Memories

Memories
Bab 39



Dian melangkah menuruni tangga, ia tersenyum memandang Liam. Sepertinya laki-laki itu penuh harap menanti kedatangannya. Jujur Liam nampak gagah, tato di tangan kiri itu telah tertutupi dengan kemeja putih. Rambut panjang di ikat ke belakang. Ia bersyukur bahwa Liam telah merapikan brewoknya. Sekarang terlihat jelas wajah itu ternyata tampan, ia suka setruktur rahang tegas yang di miliki Liam. Sungguh ia ingin sekali memeluk si babon, dan menyatakan bahwa ia benar-benar merindukannya.


Sedetik kemudian Liam membalas tatapannya. Ia tahu bahwa dengan pandangan itu mengartikan bahwa dia juga merindukannya. Laki-laki itu lalu tersenyum kepadanya. Senyuman itu begitu manis, dan ia ingin mengatakan bahwa dirinya bahagia.


Acara pun di mulai, pertama-tama kata sambutan, di tujukan kedatangan keluarga besar calon mempelai laki-laki. Juru bicara pertama di wakili Tatang, dengan mengucapkan selamat datang, dan memperkenalkan diri anggota keluarga sebagai tuan rumah. Juru bicara selanjutnya adalah Jo, dari pihak laki-laki, memperkenalkan diri sebagai pihak mempelai laki-laki.


Juru bicara dari pihak laki-laki, menjelaskan kedatangan mereka, untuk meminang calon mempelai wanita secara formal. Sebagai kesimpulan pertunangan ini adalah komitmen dan ketetapan hati ke dua mempelai. Pinangan dari pihak laki-laki pun di terima.


Acara selanjutnya pihak dari laki-laki memberikan seserahan kepada pihak wanita. Acara inti adalah pemasangan cincin ke dua mempelai. Mama Liam menyematkan cincin kepada Dian. Begitu juga sebaliknya mama Dian, menyematkan cincin kepada Liam. Suasana haru menjadi satu, dan nampak berbahagia.


Acara penutupan, berdoa bersama, agar segala sesuatu dapat berjalan dengan lancar. Dian dan Liam lalu berdiri, acara sesi foto bersama. Liam dan Dian memamerkan cincin yang melingkar di tangannya, di depan camera.


Liam melirik Dian, ia tidak menyangka bahwa kepulanganya ke Jakarta ternyata meminang wanita cantik, yang di temuinya di New York tanpa sengaja. Meminang wanita seperti ini, di luar prediksinya, karena memang ia tidak merencanakan. Bahkan ia telah melompati saudaranya Jo. Entahlah ia tidak tahu berkata apa lagi, selain rasa bahagia yang tidak bisa ia bendung. Semua proses yang ia jalani dengan Dian, seakan berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Ia bahkan tidak menyangka mencapai tahap serius seperti ini.


Jodoh itu memang misteri, prihal yang tidak ada habisnya untuk di bahas. Lihatlah para pencipta lagu dan novel-novel romantis, selalu membahas tentang jodoh, dan dua insan memadu kasih, yang selalu laku dijual di pasaran. Jodoh itu memang tidak bisa di tebak, kapan, siapa dan bagaimana awal mereka bertemu.


Jika di flasback, masa-masa ia dekat dengan wanita, tidak ada satupun yang mendekati keseriusan seperti ini. Ia dulu pernah hampir menikahi wanita bernama Siska, yang ia pacari dua tahun lamanya, tapi ternyata berakhir kegagalan.


Semenjak itu, menikah adalah suatu angan-angan saja. Tidak ada sedikitpun ia untuk merencanakan dan memikirkannya. Tapi jodoh berkata lain, dalam beberapa bulan ia di pertemukan dengan wanita. Wanita inilah yang akan menjadi belahan jiwanya. Kini ia tahu, bahwa apa yang selalu di rencanakan tidak semua berjalan sesuai dengan harapan.


Buktinya wanita cantik di sampingnya inilah tulang rusuknya yang ia cari selama ini. Awalnya tidak ia rencanakan, bahkan tidak terlintas mau meminang, ataupun menikahinya. Jodoh memang tidak bisa ditebak, apalagi untuk di pesan lewat online. Inilah kejutan dari kisah perjalanan panjangnya, bersama seorang wanita.


Mungkin dulu ia pernah bertanya-tanya tentang sakit hati yang pernah di alaminya, kapan ia akan di pertemukan dengan wanita yang tepat. Jodoh dirinya memang tidak di awali dengan cinta, maka kisah cintanya akan di mulai pada malam ini.


"Aku bahagia malam ini," ucap Liam, meraih tangan Dian.


"Ya, aku juga bahagia,"


"Kamu mau tahu enggak?" Ucap Liam.


"Apa,"


"Kamu itu cantik sekali malam ini hemm," ucap Liam.


"Apakah kemarin aku enggak cantik,"


"Tapi malam ini kamu cantik sekali, dan bahkan aku anggak berkedip ketika kamu turun dari tangga tadi,"


Dian tersenyum, ia memandang iris mata tajam itu, "Kamu mau gombalin aku kan,"


"Enggak,"


"Terus apa?" Ucap Dian.


"Ada yang harus aku kasih tahu kamu," ucap Liam.


"Apa itu,"


Liam lalu mendekatkan wajahnya ke telinga kiri Dian, "Aku cuma mau bilang, tolong ambilin aku nasi, aku lapar. Sepanjang hari tadi aku kepikiran kamu terus, sampai aku lupa makan,"


Dian seketika tertawa, ia melirik Liam, "Ya, ampun, kenapa enggak bilang dari tadi," ucap Dian.


"Aku ingin kamu yang ambilin," ucap Liam.


"Bilang aja malu, kalau ambil sendiri," ucap Dian sambil terkekeh,


Liam mengerutkan dahi, "Malu?"


"Malu karena rame,"


"Ya, siapa tahu aja, malu mau ambil nasi gitu,"


"Ya, enggaklah, aku mau diambilin sama tunangan aku,"


"Sebentar aku ambilin," ucap Dian, melangkah menjauhi Liam.


Liam dengan cepat menarik pergelangan tangan Dian. Otomatis tubuh Dian mendekat. Dian tidak percaya apa yang di lakukan Liam terhadap dirinya. Kini Liam memeluknya, tepat dikeramaian tamu diruangan ini.


Jantung Dian maraton, atas apa yang di lakukan Liam. "Apa yang akan kamu lakukan," ucap Dian pelan, berusaha melepaskan tangan Liam, yang melingkar di pinggangnya.


"Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bukan laki-laki yang tidak tahu malu, seperti apa yang kamu katakan tadi," ucap Liam datar.


"Apa maksud kamu," debaran jantungnya semakin jadi.


Sementara banyak pasang mata, memandang ke arah Liam dan Dian. Menyaksikan adegan sepasang dua insan yang baru saja berkomitmen itu. Karena ini adalah acara ramah tamah yang tengah berlangsung.


"Sepertinya aku sudah lama tidak melakukan ini di depan umum," ucap Liam.


Mata Dian nyaris melotot mendengar pernyataan Liam. Liam benar-benar gila, melakukan di depan keramaian seperti ini.


"Kamu tahu maksud aku," ucap Liam,


"Jangan bilang kamu akan mencium aku di tengah acara berlangsung ini," gumam Dian, karena Liam adalah salah satu laki-laki yang benar-benar nekat.


Alis Liam terangkat dan lalu tersenyum licik.


"Ternyata kamu tahu apa yang akan aku lakukan,"


"Kamu enggak lihat, di sini ramai, bahkan belum ada satupun mereka yang berniat untuk pulang," ucap Dian, dan masih berusaha melepas tangan Liam dari pinggangnya.


"Aku hanya ingin membuktikan bahwa, aku adalah laki-laki sejati,"


"Jangan pernah lakukan itu di sini,"


"Tapi aku mau melakukannya," ucap Liam penuh penekanan.


"Tapi jangan di sini juga," ucap Dian, mencoba memperingati Liam.


"Di sini lah aku, membuktikan bahwa kamu benar-benar milik aku,"


"Liam, kalau di Bali kemarin aku masih bisa maklum disaksikan teman-teman kamu. Tapi di sini ada ke dua orang tua kita, tolong ngerti," ucap Dian.


"Sepertinya beliau akan mengerti, kenapa aku melakukan ini,"


"Kamu benar-benar gila," ucap Dian hampir frustasi.


"Sepertinya akan seru jika kita membuat pertunjukkan seperti ini, tepat di hari pertunangan kita," ucap Liam.


Ia tidak tahu, sejak kapan Liam sudah melumat bibirnya, dengan percaya diri seperti ini.


Banyak pasang mata tidak percaya apa yang di lakukan ke dua insan yang baru saja telah melakukan tukar cincin.


"Cepat nikahi mereka berdua,"


************