Memories

Memories
Bab 13



Perjalanan dari Jakarta menuju Bali, membutuhkan waktu 2 jam lamanya. Mereka menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Sudah setengah jam lamanya Liam masih sibuk dengan ponselnya. Ia sempat melirik laki-laki itu. Laki-laki itu tidak sedang bermain game, ataupun mengedit mengedit foto. Tapi laki-laki itu mengerjakan sesuatu yang tidak ia mengerti.


"Kamu memperhatikan aku hemm," gumam Liam, ia tahu bahwa kekasihnya itu memperhatikannya sedari tadi.


"Kamu ngerjain apa" Ucap Dian penasaran.


"Ngerjain kerjaan sebentar," ucap Liam.


"Kerjaan?"


"Iya, sedikit,"


"Katanya liburan, tapi masih kerja," gumam Dian.


Liam lalu membalikkan layar ponsel di tubuhnya. Ia menoleh ke arah kekasihnya itu, karena wanita ini telah mengacaukan konsentrasinya. Liam memandang iris mata bening itu.


Ada perasaan takut, ketika ia melihat iris mata tajam itu, Dian mengalihkan tatapannya ke arah jendela kabin pesawat.


"Ya, kerja aja enggak apa-apa kok. Aku mau tidur," ucap Dian lalu meringsut ke samping.


"Sayang," ucap Liam, menggoyangkan bahu Dian, agar menoleh ke arahnya.


"Aku mau tidur,"


"Aku mau ngomong sebentar," ucap Liam lagi.


"Tapi aku mau tidur,"


"Sebentar aja, setelah itu kamu boleh tidur," ucap Liam lagi.


Dian menarik nafas, ia memutar tubuhnya kembali. Ia menatap Liam yang tengah melihatnya. Laki-laki itu mengelus rambutnya, dan diberi kecupan pada keningnya. Sedetik kemudian laki-laki itu melepaskan kecupannya. Ia hanya bisa nelangsa dalam hati, andai laki-laki wajahnya kalem dan tenang. Maka dirinya akan jatuh hati kepada pelukan laki-laki ini.


"Kamu marah,"


"Enggak kok,"


"Tapi kamu kelihatan marah," ucap Liam lagi.


"Ya, enggaklah, kenapa mesti marah,"


"Karena aku diemin kamu,"


Liam mengelus rambut Dian, ia mengusap wajah cantik itu, "Beneran kamu enggak marah,"


"Ya, enggaklah," ucap Dian.


"Kamu mau tahu apa yang aku kerjain?" Tanya Liam lagi.


"Ya, kalau kamu mau kasih tau," ucap Dian, jujur ia penasaran aja apa yang di kerjakan si babon ini, karena dia begitu serius.


Liam menarik nafas, ia mengambil ponsel, dan ia memperlihatkan layar persegi itu kepada Dian,


"Tadi pagi aku dapat email dari atasan aku di New York. Ini kerjaan aku selanjutnya. Sekarang aku menganalisis rencana pembangunan ini," ucap Liam.


Dian mengerutkan dahi, melihat gambar pada layar ponsel. Gambar itu berbentuk garis-garis yang sangat rumit, Ia melirik Liam,


"Gambar ini sudah final, tinggal persiapan rencana skema, gambar kerja, rencana terinci, dan program perencanaan, termasuk jadwal waktu saja," ucap Liam lagi.


"Kamu pasti sulit mengerti apa yang saya bicarakan, karena ini bukan kerjaan kamu. Mau aku jelasin panjang lebar juga kamu enggak ngerti, sayang,"


"Kamu enggak pusing liat gambar itu,"


"Ya, enggaklah, ini kan emang kerjaan aku. Kadang pusing juga sih, kalau aku lupa waktu, enggak tidur seharian. Besoknya aku malah tepar enggak bangun-bangun," ucap Liam lagi.


Alis Dian terangkat, "kamu enggak tidur,"


"Ya, itu sih sudah biasa sayang. Kamu tanyakan kepada seluruh civil engineering, di muka bumi ini. Pasti akan mengalami hal yang sama, kerja dari pagi hingga pagi lagi, itu sudah biasa, kami harus memikirkan itu secara terperinci. Profesi seperti ini memang tidaklah mudah, membangun terowongan, jembatan, bandar udara, gedung, perumahan, serta minimalisasi terhadap gempa. Semua harus di kerjakan secara terencana. Jika tidak, kami adalah orang pertama yang paling di cari, jika bangunan itu ambruk dan roboh," ucap Liam.


"Iya deh," ucap Dian.


Liam tersenyum dan ia lalu mengecup bibir tipis itu sekilas, "Sekarang kamu boleh tidur,"


"Iya," ucap Dian, ia lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Sekali lagi ia melirik Liam, laki-laki itu kembali menekuni layar ponselnya.


*********


Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara International Ngurah Rai. Dian berjalan bersama para turis lainnya, hingga akhirnya ia berada di area luar Bandara. Sepertinya liburan ini memang telah di rencanakan jauh-jauh hari, karena mereka di jemput oleh sebuah mobil berwarna putih. Ia pikir, ia akan menggunakan taxi, tapi malah di jemput seperti ini. Tujuan mobil itu mengarah ke jalan Tirta akasa. Letaknya di dekat pantai Sanur, dari Bandara memakan waktu dua puluh delapan menit. Mobil itu berhenti di salah satu Vila.


Dian keluar dari mobil, ia menatap plang nama pada gerbang masuk, "The Gangsa Private Villa" by kayu manis. Dian melangkahkan kakinya menuju area Villa, begitu juga dengan lainnya. Dian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Ruangan yang luas dan nyaman, dengan dekorasi tradisional khas Bali.


Dian tersenyum memandang kolam renang pribadi di sana, ia juga melihat taman BBQ dan teras yang sangat terawat. Ruangan ini begitu nyaman dan teduh. Ia tidak sia-sia ikut babon ini ke Bali. Ini namanya benar-benar liburan yang menyenangkan.


Dian melangkahkan kakinya mendekati Liam dan teman-temannya. Sepertinya meraka berbicara cukup serius, Ia berdiri di samping Linggar, wanita itu membuka topi.


"Disini ada tiga kamar, usul saya satu kamar di isi dua orang, ya tidur dengan pasangan masing-masing." ucap Daniel.


"Ya, saya setuju," ucap Liam, ia melirik Dian.


"Ya, saya juga," ucap Darka.


Ayana bertolak pinggang, ia memandang Daniel dengan berani, "Ya, enggak bisa gitu lah, kami maunya sama-sama cewek aja. Itu sih idenya kamu, maunya kalian semua," ucap Ayana, ia mulai perotes atas usulan kekasihnya itu.


Alis Daniel terangkat, ia memandang Ayana, "kamu enggak mau sekamar sama aku? Kita sudah tunangan loh sayang,"


"Cuma tunangan aja, kita juga belum nikah. Aku enggak mau, soalnya kita liburannya rame-rame, bukan cuma berdua loh," timpal Ayana.


Daniel tersenyum lalu tertawa, "bilang aja kamu takut berisik, iya kan,"


"Iya, pokoknya pisahlah," timpal Dian, ia menyetujui usul Ayana.


"Yakin mau pisah," ucap Liam, ia memandang Dian.


"Yakinlah," ucap Dian lagi, ia tidak takut membantah ucapan si babon ini. Sekarang situasi sedang ramai, bukan berdua dengan si babon ini.


"Kalau aku sih setuju, pisah aja," ucap Linggar pada akhirnya.


"Emangnya kalian mau tidur dempet-dempet gitu," ucap Liam. Ia mulai tidak setuju usul wanita-wanita muda di hadapannya.


"Badan kami kan langsing-langsing. Bisalah tidur bertiga satu ranjang," ucap Dian lagi.


"Kalau itu maunya, oke, kami enggak maksa," ucap Daniel, ia lalu tertawa melihat reaksi wanita-wanita itu.


Dian bersenyukur bahwa ia tidak sekamar dengan si babon itu. Dian tersenyum bahagia, akhirnya doanya terkabulkan. Ia berjalan mendekati kopernya. Persetujuan pisah kamar telah di sepakati. Liam berjalan mendekati Dian, ia ingin berbicara cukup serius dengan kekasih barunya ini. Sementara yang lain, telah masuk ke kamar masing-masing.


"Sayang," ucap Liam.


"Hemm," ucap Dian, menarik kopernya.


"Kamu tega biarin aku tidur sendiri," ucap Liam, ia mencegah Dian masuk ke kamar.


"Kamu bisa tidur dengan teman-teman kamu lah," ucap Dian.


"Aku maunya tidur sama kamu," Liam mendekati Dian.


"Aku enggak mau,"


"Kenapa?"


"Nanti kamu berbuat yang tidak di inginkan. Jadi aku cari aman,"


Liam mendekatkan wajahnya di telinga kiri Dian, "Mereka semua sudah pernah tidur bareng loh, hanya kamu dan aku yang belom," ucap Liam.


Dian mengibaskan tangannya, suasana mendadak gerah. Dian memandang Liam, laki-laki itu tersenyum licik,


"Dari mana kamu tahu,"


"Ya tahu lah, aku kan temannya," ucap Liam.


"Kamu !" Ucap Dian kalap.


"Jadi bagaimana?"


"Ya, itu urusan mereka,"


"Kalau kamu terusik dengan kehadiran mereka. Bagaimana kita sewa vila untuk kita tersendiri,"


"Oh Tuhan, kamu benar-benar, gila," Dian melotot ke arah Liam.


Liam tersenyum melihat reaksi kekasihnya itu, ia memegang dagu Dian, agar ia bisa melihat wajah cantik itu.


"Bagaimana?"


"Enggak mau," ucap Dian.


Liam tertawa ia senang sekali menggoda kekasihnya ini. "Saya tunggu kamu berenang di sana," ucap Liam.


"Berenang?"


"Ya, berenang,"


"Tapi aku enggak bisa berenang,"


Liam mengerutkan dahi, "enggak bisa berenang? Yang bener aja,"


"Serius,"


"Itu kolamnya kecil kok, nanti aku ajarin kamu berenang,"


"Oke, nanti aku ajak Ayana sama Linggar juga,"


"Ngapain ajak mereka, aku kan ingin berdua dengan kamu,"


"Pokoknya aku ajak mereka juga, biar rame dan seru," ucap Dian lalu ngacir menjauhi Liam.


Liam tersenyum penuh arti, melihat wanitany berlari masuk ke kamar. Liam lalu mengikat rambutnya seperti ekor kuda, ia pastikan wanita itu tidak bisa jauh darinya.


*********