Memories

Memories
Bab 23



Selama Liburan memang menyenangkan, akhirnya mereka kembali pulang ke Jakarta. Dian mulai memikirkan kata-kata Ayana dan Linggar. Ia harus memikirkan hati dan perasaanya terhadap Liam. Pacaran merupakan tolak ukur seberapa besar dirinya mencintai seseorang. Ia tidak ingin ambigu seperti ini. Ia ingin membina hubungan yang serius, hingga ke jenjang pernikahan.


Ya, pada awalnya dirinyalah yang memulainya, setelah ia mengetahui Liam itu siapa dari sahabatnya, dan ia mulai ketakutan sendiri pada akhirnya.


Jika putus, adalah alasan terkuat untuk, ia mengetahui perasaan ia terhadap laki-laki itu. Kenapa ia tidak mencoba memulainya. Ia harus berpikir logis, pengorbanan ini, akan menjadi pembelajaran bagaimana cara mencintai.


Ia tahu betul bahwa cinta adalah sesuatu yang kita miliki. Jika dirinya merasa, tidak rela melepaskan sesuatu yang telah ia miliki, maka ia benar-benar mencintai. Konsep cinta yang ia miliki memang cukup simpel, saling memiliki, menjaga dan melindungi. Bukan seperti ketakutan yang ia rasakan seperti ini.


Dian memandang langit-langit plafon, lalu kembali menatap layar monitor. Oh Tuhan apa yang harus ia lakukan terhadap si babon ini. Masa hubungannya harus seperti ini terus. Kata-kata Ayana memang harus ia pikirkan. Sebelum laki-laki itu pulang ke New York, ia harus tahu bagaimana perasaanya terhadap si babon ini. Semoga saja si babon ini mengerti atas tindakkannya.


"Dian,!"


Dian mengerutkan dahi, ia menyadarkan lamunanya. Ia mengalihkan tatapannya ke arah sumber suara. Ia memandang sang atasan, tepat di hadapannya dengan posisi melipat tangan di dada.


"Eh, bapak," ucap Dian, ia lalu meletakkan pulpen di meja. Ia tidak tahu, sejak kapan atasannya di hadapannya ini.


"Kamu tidak dengar panggilan saya," ucapnya datar.


Oh Tidak, betapa menyeramkan atasannya ini, tanpa senyum dan dingin. Anehnya Ia selalu dikelilingi dengan laki-laki menyeramkan. Atasannya terkenal dengan sifatnya yang tidak punya hati, selalu mengambil keputusan semaunya sendiri. Liam juga sama tidak kalah seramnya, karena tindak kan catatan kriminalnya terhadap wanita. Anehnya lagi ia terperangkap dengan dua laki-laki seperti ini.


"Maaf pak," ucap Dian.


"Kamu tidak pulang?" Tanya Tibra.


"Eh," Dian mengalihkan pandangannya ke arah, jam yang melingkar di tangannya. Menunjukkan pukul 16.11 menit. Dirinya terlalu banyak melamun, sudah saatnya ia pulang.


"Iya, pak ini mau pulang," ucap Dian, ia lalu segera mematikan komputer.


Sedetik kemudian, ia lalu mengambil tas miliknya di filling cabinet. Dian menegakkan tubuhnya, dan memandang sang atasan. Setelah sang atasan keluar, ia lalu menutup pintu itu kembali. Ia menyeimbangi langkah atasannya, dan berjalan menuju pintu lobby.


Dian menghentikan langkahnya, karena sang atasan berhenti tepat di depan pintu. Ia lalu menoleh ke arah Dian.


"Jadi itu pacar kamu," ucap Tibra, ia memandang laki-laki, berambut gondrong, yang tidak jauh darinya. Ia pernah melihat Dian pulang bersama laki-laki itu kemarin.


Dian hanya Diam, ia memandang Si babon tidak jauh darinya. Terlihat jelas wajah itu tidak suka, mata tajam itu menatapnya intens.


Tibra melirik Dian, ia tidak percaya. Ternyata tipe laki-laki sekretarisnya yang cantik ini, di luar dugaanya. Ia pikir Dian, memiliki kriteria khusus dalam memilih pasangan, misalnya eksekutif muda, model, pilot atau banker, dengan penampilan menawan, berpakaian rapi, rambut teratur dan tampan. Lihatlah laki-laki itu, memiliki tato di lengan kiri, dengan rambut gondong. Itu benar-benar di luar expetasinya. Pantas saja ia tidak pernah melihat Dian, memiliki pacar sebelumnya. Laki-laki itulah pujaan hati, Dian.


Ia tahu, bahwa cinta itu pilihan, yang harus di perjuangkan. Cinta itu panggilan hati, yang harus ia rasakan setiap detiknya. Tidak ada seorang pun yang berkehendak, dengan siapa ia harus jatuh cinta.


Tibra tersenyum, kepada Dian, Inilah sekretaris yang bertahan cukup lama terhadap dirinya. Sekretarisnya ini cukup baik menjalani tugas, dan banyak sekali membantu dirinya. Termasuk pekerjaan yang di luar job desk sekretaris.


"Saya tidak menyangka bahwa kamu sukanya dengan laki-laki berambut, gondorng, tatoan seperti itu. Tapi keren motornya, saya suka," ucap Tibra lagi.


Tibra mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki berambut gondrong itu. Tatapan itu terlihat sangat tidak suka terhadap dirinya.


"Salam kenal buat pacar kamu. Bilang kepadanya, kita tidak lebih dari rekan kerja, saya masih mencintai istri saya. Terlihat jelas, pacar kamu ingin membunuh saya," ucap Tibra, ia menahan tawa, ia lalu melangkah menjauhi Dian, menuju mobilnya.


Oh Tuhan, atasannya saja bisa bicara seperti itu kepadanya. Ia menilai sendiri kekasihnya itu seperti apa. Dian melangkah mendekati Liam, yang telah menunggunya.


Jujur ia tidak suka, jika ada laki-laki bersama kekasihnya. Ingin sekali ia membunuh laki-laki itu. Lihatlah laki-laki itu berbincang-bincang kepada Dian. Jika semenit saja laki-laki itu tidak pergi dari hadapan Dian, ia pastikan akan kesana dan mengatakan jangan pernah mendekati kekasihnya.


Dian kini sudah di hadapannya, ia lalu mengecup puncak kepala itu.


"Tadi itu siapa hemm," ucap Liam dingin, setelah melihat laki-laki itu menghilang dari pandangannya.


"Atasan aku," ucap Dian.


Alis Liam mengerut, ia tidak menyangka bahwa sang kekasih, bekerja dengan laki-laki tampan itu. Ia tahu bahwa sang kekasih berprofesi sebagai seketaris. Mereka berada di ruangan yang sama, berdua pula. Oh Tidak, ia tidak dapat membiarkan Dian bekerja dengan laki-laki itu lagi.


"Aku tidak suka kamu bekerja dengannya," ucap Liam dingin.


"Kenapa? Kan aku yang kerja, bukan kamu," ucap Dian lagi.


"Kalian berdua masih muda, terus satu ruangan lagi. Ya aku, sebagai kekasih kamu enggak suka lah, melihat kebersamaan kalian," ucap Liam, ia mengambil helm dan ia pasang di kepala Dian.


"Aku kerja sama dia udah tiga tahu. Aku pakek baju seksi sekalipun, atasan aku enggak bakalan tergoda, karena tipenya bukan kayak aku," sungut Dian.


"Dia gay,"


"Bukan,"


"Terus apa, kalau bukan gay, sama kamu yang cantik ini aja enggak tertarik, ketemu tiap hari lagi," timpal Liam.


"Kalau dia tertarik sama aku, ya dia orang pertama yang aku pacari kali. Lah ini, boro-boro mau ngelirik aku, ngajak makan siang berdua aja enggak pernah,"


Ada perasaan lega mendengar pernyataan Dian.


"Atasan kamu sudah menikah," ucap Liam, ia lalu duduk di jok motor.


"Sudah, aku yang ngurus nikahnya," Dian duduk, dan lalu memeluk tubuh Liam dari belakang.


"Kok kamu? Aku yakin dia bisa menyewa jasa WO ternama, tanpa merepotkan kamu," Liam menoleh ke arah Dian.


"Dia nikahnya dibawah tangan. Keluarganya enggak ada yang tahu. Aku yang jadi saksi pernikahan mereka,"


"Kawin lari maksud kamu,"


"Iya gitu deh,"


"Cantik istrinya,"


"Cantik sih, mirip Linggar gitu deh,"


"Owh gitu," ucap Liam, ia lalu menghidupkan mesin motornya.


"Tadi dia ngomong apa sama kamu,"


"Aku lihat Dia, ngomong sama kamu di depan lobby tadi,"


"Owh itu, atasan aku mengatakan bahwa aku dan dia, tidak lebih dari rekan kerja, dia masih cinta sama istrinya, dan kamu tidak perlu cemburu,"


Liam tersenyum mendengar itu, "Yakin itu aja,"


"Iyalah apalagi,"


Liam menarik nafas dan ia lalu menghidupkan mesin motornya, meninggalkan area gedung kantor itu.


********


Seperti biasa Dian dan Liam, sepulang kerja Liam mampir ke restoran Amerika, di kawasan kemang. Dian makan dalam diam, ia memotong daging steak, dan ia masukkan daging itu kedalam mulutnya. Dian melirik Liam, ia harus mengatakan sejujurnya kepada laki-laki ini. Apa yang ia pikirkan sejak tadi pagi.


"Aku boleh ngomong enggak," ucap Dian, ia melirik Liam.


"Mau ngomong apa hemm," ucap Liam, ia menatap Dian.


"Tapi kamu jangan marah,"


"Tergantung,"


Dian menarik nafas dalam-dalam, ia memandang si babon itu,


"Kita boleh putus enggak," ucap Dian pada akhrinya.


Liam mendengar itu lalu menghentikan aktivitas makannya. Ia mendengar cukup jelas, apa yang di katakan sang kekasih. Ia sulit percaya apa yang di katakan Dian. Kata-kata itu bukanlah hal yang ia inginkan.


"Putus?" Ucap Liam, ia meneguk air mineral di hadapannya.


"Ya, kalau boleh,"


"Kamu punya pacar baru?" Tanya Liam.


"Enggak, cuma kamu pacar aku,"


"Apa alasan kamu ingin putus dari aku?" Ucap Liam, lagi. Ia tahu bahwa kekasihnya ini mencintainya, mereka dua orang yang saling mencintai, untuk apa putus seperti ini. Wanita di hadapannya ini membutuhkan laki-laki seperti dirinya.


"Untuk mastiin aja, bahwa aku beneran cinta atau enggak sama kamu. Kalau boleh sih, kalau enggak boleh, ya enggak apa-apa," ucap Dian lagi.


"Kok gitu," ucap Liam.


"Gini, kalau putuskan akunya, sedih, galau, nangis-nangis, itu berarti tandanya aku cinta sama kamu,"


Alis Liam terangkat, ia ingin sekali mencekik kekasihnya yang cantik ini. Jelas aja ia tidak mau putus seperti ini. Bagianya Dian wanita satu-satunya yang harus ia perjuangkan.


"Ya, kebanyakan gitu,"


"Dari mana kamu dapat teori seperti itu,"


"Dari Ayana sama Linggar," ucap Dian lagi.


Liam memandang kekasihnya itu cukup intens. Memastikan ucapan sang kekasih, sebenarnya ia ingin tertawa, putus seperti ini memang terlihat aneh menurutnya. Emang ada putus dengan alasan seperti itu. Ia sungguh gemas dengan wanita di hadapannya ini, cantik-cantik tapi polosnya kebangetan. Masa ia mengikuti teori dua bocah yang masih berstatus mahasiswa itu.


"Kalau kamunya enggak galau, atau enggak nangis-nangis gimana?,"


"Ya, enggak kenapa-napa. Kasih aja waktu seminggu,"


"Dengar sayang, Kamu itu cinta sama aku, tiap kali aku cium, kamu juga selalu balas, Iya kan !. Hayoo, yang nembak duluan kan kamu, di New York. Aku bersikap seperti ini, karena kamu kekasih aku, yang aku sayangi di dunia ini,"


"Ih, jangan di bahas lagi,"


"Beneran mau putus," tanya Liam sekali lagi, ia ingin menyakinkan sang pujaan hati.


"Di coba aja dulu," ucap Dian lagi.


"Berapa lama," tanya Liam.


"Paling lama seminggu deh, kalau aku kuat lah,"


"Jangan salahkan aku, kalau aku berpaling dengan wanita lain, ya sayang,"


"Emang kamu udah punya gebetan baru," belum apa-apa ia sudah belum terima jika si babon ini ada pengganti dirinya. Ia tidak bisa membayangkan ada wanita, yang memeluk tubuh si babon ini dari belakang.


"Banyaklah yang mengantri di belakang kamu, cantik-cantik lagi," ucap Liam.


"Siapa,"


"Mario, buktinya,"


"Ih kok gitu," ucap Dian.


Liam mengusap tisu pada bibirnya, ia melirik Dian dan ia lalu berdiri.


"Kamu mau kemana?" Tanya Dian.


"Mau pergilah,"


"Pergi kemana,"


"Ya terserah aku lah mau kemana, kamu lupa bahwa kita udah putus," ucap Liam, ia meninggalkan Dian begitu saja.


Dian mendengar itu lalu ingin menangis, entahlah ada perasaan kesal mendengar ucapan si babon ini.


********