liam mendarat bibirnya, laki-laki itu hanya mengecupnya saja tidak lebih. Ia tahu, bahwa Liam tidak mungkin melakukan apa yang pernah ia lakukan, terlebih tepat di depan rumahnya. Ia pastikan jika melakukan itu, ayah pasti akan mengusirnya dari sini.


"Kalau kamu ngajak aku ke Skye lagi, bilang dulu. Penampilan aku paling ancur di antara dua bocah itu,"


"Aku pikir kamu yang paling keren di antara kalian bertiga," ucap Liam sejujurnya.


"Tapi aku mau pakek dress sexy seperti mereka, bukan pakaian seperti ini. Aku banyak loh dress sexy, satu lemari malah," ucap Dian.


"Ya sudah, nanti aku mau lihat kamu pakai baju super sexy itu," ucap Liam. Ia merapatkan tubuhnya kepada Dian.


"Ya, nanti kalau ke Skye,".


"Besok, temenin aku ya,"


"Kemana?"


"Cari perlengkapan untuk ke Bali,"


"Iya,"


"Ya udah, istirahat sana. Salam buat mama dan papa kamu,"


"Iya,"


Liam mengecup bibir tipis Dian sekali lagi. Ia tersenyum, sungguh ia memang tidak tahan. Ia mati-matian tidak melumatnya.


"Aku pulang dulu,"


"Iya," ucap Dian kikuk.


*********