
"Yan, gue kayaknya enggak bisa ikut lo,"
"Kenapa?" Tanya Dian, padahal ia bisa berharap Rene ikut dengannya.
"Cuti gue enggak di acc, gue juga banyak kerjaan" ucap Rene, itulah yang ia ingin kasih tahu dengan sahabatnya ini kemarin. Tapi dirinya malah terjebak dengan Tatang.
"Yah, sayang banget lo enggak bisa ikut. Kok gitu banget sih manager lo, Ren," sungut Dian.
"Yah, mana gue tau. Tapi lo kan sama si babon itu Ren. Lagian katanya lo pergi rame-rame, sama teman si babon itu. Gue kan enggak enak, malah ganggu lo entar," ucap Rene, mencoba menjelaskan kepada sahabatnya.
"Iya deh," ucap Dian, ia juga tidak memaksa sahabatnya untuk pergi bersama. Dian menyesap cokelat hangat yang ia beli di indomaret tadi.
Rene mengibaskan rambutnya ke belakang, "lo tadi malam ke mana sih Yan, gue balik kerja, langsung ke rumah lo. Tapi lo nya enggak ada,"
"Gue kemarin, nemenin si monyet itu ke mall, nyari perlengkapan untuk ke Bali," ucap Dian.
"Maaf deh, gue enggak ngasih tau lo. Tapi biasanya lo ngubungin gue kalau mau ke rumah," ucap Dian lagi.
"Hape gue mati tau," ucap Rene.
"Tumben mati, enggak bawa powerbank,"
"Enggak,"
"Owh,"
Rene menarik nafas, ia menatap Dian, ia akan bertanya serius dengan sahabatnya ini, "Ren, saudara lo itu udah punya pacar enggak sih?" Tanya Rene penasaran.
Dian mengerutkan dahi, "kenapa tiba-tiba lo nanya setatus mas Tatang,?"
"Ya, nanya aja, kemarin aku enggak sengaja ketemu dia di rumah lo,"
"Jangan-jangan lo naksir sama mas Tatang, ya," ucap Dian mulai menyelidiki.
"Ya, jawab dulu dong,"
"Gue kurang tau, dulu sih ada. Tapi sekarang kayaknya enggak ada. Kalau lo suka sama mas Tatang enggak apa-apa. Mas Tatang baik kok, cakep lagi, duitnya banyak, dia kan manager di Bank Central," ucap Dian, mencoba mempromosikan saudaranya itu.
Rene tersenyum mendengar pernyataan Dian, "baguslah kalau begitu," ucap Rene.
"Jadi lo mau sama mas Tatang? Nanti gue salamin sama dia. Lo bisa tukeran nomor Hp, dan lo bisa chating chatingan deh sama mas Tatang," Dian menyenggol bahu Rene.
"Eh, enggak usah, enggak perlu," ucap Rene, padahal tadi malam ia udah tukeran nomor ponsel. Diannya aja yang enggak tahu, Rene hanya terkekeh dalam hati.
*********
Selama si babon ini masih di Jakarta, Dian sepertinya harus membawa celana jins. Pasalnya Liam selalu menjemputnya mengenakan motor kebangganya itu. Sekarang ia sudah seperti anak motor sejati. Citra dirinya sebagai sekretaris feminim, sexy, dan cantik, kini sudah hilang, berganti menjadi anak motor. Mau gimana lagi, ia menyeimbangi si babon yang menyebalkan ini. Ia juga tidak sanggup untuk berdebat agar si monyet ini menggunakan mobil.
"Mau makan di mana hemm?" Tanya Liam, ia masih fokus dengan setir motornya.
"Aku mau makan lamongan," ucap Dian.
Jujur semenjak bersama si babon ada di Jakarta, dirinya selalu makan di restoran Amerika, Prancis, Italia, makanan-makanan itu sungguh membosankan menurutnya. Entahlah laki-laki ini lidahnya sudah berubah berganti dengan selera ala ala barat itu, tapi sumpah tampangnya enggak ada bule sama sekali. Jujur dirinya memang lebih suka dengan masakan Indonesia yang kaya akan rempah-rempah, dari pada restoran western selera si babon ini. Ngeselin banget makan keju, daging, kentang, ya rasanya hambar-hambar gitu lah.
"Makan lamongan?" Tanya Liam, ia tidak terlalu suka makan di pinggir jalan pilihan kekasihnya ini.
"Iya aku mau makan pecel lele," ucap Dian lagi.
Liam lalu menepikan motorny tepat di pinggir jalan. Ia menoleh ke arah kekasihnya. Ia tidak percaya bahwa kekasihnya suka makan yang tidak ia sukai itu.
"Pecel Lele?"
"Iya,"
"Jujur aku enggak suka makan ikan berkumis itu," ucap Liam, ia mematikan mesin motornya, ia memandang iris mata Dian.
"Disana ada menu lain kok, ada bebek, ayam, dan ikan gurame, juga ada," Dian memberi opsi kepada Liam.
"Tetap saja ikan jelek itu di goreng dengan minyak yang sama, dengan teman-temannya,"
"Kamu cantik-cantik, selera makannya kayak gitu," ucap Liam.
"Emang kalau cantik, enggak boleh makan Lele,"
"Ya, setidaknya kelasan dikitlah kalau makan, masa sukanya makanan Lele di tepi jalan lagi. Kalau sate aku masih maklum,"
"Aku sama Rene biasa makan itu kok," ucap Dian lagi.
Liam memegang dagu Dian, ia menatap keseluruhan wajah cantik itu. Ia memandang mata bening secara intens, ia memperhatikan alis yang terukir sempurna di wajah cantik itu,
"Kamu boleh pilih makanan apa saja, asal jangan makan ikan jelek dan berkumis itu. Karena aku enggak suka,"
"Saharusnya kamu itu harus suka, kan kamu sama lele hampir sama, item dan kumisan juga," sungut Dian, ia sengaja mengecilkan volume suaranya.
Liam memicingkan matanya, ia mendengar gerutuan Dian. Walau wanita itu berbicara sangat pelan.
"Kamu nyamain aku dengan Lele. Terus makanya kamu suka sama Lele," ucap Liam.
Dian mengerutkan dahi, ia sulit mencerna kata-kata itu, dan ia hanya diam. Ada makna tersirat dari ucapan itu. Dian tidak berani membantah ucapan si babon ini, karena mata elang itu memandangnya intens.
Liam tersenyum dan lalu tertawa menatap wajah cantik itu, "Aku sekarang membebaskan kamu pilih untuk makan di mana saja, tapi tidak untuk si Lele itu, sayang, "
Dian tidak membantah, jika sudah mendengar peringatan si babon itu. Entalah ia sungguh takut ketika suara berat itu memperingatinya.
"Yaudah makan ayam krispi aja," ucap Dian pada akhirnya.
Alis Liam terangkat, mendengar penuturan Dian, "Setidaknya makan itu lebih baik, dari pada makan ikan jelek itu," ucap Liam. Ia menghidupkan mesin motornya kembali.
********
Liam dan Dian duduk di salah satu sudut ruangan. Ia melirik kekasihnya sedang mencubit ayam dan ia colet daging ayam itu ke saus sambal. Sementara Liam memakan burger yang di pesannya.
"Perlengkapan untuk ke Bali sudah siap?" Tanya Liam, ia masih memperhatikan Dian makan.
"Belom sih, tapi aku sudah ngasi tau papa dan mama. Besok mau ke Bali bareng kamu," ucap Dian, ia memasukan daging ayam itu di mulutnya.
"Terus orang tua kamu jawab apa?" Tanya Liam penasaran.
"Ya, boleh. Papa dan mama sih terserah aku mau kemana, ya kayak enggak peduli lagi. Mau aku ke New York sendiri juga boleh,"
"Kok gitu,"
"Entahlah, dulu kecil aja akunya di jaga ketat banget. Sekarang malah di biar-biarin, enggak marah aku pulang malam, bareng kamu lagi. Seharusnya beliau marah dong, aku jalan sama laki-laki tampangnya kayak kamu," sungut Dian.
"Berarti orang tua kamu percaya sama aku,"
"Eh," Dian sadar lalu menatap si babon ini, laki-laki itu tersenyum menatapnya. Ada kilatan mata jahil di wajah menyeramkan itu.
Liam melirik jam melingkar di tangannya, menunjukkan pukul 17.30 menit. Jika ia tahu bahwa si cantik ini tidak apa-apa pulang malam, ia akan mengajaknya ke rumah. Sungguh ia sudah merindukan bibir cerewet itu. Ia tidak akan menunggu hingga besok di Bali.
"Nanti ke rumah aku dulu y, bentar," ucap Liam, mengedipkan matanya.
"Ngapain ke rumah kamu,"
"Ya, kangen-kangenan lah sama kamu," ucap Liam.
Dian mendengar itu, lalu menghentikan makannya. Ia menatap Liam, mencoba mengartikan apa maksud si babon ini,
"Kalau aku enggak mau," ucap Dian, mencoba menolak.
"Aku ada hadiah dari New York untuk kamu, kamu pasti suka" ucap Liam.
"Kamu, enggak perlu repot-repot kasih hadiah untuk aku. Kasih aja sama teman-teman kamu yang belum pernah ke New York," ucap Dian lagi.
"Di coba aja dulu, kamu pasti suka," Liam mengedipkan matanya, mencoba menggoda kekasihnya.
*********