
"Ciyeee, Rapi bener, mau kemana dek?" Ucap Tatang, karena hari minggu pagi, Dian biasa masih mendekam di kamar.
Tatang memperhatikan penampilan Dian, adiknya itu mengenakan dress selutut berwarna biru gelap, lengkap dengan tas kecil di genggamannya.
"Mau tau aja," ucap Dian, ia lalu berlalu pergi dari hadapan Tatang.
Tatang mengejar langkah Dian, "Mau kemana dek? Mau kencan ya, sama si babon itu,"
"Ih, mau tau aja deh mas, kepo banget sih," sungut Dian.
"Ciyee yang udah jadian lagi, sama mamas gondrong," goda Tatang, sambil terkekeh menggoda Dian.
"Apaan sih mas, biasa aja kali, biasa juga tiap hari sama dia,"
"Mau kemana dek, cerita dong sama mas," ucap Tatang.
"Mau kemana aja, terserah kita dong,"
Alis Tatang terangkat, "jangan bilang kalian berdua mau ke Hotel ya, ayo ngaku. Si gondorong itu enggak mungkin, enggak ngapa-ngapain kamu, tampang berandal kayak gitu," ucap Tatang.
"Ih mas pikirannya negatif mulu, ngapain ke hotel. Macam enggak punya kerjaan aja. Emang mas, yang kencan dikit, langsung ngajak ke hotel,"
"Ya, iyalah,"
"Anak orang hamil baru tau rasa,"
"Kalau hamil gampang lah, tinggal nikahi beres," ucap Tatang.
"Tampang seperti mas ini yang lebih nyeremin, dari pada si babon,"
"Ciyeee yang belain pacarnya,"
"Sewot aja mas, kepo banget sih jadi orang. Aduin, mama baru tahu rasa, mas pacarannya ke hotel,"
"Palingan teman kamu yang hamil," ucap Tatang sambil terkekeh.
"Gila, jadi mas udah apa-apain Rene," ucap Dian hampir tidak percaya.
"Dari awal kali, hahaha," ucap Tatang, tersenyum nakal.
"Awas mas enggak tanggung jawab, Dian lapor polisi loh, kalau sempat Rene kenapa-napa,"
"Kita itu saling cinta, biasalah kayak gitu," ucap Tatang.
"Jadi mas beneran !,"
"Mau tau aja urusan ranjang orang dewasa," ucap Tatang.
"Adek, kamu mau kemana? Rapi bener, ini hari minggu loh,"
Tatang dan Dian, lalu menoleh ke arah sumber suara. Mereka memandang mama, yang berjalan sambil membawa tentengan plastik, bersama bi Asih. Sepertinya habis berbelanja di pasar.
"Mau ke rumah Liam ma, soalnya mamanya Liam pengen ketemu sama Dian. Kebetulan ada arisan di rumahnya, mau bantu-bantu gitu deh," Dian melangkah mendekati mama.
"Ciyeee, yang mau ketemu calon mertua, bentar lagi mama punya besan tuh," ucap Tatang, dari kejauhan.
"Kamu itu seharusnya cepat nikah, udah tua bangka juga," ucap mama melirik Tatang.
"Ciyelah ma, Tatang itu mencari yang terbaik, yang suka sama Tatang mah banyak,"
"Bilang aja enggak laku," timpal Dian.
Mama tersenyum memandang ke dua anaknya,
"Berati Liam serius sama kamu. Mama kebetulan beli brownies nih, bilang ini dari mama," ucap mama, beliau meletakkan barang belanjaanya di meja.
Beliau mengeluarkan dua buah brownies, selanjutnya beliau mengeluarkan buah anggur dan apel.
"Bawain buah juga ya," ucap mama sambil tersenyum, memandang Dian. Beliau memasukan buah itu di dalam tuperware.
"Bukannya itu untuk stock kulkas ya ma," ucap Dian, menunjuk buah apel dan anggur.
"Nanti beli lagi, yang penting buat calon besan dulu," ucap mama.
"Banyak banget ma," ucap Dian, ia memandang mama, dengan semangat memasukan brownies dan buah itu ke dalam paperbag plastik, berukuran besar bertulisan "Matahari,".
"Malu dong, kalau kamu ke rumah Liam enggak bawa apa-apa. Bilang aja ini dari mama," ucap mama sambil tersenyum.
"Ya, enggak sebanyak ini juga ma, bingung mau bawanya gimana, kan pakek motor," ucap Dian.
"Pakek mobil aja, mobil kamu kan nganggur tuh, biar motor Liam taruh di garasi" ucap mama lagi.
"Iya deh ma,"
Semenit kemudian, terdengar bell dari balik pintu. Dian lalu bergegas berjalan menuju pintu utama. Ia sudah menduga bahwa itu adalah Liam. Dian tersenyum memandang laki-laki berambut gondrong itu tepat di hadapannya. Si babon ini memang tidak berubah, dia mengenakan celana jins yang koyak, di bagian depan, dan kaos hitam. Rambut panjang itu ia ikat ke belakang. Males banget memang kalau lihat laki-laki kayak gini, seperti keluar dari hutan, beneran deh. Andai saja rapi dikit pasti keren.
Liam menatap penampilan Dian, kekasihnya itu begitu cantik. Liam mendekatkan wajahnya dan mengecup kening itu.
"Kamu cantik banget sih, sudah siap mau pergi," ucap Liam.
"Udah, kita perginya pakek mobil aku aja ya," ucap Dian.
"Kenapa? Biasa juga pakek motor,"
"Masalahnya pada mama, mama bawain belanjaan buat mama kamu, sampe dua kantong," ucap Dian pelan.
"Serius?" Ucap Liam, hampir tidak percaya.
"Serius, masuk aja kalau enggak percaya," ucap Dian, ia melangkah masuk ke dalam.
"Kamu udah bilang, kamu cuma bantu-bantu arisan slaja sebentar. Enggak perlu bawa apa-apa lah. Kamu datang aja udah buat mama aku seneng," ucap Liam lagi, mengikuti langkah Dian.
Dian mengedikkan bahu, "Tau deh mama,"
Mama menyadari kehadiran Liam, "sudah mau pergi ya," ucap mama.
"Iya tante," ucap Liam, ia memandang dua bungkus plastik yang sudah terbungkus rapi di meja. Benar kata Dian, bahwa calon mertuanya ini sudah menyiapkan dua kantong belanjaan, yang siap di bawa.
"Dian baru kasih tahu tadi, jadi tante enggak bawa apa-apa, untuk mama kamu,"
"Salam buat mama kamu ya Liam,"
"Iya tante," ucap Liam, sambil membawa bungkusan plastik itu, melangkah menuju area parkiran.
*******
"Kejunya kamu parut ya seperti ini, ya Dian," ucap mama Liam, setelah ia memperaktekkan kepada Dian.
"Iya tante," ucap Dian, ia lalu memarut keju krfat cheddar, dengan parutan keju. Kalau kayak gini sih, gampanglah ia kerjakan.
"Kata Liam orang tua kamu punya toko kain ya," mama Liam, membuat adonan tepung terigu, margarin, gula dan garam.
Mama Liam melirik Dian, wanita cantik inilah menjadi kekasih putranya yang nakal itu.
"Iya tante,"
"Dimana toko kainnya,"
"Thamrin tante,"
"Kamu sudah lama pacaran dengan Liam?" Tanya mama Liam penasaran.
Dian lalu kambali berpikir, jika di hitung dari awal pertama kali bertemu Liam di New York, ya baru tiga bulan.
"Tiga bulan tante," ucap Dian.
"Kamu enggak kepikiran mau nikah sama Liam," ucap mama, melirik Dian.
Dian mengerutkan dahi, jujur Ia tidak pernah sekalipun berpikiran, untuk menikah dengan Liam secepat ini, di saat hubungannya masih seumur jagung.
"Ya, Dian kan belum dilamar Liam tante," ucap Dian sekenanya, ya sebenarnya tidak tahu mau jawab apa.
"Kalau dilamar Liam, kamu mau," ucap mama Liam.
Dian tidak tahu arah pembicaraan ini sebenarnya, ia menoleh ke arah wanita separuh baya, di sampingnya ini.
"Iya tante," ucap Dian pelan.
"Tante lamar saja ya nanti, sebelum Liam pulang ke New York,".
Dian menghentikan aktifitasnya dan ia terdiam sesaat. Oh Tuhan, ternyata arah pembicaraanya mulai ke sini.
"Tante nanti mau ke rumah kamu, lusa atau besok gitu lah,"
Dian hanya bisa melongo, mendengar ucapan itu. Oh Tidak, ia hampir gila memikirkan ini. Secepat inikah hubungannya dengan Liam, ke jenjang yang lebih serius. Baru saja kemarin ia menerima Liam menempati hatinya. Sekarang ia di kejutkan dengan orang tua Liam, akan melamarnya. Sumpah, setidaknya berilah ia waktu untuk pacaran sampai satu tahun, agar bisa mengenal satu sama lain.
"Iya tante," ucap Dian.
"Liam enggak cerita sama kamu, kalau dia mau pulang hari Rabu,".
Dian tersadar dan mulai berpikir menghitung hari, ini hari Minggu, berarti tiga hari lagi Liam akan pulang. Ada perasaan sesak di hatinya, ketika si babon akan pulang ke New York.
Baru saja ia merasakan bagaimana sesaknya putus dari si babon. Sekarang ia mendengar bahwa Liam akan meninggalkannya. Oh Tuhan, New York itu jauh, penuh perjuangan untuk mencapai kota metropolitan.
"Enggak tante,"
"Mungkin Liam belum siap kasih tahu kamu, kalau dia mau pulang," Mama Liam melirik Dian, terlihat jelas mata bening itu berkaca-kaca.
"Dian,"
"Iya, tante,"
"Kamu sedih, Liam mau pulang,"
Dian lalu mengangguk, "iya tante," ucap Dian, ia menahan isak tangisnya.
Hubungan jarak jauh sebenarnya bukan halangan untuk dua orang yang saling mencintai. Pacaran jarak jauh memang sangat berat dan susah. Ia hanya tidak sanggup di tinggal si babon, di saat ia benar-benar ingin berada di sampingnya. Ia takut seperti mantan si babon bernama Siska, yang tidak kuat menjalani hubungan jarak jauh. Hanya saling percaya satu sama lain, kunci mempertahankan hubungan ini.
"Sini peluk tante,"
Dian melangkah mendekati mama Liam, dan lalu memeluk tubuh hangat itu.
"Jarak bukan menjadi halangan buat kalian menjalani hubungan ini. Jika kalian saling setia dan percaya, maka semua akan terjalan dengan baik," ucap mama, ia memeluk tubuh ramping Dian.
"Tente tahu, ketika dia pergi, pasti ada cinta yang menunggu dia pulang,"
"Bersabarlah, kalian tetap bersama, jangan pernah mempermainkan kepercayaannya,"
Mama Liam, melonggarkan pelukkannya dan lalu tersenyum. "Tante tahu, anak tante itu nakal, nakal banget, sampai tante enggak tahu lagi ngurusnya seperti apa. Dulu waktu sekolah hampir setiap Minggu, Liam selalu membuat ulah,"
"Beberapa kali di keluarkan dari sekolah, karena dia selalu berkelahi dengan temannya. Nakal banget kan anak tante itu, berbeda sekali sama Jo saudaranya. Tapi enggak tahu kenapa, setelah lulus SMA. Liam menjalani proses seleksi, masuk keperguruan tinggi, dan dia lolos dengan nilai terbaik. Liam kuliah di Yale University di New York. Cukup bangga sih, melihat Liam bisa kuliah di sana. Tante pikir dia enggak akan jadi apa-apa loh. Habisnya nakal sekali,"
"Tapi kalau soal hati, jika Liam sudah cinta, maka dia akan menjaga cintanya untuk kamu. Jangan pernah mempermainkannya,"
"Terima kasih, kamu sudah mau mendampingi Liam. Kemarin dia mengatakan bahwa dia sayang banget sama kamu, sampai-sampai enggak mau pulang ke New York. Di satu sisi, dia mempunyai tanggung jawab sebagai pekerja,"
"Jangan sedih ya sayang,"
Dian mengusap air matanya, dan mengangguk, "iya tante,"
"Tante sebenarnya mau masak apa," tanya Dian, ia mencoba mengalihkan pertanyaan.
"Tante masak, Zuppa soup,"
"Owh Zuppa,"
"Nanti kamu sering sering ya, ke rumah tante,"
"Kenapa tante?"
"Mau ngajarin kamu masak,"
Dian tersenyum, "iya tante, makasih ya tante,"
**********