Memories

Memories
Bab 33



Dian melangkahkan kakinya menuju dapur, di ikuti Liam dari belakang. Ia memandang Dian membuka bungkusan makanan itu.


"Eh, mas gondrong datang," ucap bi Asih, keluar dari halaman belakang.


Dian dan Liam lalu menoleh ke arah sumber suara. Liam memandang seorang wanita, ia ingin tertawa ketika wanita itu mengatakan dirinya "mas gondrong", jujur ia sudah terbiasa, ada seseorang menyematkan nama-nama aneh, untuk dirinya.


"Bi Asih, sudah mau pulang bi," ucap Dian.


"Iya nih neng, neng kan udah ada mas gondrong, jadi bibi mau pamit pulang," ucap bi Asih.


Bi Asih tersenyum kepada, laki-laki berperawakan tinggi besar, yang tidak jauh darinya.


"Mas gondrong, tolong jagain neng Dian ya. Soalnya bibi enggak tega, dari tadi neng Dian nangis-nangis. Mas jangan tinggalin neng, palingan neng cuma becanda mutusin mas gondrong kemarin,"


Dian mendengar itu lalu melotot, Ia dengan cepat membungkam mulut bi Asih. Oh Tuhan, pasti si babon ini besar kepala, mendengar itu. Liam mendengar itu lalu tertawa dan melirik sang kekasih.


"Iya bi, tenang saja,"


"Neng, bibi pulang dulu ya," ucap bi Asih.


"Iya bi, hati-hati di jalan,"


Liam tersenyum memandang Dian, kekasihnya memilih, menyibukkan diri dengan ayam ember yang di bawanya tadi. Setelah bi Asih hilang dari pandangannya. Liam lalu melangkah mendekati Dian, dan lalu mengurung tubuh itu. Masalahnya ada satu yang belum ia tuntaskan kepada wanita cantik ini. Ia sudah tahu bahwa kekasih barunya ini sudah menerima kehadiran dirinya.


Liam memegang bahu Dian, dan memutar tubuh itu, agar menghadap dirinya.


Liam memandang wajah cantik itu, ia akan berbicara cukup serius dengan kekasihnya ini.


"Bener apa yang dikatakan bi Asih tadi?" Tanya Liam,


Dian memandang iris mata tajam itu,


"bi Asih becanda, tuh. Jangan percaya," elak Dian.


Liam menarik nafas, dan ia mengangkat tubuh Dian, dan ia duduki tubuh itu di meja pantri. Liam menepis rambut lurus itu ke samping.


"Sayang,"


"Hemmm," ucap Dian, wajah laki-laki di hadapannya ini terlihat begitu serius.


"Ada yang harus aku sampaikan pada kamu,"


"Apa," ucap Dian.


Liam menarik nafas, ia mengecup puncak kepala Dian.


Sedetik kemudian, ia lepas kecupan itu.


"Mari kita tidur bersama," ucap Liam.


"Hah,"


Liam memegang dagu Dian, "Di mana kamar kamu," ucap Liam.


"Di atas,"


"Mari kita ke atas," ucap Liam.


Dian masih sulit mengerti dan ia memandang wajah Liam. Wajah itu begitu serius, dan sekarang ia mulai mencerna kata-kata itu. Dian melepaskan tangannya, dan mulai bergedik ngeri. Tidur yang di maksud laki-laki itu, adalah sesuatu yang di lakukan dua orang dewasa.


"Maksud kamu,"


"Kamu pasti tahu maksud aku," ucap Liam.


"Tapi,"


"Tapi apa?" Ucap Liam, ia mengelus bahu Dian.


"Tapi ini kan di rumah aku," ucap Dian lagi.


"Emang kenapa dengan rumah kamu,"


"Di sini penghuninya banyak, ketahuan bisa berabe,"


"Ketahuan juga enggak apa-apa, palingan di suruh nikah,"


"Tapi, enggak bisa gitu dong, mas Tatang biasa datang siang-siang gini,"


"Kita melakukannya di kamar kamu, enggak ada yang lihat. Lagian bi Asih enggak ada, Tatang, dan orang tua kamu pasti pulang malam," ucap Liam.


"Kamu pasti becanda kan," ucap Dian, sambil terkekeh.


"Untuk apa aku becanda, ini serius," ucap Liam lagi, ia lalu menurunkan tubuh Dian dari meja pantri.


Liam menyelipkan jemari Dian, di sela-sela jemarinya. Ia kecup punggung tangan itu.


"Kamu sudah dewasa jadi kamu harus merasakan apa yang di lakukan dua orang dewasa di luar sana," ucap Liam lagi, ia membawa Dian, menuju ke arah tangga.


Dian mengikuti langkah Liam, oh Tuhan, ia tidak percaya apa yang di lakukan laki-laki ini. Inilah yang ia takutkan, jika bersama Liam. Laki-laki ini begitu nekat, sungguh ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jika dikasih hati, pasti laki-laki ini minta jantung. Kalau sudah minta jantung, nyawanya pasti sudah ada di tangan si babon ini.


Kini ia sudah tepat di depan daun pintu, di depan pintu itu, terdapat gantungan kayu, bertulisan "Dian Saraswati".


"ini kamar kamu," ucap Liam.


"Iya,"


Liam melangkah masuk ke dalam, dan menarik tangan Dian. Ia masih memperhatikan kamar kekasihnya ini. Di kamar ini terlihat rapi, tidak ada foto yang menggantung dinding, kecuali jam dinding berbentuk lingkaran. Kamar ini terdapat balkon, yang menghadap ke taman belakang.


Sementara Dian, menahan debaran jantungnya. Jujur bulu kuduknya merinding, berdua bersama si babon ini, dikamarnya pula. Ia melirik pergelangan tangannya, masih di genggam erat oleh Liam.


Liam menarik tangan Dian, mendekatinya. Ia menarik pinggang Dian merapat ke tubuhnya. Liam menatapnya, dan dikecupnya bibir tipis itu sekilas.


"Jangan takut, aku enggak gigit kok, palingan isep kamu," ucap Liam, menyeringai nakal.


Dian mengatur dekat jantungnya yang tengah maraton. Sungguh ia ngeri atas tindakkan si babon ini. Ia tidak tahu, sejak kapan bibir Liam sudah mendarat di bibirnya. Bibir itu menciumnya dengan dalam, hingga ia sulit menyeimbanginya.


Liam menyesap bibirnya secara bergantian, seolah tidak ingin berhenti. Dian mengalungkan tangannya di leher itu. Suasana semakin panas, Liam mengeratkan pelukkanya, dan di bawanya tubuh ramping itu ke tempat tidur.


Hingga akhirnya ia kehabisan nafas, Liam melepaskan pangutannya. Ia memandang iris mata bening itu. Liam tersenyum, dan mulai melakukan aksinya. Ia menyelusuri, setiap jengkal leher jenjang yang menggodanya dari tadi. Liam mengecup leher itu secara perlahan dan Dian memberi akses lebih untuk memciumnya lebih dalam. Hingga Dian tidak dapat menahan desahannya.


**********


"Besok mama ada arisan, mama perlu tenaga untuk bantu-bantu masak," ucap mama kepada Liam.


Liam mengerutkan dahi, masih makan dalam diam. "Emang mama mau masak apa? Mama kan tahu, Liam enggak bisa masak. Kalau cuma angkut kursi itu sih gampang," ucap Liam.


"Mama enggak perlu bantuan kamu, tapi mama perlu bantuan calon mantu mama," ucap mama lagi,


Liam lalu menoleh ke arah mama, "Emang tamu arisan mama berapa orang, sampe perlu bantuan pacar Liam. Bibi kan ada, yang siap bantu,"


"Dua puluh orang, tapi hanya pacar kamu yang belum di kenali sama mama. Mama pengen liat, kualitas calon mantu mama, bisa masak atau enggak," ucap mama lagi.


Liam mendengar itu lalu tersedak, ia dengan cepat meneguk air mineral. Ia menyudahi makannya. Ia tidak bisa membayangkan jika Dian masuk ke tim memasaknya, sang mama.


"Emang perlu banget ya ma, pacar Liam bantu mama,"


"Ya, perlu lah, mama mau kenal, Pacar kamu, enggak kerjakan hari minggu besok,"


"Enggak sih," ucap Liam, ia mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


"Siapa nama pacar kamu,"


"Dian,"


Ia bingung akan menjelaskan kepada sang mama, bahwa calon menantunya itu sama sekali tidak bisa memasak.


"Apa bibi, enggak cukup buat bantu mama masak?" ucap Liam, ia mengekori sang mama, yang sedang membereskan meja.


"Cukup sih, tapi mama mau kenal sama pacar kamu. Teman-teman mama kan mau tahu, calon mantu mama seperti apa. Mumpung kamu ada di Jakarta," ucap mama.


Liam menarik nafas panjang, sebaiknya ia harus memberitahu terlebih dahulu kepada mama, bahwa calon mantunya yang cantik itu, sama sekali tidak bisa masak.


"Ada yang ingin Liam kasih tahu sama mama terlebih dahulu," ucap Liam lagi.


"Mau kasih tahu apa," tanya mama.


"Sebenarnya, Dian itu enggak bisa masak ma,"


Mama mengerutkan dahi, meletakkan piring di wastafel. Beliau memandang Liam, "bagaimana bisa jadi calon mantu mama, kalau pacar kamu enggak bisa masak,"


"Dian masih belajar ma," ucap Liam lagi.


"Calon mantu mama itu harus bisa masak. Kalau nikah nanti, ada yang ngurusin makan kamu, terlebih kamu yang tinggal jauh antah berantah sana," ucap mama, beliau memandang Liam.


"New York ma, bukan antah berantah," ucap Liam, bukan antah berantah seperti mama nya maksud.


"Makanya mama ajarin Dian, tapi jangan dimarahi kalau Dian enggak bisa masak. Maklum lah, dari kecil dia enggak di ajari masak sama mamanya, yang sibuk itu," ucap Liam, mencoba menjelaskan.


"Orang tua pacar kamu pejabat, sampe anak perempuannya enggak pandai masak,"


"Enggak ma, bukan kalangan pejabat, biasa aja,"


"Tapi kenapa enggak bisa masak gitu?"


"Ya enggak semua wanita terlahir sebagai juru masak ma, tapi setidaknya harus belajar melakukannya,"


"Iya mama tahu,"


Liam menarik nafas, "Tapi mama jangan marahin Dian, kalau Dian enggak bisa masak. Soalnya Liam sayang banget sama dia," ucap Liam lagi.


"Tumben bener kamu kayak gini,"


"Ya, karena Liam sayang sama dia,"


"Kalau sayang ya makanya kamu nikah terus kawin, nanti di samber orang, kalau kelamaan. Seperti mantan kamu yang dulu itu,"


"Kawin sih udah ma, nikahnya aja yang belum," ucap Liam sambil terkekeh.


Mama mendengar itu lalu melotot dan memandang anaknya yang nakal itu, sudah menjauhinya melangkah ke arah luar.


"Liam, mama belum selsai bicara !" Teriak mama.


Liam hanya melambaikan tangan, dan tersenyum ke arah sang mama tercinta.


"Dasar anak nakal itu keterlaluan, awas kamu enggak nikahin tu bocah," ucap mama kesal.


***********