
Liam memandang rumah bertingkat dua itu, tepat di hadapannya. Ia tersenyum penuh arti, ia sudah tidak sabar bertemu dengan sang pujaan hati. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu utama, sambil menjinjing paperbag berlebel restoran cepat saji berlogo ayam. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Kini Ia di depan pintu, ia tekan bel di dekat daun pintu. Liam menunggu hingga sang pemilik rumah membuka pintu.
Semenit kemudian terdengar pintu terbuka. Liam terpana memandang seorang wanita tepat di hadapannya. Wanita itu mengenakan celana pendek serta baju longgar berwarna pink. Mata itu masih terlihat bengkak, ia tidak tahu seberapa lama wanitanya ini menangis.
Ia tahu air mata itu membuktikan bahwa, keinginan berjumpa tapi tertahankan. Perasaan itu, layaknya udara yang Ia hirup, rasa sesak memenuhi dada. Rasa rindu membuat rasa gugup dan rasa gelisah menjadi satu.
Dian hanya Diam dan menunduk, atas kehadiran sang mantan. Ada kerinduan yang teramat sangat. Walaupun hanya sesaat, ia dapat merasakan bagaimana menderitanya menahan rindu. Rindu itu tak kenal waktu dan tempat. Ia mengenang tentang kebersamaan.
"Sayang ..." ucap Liam, ia melangkah mendekati Dian.
"Sayang kamu enggak apa-apa kan," ucap Liam, Ia melangkah mendekati wanitanya.
"Sayang," ucap Liam.
Dian memandang wajah Liam, laki-laki inilah yang ia pikirkan sejak semalam.
"Kok kamu datang," ucap Dian pelan.
Liam lalu tertawa mendengar pepenuturan kekasihnya ini, ia mengecup kening itu. Ia lepas kembali kecupan itu dan lalu tersenyum.
"Aku mau ngantarin makan untuk kamu," ucap Liam, ia memperlihatkan paperbag kepada sang mantan. Oh Tuhan, sebenarnya bukan jawaban itu yang ingin dengar dari bibir tipis itu.
"Tapi aku udah pesen gojek," ucap Dian.
"Enggak apa-apa. Apa yang kamu pesen hemmn,"
"Ayam juga," ucap Dian.
Liam mengusap wajah cantik itu, "kamu nangis,"
"Enggak kok," ucap Dian.
"Itu, mata kamu bengkak,"
"Aku kelamaan tidur nih pasti," ucap Dian, ia gengsi mengatakan sebenaranya, bahwa dirinya benar-benar menangisi laki-laki ini.
"Beneran," ucap Liam, Ia menahan tawanya.
"Iya beneran," ucap Dian lagi.
Liam menangkup wajah cantik Dian, ia pandangi iris mata itu, "Coba belajar jujur, apa yang ada di hati kamu,"
"Nanti kamu sakit loh sayang, kalau di tahan-tahan,"
Dian hanya diam, tidak berani berucap, karena pikirannya saat ini berkecamuk.
"Dengarkan aku, jika kadar rindu kamu sudah menggunung, maka harus di tuntaskan. Percaya, kalau rindu kamu akan berakhir bahagia, maka rindu itu terbayar dengan pertemuan ini,"
Dian memandang mata tajam itu, ada ketegasan di setiap kata yang keluar dari bibir itu. Jujur, laki-laki ini telah menguasai hatinya. Rasa takut itu ternyata mendominasi hatinya. Ada rasa tidak ingin berpisah, rasa takut itu ternyata sebuah bukti, bahwa dirinya merasa aman bersamanya. Rasa takut, sikap dominan itu berubah jadi sejuta perhatian, yang selalu ia nantikan.
"Rasa rindu itu persoalan hati yang sangat pelik. Sehingga kamu merengek ingin berjumpa, menatap wajah dan mendengar suara. Sampai-sampai menangis, bahkan ada kesal jika tidak bersama," ucap Liam lagi.
"Aku tahu, karena rindu itu adalah soal rasa, yang tak berwujud aroma,"
Dian mendengar itu hanya diam. Ia tidak tahu dari mana laki-laki itu mengutip kata-kata keren seperti itu. Si babon ini pasti mengutip dari google. Ia tidak bisa percaya begitu saja.
Dian reflek melangkah mendekati Liam, ia lalu mengalungkan tangannya di leher itu.
"Aku enggak mau putus dari kamu," ucap Dian pada akhirnya.
Liam tersenyum bahagia, mendengar penuturan Dian, ia membalas pelukkan sang kekasih. Ia mengecup puncak kepala itu.
"Aku tahu kamu mencintai aku, karena kita adalah dua orang yang saling merindu," ucap Liam.
"Coba bilang cinta sama aku," ucap Liam lagi.
"Enggak mau,"
Alis Liam terangkat, "Kenapa,"
"Malulah, masa aku duluan, aku kan cewek," ucap Dian lagi.
"Enggak apa-apa, kan sama aku. Enggak ada yang lihat juga, kenapa mesti malu," ucap Liam, ia melepaskan pelukkanya, dan memandang sang pujaan hati.
Liam mengelus punggung ramping itu, "kangen itu bukan kata-kata cinta sayang,"
"Enggak apa-apa, pokoknya aku kangen kamu," ucap Dian lagi. Ia kembali memeluk tubuh Liam.
Liam lalu tertawa, ia mencoba melepaskan pelukan Dian, tapi Dian menahannya. "Jangan di lepas, aku mau peluk kamu,"
"Iya, iya," ucap Liam.
Dian merasakan detak jantung Liam seirama, ia hanya bisa mengecup puncak kepala itu. "Kamu udah makan belum," ucap Liam.
"Belum,"
"Kenapa, belum,"
"Karena mikirin kamu lah,"
Liam kembali tertawa, sehingga Dian dapat merasakan getaran pada tubuh Liam. "Apa yang kamu pikirin tentang aku hemm," ucap Liam, ia mengelus punggung Dian.
"Aku takut, kamu ninggalin aku,"
"Ya, enggak mungkin lah aku ninggalin kamu, aku kan, cintanya sama kamu," ucap Liam.
Dian melonggarkan pelukkanya, dan memandang wajah kekasihnya ini, "Aku lapar,"
Liam senang Dian bisa bersikap manja kepadanya seperti ini. "Aku bawain makan untuk kamu," ucap Liam, ia memegang bahu Dian, di bawanya masuk ke dalam.
Dian memandang paperbag yang di bawa Liam "Banyak banget, satu ember," ucap Dian.
"Aku juga belum makan, makanya beli banyak. Biar kamu ada temennya," ucap Liam lagi.
Dian melepaskan pelukkanya dan lalu menegakkan tubuhnya. Liam menarik tangan Dian, otomatis tubuh Dian jatuh di sofa.
"Apalagi,"
"Cium dulu dong, aku kangen banget soalnya sama kamu," ucap Liam.
Wajah Dian bersemu merah, ia lalu mengalungkan tangannya di leher Liam. Ini pertama kalinya berani bersama si babon ini. Dian mendekatkan wajahnya ke arah Liam.
Sedetik kemudian suara Bell terdengar, otomatis Dian dan Liam menoleh ke arah pintu. Liam mengepalkan tangannya, ia ingin sakali memarahi, orang yang berani mengganggu kesenangannya.
"Itu mungkin tukang gojek, ngantar pesenan aku," ucap Dian, ia menegakkan tubuhnya, dan berjalan mendekati pintu.
Liam hanya mengangguk dan memandang abang-abang gojek itu membawa pesanan Dian.
***********