Memories

Memories
Bab 11



Dian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru area rumah. Rumah ini memiliki halaman luas penataan area kebun tertata rapi. Semenjak ada Liam, ia tidak pernah pulang tepat waktu. Laki-laki itu pasti mengajaknya keluyuran. Liam memarkir motornya di halaman depan. Laki-laki itu membuka helm yang di kenakannya. Dian melepaskan pelukkanya, dan berdiri. Ia masih memperhatikan rumah bertingkat berwarna putih itu.


"Ini rumah kamu," tanya Dian.


"Bukan, rumah aku di New York, sayang,"


"Jadi ..."


"Ini rumah orang tua aku," ucap Liam, ia melepaskan pengait helm di kepala Dian.


"Owh," ucap Dian, ia tidak bertanya lagi.


"Kamu kan tahu, aku udah lama tinggal di New York, aku juga sudah menetap di sana. Lagian aku disini hanya liburan," ucap Liam lagi, ia meraih tangan Dian, dan membawanya ke pintu utama.


"Iya," Dian mengikuti langkah Liam.


Dian memandang Liam membuka hendel pintu. Ia menyeimbangi langkah Liam, dan lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Rumah seperti pada umumnya, karena rumah ini berada di kawasan komplek elit. Ruangan terlihat sepi, ia melirik Liam.


"Mama dan ayah, lagi di Bengkel. Katanya sih pacarnya Jo, lolos jadi pramugari Garuda Indonesia. Jadi di sana makan-makan gitu lah," ucap Liam.


"Siapa Jo?"


"Kakak aku,"


"Kok kamu enggak ikut," tanya Dian penasaran.


"Ngapain ikut, biasa ajalah, itukan cuman kerjaan, bukan nikah. Aku aja bisa kerja di Jacob's biasa aja. Mama aja yang berlebihan," ucap Liam lagi.


"Owh begitu," ucap Dian.


Liam melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ia membuka hendel pintu, dan ia melirik Dian. Kekasihnya masih tampak tenang. Liam menutup pintu itu kembali setelah Dian masuk.


Ruangan itu berwarna abu-abu gelap, dan semuanya nyaris semua berwarna abu-abu gelap. Ia memandang foto sebesar manusia yang terpajang di atas dinding tempat tidur. Foto itu berwarna putih abu-abu, laki-laki itu tanpa busana, memperlihatkan otot-otot tubuhnya dan serta tato yang terukir lengan kiri itu. Ia pernah melihat foto serupa, ketika ia berada di rumah Liam di New York.


Liam melangkah mendekati Dian, ia tahu kekasihnya itu memperhatikan foto dirinya di sana.


"Sebenarnya aku ikut-ikutan Jo, foto seperti itu. Itu foto dua tahun lalu," ucap Liam lagi, mencoba menjelaskan.


Liam berjalan menuju nakas, ia membuka laci. Ia mengambil kotak kecil di sana, benda inilah yang ingin ia berikan kepada Dian.


Perasaan Dian semakin tidak nyaman, masalahnya ia kini hanya berdua saja dengan Liam. Di ruangan peribadinya si babon ini pula. Ia melihat Liam, mengikat rambutnya seperti ekor kuda, dan berjalan mendekatinya. Kilatan mata itu terlihat menyeramkan menurutnya. Dian hanya bisa menelan ludah. Dian mengalihkan tatapannya ke arah pintu satu-satunya di sana. Pintu itulah yang akan ia tuju, jika dirinya tidak merasa aman bersama laki-laki ini. Ia kembali memperhatikan koper berwarna hitam yang berdiri di dekat lemari. Sepertinya laki-laki itu telah siap ke Bali besok.


"Ini untuk kamu," ucap Liam.


Dian hampir terkejut, ketika mendengar suara berat itu, Liam kini tepat di hadapannya. Ia memandang kotak hitam berukuran persegi itu di hadapannya.


"Apa ini," ucap Dian. Dian mengambil kotak itu dengan ragu-ragu.


"Buka aja," ucap Liam lagi.


Dian menarik nafas, dan membuka kotak itu secara perlahan. Dian memandang sebuah jam berwarna hitam. Desain lingkaran berdiameter kecil, tali itu berbahan kulit dan berbentuk simple, ia melihat Guess pada merek di layar itu.


"Jam?" Tanya Dian, ia melirik Liam.


"Iya jam," Liam lalu meraih Jam itu, dan ia memperlihatkan kepada Dian.


"Sini aku pasangin," ucap Liam, ia memasangkan jam tangan itu di tangan kiri Dian.


Jam itu begitu kontras dengan kulit putih itu. Liam tersenyum ketika jam itu sudah terpasang sempurna di pergelangan tangan Dian.


"Kamu sangat pas menggunakannya," ucap Liam lagi.


Dian masih melihat jam tangan itu, ia tidak tahu antara senang atau tidak ketika jam itu sudah melekat di tangannya. Dian melirik Liam, ia laki-laki itu juga menatapnya.


Liam meraih pundak Dian, ia mengelus wajah cantik itu. "Sebenarnya aku mau ngasi ini, ketika besok kita di Bali," ucap Liam jujur.


"Terus kenapa kasih nya sekarang?"


"Karena aku udah enggak sabar lagi untuk kasih ini untuk kamu,"


"Kok warna item," ucap Dian lagi.


"Ya, karena aku suka warna item,"


"Tapi aku, sukanya warna pink, seharusnya kamu beliin aku warna pink, atau yang cerahan dikit lah,"


"Warna item itu keren, dan warna kesukaan aku," ucap Liam, ia mengelus rambut Dian. Rambut itu bergitu lembut, Liam lalu menarik pinggang Dian merapat ke tubuhnya. Sepertinya ia tidak ingin menunggu lama lagi, karena dirinya sudah merindukan kekasihnya ini.


"Tapi ..."


"Tapi apa?" Ucapnya lagi.


"Kamu mau apa," ucap Dian terbata, karena Liam akan bertindak yang tidak ia inginkan.


"Kamu tahu apa yang aku inginkan," ucap Liam, ia mengelus rambut Dian.


Jantung Dian maraton, menatap Liam dari jarak sedekat ini. Dian memegang dada Liam, tubuh itu sedikit keras karena mungkin Liam rajin olah raga teratur. Dadanya begitu bidang, ia menatap bulu-buku halus di permukaan wajah itu secara dekat, alisnya begitu tebal dan tektur rambutnya sedikit kasar.


Dian tidak bisa berbuat banyak, ia juga tidak bisa kabur dari sini. Nyalinya ciut jika sudah seperti ini. Inilah yang ia takutkan berdua jika berdua dengan Liam. Ia tahu Liam akan melakukan hal yang membuatnya ketar-ketir sekaligus merinding.


"Tadi aku habis makan ayam goreng loh," ucap Dian mencoba mencari alasan.


"Terus kalau habis makan ayam kenapa?" Ucap Liam lagi.


"Aku kan belum sikat gigi, kan enggak enak,"


"Enggak apa-apa aku tetap suka," ucap Liam, ia lalu mendekatkan wajahnya.


Ia memandang wajah kekasihnya ini sekali lagi, iris mata itu saling berpandangan. Liam tersenyum dan lalu melumat bibir tipis itu. Walau ia tahu bahwa kekasihnya ini belum siap.


Liam mengecup bibir itu semakin dalam, ia mengabsen deretan gigi Dian. Liam mengecup bibir itu perlahan tapi pasti, ia menunggu Dian, membalas kecupannya. Liam senang karena Dian akhirnya membalas kecupan itu. Liam melumat bibir itu semakin rakus, seakan tidak ada hari esok. Dian sulit menyeimbangi kecupan Liam seperti ini. Jujur jika Liam tidak memeluknya, mungkin tubuhnya sudah jatuh. Tubuhnya tidak sanggup berdiri tegak, seakan seperti agar-agar. Laki-laki ini tahu cara memanjakan wanita. Ia tidak tahu sampai kapan Liam mengecupnya, karena sekarang ia sulit bernafas.


Hingga akhirnya, Liam melepaskan pangutannya. Liam menatap bibir tipis itu membengkak, dan ia memandang iris mata bening Dian. Ia semakin bahagia, ketika wanitanya melakukan itu kepadanya.


Dian punya alasan tersendiri kenapa ia mencurukkan kepalanya di tubuhnya si babon ini, karena ia tidak ingin Liam menciumnya lagi. Andai Liam tidak semenyeramkan ini, sudah pasti ia akan dengan senang hati bermanja-manja.


Liam mengecup puncak kepala Dian, ia peluk tubuh ramping itu. Liam kecup lagi puncak kepala itu berkali-kali. Ia pandang wajah cantik itu, ia dapat menghirup aroma vanila dari rambut Dian.


"Apa yang kamu bawa, di koper itu" tunjuk Dian, ia menyandarkan punggungnya di sisi tempat tidur.


"Credit card, visa, paspor, sendal jepit, pakaian, perlengkapan mandi, camera, dan ******," ucap Liam.


Dian bergidik ngeri mendengar kata ****** di sana, laki-laki itu tersenyum licik kepadanya.


"Tapi lebih enak enggak pakai ******, tapi untuk jaga-jaga aja. Kalau sama kamu, ya aku enggak akan pakai lah," ucapnya lagi.


Dian ingin sekali membunuh laki-laki itu sekarang juga. Ketakutan nya semakin jadi, karena si babon ini berkata terang-terangan.


"Aku mau pulang," ucap Dian, ia tidak ingin terlibat percakapan itu terlalu jauh.


Liam tersenyum, ia tahu wanitanya itu mengalihkan percakapannya. Liam melirik jam menggantung di dinding menunjukkan pukul 20.10.


"Masih jam delapan, ngapain buru-buru, biasa kita pulang jam sebelas," ucap Liam, ia menyeringai nakal kepada Dian.


"Tapi aku mau pulang," ucap Dian, ia menatap Liam, mencoba memohon dengan si babon ini.


Liam menarik nafas, dan ia memandang wajah cantik itu. Liam lalu dengan cepat mengurung tubuh Dian. Dian hanya bisa menelan ludah, ada perasaan takut menyelimutinya. Posisi tubuh Liam tepat di atasnya.


"Aku mau tidur dengan kamu,"


Mata Dian terbelalak, mendengar ucapan Liam.


"Kamu harus mau, nanti di Bali," ucapnya lagi.


Oh Tuhan, ia tidak tahu akan berbuat apa. Sumpah ia ingin pingsan mendengar penuturan itu. Liam mengecup bibir tipis itu sekilas, dan lalu tersenyum penuh arti.


"Kamu takut,"


"Iya," ucap Dian pelan, nyaris berbisik.


"Jangan takut lah, kan sama aku,"


"Ih..."


Liam lalu tertawa melihat kekasihnya seperti ini. Sungguh wanita ini sangat menggemaskan. Betapa senangnya ia menggoda wanita cantik ini.


********