Memories

Memories
Bab 19



Sore harinya, Liam memutuskan untuk ke Uluwatu. Jarak dari villa tempatnya menginap, ke Uluwatu memakan waktu satu jam. Kini mereka tiba di komplek pura Uluwatu. Pura Uluwatu yang terletak di atas tebing tinggi. Para pengunjung di suguhi pemandangan laut selatan, dari kawasan pura Uluwatu. Dari sekian banyak tarian kecak di Bali, tempat yang paling favorite wisatawan menonton pertunjukan tari, tepatnya di pura Uluwatu. Mungkin karena latar belakang pemandangan itulah yang menjadi datanya tarik tersendiri, sekaligus bisa menikmati sunset. Harga tiket kecak Uluwatu, seharga seratus ribu rupiah per orang. Liam dan Dian mendapat tempat duduk terbaik, tepat berada di tengah tangga. Tidak hanya ia sendiri disini, tapi banyak rombongan turis dari China, India dan Australia, nampak mendominasi di teater. Dian melirik Liam, si babon itu mengikat rambutnya ke belakang. Setelah itu laki-laki itu memeluk bahunya.


Pertunjukkan di mulai pukul 18.00, Dian memandang sekitar, tujuh puluh laki-laki mengenakan kain poleng memasuki Arena, sambil mengumandangkan suara, "cak...cak...cak". Kemudian membentuk sebuah barisan melingkar. Setidaknya ia tahu peran peran penari itu. Para penari memerankan Ramayana, seperti Rama, Shinta, Rahwana, dan tokoh-tokoh lainnya. Setelah itu ada permainan api, inilah yang membuat tari kecak memiliki kesan sakral.


Adegan demi adegan berlangsung cepat, salah satu moment paling magis adalah ketika Hanoman dikelilingi sabut kelapa. Menjelang akhir acara, Rahwana menghambur ke tengah Arena mengajak para pengunjung. Celotehan Rahwana menuai gelak tawa, terutama warga asing. Pertunjukkan itu membuat tidak membosankan, menurutnya. Semua para penonton bertepuk tangan puas. Banyak juga mendatangi Hanoman bersalaman dan berselfie. Termasuk dirinya dan Liam melakukan hal yang sama.


Setelah menyaksikan itu, mereka memutuskan untuk makan malam di Warung di Alila Villas Uluwatu, karena jaraknya memang dekat dengan lokasi tersebut. Ketika masuk lobby, ia di suguhi detail desain yang artistik, tertata rapi dari sudut pandang manapun. Ia sempat terpana dengan desain atap villa dengan batu vulkanik. Di sini menyajikan makanan tradisional Bali dan menu makanan khas Indonesia.


Ruang outdoor merupakan pilihan yang tepat untuk makan malam. Resort yang terletak di atas tebing uluwatu, pemandangan laut memang tidak nampak, karena memang hari sudah gelap, hanya terdengar suara ombak di sana. Highlight, serta tempatnya yang nyaman dan terbuka. Angin berhembus menerpa wajahnya. Liam melirik Dian, kekasihnya itu makan dalam diam, begitu juga dengan yang lainnya. Liam mengelus punggung Dian, karena wanitanya memang mengenakan baju bertali spaghetti. Dian menatap Liam, si babon itu telah mengakhiri makannya.


"Makan yang banyak," ucap Liam.


"Iya," ucap Dian, sambil memakan sate yang di pesannya.


Liam memandang seseorang yang tidak jauh darinya. Ia mengenal wanita itu, dan di berinya senyuman itu kepadanya. Wanita itu berjalan mendekatinya.


Dian lalu menoleh ke arah Liam, laki-laki itu nampak tersenyum kepada seseorang di sana. Ia tahu siapa wanita itu, wanita itu adalah Mario, host My Traveler, karena dirinya menonton acara tersebut setiap hari minggu pagi. Acara tersebut tentang mengexsplore alam, mempunyai reting yang tinggi, bahkan acara tersebut akan di angkat ke layar lebar.


"Liam," ucap wanita itu.


Seketika ke empat teman-temannya memandang kehadiran wanita itu. Linggar dan Ayana mengerutkan dahi, sepertinya ia tidak percaya apa yang di lihatnya. Mereka semua mengenal wanita itu.


"Hey, Mario," ucap Liam, ia lalu berdiri.


"Kamu balik ke Indonesia," ucapnya antusias.


"Ya, biasa liburan," ucap Liam.


Dian memperhatikan wanita bernama Mario itu, wanita itu berkulit exotis, menandakan bahwa wanita itu menyukai kegiatan alam. Bukan seperti dirinya yang berkulit pucat, yang siklus hidupnya, hanya di kantor, mall, dan rumah. Wanita itu berambut keriting, hidungnya mancung, dan dagunya lancip. Ya wanita itu, memang cantik menurutnya, tubuhnya lebih tinggi dari dirinya. Ia berharap si babon ini menyukai wanita ini, dan ia akan segera putus. Itulah harapannya, jadi sekarang ia bersikap biasa-biasa saja, atas kehadiran wanita itu.


"Eh ya, perkenalkan ini pacar aku," ucap Liam, ia memperkenalkan Dian kepada Mario.


Dian lalu tersenyum kepada wanita itu. Sialnya, kenapa si babon ini malah memperkenalkanya sebagai pacar, secara terang-terangan seperti ini. Habis sudah harapannya,


"Owh, jadi ini pacar kamu," ucapnya lagi, menatap Dian.


"Iya ini pacar aku. Sayang, ini teman aku, Mario," ucap Liam lagi.


"Iya," ucap Dian pelan.


Mario memperhatikan wanita yang menyandang sebagai kekasih Liam. Wanita itu mengenakan baju bertali spaghetti berwarna biru dan celana pendek coklat. Wanita itu memang lumayan cantik menurutnya, pantas saja Liam menyukainya.


"Selamat ya, sudah jadi pacar Liam,"


"Iya,"


Mario kembali memandang Liam, baginya wanita itu angin lalu, karena ia tahu Liam tidak bisa menetap hanya satu pasangan,


"Kamu sudah berapa hari di Indonesia?"


"Sudah lima hari,"


"Kamu ke Bali mau pasti mau nyelam," ucapnya sambil terkekeh.


"Ya, rencananya seperti itu, sama teman-teman aku juga," ucap Liam lagi.


"Pasti seru, tadi aku habis menyelam juga sama crew aku,"


"Jadi kamu syuting di sini,"


"Ya gitu deh. Aku menginap di sini, eh udah dulu ya aku di tungguin manager aku di sana,"


"Oke," ucap Liam, melambaikan tangannya.


"Gila men, si Mario masih aja berharap sama lo," ucap Darka. Ia sedari tadi memperhatikan gerak gerik Mario, ia juga tahu bahwa Mario memang menaruh hati kepada Liam.


Liam tertawa, ia melirik Dian, "Gue, sudah punya Dian men, gue tetap setia men," ucap Liam.


"Sejak kapan lo setia men, biasa lo colok sana colok sini," timpal Daniel di selingi tawa.


"*** lo, sejak gue pacaran sama Dian lah," ucap Liam lagi.


"Men, gue kenal lo udah lama men, ngaku aja lah lo," Darka kembali tertawa.


Liam mengelus punggung Dian, ia memperhatikan wanitanya, yang hanya Diam,


"sayang kamu jangan dengerin kata monyet-monyet itu ya. Mereka memang begitu, becandanya keterlaluan. Aku setia kok, kamu tenang saja," diberinya kecupan di puncak kepala Dian.


Dian hanya bisa mengelus dada, ia tidak tahu akan berbuat apa terhadap laki-laki ini.


********


Setelah itu akhirnya mereka kembali lagi ke Vila. Liam menghentikan mesin mobil dan semuanya kembali masuk ke dalam. Dian menarik nafas, dan ia lalu segera membuka hendel pintu. Liam dengan cepat menarik pergelangan tangan Dain. Dian menghentikan aksinya untuk kabur, sialnya hanya dirinya dan Liam di dalam mobil. Dian menoleh ke arah Liam, ia mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Sayang, kamu mau kemana," ucap Liam.


"Ya, aku mau istirahatlah, mau ngapain lagi," ucap Dian.


"Kamu cemburu, tadi ada Mario?" Ucap Liam, ia ingin tahu reaksi Dian seperti apa.


Masalahnya kekasih barunya ini, beda dari pada yang lain. Sedetik ia tidak menahannya, maka si cantik ini bakalan hilang entah kemana. Wanita ini selalu pandai mencari alasan, agar kabur darinya. Mau tidak mau, harus dengan paksaan, agar wanita ini tetap bersamanya.


Ia tidak akan pernah berhenti, hingga sang kekasih menerima dirinya. Bagaimanapun wanita ini harus menjadi miliknya. Keluarga wanita ini sudah memihaknya, tubuh wanita ini ia bisa kuasai, tapi hanya hati wanita inilah yang belum ia miliki sepenuhnya.


"Ya, enggaklah ngapain aku cemburu. Aku suka kok kamu temenan sama dia. Kalian cocok kok, serasi lagi. Sama-sama suka nyelam kan, kan asik tuh," ucap Dian.


"Besok setengah hari aku enggak ketemu kamu loh sayang. Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu," ucap Liam, ia menghidupkan lampu dasbor, agar dapat melihat wajah kekasihnya ini.


"Ya, enggak apa-apa. Aku malah suka kamu bisa menyelam, itu kan hobi kamu. Pulangnya sampe besok juga enggak apa-apa," ucap Dian.


Alis Liam terangkat, itulah yang bisa ia dengar dari kekasihnya ini, "Tapi aku bakalan kangen sama kamu. Jadi malam ini kamu tidur sama aku ya,"


"Aku kan tidur sama, Linggar dan Ayana,"


"Tapi aku maunya tidur sama kamu, kamar yang di tengah kosong loh sayang," ucap Liam menekankan nada suaranya.


"Tapi, aku enggak mau, aku mau tidur sama Linggar dan Ayana,"


"Dengar sayang, kamu tinggal pilih. Mau aku menyeret kamu dengan paksa, agar kamu mau. Jika aku seperti itu, aku biasa bertindak di luar kendali ku loh sayang. Pilih mana? kamu tidur dengan aku tanpa paksaan, tapi enggak aku apa-apain, atau aku seret kamu dengan paksa,"


"Ih kok gitu,"


"Tinggal pilih, saja,"


"Enggak bisa gitu dong, kesepakatan tadi pagi, ya tidur sama-sama cewek."


"Tapi aku mau tidur sama kamu,"


"Nanti kamu sekep aku gimana," ucap Dian.


"Dari kemarin aku udah sekep kamu, loh sayang. Kamunya aja baru nyadar sekarang," gumam Liam di selingi tawa. Ia lalu memeluk Dian.


********