Memories

Memories
Bab 38



Pertunangan ini memang terkesan mendadak. Hanya di hadiri keluarga terdekat saja. Untuk masalah dekor ruang tamu, mama Liam yang turun tangan. Jasa dekor itu secepat kilat merubah ruang tamu itu menjadi cantik penuh dengan bunga-bunga. Ke dua orang tuanya Dian, juga kalang kabut, karena acara mendadak ini. Pihak laki-laki tidak mau mengulur waktu lagi, berhubung Liam akan pulang ke New York.


Prosesi pertunangan merupakan permintaan pihak laki-lak secara resmi, meminang sang mempelai wanita, untuk memasuki jenjang pernikahan. Mungkin pihak kedua keluarga menimbulkan kebingungan menyusun konsep lamaran ini. Kebayang dong, hanya di susun hanya satu hari, itu juga meminta bantuan pak RT, untuk menyusun susunan acara.


Dian memandang penampilannya, ia mengenakan kebaya borkat berwarna biru muda dan rok songket berwarna abu-abu metalik. Dian meminta bantuan Linggar secara resmi untuk mendandaninya. Ia tahu bahwa Linggar lebih lihai dalam ber make up, dari pada dirinya. Ia akui bahwa Linggar lebih cocok jadi make up artis, dari pada menjadi seorang perawat.


Linggar memandang Dian, sudah hampir satu jam ia mendadandani Dian.


"Cantik," ucap Linggar, sambil tersenyum, memuji hasilnya.


"Makasih ya Ling," ucap Dian, ia menatap pantulan bayangannya dirinya di cermin. Ia tidak tahu dimana Linggar belajar make up cantik, seperti ini.


Rene sahabat sejatinya itu sudah hilang entah kemana, karena ia tahu temannya itu sudah berpacaran dengan Tatang saudaranya. Sudah ia pastikan Rene menjadi seksi sibuk di rumah ini. Mungkin mama memang memerlukan tenaga Rene di rumah ini.


"Cantik banget lo Yan, sumpah si babon itu makin jatuh cinta sama lo. Ternyata jadi juga lo sama, si babon itu," ucap Ayana, ia memperhatikan Dian dari jarak dekat.


"Gue emang dasarnya cantik, si babon itu memang sudah di takdirkan sama gue. Gue enggak bisa ngelak lagi, selain mensyukuri apa yang ada," ucap Dian sambil terkekeh.


Ayana melirik Linggar, ia tahu bahwa Linggar telah putus dari Darka. Semakin jauh kesini Linggar semakin cantik dan wajahnya begitu berseri-seri, mungkin efek tidak bertemu beberapa minggu. Wanita itu mengenakan kebaya kuning dan rambutnya lurusnya bergelombang, karena di blow.


"Ling, kenapa lo enggak jadi beauty vlogger, buat channel youtube, gitu," ucap Ayana, diantara dirinya bertiga, paling cantik ya emang Linggar.


Linggar tertawa, ia melirik Ayana, "Gue sudah buat kok, kalian bisa subscribe Linggar beauty. Baru beberapa Minggu ini sih, gue coba, kebetulan gue kerja sama juga dengan teman gue Tita, dia jago editing video. Beberapa minggu mengupload, hasilnya lumayan," ucap Linggar.


"Serius," ucap Dian, hampir tidak percaya. Ia lalu mengambil ponselnya di nakas.


"Serius lah, ngapain gue bohong, liat aja sendiri," ucap Linggar.


"Hebat, lo emang cocok jadi seleb sih !," ucap Ayana.


"Kalau gue nikah, lo dandanin gue ya," ucap Ayana lagi.


"Ya, gue kan bukan make up artis Ay. Kalau lo mau nikah, ya pakek make up artis professional lah, masa gue amatiran,"


"Tapi sumpah gue suka banget hasil dandanan lo, sama sekali enggak amatiran tau. Gue nikah beberapa bulan lagi, tunggu kerjaan si Daniel selesai aja," ucap Ayana.


"Emang nikahnya dimana?" Tanya Dian, ia masih fokus dengan ponselnya, mencari channel youtube Linggar.


"Nikahnya di Bali sih outdoor gitu deh, lo berdua jadi bridesmaid gue, gue udah siapin semua," ucap Ayana lagi.


"Owh Bali, seru tuh," ucap Linggar.


"Setelah nikah lo tinggal di mana?" Tanya Dian penasaran.


"Melbourne, gue ikut Daniel lah,"


Dian membaca judul "Last Minute ! Simple Glam Makeup Tutorial" memutar video berdurasi tujuh menit itu, dan membesarkan volume.


"Ini kan video lo," ucap Dian, menunjuk arah layar ponselnya, pertanyaan itu ia tujukan kepada Linggar.


"Iya,"


"Lo lama-lama nanti jadi artis Ling," ucap Dian, ia mengalihkan pandangannya ke arah video Linggar.


Dian dan Ayana melihat video Linggar, memperaktekkan bagaimana berdandan dengan baik dan benar. Hasilnya luar biasa, teknik make up yang cukup simpel dan hasilnya sangat bagus.


"Gila, lo udah jadi Vlogger, beneran nih Subscribe lo udah tiga belas ribu,"


"Ya, beneran lah. Itu juga dalam waktu beberapa Minggu," ucap Linggar.


"Kuliah lo gimana?" Tanya Dian penasaran, mengingat Linggar memang tidak suka kuliah di sana, ia hanya berpikir bahwa passion Linggar, memang bukan di kesehatan.


"Lo mau kerja apa," Ucap Dian.


"Vlogger, model, atau SPG, apapun yang bisa menghasilkan uang," ucap Linggar.


"Hasil video nya bagus banget, editing nya keren juga. Lo emang cocok jadi selebgram, youtuber, kayaknya dunia lo emang di entertainment deh, Ling," ucap Ayana, berdecak kagum.


Linggar tertawa, dan lalu tersenyum, "Ya, semenjak gue ngevlog, follower Instagram gue naik derastis, hampir lima puluh ribu gitu deh, ada beberapa endorse kosmetik, pakek jasa gue, kemarin," ucap Linggar.


"Terus si Darka tahu, lo udah ngevlog gitu," tanya Ayana.


"Jangan bahas si brengsek itu deh," ucap Linggar kesal.


"Lo kenapa sih, bisa putus gitu, gue masih enggak habis pikir Ling. Lo juga enggak ada cerita sama kita," ucap Dian penasaran.


"Gue enggak mau bahas dia lagi, plis dong jangan bahas dia, betein banget," ucap Linggar.


"Ya, tapi kenapa gitu," ucap Ayana.


"Plis dong teman, jangan bahas si berengsek itu, lo tau lah gue masih panas kalau dengar nama dia,"


Dian dan Ayana saling berpandangan, "Oke, kita enggak bahas dia," ucap Dian.


"Kita selfie yuk," ucap Linggar, ia mengarahkan ponselnya.


"Iya nih, udah lama kita enggak selfie, terkahir di Bali kemarin," ucap Ayana.


Linggar mulai mengarahkan cameranya ke arah depan, dan mereka tersenyum, ketika detik ketiga. Setelah asik berselfie ceria di kamar Dian, sedetik kemudian pintu kamar terbuka. Mereka bertiga mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ternyata yang membuka pintu itu adalah mama Dian.


Mama menatap Dian, dan tersenyum karena putri bungsunya sekarang sudah di pinang oleh Liam. Anak manja yang ia sayang sekarang sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan di boyong suaminya ke New York. Entahlah ia bahagia putri bungsunya di lamar, dengan laki-laki yang ia cintai.


"Cantik bener anak mama," ucap mama, melangkah masuk, mendekati Dian.


"Liam pasti makin jatuh cinta lihat kamu cantik gini,"


"Ih mama,"


"Ke bawah yuk, keluarga Liam sudah datang,"


"Beneran ma, udah datang,"


"Ciyeee yang udah enggak sabar ketemu si babon," sahut Ayana.


"Iya seneng dong, gue udah kengen banget, karena seharian ini gue enggak ketemu si babon," ucap Dian.


"Baru sehari enggak ketemu, apa jadi nya lo yang enggak ketemu berbulan-bulan nanti Yan," timpal Ayana.


"Kalau libur atau cuti ya gue nyusul dia lah,"


"Dulu aja, jelek-jelekin si gondrong, sekarang mah, udah cinta mati," timpal Linggar.


"Tapi bener deh, Benci itu beda-beda tipis sama cinta, eh sekarang cinta beneran,"


"Ciyeee yang udah cinta, terus di lamar," goda Ayana.


"Senenglah, macam lo enggak pernah dilamar aja," ucap Dian lagi.


Mama Dian hanya bisa tersenyum mendengar godaan teman-temannya. "Sudah becandanya, ayo turun, kasihan Liam nunggunya kelamaan," ucap mama.


***********